Transaksi Di Atas Ranjang Suami

Transaksi Di Atas Ranjang Suami
Part 79


__ADS_3

“Apa kalian tidak becus bekerja, hah? Bagaimana bisa orang sebanyak kalian tak mampu mencari seorang wanita?!” Sentak Adrian pada orang - orang Adam yang tengah melapor pada bos besarnya itu, sedang Adam hanya duduk diam tak berucap sedikit pun


“Kerahkan helikopter perusahaan untuk mencari lewat udara, kalau perlu hubungi otoritas pencarian orang, minta mereka untuk mencari Nyonya Adam Anderson!” Titah Adrian, orang - orang Adam itu manut kemudian undur diri untuk segera melaksanakan perintah Adrian


Adrian mengusap wajahnya frustasi, ia lalu menghampiri Kakaknya dan ikut duduk bersamanya di bawah pohon tempat mereka beristirahat sejenak setelah melalui perjalanan semalaman mencari Bella


Adam merogoh saku jubah panjangnya, ia lalu mengeluarkan sekotak rokok, mengambil sebatang, lalu menyalakan dan menghisapnya, semua itu tak lepas dari tatapan heran Adrian


“Sejak kapan kau merokok, Kak?” Cecarnya


Adam pelan menghebuskan asap putih dari mulutnya, “Pertama kali aku merokok saat aku harus menjalankan perusahaan yang hampir bangkrut di usiaku yang baru menginjak 17 tahun, aku takut dan khawatir mengecewakan Daddy!”


“Lantas apa alasanmu merokok sekarang? Apa kau sangat takut kehilangan Bella?” Selidik Adrian sambil merebut rokok dari tangan Adam dan mematikannya, “Ini bukan dirimu, Kak! Kau jangan menyerah dulu, kita pasti bisa menemukan Bella!” Tandasnya


Adam membisu, tak menyahut atau merespon apa pun, Adrian benar - benar tak bisa menebak jalan pikiran Kakaknya sekarang


“Kak, apa kau akan meninggalkan Bella?” Selidik Adrian


Adam menghela napasnya dalam - dalam, “Kita harus mencari mereka lagi!” Ujar Adam sambil bangkit dari duduknya dan berjalan menuju mobil meninggalkan Adrian yang tak habis pikir dengan bungkamnya Adam


“Apa kau benar ingin meninggalkan Bella, Kak?” Gumamnya khawatir


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Brianna terkekeh mendengar berita yang bocor dari mulut salah satu penjaga rumah Anderson, penjaga rumah itu tak sepenuhnya salah saat memberi tahu kalau Nyonya rumah mereka yaitu Bella lari dari rumah, penyamaran Brianna sebagai seorang wartawan memang sempurna, dengan memakai rambut palsu, kaca mata hitam, dan tanda pengenal wartawan yang juga palsu serta beberapa lembar uang mampu membuat penjaga rumah Adam merasa aman saat ia memberi sedikit informasi kenapa di rumah itu banyak sekali orang, “Istri Tuan Adam belum juga pulang, semua dikerahkan untuk mencarinya” bisiknya


Brianna tentu saja senang bukan kepalang, “Ahahahaha… Ada masalah apa antara kau dan Adam sampai kau lari darinya, Bella? Dan kemana kau pergi sampai Adam pun tak bisa menemukanmu? Apa justru aku yang akan menemukanmu?” Ucapnya dengan seringai menakutkan, ia lalu menenggak segelas wine mahal pemberian tua bangka kaya raya, kekasihnya yang baru selain Adolf


“Heeemmm, kemana wanita bodoh itu pergi? Dia pasti mencari tempat yang Adam tak ketahui! Tapi dimana tempat yang tak bisa Adam lacak? Dengan satu jentikkan jari saja dia bisa mengerahkan orang - orangnya untuk menemukan Bella bahkan jika Bella bersembunyi di ujung dunia sekali pun” gumam Brianna bertanya - tanya


Mata Brianna membulat saat ia mendapat ide kemana Bella pergi, “Ah Jadi disitu rupanya kau, Bella?! Awas saja saja kau!” Gumamnya lagi dengan senyum penuh kemenangan


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sinar matahari pagi mulai mengintip di balik sisa kabut tadi malam, hawa dingin karena hujan semalaman masih terasa, di geladak tepi sungai Bella menatap kosong riak air di depannya, matanya sayu dan sembab bekas tangisannya yang ia sendiri sulit hentikan


“Apa kau tak tidur lagi tadi malam?” Tanya Pamela yang baru saja datang setelah ia menutup punggung ringkih Bella dengan selimut, Pamela lalu duduk di sebelah Bella dan menatap anaknya itu penuh kelembutan


“Aku sama sekali tak bisa memejamkan mataku, Bu” sahut Bella lirih

__ADS_1


“Kau tidak boleh menyiksa dirimu sendiri seperti ini, Bella! Kau tak mau makan, kau juga tak tidur, bagaimana kau akan bisa sembuh dari sakitmu? Apa kau tak kasihan pada Eve?” Tandas Pamela


Bibir Bella bergetar, ia seka air matanya yang mengalir lagi, “Mungkin… mungkin kematian akan lebih mudah bagiku, Bu!” Ucapnya lalu tertunduk, hati Pamela bak di godam mendengar ucapan Bella itu


“Sadar Bella! Apa yang kau ucapkan barusan? Kau boleh tak mempedulikan perasaanku, tapi bagaimana dengan Eve? Apa kau tega meninggalkan darah dagingmu sendiri?!” Sentak Pamela, ia tak bisa terima kata - kata Bella barusan, sesak menyiksa dadanya, sungguh ia tak rela kalau sesuatu terjadi pada Bella


Wajah cantik itu seperti kehilangan sinarnya, belakangan ini jauh lebih banyak tangis dibanding senyum yang menghiasi wajah anggun Bella, Bella hanya tersenyum saat ia sedang menyusui atau menidurkan Eve, selebihnya ia hambur - hamburkan tangisnya.. seperti sekarang air mata kembali keluar dari netra yang sudah bengkak dan lelah itu, “Aku tak kuat, Bu! Sungguh aku tak kuat lagi!” Lirih Bella lalu terisak


Tangan yang hanya tinggal tulang dan kulit keriput itu mengelus rambut Bella yang berantakan, rambut yang tak lagi indah tertata seperti biasa, “Kau harus kuat, sayang… demi Eve!” Ucap Pamela menenangkan anaknya yang semakin larut dalam keterpurukan


“Aku tak bisa melupakannya, Bu! Tapi badan ini… badan kotor ini sudah tak layak untuknya!” Bella menggosok kasar badannya seolah ingin segera melepas kotoran yang menempel di tubuh moleknya


Pamela sigap mengambil tangan Bella agar ia berhenti melukai diri sendiri, “Hentikan Nak, hentikan! Tubuhmu tak kotor, kau suci Nak! Pria berengsek itu lah yang kotor! Jangan salahkan dirimu sendiri!”


Mungkin karena tekanan batin yang teramat besar Bella refleks berteriak meluapkan semua kesedihan dan kemarahannya, “Aaaarrrggghhhhhh!!!!!” Pekiknya membahana, Pamela disampingnya mengelus - elus punggung Bella mendukung agar putrinya mengeluarkan beban dalam hatinya


“Keluarkanlah Bella! Berteriaklah yang kencang, jangan kau tahan - tahan! Luapkanlah semua!” Ucap Pamela sendu meratapi kesedihan anaknya, “Kau boleh marah, kecewa, sedih! Tapi jangan sekali - kali kau berpikir untuk mati, Bella! Jangan! Ibu janji sayang, kita akan memulai kehidupan baru disini, kita akan melalui lagi semuanya bersama” tutur Pamela menenangkan Bella dalam rengkuhannya


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Braaaakk….


“Ketuk pintunya, Ma!” Ucap Justin lesu, ia lelah semalaman berkendara mencari - cari Bella


“Tak perlu!” Sengit Emily, “Katakan padaku Justin, apa yang telah kau lakukan pada Bella?” Cecar Emily, air mukanya menunjukkan kekecewaan, mendapat pertanyaan begitu Justin menoleh pada Ibunya


“Apa maksudmu, Bu?” Tanya Justin antara pura - pura bodoh dan kaget karena tiba - tiba mendapat pertanyaan seperti itu dari Emily, Emily baru tahu pagi ini kalau Bella pergi dari rumah setelah Miranda menghubunginya, mendengar kronologis kepergian Bella dari rumah, Emily yakin kalau Justin lah dalang dibalik semua


“Kau lahir dari rahimku, Justin! Kau pikir aku tak tahu kapan kau bohong, kapan kau pura - pura dan kapan kau jujur?” Sengit Emily lagi, “Sekarang katakan padaku, apa yang kau perbuat pada Bella di malam saat kau merawatnya?” Cecar Emily


Justin menatap Ibunya dengan tenang, “Aku hanya berusaha agar Bella bisa menjadi milikku, Ma”


Emily terperangah, “Apa kau bilang? Sebentar Justin, apa maksudmu?” Cecar Emily tak mengerti, “Justin ingat, kau sudah berjanji pada Bella untuk melepaskannya!” Tandasnya


“Aku berjanji karena paksaan, Ma! Aku berjanji karena aku tak mau Bella sampai bunuh diri” sahut Justin datar


“Lalu sekarang, apa ulahmu pada Bella?” Sengit Emily, ia menatap Justin penuh selidik, menelisik sikap Justin yang sangat tenang


“Astaga! Kau.. apa kau… “ Emily menutup mulutnya, ia tak sanggup melanjutkan kata - katanya mengerti apa yang sudah Justin lakukan di malam nestapa itu

__ADS_1


Plaaakkk…


Satu tamparan keras mengenai pipi putih Justin yang seketika berubah merah


“Aku tak membesarkanmu untuk menjadi pria pengecut seperti ini, Justin!” Pekik Emily penuh kekecewaan, “Apa kau merasa bangga telah merebut kebahagiaan orang lain, hah?”


Justin yang masih terkejut memegangi pipinya, seumur hidup baru kali ini Emily berlaku kasar padanya apalagi sampai main fisik, “Adam yang merebut kebahagiaanku!” Sahutnya melunak


“Mereka saling mencintai, Justin! Justru dengan kau merebut Bella dari Adam, kau lah yang merebut kebahagiaan Bella! Sudah berapa kali ku katakan, lupakan cintamu pada Bella.. terlebih dia itu adikmu sendiri, Justin! Apa kau pikir kau bisa menikahi adikmu sendiri, hah? Apa itu yang akan kau lakukan?” Bentak Emily


“Aku tak ingin mendengar ini, Ma! Dan aku tak akan berubah pikiran, lagipula semua sudah terjadi… aku tinggal menunggu sedikit lagi” keukeuh Justin


Emily sudah berlinang air mata, ingin sekali ia menampar Justin kembali tapi ia tahu keras kepala anaknya itu tak akan gampang diubah, kini Emily hanya bisa menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang terjadi pada Bella, seandainya saja ia bisa lebih tegas pada Justin dan menceritakan apa yang telah Justin lakukan pada Adam tentu Bella tak akan mengalami hal seperti ini


Tanpa berkata apa pun lagi Emily meninggalkan kamar Justin dengan perasaan remuk redam, ia sangat merasa berdosa pada David Ayahnya Bella sekaligus pria yang sangat ia cintai karena ia telah gagal menjaga Bella dan gagal mendidik Justin


“Maafkan aku David, maafkan aku” ucapnya bergetar, Emily lalu masuk ke kamarnya dan tangisnya pecah disana


*** Sudah sore ketika pelayan mengetuk - ngetuk kamar Emily untuk kesekian kalinya tapi Emily tak juga merespon, Takanawa yang kebetulan baru saja pulang dari rumah sakit menghampiri para pelayan yang sedang kebingungan


“Ada apa ini?” Tanyanya


“Nyonya tidak juga membukakan pintu, Tuan” sahut salah seorang pelayan, Takanawa lalu mengetuk dan mencoba membuka pintu yang terkunci, “Emily!!” panggilnya mulai ikut panik karena tak biasanya Emily mengunci pintu kamar


“Panggilkan Justin!” Titah Takanawa pada seorang pelayan yang lalu tergupuh menuju kamar Justin, mendengar apa yang terjadi Justin bergegas lari ke kamar Emily


“Ibumu ada di dalam, dan sampai sekarang ia tak membuka pintunya!” Ucap Takanawa cemas


“Mundurlah Pa!” Titah Justin, setelah itu ia memasang kuda - kuda untuk mendobrak pintu kamar Emiy, dan dalam beberapa tendangan pintu itu berhasil dibuka paksa. Justin dan Takanawa merangsek masuk disusul para pelayan


Dan betapa terkejutnya mereka saat melihat Emily yang terduduk tak sadarkan diri di kursi rodanya dengan wajah pucat, darah menetes menambah luas genangan merah di lantai, sayatan di lengan Emily tampak dalam dan mengerikan


Para pelayan berteriak histeris dan berjengit ngilu, sedang Takanawa dan Justin mengenyampingkan shock mereka untuk menolong Emily, Justin sigap meraih tubuh Ibunya dan membaringkannya di tempat tidur, sedang Takanawa membalut luka Emily untuk menghentikan pendarahannya


“Ibumu… Ibumu masih hidup kan?” Tanya Takanawa tegang setelah Justin memeriksa denyut nadi Ibunya


“Denyut nadinya semakin melemah, kita harus membawanya ke rumah sakit!” Sahut Justin lalu membopong Ibunya dan ia bawa menuju keluar rumah, Takanawa mengikuti sambil menghubungi bawahannya di rumah sakit untuk menyiapkan segala sesuatunya


Sepanjang perjalanan Justin mengutuk dirinya sendiri, menyalahkan tindakannya yang mengantarkan sang Ibu menuju ujung tanduk nyawanya, “Kenapa kau harus melakukan ini, Ma? Apa sesakit itu hatimu akibat ulahku?” Ratapnya

__ADS_1


(Bersambung)


__ADS_2