
Tiga hari berlalu sudah, kondisi William sudah semakin membaik meskipun dokter belum mengizinkannya untuk beraktifitas seperti biasa, agar William tak bosan, Miranda mengajaknya untuk duduk dihalaman belakang menikmati pemandangan sore, Miranda yang tengah mengupas buah untuk suaminya itu sesekali menatap suaminya, mencari celah agar ia bisa bicara dengan William
“Sayang, apa aku boleh bertanya sesuatu padamu?” Tanya Miranda
“Sejak kapan kau meminta izinku hanya untuk bertanya, sayang?” Sahut William sambil terkekeh
“Sayang, apa sebenarnya yang menyebabkan kau sampai terkena serangan jantung lagi?” Selidik Miranda, ia sebenarnya sudah tahu dari Adam, tapi ia ingin mengetahuinya langsung dari mulut William
William menghela napasnya, “aku tak ingin membicarakannya sayang, itu hanya akan membuatku marah!” Tandas William, Miranda menggangguk mengerti, ia pun tak akan memaksa William untuk terbuka padanya
“Kalau kau tak ingin menceritakannya, bagaimana kalau aku saja yang bercerita?” Tanya Miranda sambil menyodorkan potongan buah pada William, William menerima dengan suka cita dan langsung melahapnya
“Tentu saja sayang, aku senang mendengar suaramu ketika bercerita” sahut William, Miranda tersenyum merasa punya kesempatan untuk meluruskan kesalah pahaman William pada Bella
“Dengar sayang, aku merasa sangat menyesal!” Tandas Miranda, William tercengang, ia menghentikan makannya
“Apa yang kau sesali sayang?” Tanya William penasaran
“Selama ini ternyata aku salah paham pada Bella, menganggap dia sebagai perempuan yang haus akan harta, tapi ternyata Bella hanya korban” tutur Miranda, mendengar nama Bella disebut William menekuk wajahnya lalu berdecak
“Ck…. jika ini cerita soal Bella aku malas mendengarnya!” Tandas William sambil memalingkan muka
“Dengarkan dulu ceritaku William! Kau bilang tadi ingin mendengarkan ceritaku kan?” Cerocos Miranda, matanya yang menatap tajam, telak mengalahkan William, “Baiklah sayang, akan ku dengarkan” sahut William mengalah
Miranda menghela napas sebelum melanjutkan ceritanya, “Dulu ternyata Bella pernah mencintai Adrian, tapi anak kita itu justru mempermainkan hatinya hanya untuk mendekati Brianna” tutur Miranda dengan mata berkaca - kaca, William terhenyak ia lalu membenarkan duduknya demi fokus pada cerita Miranda
“Aku bisa bayangkan betapa sakit hatinya Bella ketika aku dan Adrian datang untuk melamar Brianna dan bukan dirinya, dan yang lebih memilukan lagi ternyata Ibunya mendukung pengkhianatan Adrian dan Brianna, dan bahkan memaksa Bella untuk menikahi Adam” Miranda mengusap air matanya yang mulai menetes, Miranda sekilas melihat William yang terlihat sangat shock mendengar cerita Miranda
“Bella, anak malang itu dipaksa untuk menikahi anak kita yang dingin dan keras kepala dengan dalih bakti terhadap seorang Ibu serta balas budi untuk Brianna, bisa kau bayangkan kan, selain ia harus merasakan luka akibat Adrian, ia juga harus merasakan pernikahan tanpa kebahagiaan” Suara Miranda terdengar bergetar, melihat William yang kini tergugu Miranda antusias menceritakan kisah Bella lebih lanjut
“Adam pun di awal pernikahan mereka memperlakukan Bella dengan sangat tak baik, ia kasar, temperamen, sering memaksakan kehendaknya, bahkan sering menghina Bella! Aku sungguh malu memiliki anak yang keduanya menyakiti Bella, beruntung Adam sudah berubah sekarang, kau bisa lihat sendiri kan betapa Adam sangat mencintai Bella, dan kemarin Adam memberi tahuku dengan sangat bahagia bahwa Bella menyatakan cintanya pada Adam” Tutur Miranda panjang lebar, William semakin tertunduk penuh penyesalan
“Dan kini entah untuk apa Adrian kembali mengungkit masa lalunya dan Bella, ia sampai mendatangi kantornya Adam dengan membawa barang - barang kenangan termasuk foto - foto saat mereka dekat dulu, aku melihatnya sendiri!” William menoleh pada Miranda
__ADS_1
“Foto? Foto Adrian dan Bella maksudmu?” Cecar William, Miranda mengangguk
“Adrian sepertinya sengaja ingin membuat salah paham Adam dan siapa pun yang melihat foto - foto dirinya dan Bella, entah apa tujuan Adrian tapi yang pasti Bella yang akan jadi korbannya, aku benar - benar malu pada Bella atas kelakuan anak kita padanya” lirih Miranda
”Ya Tuhan, jadi aku salah paham pada Bella! Dia ternyata mencintai Adam bukan Adrian! Tega sekali Adrian berbohong padaku dan membuat aku membentak Bella serta mengusirnya” William berujar penuh sesal, “Kau tahu Miranda, aku tak sadarkan diri karena melihat foto - foto yang diberikan Adrian padaku, Adrian bahkan meyakinkanku bahwa Bella mencintainya bukan Adam, dan Bella menikahi Adam hanya untuk balas dendam pada Adrian” William semakin sendu mengingat bentakannya pada Bella
“Sayang, masih banyak hal menyedihkan tentang Bella yang ingin ku ceritakan padamu!” Ucap Miranda sambil menggenggam tangan William
“Kemalangan apalagi yang dia lalui, sayang?” Tanya William, Miranda lalu menceritakan perbuatan Pamela dan Brianna pada Bella.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bella memindai hasil riasannya pada Anna, Anna memang sudah berhari - hari ini ditugaskan oleh Adam untuk menemani Bella di hotel saat Adam tak ada
“Selesai” ujar Bella setelah memberikan sapuan terakhir dengan brush di pipi Anna, Anna tersenyum melihat pantulan wajahnya di cermin, ia puas dengan pekerjaan Bella
“Ini aku Nyonya? Kenapa cantik sekali?” Tanya Anna, ia pangling melihat wajahnya sendiri
“Tapi rasanya saya tidak pantas memakai semua ini Nyonya, barang - barang ini pasti mahal” tutur Anna tak nyaman, bagaimana pun Bella adalah istri dari bos besarnya
“Kalau kau mau, kau boleh mengambil semuanya Anna, jadi kau bisa belajar make up sendiri! Kalau sudah berdandan seperti ini, kau tak kalah dari staf Adam di bagian marketing yang genit - genit itu” tandas Bella
“Jadi ini semua untukku Nyonya?” Anna nyaris tak percaya, bukannya apa tapi harga make up Bella tak main - main, semuanya mahal dan merek ternama, Bella mengangguk
“Ucapan terima kasihku karena kau sudah mau menemaniku beberapa hari ini!” Sahut Bella
“Tapi kau tak perlu repot - repot Nyonya, itu sudah tugasku” ucap Anna
“Terimalah Anna, ini tanda persahabatan kita!” Bella bersikukuh, Anna tak sanggup lagi menolak kebaikan istri pimpinannya itu selain berterima kasih banyak - banyak
Tak lama bel pintu berdering, “Sepertinya Adam sudah pulang Anna” ucap Bella, Anna lalu tergupuh menuju pintu ruang tamu kamar itu
“Anna, apa itu Adam?” Pekik Bella dari dalam kamarnya, karena lama tak ada sahutan Bella kemudian menyusul Anna ke ruang tamu, alangkah terkejutnya ia karena bukan Adam yang datang melainkan Miranda dan William, saat melihat Miranda Bella tersenyum senang, tapi saat melihat William Bella langsung tertunduk, badannya gemetaran mengingat terakhir William membentak dan mengusirnya
__ADS_1
Miranda melihat menantunya yang pucat pasi ketakutan, Miranda lalu bangkit mendekati Bella dan merangkulnya, “sayang, duduklah! Ada yang ingin Daddy sampaikan” ajak Miranda, Bella patuh ia lalu duduk tepat di depan Miranda dan William
“Bella, aku datang kesini untuk meminta maaf padamu” tutur William, Bella mendongak sebentar tapi lalu ia menunduk lagi, “M - minta maaf untuk apa Daddy?” Tanya Bella terbata, sungguh ia tak berani bersitatap dengan mertuanya itu, wajah bengis William saat marah padanya masih terbayang di benak Bella
“Aku telah salah paham padamu gara - gara Adrian, untunglah Miranda sudah menceritakan semuanya padaku, tentang perbuatan Adrian dulu padamu, begitu juga tentang perbuatan Ibu dan Kakakmu sendiri” tutur William penuh sesal
Mata Bella sudah berkaca - kaca, bibir bawahnya ia gigit menahan perih yang teramat, kenangan buruk itu kembali berputar di kepalanya
William menghela dalam napasnya, “Aku tak menyangka kalau nasibmu semalang itu Bella, aku sungguh minta maaf padamu karena telah membuatmu semakin terluka” ucap William lagi bersamaan dengan kedatangan Adam, Adam memang tergesa menuju hotel saat Miranda memberitahu bahwa ia dan William akan menemui Bella
Bella mendongak perlahan, “Apa Adrian yang menceritakannya padamu Dad?” Tanya Bella suaranya tak begitu jelas karena tercekat di tenggorokannya, dadanya sudah begitu sesak, William mengangguk pelan
“Tolong jangan membenciku karena pernah mencintai Adrian dulu! Tapi sumpah demi Ayahku yang telah tiada, itu dulu Daddy! Aku terbujuk rayuannya yang ternyata hanya untuk mendekati Kakakku” Bella terisak, “Kini aku sudah sangat mencintai Adam, tolong jangan membenciku! Cukup Ibu dan Kakakku saja yang membenciku seumur hidupku, aku mohon” tangis Bella pecah, berubah sedu sedan, Adam yang berdiri di belakang Bella memburu istrinya itu dan memeluknya, “Jangan menangis sayang, Daddy tidak membencimu!” Adam mencoba menenangkan istrinya itu, mengetahui Adam yang memeluknya, Bella merangsek lebih dalam ke pelukan Adam dan terisak disana
Tak jauh dari mereka, Anna yang berdiri ikut menangis, sedih melihat Bella. Senada dengan Anna, Miranda dan William pun tak kalah sedihnya
“Sayang, tak ada yang membencimu! Kami menyayangimu, jangan menangis lagi ya, kau membuat Mommy dan Daddy sedih” ujar Miranda sambil mengusap air matanya
“Itu benar sayang, aku sangat minta maaf atas kesalahanku, tapi aku sama sekali tak membencimu Nak! Aku menyayangimu seperti putri kandungku sendiri” tutur William dengan suara bergetar menyesali perbuatannya pada Bella
“Tolong, jangan menangis lagi sayang! Aku mohon, kau membuat hatiku sakit” Adam memohon sambil menciumi pucuk kepala Bella, tapi Bella tak berhenti menangis di pelukan Adam, mungkin karena sakit hati yang teramat tangisnya tak juga reda
“Adam, biarkan Bella tenang dulu! Malam ini kami akan tidur di hotel ini, besok pagi kita bicara lagi” tutur William paham dengan kondisi Bella, William dan Miranda lalu keluar dari kamar Adam
“Tuan Adam, apa kau butuh sesuatu untuk Nyonya Bella?” Tanya Anna pada Adam yang masih erat memeluk Bella
“Tidak perlu Anna, kau pulanglah!” Titah Adam
Anna mengangguk paham, “Baik Tuan, saya permisi. Tolong segera hubungi saya kalau Nyonya Bella perlu apa pun” ujarnya, sungguh ia tak tega melihat Bella sekarang
Sepeninggal Anna, Adam kembali menciumi istrinya itu, “Baiklah sayang, kalau kau belum puas menangis, maka menangislah! Aku akan tetap memelukmu seperti ini sampai kau tenang” ujarnya pada Bella, hati Adam remuk redam mendengar isak tangis Bella, seiring dengan itu kemarahannya pun ikut membuncah pada Pamela, Brianna, terutama Adrian
“Tunggu saja, akan ku balas tiap tetes air mata Bella karena kalian, Pamela dan Brianna!” batinnya, “Dan kau Adrian, akan ku buat kau yang paling menderita, aku tak peduli meskipun kau adik kandungku sendiri” Kemarahan itu menjalar dan tumbuh semakin kuat di hati Adam.
__ADS_1