
“Apa kau merasa nyaman?” Adam menghampiri Bella yang tengah berendam di jacuzzi
“Rasanya ternyata sama saja dengan berada di kamarmu Adam, aku lupa kalau kamarmu sama mewahnya dengan kamar hotel” jawab Bella sambil terkekeh
“Sini, biarkan aku memijitmu” titah Adam sambil duduk di pinggiran jacuzzi, lalu mulai memijat pundak istrinya
“Adam, kenapa kau tiba - tiba muncul dan meminta maaf padaku? Bukannya terakhir kali kau mengacuhkanku dan menuduhku macam - macam?”
“Bagaimana denganmu? Kenapa kau memaafkanku?” Tanya Adam
“Itu karena… “ Bella menghela napas lalu berdecak kesal, “itu karena anakmu merindukanmu!” Bohongnya, padahal sudah jelas - jelas kalau dia yang merindukan Adam
“Ahahaha.. benarkah? Jadi hanya anakku yang rindu padaku?” Adam tergelak melihat Bella yang jadi salah tingkah
“Ah sudahlah! Jawab pertanyaanku tadi, kenapa kau tiba - tiba minta maaf padaku?”
“Itu karena aku telah salah paham padamu, Nyonya Emily menceritakan semuanya tentang apa yang Adrian lakukan padamu dan tentang pengkhianatan Brianna serta Ibumu” sahut Adam, “harusnya kau menceritakannya lebih awal Bella, agar aku tak salah paham saat Adrian menceritakannya padaku” ucap Adam
“Tunggu, jadi Adrian sendiri yang memberi tahumu?” Selidik Bella
“Iya, dia datang ke kantor dengan membawa barang - barang kenangan kalian berdua” sahut Adam, bibirnya menipis menahan cemburu yang teramat
“Laki - laki bajingan itu! Apa dia tidak bisa membiarkanku bahagia setelah apa yang dia lakukan padaku dulu?! Geram Bella, “dengar Adam, asal kau tahu barang - barang itu aku kembalikan tepat setelah dia datang untuk melamar Brianna, aku tak sudi menyimpan apa pun yang berhubungan dengan pria berengsek itu!” Saking kesalnya Bella sampai lupa kalau Adam adalah Kakak dari pria yang begitu ia benci itu
“Aku sudah tahu semuanya sekarang, jadi maukah kau memaafkanku?” Tanya Adam bersungguh - sungguh
“Heeemm.. apa boleh buat, berhubung kau adalah Ayah dari anak yang ku kandung, aku akan memaafkanmu” sahut Bella
“Apa pertimbanganmu hanya karena aku Ayah dari anak kita? Apa kau tak mempertimbangkanku sebagai pria yang kau cintai?” Protes Adam, pria itu lalu turun dari duduknya dan kini bersimpuh di depan Bella, Bella jelas saja terkejut dengan pertanyaan Adam yang tiba - tiba
“Katakan Bella, apa kau mencintaiku?” Adam sebenarnya sama gugupnya dengan Bella sekarang, suaranya sampai bergetar
“Aku… “ Ucap Bella lalu ia tertunduk, pipinya sudah semerah tomat
“Ya?” Adam sabar menunggu jawaban Bella, “katakan sayang, bagaimana perasaanmu padaku” Adam lalu memainkan beberapai surai Bella yang terurai keluar dari ikatannya
Bella masih tertunduk malu dan gugup, ia tak berani menatap mata Adam
“Ayolah, katakan saja! Apa kau lebih senang mengatakannya di atas tempat tidur ketika aku mencumbumu?” Goda Adam
“Hei… hei, tak perlu sampai begitu!” Protes Bella, sudahlah merah kini pipinya juga terasa panas, pelan - pelan ia lalu memberanikan diri menatap Adam, “Iya Adam, aku mencintaimu” ujarnya
Ah bagaimana Adam tak luluh, giliran wajah Adam yang semerah tomat sekarang, “benarkah? Bisa kau ulangi sekali lagi?” Pintanya dengan mata berkaca - kaca saking bahagianya
“Ya ampun apa tadi suaraku kurang jelas?” Cerocos Bella kesal, bibirnya sampai maju beberap senti
“Tolong ulangi sekali lagi, aku mohon” baru kali ini Adam memohon pada seseorang, matanya yang penuh harap membuat Bella tak tega, Bella lalu menangkup kedua pipi Adam dengan tangannya yang basah
“Aku mencintaimu Adam Anderson” ucapnya, Adam tersenyum senang sekaligus lega, kalau tak ada Bella mungkin ia sudah jingkrak - jingkrak saking bahagianya. Bella lalu sadar kalau pipi Adam yang putih bersih itu kini basah tertular tangannya, “ya ampun pipimu jadi basah Adam, maaf” ucapnya sambil sibuk mengusap - usap pipi Adam
__ADS_1
“Tidak perlu, sebentar lagi semuanya akan basah” ujar Adam pria itu lalu bangkit
Glek…
“A - Adam, kau mau apa?” Tanya Bella saat Adam mulai membuka bajunya tanpa menyisakan sehelai benang pun
“Berendam, bisa berikan sedikit tempat untukku?” Adam merangsek masuk ke jacuzzi lalu duduk di belakang Bella, “bersandarlah” titahnya, meski gugup karena baru pertama kalinya mereka berendam bersama tapi Bella mencoba menyamankan dirinya, terlebih Adam refleks memegang perutnya dan menciumi ceruk leher Bella
Keduanya kini menikmati pemandangan kota dari lantai 20 tempat mereka menginap, “rasanya aku tak perlu apa - apalagi, cukup kau dan anak kita” ucap Adam, Bella tersenyum mendengarnya, ia pun rasanya sudah tak perlu apa pun lagi, semua yang ia inginkan sudah ia dapatkan dalam wujud Adam dan anak mereka.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Adam yang sedang merangkul Bella di tempat tidur pelan - pelan mengganti lengannya yang dijadikan bantal oleh istrinya itu dengan bantal, karena Bella sedikit bergerak Adam membeku di tempat memastikan Bella tak terganggu dengan gerakannya, melihat Bella yang sudah nyenyak terlelap, baru kemudian Adam beringsut bangun, lalu meraih celananya yang teronggok di lantai, celana yang tak sadar ia hempas begitu saja tadi malam saat sesi percintaan panasnya dengan Bella
Adam segera meraih ponselnya yang dari tadi berdering, untung saja Bella tak terbangun karena suaranya yang tak juga berhenti, berhubung nama Mamanya yang tertera di layar ponsel Adam urung mematikan ponselnya itu, tiba - tiba saja ia merasa cemas karena ia tahu betul Miranda tak akan mengganggu waktunya bersama Bella jika tak ada hal yang mendesak
“Mom, ada apa?” Adam tanpa basi, ingin segera tahu alasan Miranda menghubunginya
“Adam, hiks” sahut Miranda tersedu, benar saja dugaan Adam ada sesuatu yang terjadi
“Apa yang terjadi, Ma?” Adam semakin cemas, dibelakang Adam Bella mulai terbangun karena mendengar suara Adam sedang berbicara dengan seseorang
“Ayahmu jatuh sakit, Adam! Pulanglah!” Sahut Miranda lalu kembali terisak, Adam kaget jantungnya berdebar kencang, rasa cemas melandanya dengan hebat, kalau sampai Miranda menangis artinya sakit Ayahnya itu parah
“Apa Erick sudah berada disana, Mom?” Tanya Adam sambil berjalan ke arah lemari tempat Bella menggantung beberapa kemeja dan jasnya, ia lalu mengambil satu kemejanya dan memakainya, Bella yang dari tadi memperhatikan Adam beringsut bangun lalu berjalan ke arah suaminya berada
“Aku kesana sekarang Mom” sahut Adam yang lalu mengakhiri pembicaraan pembicarannya di ponsel
“Siapa yang sakit, Adam?” Tanya Bella sambil membantu memasang kancing kemeja Adam satu persatu
“Daddy, aku akan pulang ke rumah sekarang, kau istirahatlah” ujar Adam sambil mengecup kening Bella
“Maksudmu aku tak ikut pulang?” Cecar Bella
“Aku tak ingin kau tak nyaman kalau sampai bertemu dengan Ibumu, Bella!” Sahut Adam
“Aku tak apa - apa Adam, ada kau disisiku” ucap Bella bersungguh - sungguh, tanpa menunggu jawaban Adam, Bella yang hanya menggunakan sehelai baju transparan itu meraih bajunya di lemari yang sama lalu memakainya, tak lupa ia membawa tas jinjing mewah hadiah dari Adam, “ayo kita pergi” ucapnya
“Bella, apa kau benar tak apa - apa jika pulang sekarang?” Adam khawatir jika Bella tak dapat menahan emosinya, bisa - bisa Bella stress
“Kau jangan khawatirkan aku, sekarang kita fokus dulu pada keadaan Daddy, dia sedang membutuhkanmu Adam!” Sahut Bella meyakinkan Adam, Adam memeluk Bella sebentar berterima kasih karena Bella mau memikirkan Ayahnya, keduanya lalu beranjak keluar dari kamar hotel mereka untuk menuju kediaman Anderson
Perjalanan yang ditempuh Adam dan Bella memakan waktu hampir 1 jam, dalam waktu 1 jam itu juga pikiran Adam benar - benar tak tenang, ia menduga - duga apa yang membuat Ayahnya drop kembali setelah bertahun - tahun penyakit jantungnya tak kambuh, seluruh keluarga Anderson sudah tahu bagaimana menjaga kondisi William agar tetap stabil begitu pun dengan para pelayan rumah itu.
Saat tiba di rumahnya, Adam dan Bella bergegas menuju kamar William, di depan kamar William, sudah ada Adrian, Brianna dan Pamela
“Adam!!! Ya Tuhan Adam, bagaimana ini? Kasian sekali Ayahmu” Pamela menangis histeris meraung - raung sambil memburu Adam, tapi Adam tak hirau langkahnya terburu masuk ke kamar Ayahnya dengan tetap menggandeng erat Bella
Tak manjur pada Adam, Pamela beralih ke Bella, “Bella! Kasian sekali mertuamu itu” Pamela semakin meraung - raung mencari simpati, ia sampai memegang lengan Bella, sontak saja Bella menoleh benci padanya, rasa jijik mengingat perbuatan Ibunya dulu membuatnya melepas pegangan Pamela dengan kasar
__ADS_1
“Lepas!” Sentak Bella dengan mata melotot, baru kali ini ia sekasar itu pada Ibunya sendiri, Bella lalu melengos pergi menyamakan langkahnya dengan Adam, Pamela tentu saja terhenyak kaget dengan perlakuan Bella
“K - kau! Kau sudah berani kasar padaku, Bella? Sial! Darimana datangnya keberanian anak kurang ajar itu?” Gumam Pamela, Brianna yang berdiri di sebelahnya pun tak urung berkomentar
“Bu, apa aku tak salah lihat tadi? Dia kasar sekali padamu Bu!” Tutur Brianna, membuat Ibunya semakin meradang
“Anak sialan! Berengsek! Berani - beraninya dia padaku!” Umpat Pamela
“Ahahahaha… “ tak jauh dari mereka, Adrian yang dari tadi memperhatikan gerak gerik Bella karena kerinduannya terkekeh sambil bertepuk tangan, Brianna dan Pamela menjatuhkan pandangan pada pria itu
“Apa yang kau tertawakan?” Sengit Brianna
“Aku menertawakan nasib seorang Ibu yang dibenci oleh anaknya sendiri sampai - sampai disentuh pun ia tak sudi” sahut Adrian dengan santainya, “tapi bukankah ini pasti terjadi? Ibumu lah yang menanam benih kebencian itu di dalam hati Bella! Jadi untuk apa kalian marah padanya?” Sinisnya
“Apa - apaan kau? Kenapa kau malah membela wanita sialan itu?” Sengit Brianna tak terima, tapi Adrian tak menanggapi, ia memilih meninggalkan dua wanita yang sedang kebakaran jenggot itu
*** Di dalam kamar William, kepanikan menyergap Miranda, Adam, dan Bella melihat Erick dan dokter spesialis jantung serta tiga orang perawat yang sedang sibuk memasangkan berbagai macam alat di tubuh William
“Erick! Apa yang sebenarnya terjadi pada Ayahku? Kenapa dia sampai tiba - tiba drop?” Tanya Adam tak sabaran saat tak ada sepatah kata pun yang terucap dari kedua dokter itu
“Entah berita apa yang Ayahmu dengar hingga jantungnya berkontraksi lebih cepat dan kuat, bukannya sudah ku bilang supaya semua orang harus sangat hati - hati dalam menyampaikan sesuatu pada Tuan William?” Tandas Erick, Adam semakin yakin kalau ada berita buruk yang membuat Ayahnya sampai drop, tapi apa itu? Dan siapa yang menyampaikannya?
Adam lalu menghampiri Miranda yang tengah berpelukan sambil terisak dengan Bella, “Mom, siapa yang terakhir bicara pada Daddy sebelum Daddy drop?” Tanya Adam, Miranda mengurai pelukannya pada Bella
“Mommy tidak tahu sayang, saat itu Mommy sedang berada di taman belakang, sedang Ayahmu dia berada di ruang kerjanya untuk membaca buku, Mommy baru tahu kalau Ayahmu tak sadarkan diri saat seorang pelayan mengantarkan teh untuk Ayahmu” terang Miranda diakhiri dengan isak tangisnya
Kening Adam semakin berkerut, tak mungkin Ayahnya tiba - tiba tak sadarkan diri tanpa ada pemicu, Adam lalu teringat pada Adrian dan Pamela, dua orang yang sangat mungkin menjadi penyebab sakit Ayahnya kambuh, “apa mungkin salah satunya?” Batin Adam
“Tuan William sadar” ucap seorang perawat yang berdiri di samping William, semua mata tertuju pada William, Miranda dan Adam memburu mendekati William, lalu Bella menyusul berdiri di samping Adam, Erick melihat Bella dengan sinis mengingat pembicaraan Bella dengan Justin yang ia diam - diam dengarkan, Adam memang belum sempat menjelaskan pada Erick soal kesalah pahaman itu
“Sayang, ini aku!” Ucap Miranda terisak sambil mencium pipi suaminya yang pelan - pelan membuka matanya, William mengerjapkan matanya sebentar
“Sayang” ucapnya pada Miranda
“Oh syukurlah, aku lega sekali kau sudah sadar! Kau membuatku sangat takut William” tutur Miranda
“Dad, apa yang kau rasakan sekarang?” Kini Adam disamping kanan William yang bertanya pada Ayahnya itu, William lalu menoleh pelan pada Adam
“Adam, anakku” ujarnya lemah sambil tersenyum, bola mata William lalu bergerak dan melihat Bella disamping Adam, rahang William seketika mengeras, dadanya naik turun karena kemarahan yang teramat
“Dad, syukurlah kau sudah sadar” ucap Bella lembut sambil tersenyum lega melihat mertuanya itu sudah kembali sadar
“Untuk apa kau disini?” Sengit William pada Bella, Bella mengerutkan keningnya, tak mengerti kenapa William bersikap dingin padanya, Adam disamping Bella pun sama bingungnya dengan Bella
“Sayang, apa maksudmu? Itu Bella!” Terang Miranda
“Suruh dia keluar, aku tak ingin melihatnya!” Titah William sambil menunjuk Bella, Bella dan Adam terkejut bukan main melihat kilat kemarahan di mata William, ada apa hingga Wiliam semarah itu pada Bella?”
Bersambung….
__ADS_1