Transaksi Di Atas Ranjang Suami

Transaksi Di Atas Ranjang Suami
Part 46


__ADS_3

Adrian mengangguk pasrah, “Memang aku yang memulainya, Dad!” Sahutnya,


“Sudah ku duga! Dengar Adrian, selama ini aku membiarkanmu melakukan apa pun untuk menjegal Kakakmu karena bagaimana pun juga kau tetap anakku! Tapi apa yang kau lakukan hari ini sangat keterlaluan!” Amarah William membuncah, “Oleh karena itu Adrian, sekarang juga kau pergi dari rumah ini!” Sengit William sambil menunjuk ke arah pintu keluar dengan dada yang bergemuruh


Adrian terperangah, ia lalu memandang Ayahnya penuh telisik, “Dad” gumam Adrian memastikan kalau pendengarannya tadi tak salah, Pamela dan Brianna yang berdiri agak jauh di belakang William pun sampai shock mendengar ultimatum William


“Kau dengar sendiri apa yang Ayahmu bilang kan, Adrian? Pergi kau dari rumah ini, kau sudah terlalu lama menyakiti Adam! Dan kini kau juga berusaha menyakiti Bella serta cucu kami!” Tambah Miranda histeris


Deg…


Adrian terhuyung, badannya yang remuk redam karena dihajar oleh Adam tadi tak seberapa sakit dibanding pengusiran orang tuanya sendiri


“Dad, aku… “


“Tunggu apalagi, hah? Pergi kau dari sini!” Teriakan William itu menggema memenuhi ruangan yang kini mencekam, air mata Adrian luruh sudah, dalam hati kecil ia mengakui kalau ia memang pantas mendapatkan ini, entah bagaimana nasib Bella dan anaknya sekarang karenanya, meskipun sungguh ia tak sengaja melakukannya


“Baik Daddy, Mommy… aku pergi” ucap Adrian sambil mengusap air matanya, pria itu lalu melangkah lunglai menuju pintu keluar


“Tunggu!” Ucap William, Adrian mematung, dalam hati ia berharap kalau Ayahnya akan berubah pikiran


“Bawa istri dan mertuamu!” Tandas William, Adrian tak bereaksi apa - apa, tapi Brianna dan Pamela terkejut bukan main dengan keputusan William


“Tu - Tuan William, apa kau tidak salah?” Pamela tak bisa terima ini, kemana mereka akan pergi bersama Adrian, karena setahunya Adrian sudah tak punya uang lagi


“Apa yang salah, hah? Brianna itu masih istrinya Adrian, jadi kemana pun Adrian pergi, maka Brianna harus ikut! Masalah kau mau pergi kemana, aku tak peduli! Yang pasti aku tak ingin kau berada disini” tandas William, ia memang ingin sekali mengusir Pamela setelah mendengar semua kekejian Pamela pada Bella


Pamela ingin membujuk William lagi, tapi William sudah lebih dulu beranjak sambil membimbing Miranda keluar dari sana, kalau sudah begitu mau tak mau ia ikut bersama Adrian, ia tak punya pilihan lain selain ikut kemana pun Brianna pergi karena ia tak ingin kembali ke rumah kecil yang sudah dibelikan Adam untuknya


“Bu, bagaimana nasib kita sekarang?” Brianna nyaris menangis mengenang nasibnya


“Sudahlah, untuk sementara kita ikuti Adrian! Aku tak mau kalau harus kembali ke rumah kumuh itu lagi!” Tandas Pamela, Brianna merengut lalu menghentak - hentakan kakinya, “Tapi aku tak ingin meninggalkan rumah ini dan Adam, Bu!” Rengek Brianna


“Kita pikirkan itu nanti! Situasinya sedang tidak memungkinkan sekarang, berdo’a saja agar Bella dan anaknya mati jadi kau punya kesempatan untuk mendapatkan Adam!” Ucap Pamela tanpa rasa iba sama sekali, “Ayo cepat, Adrian sudah mau masuk ke mobilnya!” Ujar Pamela, keduanya lalu setengah berlari mengejar Adrian


“Bu, barang - barang kita bagaimana?” Tanya Brianna, maklumlah semua barang berharga ia simpan di brankas kamarnya


“Kita ambil besok saja saat situasinya sudah kondusif!” Sahut Pamela, “Adrian, tunggu!” Pamela memanggil Adrian yang sudah masuk ke dalam mobil, Adrian menoleh dengan enggan, ia lalu melajukan mobilnya setelah Pamela dan Brianna masuk ke dalam mobil


“Kita mau tinggal dimana Adrian?” Tanya Brianna, Adrian membisu karena pikirannya tak ada disitu, ia mengkhawatirkan kondisi Bella, ia ingin sekali menyusul Bella ke rumah sakit, tapi itu sangat mustahil


“Adrian! Please, aku tak mau tinggal di apartemen sempit atau di rumah sederhana, bisakah kau membeli rumah yang agak mewah?” Cerocos Brianna, Pamela yang duduk tepat di belakang Brianna menendang kursi Brianna memberi isyarat agar anaknya itu diam, omongan Brianna barusan bisa memantik amarah Adrian lagi


Mungkin baru sekitar 20 menit perjalanan ditempuh ketika Adrian menepikan mobilnya di pinggir jalan raya, “Kalian turun disini!” Ucap Adrian, mata Brianna sampai membola mendengarnya


“Apa kau bilang, Adrian? Kau mau meninggalkan kami disini?” Sengit Brianna


“Adrian, dalam situasi seperti ini kita harus bersama - sama, bagaimana pun Brianna itu masih istrimu” bujuk Pamela


“Turun kataku!” Adrian mengulang perkataannya, merasa tak ada respon Adrian lalu memukul - mukul setirnya, “turun kataku sialan!!!” Pekiknya, Brianna dan Pamela ciut dan memilih untuk turun dari mobil Adrian, Adrian kembali melajukan mobilnya dengan cepat seolah segera ingin meninggalkan Brianna dan Pamela


“Kenapa nasib kita jadi begini, Bu?” Lirih Brianna, Pamela menggeleng lesu, “entahlah” sahutnya


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sesampainya di rumah sakit, Erick yang dihubungi oleh Adam di perjalanan tadi sudah menunggu di depan rumah sakit bersama beberapa dokter serta perawat, semuanya segera memburu Bella dalam gendongan Adam dan memindahkannya ke brankar

__ADS_1


”Adam, sakit sekali! Tolong Adam, aku tak mau kehilangan anak kita” rintih Bella ketika brankar mulai di dorong dan para dokter mulai menganalisa kondisi Bella, Adam yang ikut berjalan di samping Bella memegang tangan istrinya itu


“Kau dan anak kita akan baik - baik saja sayang” sahut Adam lirih menyembunyikan kecemasannya di depan Bella


“Apa yang terjadi, Adam?” Cecar Erick, “Dan kenapa wajahmu?” Selidiknya lagi saat melihat wajah Adam yang babak belur, Adam baru saja hendak menjelaskan pada Erick ketika Justin dengan berlari menghampiri, ya Adam juga menghubungi Justin tadi, bagi Adam Justin adalah satu - satunya keluarga Bella yang peduli pada Bella, Justin mengimbangi langkah orang - orang yang tengah mendorong brankar Bella, para dokter mengangguk sopan mengenal siapa Justin kecuali Erick, “Biarkan saya membantu merawat Bella” ucap Justin, para dokter itu saling menatap satu sama lain bingung mungkin kenapa Justin ingin menangani pasien rumah sakit lain


“Apa - apaan dia? Apa dia bahkan tidak melihat ada suami Bella disini?” Batin Erick geram pada Justin


“Izinkan dokter Takanawa untuk ikut merawat istri saya!” Ucap Adam, Erick terperangah, “Adam, apa - apaan kau?” Bisik Erick pada Adam, sedang dokter yang lain mengangguk menyetujui


“Bella, kau kenapa?” Justin tampak khawatir melihat kondisi Bella yang merintih kesakitan


“Kak! Tolong anakku Kak!” Rintih Bella saat melihat Justin disana, wajah Bella yang pucat meringis menahan sakit


“Kau tenanglah, aku akan melakukan apa pun agar bisa menyelamatkannya” tandas Justin meyakinkan Bella


Pegangan tangan Adam pada Bella terlepas saat mereka tiba di pintu ICU, Adam sedikit tenang karena ada Justin di dalam sana, hanya Adam, Erick, dan kepala perawat yang tak ikut masuk, Erick memutuskan untuk merawat luka Adam sekaligus meminta penjelasan pada Adam tentang tindakannya barusan


“Ayo ikut aku!” Ajak Erick, Adam menggeleng, “Aku akan menunggu Bella disini!” Tolak Adam


Erick mendengus kesal, “Kita bersihkan dan obati dulu luka - lukamu sebelum terinfeksi, Adam!” Ucap Erick, “Kau tak ingin Bella melihatmu masih seperti ini kan nanti?” Bujuk Erick meyakinkan Adam lagi, Adam akhirnya menyerah setelah nama Bella disebut


“Baiklah” ujarnya, keduanya lalu berjalan menuju ruangan Erick, sesampainya disana Erick meminta perawat untuk menyiapkan semua yang ia perlukan untuk mengobati Adam


Adam membuka dasi dan jas yang dari tadi masih membalut tubuhnya, ia lalu menggulung lengan kemejanya, mata Adam kemudian menatap buku - buku jari yang memerah bahkan beberapa ada yang mengeluarkan darah


“Apa yang terjadi, Adam?” Tanya Erick sambil pelan membersihkan luka di wajah Adam


“Perkelahian pertama aku dan Adrian” sahut Adam


“Bella datang melerai, tapi justru dia yang jadi korban! Adrian menarik tubuh Bella hingga dia jatuh” sahut Adam sendu, penyesalan selalu datang terlambat dan itulah yang dirasakan Adam sekarang, ia sungguh menyesali dirinya yang tak bisa mengendalikan emosinya tadi, dan lihatlah apa hasilnya sekarang? Bella yang jadi korban dan mungkin anaknya pun tak dapat diselamatkan


“Adikmu memang bajingan Adam! Coba kalau tadi aku disana, akan ku pastikan dia tak bisa melihat matahari lagi esok pagi!” Sengit Erick emosi


“Erick, apa menurutmu anakku bisa diselamatkan?” Adam bertanya dengan suara yang bergetar, gerakan tangan Erick memelan, ia lalu menghela napasnya


“Sudah 3 kali nyawa bayi kalian berada dalam bahaya, jujur aku tak tahu bagaimana kondisi bayi kalian nanti, tapi percayalah dokter - dokter kandungan yang sedang menangani Bella adalah dokter - dokter terbaik, yang aku tak mengerti kenapa kau membiarkan Justin ikut menangani Bella? Apa kau tak cemburu padanya?” Cecar Erick, ia melanjutkan tindakannya mengobati luka Adam


“Lihat ini, lukanya cukup parah! Adrian memukulmu dengan sangat keras!” Gumam Erick saat melihat luka di sudut bibir Adam yang menganga dan masih mengeluarkan darah


“Justin adalah Kakaknya Bella, Erick!” ucap Adam, Erick seketika membeku, ia lalu tergesa menarik kursi dan duduk di depan Adam


“Apa maksudmu Adam?” Cecar Erick penasaran, Adam kemudian menceritakan semua tentang hubungan antara Ayah Bella dan Ibunya Justin


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di dalam ruang ICU, Justin berjibaku bersama dokter lain untuk menyelamatkan janin Bella, sesekali Justin menyeka air mata yang tak sengaja menetes melihat kondisi Bella, lagi - lagi ia harus mendapati Bella hampir keguguran


Adam sudah selesai diobati, kini ia mondar - mandir di depan ruang ICU menunggu dengan cemas, Erick sudah ikut masuk ke dalam ruangan itu barusan tapi kemudian tidak keluar lagi membuat Adam semakin khawatir


“Tuan, tolong duduklah” ucap kepala pelayan yang masih menemaninya, tapi Adam tak mendengarkan, ia masih saja berjalan gelisah dengan mata tak lepas dari pintu ICU itu


“Adam!” Panggil William, Ayahnya itu datang menyusulnya bersama Miranda, wajah keduanya tampak cemas


“Bella masih di dalam” sahut Adam lemas, Miranda lalu mendekati anaknya itu dan menatapi wajah Adam

__ADS_1


“Bagaimana dengan lukamu Adam?” Tanya Miranda?”


“Erick sudah mengobatinya Mom” jawab Adam


Tak lama, Erick keluar dari ruangan ICU, baik Adam, Miranda, dan William bergegas mendekati Erick


“Adam, Nyonya Miranda, Tuan William, aku tidak tahu bagaimana harus mengatakan ini” ucap Erick, mendengar itu Miranda lemas, ia lantas berpegangan pada William yang juga hampir limbung, kepala pelayan lantas sigap membimbing keduanya untuk duduk


“Erick, maksudmu…?” Mata Adam sudah berkaca - kaca, ia sampai tak sanggup melanjutkan kata - katanya, tak bisa ia bayangkan bagaimana perasaan Bella sekarang


Erick membuka kaca matanya, “Dengar Adam, ini keajaiban karena anakmu kuat bertahan di dalam rahim Bella, aku yakin dia akan menjadi pria yang sekuat dirimu kelak” ucap Erick, Adam terperangah, Miranda dan William pun sampai berdiri lagi


“Jadi maksudmu Bella tak keguguran?” Cecar Adam


“Siapa yang bilang dia keguguran?” Erick bingung


“Tapi kau tadi bilang sulit untuk dikatakan, bukannya itu artinya kau tak sanggup mengatakan kalau Bella keguguran?” Cecar Adam lagi, Miranda menggangguk menyetujui omongan Adam karena ia pun berpikir seperti Adam


“Ahahaha.. maaf, bukan itu maksudku! Aku bicara seperti itu karena aku tak menyangka kalau anakmu bertahan Adam!” Erick menggaruk tak gatal kepalanya, “Jujur saja, dokter di dalam mengatakan kemungkinan janinnya selamat hanya sepuluh persen, tapi Tuhan benar - benar mendengar do’a kita semua, dia bertahan di dalam rahim Ibunya” tambah Erick


Adam menghela lega napasnya dan mengusap air matanya, “Terima kasih Tuhan” syukurnya


“Sayang, cucu kita selamat!” Miranda memeluk suaminya penuh bahagia, sedang William menangis tersedu, rasanya ia sudah nyaris putus asa tadi saat Erick menyiratkan kalau cucu mereka tak selamat


“Bagaimana dengan Bella?” Tanya Adam lagi


“Dia masih kesakitan, dan dokter masih menangani agar rasa sakitnya berkurang, tapi dia akan baik - baik saja, apalagi setelah mengetahui kalau bayi kalian selamat” ucap Erick, tak bisa disembunyikan raut lega di wajah Erick, ada perasaan bersalah juga pada Bella karena ia sempat salah paham tentang hubungan Bella dan Justin


“Apa aku bisa menemuinya sekarang?” Tanya Adam tak sabaran


“Tunggu sampai Bella dipindahkan ke ruangan inap, biarkan dokter melakukan tugas mereka dulu!” Sahut Erick, Adam untuk kesekian kali mengusap wajahnya, sudah lega sebenarnya tapi ia masih belum tenang sampai bertemu dengan Bella


Tak lama, para dokter dan perawat ke luar dari ruangan itu, tugas mereka selesai sudah, hanya Justin yang tak terlihat, Adam paham Justin mungkin butuh bicara dengan Bella


Di dalam ruangan Justin duduk di sebelah Bella, “Sudah berkali - kali kau hampir keguguran Bella, aku semakin khawatir melepasmu dengan Adam, dia sepertinya tak bisa menjagamu dan anakmu dengan baik” ujarnya


“Ini karena Adrian, Kak! Dan sepertinya dia tak sengaja” sahut Bella, Justin mendengus kesal, “Adrian lagi! Kapan adik kakak itu berhenti menyakitimu, Bella?” Sengitnya


Bella meraih tangan Justin, “Adam tak menyakitiku Kak, dia mencintaiku! Tolong terima dia sebagai adik iparmu Kak, aku mohon” Bella memelas, “Kau bicara seperti ini karena kau khawatir sebagai Kakakku kan?” Tanya Bella


Justin melepas pegangan tangan Bella, masih sulit untuknya menerima kenyataan kalau Bella adalah adiknya, “Aku akan keluar dulu, kau istirahatlah! Sebentar lagi perawat akan memindahkanmu ke ruang inap” ucap Justin, ia lalu bangkit dan melangkah keluar


Saat keluar Justin bersitatap dengan Adam, Adam tak segan menghampiri Justin dan mengulurkan tangannya, keduanya lalu bersalaman, “Terima kasih” ucap Adam tulus


Justin mengangguk dan tersenyum kaku, “Bisakah kau memastikan agar hal seperti ini tidak terjadi lagi pada Bella?” Tandas Justin


“Akan ku pastikan, terima kasih telah menolong Bella dan berperan menjadi Kakak yang baik untuknya” ucap Adam, Justin agak tak suka dengan omongan Adam barusan, terasa sarkas di telinganya, Adam seolah ingin mengingatkan siapa Justin untuk Bella


“Aku pergi dulu!” Hanya itu yang Justin ucapkan sebelum ia beranjak meninggalkan Adam, setelah Justin pergi William dan Miranda gupuh mendekati Adam


“Adam, bukankah itu anak sulung Tuan Takanawa? Apa yang dia lakukan disini?” Selidik Miranda


“Dia Kakaknya Bella, Mom!” Sahut Adam, Miranda dan William saling tatap


“Kakaknya Bella? Apa maksudmu?” Miranda tak mengerti

__ADS_1


“Mari kita duduk, Mommy, Daddy! Ada yang ingin ku beritahukan pada kalian soal Justin dan Bella” ucapnya, ketiganya lalu duduk, Adam menghirup napas banyak - banyak sebelum ia bercerita panjang lebar kisah pelik antara Pamela, Ayahnya Bella, dan Ibunya Justin.


__ADS_2