Transaksi Di Atas Ranjang Suami

Transaksi Di Atas Ranjang Suami
Part 69


__ADS_3

Masih di hotel prodeo namun tempat yang berbeda, di sudut salah satu sel kumuh Pamela tengah menyandarkan dirinya, meski raganya berada disitu tapi pikirannya jauh berlayar, berita tentang kelahiran anak Bella dan Adam membuatnya bahagia sekaligus sedih, bahagia karena ia telah di anugerahi seorang cucu yang cantik, namun juga amat terluka karena ia tahu kalau ia tak mungkin bertemu dengan cucunya itu.


“Hei orang gila yang mengaku - ngaku sebagai besan keluarga Anderson! Apa kau sudah melihat berita di televisi tentang kelahiran pewaris Adam Anderson? Apa kau tak diberi tahu kalau cucumu itu lahir?!” Ejek salah satu tahanan pada Pamela yang ditimpali dengan suara tawa serta cemoohan dari para tahanan yang lain


“Bagaimana bisa ia bermimpi menjadi mertua Adam Anderson? Aku yakin jiwanya memang terguncang! Harusnya ia dimasukkan ke rumah sakit jiwa, bukan ke penjara!” Sahut tahanan lain yang membuat suara tawa pecah membahana, sedang Pamela pasrah terdiam seribu bahasa, hanya air matanya saja yang perlahan membulir, ia tak menyalahkan semua suara sumbang itu, ia sadar betul kalau ia memang tak pantas menjadi seorang Ibu ataupun seorang mertua, terlebih lagi mertua dari orang terpandang seperti Adam, meskipun begitulah kenyataannya


“Apa kalian tahu kalau ternyata anak wanita ini juga dipenjara?” Ucap salah seorang tahanan yang langsung menyita perhatian semua orang disitu


“Benarkah? Apa anaknya juga seorang pembunuh seperti Ibunya?” Sahut yang lain


“Bukan hanya itu, ku dengar selain dengan sengaja melepaskan seekor anjing penjaga untuk membunuh seseorang, anaknya juga telah melakukan penipuan besar! Dan apa kalian tahu siapa yang telah dia tipu? Adrian Anderson! anak bungsu keluarga Anderson!” Tandas tahanan tersebut, suara riuh kembali terdengar


“Cih… ternyata dia dan anaknya hanya orang yang terobsesi menjadi bagian dari keluarga Anderson! Hanya seorang penipu yang mengaku menjadi mertua Adam Anderson, memalukan! Ingin ku ludahi saja wajahnya!” Celoteh salah satu tahanan, kompak dengan ujaran penuh hinaan. Getir, itu yang dirasakan Pamela sekarang, semua hinaan dan cacian itu tak pernah ia bayangkan akan dialamatkan padanya, tapi inilah kenyataan yang harus ia hadapi sekarang, buah dari semua kejahatan pada anak kandungnya sendiri, Bella.


“Maafkan Ibu Nak! Maafkan Ibu!” Gumamnya lalu menangis tersedu, namun jangankan bersimpati, para tahanan itu justru semakin gemas mendengar tangisan Pamela


“Hei, jangan berharap kalau anakmu itu akan memaafkanmu! Dia pasti sangat membencimu sekarang! Apa kau lupa kalau kau mencoba membunuh bayi yang anakmu sedang kandung?! Kau tahu Pamela, bahkan binatang pun lebih berperasaan dibanding kau! Kau memang benar - benar jelmaan iblis!” Sengit seorang tahanan, wanita yang jauh lebih muda dibanding Pamela tapi paling disegani di sel tersebut, bagaimana tidak… dia membunuh dua orang laki - laki yang mencoba menodai putrinya, berbanding terbalik dengan Pamela yang justru menyakiti putrinya dan bahkan hendak membunuh cucunya sendiri.


“Jambak saja dia! Wanita seperti itu pantas dihajar, aku muak sekali melihatnya!” Suara provokasi semakin riuh


“Ya jambak! Ayo jambak!” Jawab yang lain bersahut - sahutan, dan terjadilah peristiwa mengerikan itu, Pamela di hajar habis - habisan, jambakan, tamparan, pukulan, tendangan, ia terima tanpa bisa berbuat apa - apa, beruntung kegaduhan di sel khusus kasus berat itu menyita perhatian para sipir, Pamela diselamatkan dan segera dilarikan ke klinik penjara, sedang para pelaku pengeroyokan dimasukkan ke sel isolasi


“Ada anggota keluarga yang ingin kau hubungi, Nyonya? Lukamu cuku parah, kau harus beristirahat selama beberapa hari, dan dalam waktu istirahat itu kau bisa dikunjungi oleh keluargamu!” Ucap seorang sipir, Pamela tertegun menimbang siapa yang bisa ia hubungi saat ia sedang dalam kondisi seperti ini


“Bisakah kau hubungi Bel…… ah tidak, tidak perlu menghubungi siapa - siapa” ucap Pamela sendu dibawah tatapan prihatin sipir itu, Pamela ingin… ingin sekali menghubungi Bella, meminta ampun, memeluknya, membasuh semua luka yang pernah ia torehkan di hati Bella, namun ia tahu Bella sudah menutup hati rapat - rapat untuk Pamela.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bella berjalan mondar - mandir gelisah sambil menimbang Eve di tangannya, kali pertama bayi itu terkena demam sehingga Bella panik bukan main, apalagi Eve menangis terus menerus


“Bella, pelayan tadi memberi tahuku kalau Eve sedang rewel, apa dia sakit?” Tanya Miranda yang baru saja masuk ke kamar Bella dengan raut cemas, Miranda lalu mengambil alih Eve untuk ia gendong, “Bella, cepat hubungi Erick dan suruh dia bawa dokter anak, Eve panas tinggi!” Titahnya, Bella hendak mengambil ponselnya saat William tergesa masuk


“Hei, aku dengar Eve menangis.. apa yang terjadi?” Tanya William yang menyusul istrinya tak kalah khawatirnya


“Sayang, cucu kita panas tinggi! Aku baru saja meminta Bella untuk menghubungi Erick!” Sahut Miranda sambil berjalan mondar mandir mencoba menenangkan Eve, namun justru hatinya yang tak tenang sampai menitikkan air mata, ia sungguh tak tega melihat cucu kesayangannya


“Kenapa Erick? Aku hubungi Justin! Tadi malam dia mengajukan diri untuk menjadi dokter pribadi keluarga kita!” Sahut William


Deg…

__ADS_1


Bella terkejut mendengar apa yang baru saja William katakan, Justin mengajukan diri sebagai dokter pribadi keluarga Anderson? Apa tidak salah? Untuk apa Justin melakukan itu? Uang Justin sangat melimpah


“Sayang, apa tidak salah? Dia Justin Takanawa, keluarga terkenal dan terpandang! Apa pantas kita menjadikan anaknya sebagai dokter pribadi kita?” Miranda tentu sebingung Bella


“Dia yang memaksa, sayang! Aku bisa apa selain bersyukur karena dokter sehebat dia mau merawat keluarga kita!” Tandas William, tak membuang waktu William langsung menghubungi Justin lewat ponselnya. Bella hanya termangu disana, pikirannya berkecamuk.. apa tujuan Justin? Bella lalu menghela napasnya guna menghalau semua pikiran buruk tentang Kakaknya itu, bagaimana pun Justin adalah manusia yang bisa berbuat khilaf


“A - aku akan menghubungi Adam” ucap Bella, ia lalu menghubungi suaminya itu lewat ponselnya


Kedatangan Justin nyaris bersamaan dengan Adam, Adam tentu kaget melihat Justin yang datang dan bukan Erick. Bella menyambut Adam saat Adam dan Justin masuk ke kamar


“Eve sakit? Sejak kapan dia panas tinggi?” Tanya Adam sambil memperhatikan anaknya yang tengah dibuai Miranda


“Sejak pagi tadi, Adam!” Sahut Bella sendu


“Syukurlah kau sudah datang! Tolong lihat cucuku, Justin.. demamnya sangat tinggi!” Ucap William pada Justin yang menghampiri Eve


“Kemarilah sayang, kau kenapa?” Gumam Justin sangat lembut pada Eve yang ia ambil dari Miranda, Justin lalu membawa Eve ke tempat tidur idan mulai memeriksanya, “Tubuhmu panas sekali, kasihan sekali kau, sayang” gumamnya lagi, Justin lalu bangkit dari tempat tidur dan meraih ponsel untuk menghubungi dokter anak di rumah sakit miliknya


William, Miranda, Adam, dan Bella menunggu dengan cemas


“Apa yang terjadi pada Eve Kak? Kenapa demamnya sangat tinggi sekali?” Tanya Bella tak sabaran pada Justin, Justin menjatuhkan pandangannya pada Bella, hatinya lega karena akhirnya Bella mau bicara lagi padanya


“Jadi maksudmu tidak ada yang perlu dikhawatirkan?” Tanya Adam memecah renungan Bella dan Justin


“Tidak ada, ini biasa terjadi pada anak - anak! Tenanglah!” Ujar Justin sambil menepuk - nepuk pundak Adam


“Ah syukurlah! Aku sangat khawatir kalau sesuatu terjadi pada Eve, dia segalanya buatku sekarang, Justin! Aku tak ingin dia sampai kenapa - kenapa!” Oceh Miranda, tapi ia akhiri dengan menitikkan air mata, William sigap memeluk istrinya, “Ah sayang, sudahlah! Eve tidak apa - apa, tenanglah! Ada Justin yang akan mengawasinya” imbuhnya


“Jangan khawatir, Nyonya! Kalau perlu aku akan bermalam disini agar bisa memonitor kondisi Eve” ucap Justin, Bella menoleh mendapati perasaannya yang tak nyaman jika Justin sampai menginap


“Itu tak perlu Justin, aku dan Bella akan menjaga Eve!” Ucap Adam yang diangguki mantap oleh Bella


“Adam benar, lagipula kami sungkap pada Tuan Takanawa, apa anggapannya nanti jika dia mendengar kalau pewarisnya menjadi dokter pribadi keluarga kami” ucap Miranda tak enak


”Ahahaha.. ini tawaran sebagai seorang Paman! Eve adalah anak dari adik kesayanganku, sudah sewajarnya kalau aku ikut menjaganya bukan?” Sanggah Justin, mendengar Justin bicara seperti itu Miranda tak lagi protes, Adam pun sama demi menghargai niat baik Kakak iparnya dan juga Bella, sedang Bella ia justru merasa tak karuan, pikirannya kembali menduga - duga kalau Justin punya rencana lain


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Setelah diperiksa oleh dokter anak dan diberikan obat, Eve tertidur lelap di bawah penjagaan Adam, Bella, dan tentunya Justin. Ketiganya hening dan hanya menatapi Eve dengan penuh kasih sayang, sesekali Bella mengelus pelan wajah kecil putri cantiknya itu, memastikan demamnya sudah turun.

__ADS_1


“Sayang, aku harus menjawab panggilan ini, Ini dari kantor!” Bisik Adam pada Bella saat ponselnya bergetar tanpa henti, Bella mengangguk mengiyakan Adam untuk keluar dari kamar Eve, meninggalkan Bella dan Justin, kini keduanya hening membisu


“Bella, tentang apa yang kemarin terjadi aku….. “


“Kau khilaf kan Kak? Kau tak berniat melakukannya kan?” Bella memotong omongan Justin, mengarahkan Justin agar menyesali perbuatannya


“Khilaf? Untuk apa aku khilaf? Itu adalah perasaanku yang sesungguhnya padamu!” Tandas Justin


Bella refleks mundur, mengurai jarak antara mereka, “Kak, kau jangan kurang ajar! Jangan melewati batasanmu!” Sengit Bella, Justin ikut bangkit lalu berjalan mendekati Bella, Bella semakin mundur hingga ia tersudut di dinding kamar sementara Justin nyaris tak berjarak darinya


“Jangan macam - macam, Kak! Ada Adam disini, aku tak segan - segan berteriak jika kau nekad menyentuhku!” Ancam Bella, namun Justin tak ciut, ia kini mengungkung Bella dengan kedua tangannya, Bella mengkerut dan menyilangkan tangan di depan dadanya sebagai bentuk pertahanan


“Ahahaha… Bella, apa yang kau pikir akan ku lakukan padamu?” Goda Justin sambil membelai rambut Bella


Tangan Bella menepisnya dengan kasar, “Hentikan Kak!” Sengitnya lagi


“Jangan membuat keributan, Bella! Apa kau tak kasihan pada Tuan William jika ia sampai mengetahui apa yang terjadi? Apa kau tak tahu kalau kondisi jantung Tuan William semakin tidak baik?” Ancam Justin


“A - apa maksudmu, Kak? Daddy baik - baik saja! Kau pikir aku akan termakan omonganmu begitu?” Sengit Bella lagi


“Kau bisa tanya langsung pada dokter yang menanganinya di rumah sakitku, Tuan William belakangan ini diperiksa secara intens, mungkin Tuan William memang tak ingin menceritakannya pad siapa pun agar tak ada yang khawatir! Jadi jangan menjadi penyebab sakit jantung Tuan William kambuh lagi, Bella!” Ucap Justin semakin memprovokasi Bella


“Apa yang kau inginkan, Kak?” Bella nyaris menangis ketika mengucapkannya, baru kali ini ia merasa tak berdaya di depan seorang pria yang dulu begitu melindunginya, apa yang sebenarnya terjadi pada Justin?


“Berikan aku satu ciumanmu lagi, Bella! Dan setelah ini aku berjanji aku tak akan menyentuhmu lagi!” Tawar Justin dengan wajah nyaris tanpa jarak dari Bella


“Aku tak ingin mengkhianati Adam Kak! Aku mencintainya, hanya dia yang berhak menyentuhku, aku…. “ Bella tak lagi bisa berkata - kata karena mulutnya telah dibungkam oleh mulut Justin, seintens sebelumnya namun kali ini ciuman Justin lebih menuntut, Bella bahkan bisa merasakan hembusan napas Justin yang memburu, Bella yakin kalau Justin sudah terseret oleh hasratnya, untuk menghindari itu Bella sekuat tenaga mendorong tubuh tinggi tegap Justin, sementara ia sendiri melorot ke lantai lalu memecahkan tangisnya


“Keluar kau, Kak!” Sentak Bella, Justin tak lagi membantah, ia segera keluar dari kamar Eve, lebih lama berduaan dengan Bella bisa membuatnya kalap dan mungkin akan membuatnya melakukan kesalah fatal


“Ya Tuhan, Kak! Kenapa jadi seperti ini? Kenapa?!” Racau Bella frustasi dengan sikap Justin


“Bagaimana aku menghadapi Adam setelah ini, Kak! Kenapa kau tega sekali!” Rintih Bella sambil menjatuhkan air matanya


“Bella, apa yang terjadi dengamu?” Adam begitu terkejutnya melihat Bella yang terduduk di lantai dengan bersimbah air mata, Bella mendongak lalu memburu memeluk Adam dan menumpahkan air matanya


“Ada apa sayang? Kau kenapa? Dan tadi kau menyebut Kak! Apa maksudmu Justin? Apa yang terjadi antara kalian berdua?” Cecar Adam


“Adam! Maafkan aku Adam!” Sahut Bella tersedu - sedu membuat dahi Adam berkerut, apa yang sebenarnya terjadi dengan Bella?

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2