Transaksi Di Atas Ranjang Suami

Transaksi Di Atas Ranjang Suami
Part 51


__ADS_3

“Sayang, Adrian.. Adrian ingin menceraikan Brianna” sahut Miranda lesu, ia tahu ini kabar tak baik untuk William karena William tak pernah menyetujui perceraian


“Apa?” William terkejut bukan main, Adam segera mendekati Ayahnya berjaga - jaga khawatir jika Ayahnya kembali mendapat serangan jantung


“Tenanglah Dad, kita bisa bicarakan dengan Adrian nanti” ucap Adam menenangkan Ayahnya


“Kau tahu kalau aku tak suka perceraian Adam, bagaimana pandangan orang tentang keluarga kita nanti? bahkan mereka belum genap setahun menikah dan sekarang dengan gampangnya Adrian ingin menceraikan Brianna!” Ucap William emosi


“Sayang, apa kau tak berpikir bahwa ini yang terbaik untuk Adrian? Kau tahu kalau Brianna membawa pengaruh tak baik untuk Adrian kan? Apa kau lupa berapa banyak uang yang Adrian keruk dari perusahaan demi Brianna?” Miranda mencoba untuk meyakinkan William, ini adalah kesempatan baik untuk memisahkan anaknya dengan Brianna


“Adrian perlu seseorang yang membuatnya menjadi lebih baik sayang, seorang wanita seperti Bella, kau bisa melihat bagaimana perubahan Adam setelah menikah dengan Bella kan?” Ucap Miranda lagi


William masih membisu, tentu berat untuknya harus menyaksikan salah satu anaknya bercerai, tapi omongan istrinya ada benarnya, “Kau yakin ini yang terbaik untuk Adrian?” Tanya William mulai goyah, Miranda mengangguk mantap, William lalu menjatuhkan pandangannya pada Adam, senada dengan Ibunya Adam pun mengangguk menyetujui omongan Miranda, sedang Bella ia terdiam seribu bahasa, di satu sisi ia merasa kasihan pada Brianna jika sampai diceraikan oleh Adrian, tapi di sisi lain kejahatan Brianna memang sudah keterlaluan


“Kau lihat bagaimana Brianna kan? Dia tak pantas menjadi menantu kita sayang?! Apa kau tahu kalau dia tengah mengincar Adam sekarang?” Ucap Miranda


William terhenyak, “benarkah sayang? Maksudmu dia menginginkan Adam begitu?”


“Aku melihatnya dengan mataku sendiri bagaimana ia mencoba menarik perhatian Adam, mungkin dia berpikir bisa merebut Adam dengan mudahnya dari Bella, sama seperti ia merebut Adrian dulu” sahut Miranda, suaranya sarat akan kebencian pada Brianna


“Ya Tuhan” ucap William sambil mengusap wajahnya


Emily yang mau tak mau mendengar pembicaraan antara Miranda dan William menghela napasnya, “Entah bagaimana cara Pamela mendidik Brianna, tapi sifat Brianna sangat berbeda jauh dengan James, James sangat baik hati dan penuh kasih” tutur Emily mengenang bagaimana mantan suaminya itu dulu


“Kebaikan James masih ada pada Justin dan Bella, Nyonya Emily” sahut Miranda menghibur hati Emily, Justin dan Bella saling tatap sebentar, Bella tersenyum tulus pada Kakaknya itu, sedang Justin menatapnya dengan raut kesedihan, kalau boleh jujur ia tak ingin Bella sebagai adiknya


“Baiklah… Sudah kuputuskan! Aku akan mendukung keputusan Adrian untuk menceraikan Brianna” tandas William, Miranda tersenyum lega


“Itu bagus sayang, yakinlah kalau ini adalah keputusan terbaik untuk anak kita” ucap Miranda pada William


Tanpa semuanya sadari Brianna mendengar semua pembicaraan mereka, ia kembali ke rumah itu untuk membawa baju - bajunya yang belum sempat ia ambil tadi, di balik tembok ruang tamu Brianna menyenderkan dirinya yang nyaris limbung, kekuatannya hilang seketika, tenaganya hilang entah kemana menyisakan lutut yang gemetaran, dunia Brianna hancur seketika. Ia memang berencana untuk meninggalkan Adrian tapi setelah ia berhasil mendapatkan Adam, namun jangankan berhasil membuat Adam menjadi miliknya, ia lebih dulu diceraikan oleh Adrian bahkan mertuanya pun mendukung keputusan Adrian


“Bagaimana aku bisa hidup setelah ini? Aku tak mau hidup miskin!” Gumam Brianna frustasi, Brianna lalu menghapus kasar air matanya yang sudah mulai jatuh turun ke pipinya


“Tidak, ini tak boleh terjadi! Awas saja kalian!” Gumam Brianna sambil beranjak pergi dari rumah Anderson, lupa sudah ia dengan baju - bajunya yang akan ia bawa tadi


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Keesokan harinya, Adam tak berangkat ke kantor untuk menunaikan janjinya pada Bella, istrinya itu tengah mengidam menyantap es krim di taman kota, Adam mana tega menolak keinginan Bella, jangankan hanya es krim, bahkan jika Bella meminta semua kekayaannya Adam tak ragu untuk memberikannya. Saat ini mereka tengah berjalan santai menyusuri jalanan taman yang cukup sepi, tak banyak yang datang ke taman tengah hari seperti itu, jauh di belakang Adam dan Bella ada asisten Wang yang mengekori keduanya


“Apa ini pertama kalinya kau datang kesini?” Tanya Bella, Adam mengangguk


“Aku tak pernah punya waktu untuk datang ke tempat seperti ini” sahut Adam


“Astaga Adam, jadi kemana saja kau selain ke kantor?” Cecar Bella

__ADS_1


“Rapat dengan klien di dalam negeri atau di luar negeri” sahut Adam lagi, Bella tertawa mendengar jawaban Adam, “Ahahaha.. Aku pikir orang kaya bebas melakukan apa saja, tapi ternyata tidak! Kasihan sekali kau Adam, baiklah mulai sekarang aku akan mengajakmu ke tempat - tempat menyenangkan!” Ucap Bella sambil mengeratkan gandengannya pada Adam


“Terima kasih” mata Adam menyipit saat ia tersenyum, membuat ketampanannya semakin terlihat


“Adam, itu penjual es krim yang ku maksud!” Tunjuk Bella dengan antusiasnya pada kedai es krim di seberang jalan, Adam paling suka ketika melihat Bella menginginkan sesuatu, karena selama ini istrinya itu nyaris tak pernah minta apa pun


“Kau mau rasa apa?” Tanya Adam


“Blueberry, Adam! Tolong belikan yang banyak!” Rengek Bella manja


“Baik sayang, kau tunggu disini sebentar, aku akan membawakan banyak es krim untukmu” sahut Adam


“Adam, kenapa kau tak minta asisten Wang yang membelikannya?” Tanya Bella


“Kau istriku sayang, dan ini keinginan anak kita, jadi aku yang harus membelikannya untukmu” jawab Adam sambil mengacak pucuk kepala Bella, Adam lalu mengecup kening Bella sebelum ia melangkah dengan tergesa ingin segera menuntaskan keinginan istrinya


Bella mengedarkan pandangannya mencari tempat duduk untuk ia mengistirahatkan diri, dan Bella baru saja hendak duduk saat suara dentuman terdengar begitu keras, bersamaan dengan jeritan orang - orang, bukan hanya Bella yang mendengar, asisten Wang pun ikut mendengarnya dan langsung berlari ke arah suara


Entah kenapa hati Bella berdebar, firasatnya sesuatu yang buruk telah terjadi, Bella setengah berlari nyaris lupa kalau ia tengah mengandung


“Adam!” Pekik Bella histeris saat melihat Adam terkapar di jalan dan berlumuran darah, beberapa orang tampak mengerubuni Adam, sedang asisten Wang yang tangannya juga berlumuran darah setelah mencoba menolong Adam sibuk menghubungi ambulance, kaki Bella gemetaran saat ia perlahan mendekati Adam, air mata Bella sudah lolos membasahi pipinya, perlahan ia memindahkan kepala Adam ke pangkuannya, baju Bella kini memerah karena darah yang tak berhenti keluar dari luka kepala Adam,


“Bangun Adam! Bangun!” Ucap Bella mencoba menyadarkan Adam yang matanya terpejam, “Aku mohon Adam, bangun! Jangan tinggalkan aku” tutur Bella lagi sambil terisak, beberapa orang yang berada disitu kasak kusuk menyampaikan keprihatinannya


Tak lama ambulance datang, beberapa petugas medis sigap memindahkan Adam ke brankar


“Apa maksudmu? akan ikut ke rumah sakit!” Tandas Bella


“Tapi Nyonya, kau tidak boleh stress! Ingat kau sedang mengandung Nyonya, lagipula bajumu penuh darah, sebaiknya kau pulang dulu! Aku yang akan mengurus Tuan Adam” ucap asisten William bersikukuh


“Apa ada anggota keluarga yang akan ikut di ambulance?” Tanya seorang petugas medis begitu Adam sudah berada di ambulance


“Aku akan ikut di ambulance, aku istrinya” ucap Bella tak mempedulikan ucapan asisten Wang tadi, Bella lalu merangsek masuk ke dalam ambulance, asisten Wang pasrah pada keinginan Bella, ia lalu berlari menuju mobil Adam yang ia bawa tadi untuk mengikuti ambulance


Di dalam ambulance, di tengah upaya para petugas medis untuk menolong Adam tangis Bella tak kunjung reda, pegangannya erat pada tangan Adam, bibirnya tak berhenti - henti memohon agar Adam bangun dan tak meninggalkannya


Sesampainya di rumah sakit, Erick dan beberapa dokter sudah siaga di tempat Adam diturunkan dari ambulance, beberapa perawat kemudian mendorong brankar Adam diiringi oleh derap langkah para dokter


“Apa yang terjadi Bella?” Erick kelihatan sangat shock melihat Adam yang berlumuran darah


“Tolong Adam, Erick! Aku mohon, selamatkan Adam!” Ucap Bella memelas


“Kami akan melakukan yang terbaik, kau istirahatkan dirimu dulu! Ingat kau tak boleh stress Bella!” Sahut Erick, Erick lalu menoleh pada asisten Wang, “Wang tolong kau pastikan Bella mengistirahatkan dirinya!” Titah Erick, Erick lalu menyusul rekan - rekan dokternya meninggalkan Bella yang nyaris limbung


“Nyonya, ayo kita mencari tempat duduk” ucap asisten Wang, Bella patuh lalu mengekori asisten Wang

__ADS_1


“Apa sebaiknya saya menghubungi Tuan Wiliiam dan Nyonya Miranda?” Tanya Wang pada Bella, Bella menggeleng


“Daddy tak akan bisa menerima berita buruk tentang Adam, untuk sementara jangan beritahukan mereka dulu sampai kita tahu betul kondisi Adam” sahut Bella, suaranya sarat akan kesedihan


Sudah hampir 2 jam Adam ditangani di ruang ICU, setiap detiknya Bella tak berhenti menangis, pikirannya jauh berlayar, bagaimana jika Adam meninggalkannya akankah ia sanggup bertahan?


“Nyonya, itu Tuan Erick!” Ucap asisten Wang pada Bella, Bella menoleh pada Erick yang datang dengan tergesa


“Bella, kami harus segera mengoperasi Adam karena luka di kepalanya cukup serius, tapi masalahnya kami kekurangan dokter bedah yang sedang mengoperasi pasien lain, tapi kau jangan khawatir kami sedang memanggil dokter dari rumah sakit lain” tutur Erick


“Adam tak boleh menunggu lagi, Erick!” Ucap Bella, ia lalu mengeluarkan ponsel dari sakunya, ia usap sebentar air matanya dengan tangannya yang terkena darah Adam tadi, alhasil wajahnya pun tersapu darah


“Kak, bisakah kau menolongku? Tolong selamatkan Adam Kak! Aku mohon!” ucap Bella pada Justin lewat ponselnya, Bella lalu menceritakan apa yang terjadi pada Adam


“Aku akan segera kesana” sahut Justin


“Kak Justin akan segera datang Erick! Dia sedang berada di sekitar sini” ucap Bella pada Erick yang mengangguk lega


“Aku akan mempersiapkan operasi Adam” ucap Erick, lalu ia masuk lagi ke dalam ruang ICU


Tak sampai 15 menit, Justin sudah sampai di rumah sakit, bukan hanya Justin tapi Tuan Takanawa pun ikut, Erick yang baru saja keluar dari ruang ICU sampai terkaget melihat Takanawa, dokter bedah paling hebat di negara itu


Bella berdiri menyambut Justin yang menghampirinya, Justin begitu iba melihat raut putus asa di wajah Bella, belum lagi baju Bella yang berlumuran darah, tangan dan wajanhnya pun dipenuhi darah Adam, membuat Bella terlihat semakin memprihatinkan


“Tenanglah, aku dan Papa akan melakukan yang terbaik untuk Adam” ucap Justin sambil mengusap air mata Bella, “Bersihkan dirimu Bella, kau berlumuran darah” ucap Justin lagi


“Tolong selamatkan Adam, Kak! Aku tak tahu apa yang akan terjadi denganku jika aku sampai kehilangan Adam” lirih Bella


“Apa Adam sudah siap dioperasi?” Tanya Takanawa pada Erick, Erick mengangguk antusias ia begitu lega karena ada Takanawa yang akan mengoperasi Adam mengingat Takanawa tak pernah gagal mengoperasi pasiennya


“Justin, ayo kita segera masuk! Adam sedang membutuhkan kita!” Ucap Takanwa pada Justin


“Tenangkan dirimu Bella” titah Justin sebelum ia beranjak masuk bersama Takanwa dan Erick


Di kursi tunggu depan ruang operasi, Bella dan asisten Wang menanti dengan cemas


“Bagaimana Adam bisa tertabrak tadi? Kau lihat sendiri kan nyaris tak ada kendaraan disana tadi” ucap Bella ketika ia mengingat kejanggalan dalam peristiwa tabrak lari yang menimpa Adam


“Tuan Adam sengaja ditabrak Nyonya, sayangnya tidak ada yang sempat melihat nomor kendaraannya atau jenis kendaraannya” sahut asisten Wang


“Maksudmu, ada yang sengaja menabrak Adam begitu?” Cecar Bella


Asisten Wang mengangguk, “Saya yakin kalau ini unsur kesengajaan”


“Tapi siapa yang ingin mencelakai Adam?” Gumam Bella, “Ya Tuhan, apa ini ulah Adrian? Atau ulah Pamela dan Brianna?”

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2