Transaksi Di Atas Ranjang Suami

Transaksi Di Atas Ranjang Suami
Part 38


__ADS_3

Ketika turun dari mobilnya, Justin berlari sekuat tenaga menuju taman belakang kampus tempat Bella minta dijemput tadi, sampai disana pandangan Justin mengedar mencari - cari sosok Bella, Justin menghela napas lega senyumnya juga terbit saat ia melihat Bella yang duduk termenung di bangku taman, Justin bisa menyimpulkan ada masalah hebat yang sedang menimpa Bella sekarang melihat senyum yang hilang dari wajah yang selalu ceria itu


“Kau tak apa?” Tanya Justin sambil mendudukkan dirinya di samping Bella, Bella hanya menoleh sebentar lalu hanyut dalam lamunannya lagi, Justin mengerti sehingga ia tak bertanya lebih lanjut


“Hari sudah mendung, sepertinya sebentar lagi akan turun hujan, apa kau mau ku antarkan pulang?” Tawar Justin, Bella tersenyum miris


“Pulang kemana Justin? Pulang pada siapa? Aku tak punya tempat untuk pulang” lirih Bella, Justin semakin paham kalau Bella sedang ada masalah dengan Adam, pria yang baru kemarin diakui Bella telah berhasil merebut hatinya


“Kalau kau tak ingin pulang, bagaimana kalau kau berkunjung ke rumahku? Bukankah kau berjanji untuk menemui Mama dan Jessie?” Tawar Justin lagi, Justin bingung mau membawa Bella kemana lagi selain ke rumahnya


“Ke rumahmu? Ck…. Untuk apa kalau nanti Adam menyusulku kesana” Bella berdecak malas, untuk saat ini ia enggan bertemu dengan pria yang menyakiti lagi hatinya itu


Justin tersenyum simpul, “kau tenang saja, serahkan semuanya padaku” ucap Justin meyakinkan Bella, Justin lalu bangun dari duduknya, “ayo” ajaknya


Dengan lunglai dan pasrah Bella mengekori Justin, keduanya kemudian masuk ke dalam mobil Justin. Justin santai mengendarai mobilnya, ia tak lagi terburu - buru karena Bella sudah aman berada di sampingnya sekarang, sesaat mereka sama - sama terdiam, Bella yang tak bersuara membuat Justin memutar otak mencari cara untuk menghiburnya


“Kau tahu apa yang Jessie lakukan saat dia tahu kau tengah hamil?” Justin tersenyum geli mengingat kelakuan adiknya itu, “dia mencari tahu apa saja yang dibutuhkan oleh bayi, dan esoknya dia membeli semuanya termasuk box bayi dan bahkan banyak sekali mainan”


Bella menunduk melihat perutnya, “bayi” gumam Bella, “bayi ini adalah anak dari pria egois yang bernama Adam” cerita Justin justru mengingatkan Bella pada Adam, Justin menggaruk kepalanya yang tak gatal, dan merutuki dirinya sendiri, “sial, kenapa aku malah salah bicara!” batin Justin, selanjutnya Justin tak lagi bicara, mereka hening sepanjang perjalanan


Bella mengerutkan keningnya ketika melihat jalan asing yang mereka lewati, “kita mau kemana Justin? Ini bukan jalan menuju rumahmu!” Tanya Bella


“Ini jalan ke rumahku Bella, tapi rumahku yang lain, bukankah kau tak ingin Adam menemukanmu?” Sahut Justin, Bella tak merespon, wajahnya menyamping mengamati pemandangan pohon - pohon rimbun sepanjang jalan, tapi bukan warna hijau dedaunan atau temaram lampu jalan yang ia lihat, melainkan wajah Adam yang seolah ada dimana - mana


“Arrrgggghhhhh!!!” Teriak Bella sambil mengusap wajahnya frustasi


“Bella kau kenapa?” Justin panik melihat Bella yang tiba - tiba saja memekik, Justin menepikan mobilnya saat mulai mendengar isak tangis tertahan karena Bella menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Justin belum berani bertanya, ia mencoba menenangkan Bella dengan mengelus - elus lembut rambut Bella


“Menangislah! Keluarkan semua beban dan sakit hatimu” ujar Justin, Bella yang semula menahan tangisnya kini menangis sekencang yang ia bisa, sedu sedannya meremukan hati Justin, Justin sungguh ingin tahu apa yang sebenarnya sedang menimpa Bella dan apa yang telah Adam lakukan padanya, tapi Justin sabar menunggu hingga Bella yang mengatakannya sendiri karena Justin khawatir mencecar Bella hanya akan seperti menaburkan garam di luka yang tengah menganga, belum lagi kehamilan Bella yang membuatnya lebih sensitif


**cukup lama Bella menangis, matanya saja sampai bengkak


“Apa kau sudah tenang?” Justin yang setia mendampinginya lega ketika tangis Bella mereda


“Maaf, entah kenapa belakangan ini aku gampang sekali menangis” ujar Bella sambil mengusap air matanya yang masih tersisa


“Itu wajar untuk Ibu hamil sepertimu Bella, kau akan mudah sedih dan marah bahkan untuk hal - hal sepele” terang Justin


“Ini tak sepele Justin! Adam… ah sudahlah!” Bella urung menceritakan apa yang terjadi antara ia dan suaminya, ia tak mau mengobarkan lagi emosi Justin yang akhirnya akan membuat Justin merencanakan pembalasan dendam untuk Adam, “Apa perjalanannya masih jauh? Aku ngantuk sekali” Bella sengaja mengganti topik tak ingin Justin mencecarnya


“Kau tidurlah, akan ku bangunkan setelah kita sampai nanti” sahut Justin, Bella mengangguk, ia lalu membenarkan duduk nya dan mulai memejamkan matanya, melihat Bella sudah mulai terlelap Justin lantas melanjutkan perjalanan mereka


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Apa kalian sudah menemukannya?” Tanya Adam pada asisten Wang dan Anna, sekretarisnya. Mereka baru saja kembali dari tugas khusus yaitu mencari keberadaan Bella.


“Nyonya Bella tidak ada di semua hotel kota ini Tuan, begitu juga di rumah sakit, pihak perpustakaan kampus tempat Nyonya bekerja dulu juga mengaku tidak melihat Nyonya Bella” sahut Asisten Wang


“Saya sudah mendatangi rumah Tuan Takanawa, disana hanya ada para pelayan dan penjaga rumah, mereka bilang kalau Nyonya Bella sudah lama tidak berkunjung kesana” tambah Anna lesu, Anna jelas ikut panik dan sedih atas perginya Bella yang entah kemana, Anna menduga ini ada hubungannya dengan kejadian yang ia lihat tadi pagi di kantor


Adam menyugar rambutnya frustasi, kemana lagi ia harus mencari Bella? Istrinya itu tak punya tempat tujuan selain rumah Takanawa, Bella juga tak ada di rumah mereka berdua. Tadi Adam juga sudah menghubungi Ibunya, siapa tahu Bella pulang ke kediamannya, tapi sayang Bella pun tak muncul disana. Alhasil Adam terpaksa berbohong pada Ibunya bahwa beberapa hari ini ia dan Bella akan menginap di hotel, kepergian Bella jelas akan membuat orang tuanya panik, belum lagi kalau Pamela, Adrian, dan Brianna ikut mendengarnya, entah rencana jahat apa yang akan mereka siapkan


“Suruh sopir siapkan mobil, aku dan asisten Wang akan mencari Bella ke seluruh kota!” Titah Adam pada Anna, Anna mengangguk patuh

__ADS_1


“Maaf Tuan, bolehkah saya ikut mencari Nyonya Bella? Saya sangat khawatir melihat keadaannya tadi” tanya Anna dengan mata berkaca - kaca nyaris menangis membayangkan seorang Ibu hamil yang entah kemana perginya


“Baiklah, batalkan semua jadwal meeting kita, fokus kita sekarang adalah menemukan Bella, hubungi orang - orang kita yang punya keahlian mencari orang, suruh mereka mencari Bella kemana pun!” Sahut Adam, Anna mengangguk antusias, ia lalu bergegas menunaikan semua titah Adam


“Wang, kau sudah berhasil menghubungi Justin Takanawa?” Tanya Adam, asistennya itu menggeleng


“Ya Tuhan, kemana Bella?” Hati Adam semakin tak tenang bercampur perasaan bersalah, seharusnya ia tidak tiba - tiba berubah sikap, kenapa sulit sekali mengendalikan kecemburuannya saat itu


...----------------...


“Bella, kita sudah sampai” suara lembut Justin sayup terdengar di telinga Bella, tapi matanya enggan membuka, mungkin karena lelah menangis, atau ia memang sangat mengantuk


“Bella, bangunlah! Kita sudah sampai, kau bisa melanjutkan tidurmu di dalam” sambung Justin lagi, Bella hanya bergerak sedikit tanpa membuka matanya


“Heemm.. baiklah, apa kau mau ku gendong?” Goda Justin, mendengar itu Bella memaksa matanya yang lengket untuk terbuka, “tidak perlu” jawabnya, masih setengah mengantuk Bella membuka pintu mobil dan segera turun, Justin hanya bisa terkekeh melihat Bella yang panik, “aku pikir ini kesempatanku untuk bisa menggendongmu Bella” gumamnya, ia lalu turun dari mobil menyusul Bella yang mulai melangkah menapaki jalan halaman rumah Justin


Bella mengucek matanya, pemandangan pertama yang ia lihat saat matanya sudah terbuka lebar dan nyawanya sudah terkumpul adalah bangunan mewah yang luas bercat putih dengan banyak tiang - tiang penyangga besar yang menjulang, Bella sampai terbelalak melihat bagaimana besarnya rumah itu, halamannya pun sangat luas dan asri, sepanjang halaman dipagari oleh pohon - pohon cemara yang terawat rapi, kebun bunga terhampar memanjakan mata, di tengah - tengah taman gemericik suara air mancur membuat suasana semakin sejuk, rumah yang hanya satu - satunya di pinggiran kota ini bak istana tersembunyi di negeri dongeng


“Ini rumahmu Justin? waaaahhh…. “ Bella terkesima, sesaat ia lupa akan sedihnya tadi, Justin disampingnya jelas senang melihat sedikit senyum di raut wajah Bella


“Ayo masuk” ajak Justin memimpin jalan untuk Bella, saat mereka berdua hendak masuk ke dalam rumah, jejeran pelayan menyambut kedatangan mereka dengan sopan


“Ini adalah rumah keduaku, biasanya keluargaku akan berkumpul disini saat kami sedang merayakan sesuatu” ujar Justin, Justin lalu memanggil seorang pelayan yang langsung tergupuh menghampirinya, “Antarkan Nyonya Bella ke kamar utama” titahnya


“Cukup di kamar tamu, Kak! Kenapa harus di kamar utama?” Ujar Bella, ia sungkan dan tak ingin diistimewakan


Justin menghela napas dan berkacak pinggang, “Sejak kapan aku jadi Kakakmu? Aku senang kau sudah memanggilku Justin tadi, kenapa kau harus memanggilku Kakak lagi?” Protesnya, Justin memang pernah meminta agar Bella tak melabelinya dengan sebutan Kakak, sungguh bukan hubungan seperti itu yang ia inginkan


“Istirahatlah, kau terlihat sangat lelah Bella” titah Justin, Bella tak menyanggah, ia memang sangat lelah, baik fisik maupun hatinya


*** di atas tempat tidur super king Bella yang entah sudah tertidur berapa lama sayup - sayup mendengar suara orang yang sedang berbicara


“Ma, kenapa perutnya belum membesar? Apa bayinya sangat kecil?” Bisik Jessie pada Ibunya, mereka sedang berada di kamar yang sedang Bella tempati, mengamati Bella yang tengah terlelap


“Kehamilannya baru 4 bulan sayang, tentu perutnya belum terlalu membesar” sahut Emily


“Aiiihh Ma, aku sudah tak sabar menggendong bayi mungil Kak Bella, berapa lama lagi aku harus menunggu Ma?” Rengek Jessie


“Ahahaha.. kau masih harus sabar menunggu sekitar 5 bulan lagi sampai Bella melahirkan sayang” sahut Emily


Entah dalam mimpi atau memang kenyataan suara obrolan itu semakin jelas di telinga Bella, mau tak mau Bella memaksakan matanya untuk terbuka, ia lalu beringsut duduk, tangannya sibuk mengucek matanya demi menjernihkan penglihatan yang masih samar


“Kak Bella bangun Ma” bisik Jessie bahagia, ia sangat merindukan sosok Bella yang sudah ia klaim sebagai kakak iparnya sendiri, dalam hatinya Jessie bahkan menyangkal kalau Bella milik Adam, buatnya hanya Justin yang layak bersanding dengan Bella


Samar Bella melihat dua sosok orang di depannya, mata Bella memicing memastikan kalau penglihatannya tak salah, dan betapa terkejutnya ia saat melihat Emily dan Jessie yang tengah tersenyum hangat di depannya


“Nyo - Nyonya” Bella panik hendak beringsut bangun, namun Jessie segera memburunya


“Kau mau kemana Kak? Jangan bangun dulu, kau pasti masih sangat lelah” ucap Jessie


“Jessie benar Bella, istirahatlah, dari wajahmu saja sudah terlihat kalau kau butuh banyak tidur” tambah Emily


“Nyonya Emily, maaf.. Justin yang memintaku untuk tidur di kamar ini, aku sudah menolaknya tapi Justin… “

__ADS_1


“Ck… ya ampun Kak, memang Mama yang mengatur agar Kak Bella tidur disini, kau sedang hamil Kak jadi kau harus merasa nyaman, tidak perlu merasa sungkan” ucap Jessie


Mendengar itu Bella menjadi tertunduk, hatinya mengharu biru, mungkin karena baru pertama kalinya ia diperlakukan sangat istimewa layaknya seorang anak dalam keluarga, “Aku minta maaf, tentu sangat merepotkan untuk Justin dan kalian karena harus menampungku disini” ujarnya sendu


“Apa yang kau bicarakan Bella? Bukannya aku sudah bilang kalau kita keluarga?” Tandas Emily


“Mama benar Kak, kau bagian dari keluarga kami, jadi kau selalu punya tempat bersama kami, kau tahu Kak aku sangat senang saat Kak Justin tadi menghubungi dan memintaku untuk datang karena kau ada disini, rasanya sudah lama sekali kita tak bertemu” ujar Jessie sambil memeluk Bella yang badannya bergetar hebat dengan wajah yang masih tertunduk, bagaimana Bella tidak hendak menangis saat mengetahui ada keluarga lain yang menganggapnya ada, mencintainya dan menerimanya


“Hiks…” Bella mulai terisak, Jessie dan Emily saling tatap bingung kenapa tangis Bella tiba - tiba luruh


“Kak, kau kenapa?” Tanya Jessie panik, namun bukannya menyahut Bella justru semakin tersedu - sedu


Sebagai seorang Ibu, Emily seperti paham apa yang sedang terjadi pada Bella, selain karena faktor kehamilannya Emily yakin ada hal yang membuat Bella menangis pilu seperti itu


“Jessie, tolong minta pelayan untuk segera menyiapkan makan malam” titah Emily pada anaknya


“Tapi Ma, Kak Bella menangis, apa yang terjadi padanya” Jessie begitu panik, ia salah tingkah, kadang mengelus punggung Bella untuk menenangkan, sejurus kemudian ia membelai - belai sayang rambut Bella


“Jessie!” Titah Emily lagi mengkode agar Jessie mau keluar kamar dan meninggalkannya berdua saja dengan Bella


”ah iya, baiklah Ma” Jessie tak lagi membantah, meski ragu - ragu untuk meninggalkan Bella tapi akhirnya Jessie keluar dari kamar itu membawa hatinya yang penasaran


Emily perlahan memajukan kursi rodanya menuju samping tempat tidur Bella, tangannya lalu terulur membelai - belai surai Bella


“Ada apa Bella? Apa yang kau tangisi?” tanya Emily penuh kelembutan, Bella tak langsung menjawab, ia mencoba meredakan sesak yang bercokol di dadanya, sisa air mata di pipinya ia hapus, perlahan ia mendongak


“Aku tak pernah mendapat kasih sayang sebesar ini bahkan dari Ibu dan Kakakku sendiri Nyonya” sahut Bella, ah pantas saja Bella sampai menangis, Emily ingat Justin pernah bercerita betapa jahat perlakuan Ibu dan Kakak kandung Bella pada wanita malang itu


“Kau tahu Bella, tak ada seorang pun Ibu yang tak menyayangi anaknya, aku yakin Ibumu hanya marah sesaat padamu, suatu hari dia akan mengasihimu kembali layaknya seorang Ibu pada anak” hibur Emily


Bella tersenyum miris membayangkan kemustahilan itu, “rasanya tak mungkin Ibuku akan berubah Nyonya, kecuali jika wajahku berubah” sahut Bella


Emily tak mengerti maksud Bella, “maksudmu Bella? Apa dimata Ibumu kau kurang cantik, atau apa ada hal lain yang membuat Ibumu membenci wajahmu yang sangat cantik ini?” Hibur Emily lagi sambil mengelus pipi Bella


“Ibuku membenciku karena wajahku mirip dengan mantan istri Ayah, Ibuku sangat terobsesi pada Ayah sehingga ia menganggap mantan istri Ayah sebagai musuh terbesarnya” sahut Bella lirih


Emily menghela dalam napasnya, demi apa pun ia tak pernah mendengar kekonyolan seperti ini, mana ada seorang Ibu yang membenci anak kandungnya sendiri dengan alasan itu


“Maaf kalau aku harus menanyakan ini Bella, tapi apa kau benar anak kandung orang tuamu?” Selidik Emily


“Sayangnya begitu Nyonya, aku adalah anak kandung dari David Smith dan Pamela Smith” jawaban Bella ini serta merta membuat Emily membelalakan matanya


“S - siapa nama ayahmu tadi?” Cecar Emily memastikan ia tak salah dengar


“David Smith, anak dari keluarga Smith pemilik perusahaan Smith group yang kini sudah bangkrut, apa Nyonya mengenal Ayahku?” Timpal Bella lagi


Deg…


Emily menutup mulutnya yang terbuka lebar saking kagetnya, kepala Emily menggeleng - geleng menyangkal berita yang baru saja ia dengar, mata Emily memanas dan berkaca - kaca


“Bella anak David Smith dan Pamela? Ini berarti Bella adalah anak dari mantan suamiku dulu? Ya Tuhan, bagaimana bisa?” batin Emily


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2