Transaksi Di Atas Ranjang Suami

Transaksi Di Atas Ranjang Suami
Part 40


__ADS_3

Justin memukul - mukul setir mobilnya, suara klakson mobilnya nyaring terdengar diantara suara petir yang menyambar - nyambar, gemuruh hatinya berlomba dengan guntur pertanda hujan badai akan segera melanda


“Kenapa Tuhan, kenapa?” Pekiknya marah, melaknat nasib yang tak berpihak padanya


“Aku bisa terima Papa berselingkuh, aku bisa terima semua masa depanku ditentukan oleh Papa! Tapi bagaimana aku bisa menerima kalau Bella adalah adikku?” Justin meluapkan amarahnya entah pada siapa, lagi - lagi takdir yang ia jadikan pelampiasan


Alam seolah ikut menangisi nasib Justin dengan menurunkan hujannya yang deras, suara petir bertalu - talu memekakkan telinga. Justin luruh dalam tangisnya yang mendayu - dayu, perih dan sakit menggerogoti hatinya sekarang


Setelah berjam - jam mengendarai mobilnya, Justin akhirnya sampai di rumah sakit milik Ayahnya yang berada di pusat kota. Justin menghentikan mobilnya, lalu turun begitu saja dari mobil menerjang hujan saat sedang deras - derasnya, alhasil ia basah kuyup bermandikan air hujan. Kedatangan Justin yang basah bahkan berantakan membuatnya menjadi pusat perhatian, siapa yang tak mengenal pria tampan itu disana, semua orang juga tahu kalau ia adalah pewaris rumah sakit besar itu


Langkah Justin besar - besar tergesa menuju lift, tak ia pedulikan tatapan aneh atau sapaan orang - orang padanya, tujuannya hanya satu yaitu bertemu dengan Ayahnya


“Apa Ayahku ada di dalam?” Tanya Justin pada sekretaris Ayahnya begitu ia sampai di lantai 5


“A - ada Tuan, tapi maaf Tuan Takanawa sedang memimpin rapat, sebentar lagi.. “ belum selesai sekretaris itu bicara Justin sudah membuka pintu besar menyeruduk masuk ke dalam ruangan, sontak saja ia menjadi konsumsi mata para peserta rapat, semua terheran - heran dengan kedatangan Justin yang tiba - tiba dan dalam keadaan berantakan


“Justin! Kau kenapa?” Takanawa bangkit berdiri dan menatap putranya dengan cemas,


“Rapat selesai, keluarlah kalian semua!” Titah Takanawa pada anak buahnya, semuanya patuh berlomba untuk segera keluar dari ruangan meskipun dalam hati mereka sangat penasaran


“Ambilkan handuk bersih” titah Takanawa pada asistennya, satu - satunya orang yang tetap tinggal dan berdiri di samping Takanawa


Hanya beberapa menit, asisten Takanawa kembali dengan beberapa handuk di tangannya, Takanawa mengambil sehelai lalu mendekati anaknya dan mulai mengusap - usap rambut anaknya itu penuh kelembutan


“Kau datang dalam kondisi basah seperti ini, apa yang terjadi denganmu?” Cecar Takanawa


“Apa benar aku bukan anak kandungmu?” Suara Justin bergetar, jelas terdengar patah hatinya, Takanawa mematung, tak ia sangka - sangka akan mendengar pertanyaan itu dari mulut Justin


Lutut Takanawa melemas, ia sampai mendudukkan dirinya di kursi, “siapa yang mengatakannya padamu Justin?” Tanya Takanawa tanpa menatap Justin, pandangannya nanar mengingat peristiwa yang terjadi dalam hidupnya hampir 30 tahun yang lalu


“Mama yang mengatakannya padaku, sekarang katakan padaku Pa, apa aku memang bukan anakmu?”


Duaarrr…


Petir menambah muram atmosfir di ruangan itu, Takanawa belum berani juga menatap anaknya yang masih berdiri menuntut jawaban, ia masih memandangi lebatnya hujan diluar jendela gedung tinggi itu


“Ada peristiwa apa yang membuat Emily membuka rahasia yang sama sekali tak ingin ku buka lagi?” Justin memejamkan matanya, ucapan Takanawa barusan adalah jawaban dari pertanyaannya


“Jadi aku memang bukan darah dagingmu, aku bukan putramu?” Suara Justin kini terdengar lemas, Takanawa menoleh pada Justin


Braaakk..


“Kau anakku Justin! Sampai kapan pun kau adalah anakku!” Sengit Takanawa, tak ada secuil pun dalam hatinya pengakuan kalau Justin bukan anaknya, tak peduli jika tak sedikit pun darahnya yang mengalir di tubuh Justin, “kau memang lahir atas benih David Smith, tapi kau anakku Justin! Tak ada seorang pun yang boleh mengatakan kalau kau bukan anakku!” Tambahnya berapi - api


“K - kau mengenal Ayahnya Bella?” Tanya Justin yang membuat Takanawa terperangah


“Apa kau bilang barusan? Bella adalah anaknya David Smith? Itu artinya kalian bersaudara?” Cecar Takanawa, melihat anaknya yang kemudian berwajah murah, Takanawa menghela napasnya


“Aku mengerti kenapa Emily terpaksa membuka tentang masa lalumu, dia pasti khawatir jika kau sampai menikahi adikmu sendiri! kasian Emily, dia pasti sangat terpukul sekarang”


“Kenapa kau tak pernah mempertemukanku dengan Ayahku sendiri? Aku berhak untuk mengetahui dan mengenal Ayah kandungku!” Sengit Justin, Takanawa berpaling tak sanggup melihat mata anaknya yang berbalut luka

__ADS_1


“Aku tak ingin kau mengenal bajingan itu! Dan aku tak sanggup melihat Emily kembali menangis, janjiku padanya adalah tak melihatmu sebagai anak David Smith tapi sebagai anakku sendiri” sahut Takanawa


“Apa yang telah Ayahku lakukan hingga kau dan Mama menyembunyikanku darinya?” Cecar Justin lagi, sampai saat ini belum ada yang masuk akal untuknya, jangankan bertemu bahkan baru hari ini ia mengetahui kalau David Smith adalah Ayah kandungnya, Ibu mana yang tega menyembunyikan rahasia sebesar ini dari anaknya sendiri


“Kau tak perlu tahu, aku tak ingin kau membenci Ayahmu” jawab Takanawa


“Katakan padaku Pa, tolong katakan! Jangan membebaniku seperti ini” tutur Justin sendu


Takanawa menghela berat napasnya, “David berselingkuh dengan Pamela, yang saat itu adalah sekretaris di perusahaannya sekaligus sahabat dekat Emily”


Deg…


Justin nyaris limbung, haruskah Justin mempercayai ini semua? Baru saja ia ingin mengenal lebih jauh tentang Ayah kandungnya dan kini justru sejarah kelam Ayah kandungnya yang terkuak


”Mana mungkin aku menyerahkan anak yang semenjak kelahirannya selalu berada dalam pangkuanku” lirih Takanawa sambil memandangi kedua tangannya, mengingat bagaimana tangan yang kini telah mulai keriput itu menimang Justin saat baru lahir, “aku yang mendengar ucapan pertamanya, melihat langkah pertamanya, tangan inilah yang menyuapi makanan pertamanya, mengantarnya di hari pertama sekolah, menyeka air matanya saat ia terjatuh, bagaimana mungkin dia bukan anakku?” Takanawa tak dapat menyembunyikan kesedihannya yang teramat, wajahnya tertunduk dan tangisnya mulai pecah


Justin melangkah menghampiri Ayahnya, ia lalu bersimpuh dan memegangi lutut Ayahnya, “terima kasih Papa, terima kasih karena sudah begitu mencintaiku dan Ibuku” ucap Justin


Takanawa meraih kepala anaknya dan menciumnya, keduanya kemudian memangis terisak hanyut dalam perasaan saling mengasihi


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Mobil Adam melaju pelan membelah hujan badai yang belum juga reda, “Kau baik - baik saja kan sayang?” Tanya Adam pada Bella disampingnya yang pikirannya tengah berkecamuk


“Kau tahu aku tak mungkin baik - baik saja setelah mendengar cerita Nyonya Emily tadi! perasaan bersalah pada wanita malang itu terus saja menghantuiku, Adam! aku malu karena adalah anak dari wanita yang telah merebut suami orang dengan cara menjijikan!” Teriak Bella histeris


“Dengar Bella, kau tak salah apa - apa dalam hal ini! Kau tak boleh membebani dirimu sendiri!” Tandas Adam prihatin melihat istrinya


“Aaahh.. aku tak tahu apa yang harus aku pikirkan sekarang Adam! aku baru saja mengetahui kalau Justin adalah Kakakku, Ayahku berselingkuh, dan Ibuku adalah perebut suami orang! Bagaimana aku menghadapi orang tuamu sekarang?” Sendu Bella


Bella mengusap air mata di pipinya, “aku tak ingin pulang Adam, aku tak mau bertemu dengan wanita itu” ucap Bella sambil menyandarkan kepalanya ke jendela kaca mobil, Adam meraih wajah Bella dan menempatkan kepala Bella di pundaknya


“Kita tak akan pulang ke rumah, untuk sementara ini kita akan tinggal di hotel sampai kau merasa baikan, apa kau setuju?” Tanya Adam


“Apa kamarnya besar?” Tanya Bella, mencoba sedikit menghibur hatinya


“Kamar paling besar di hotel paling mewah” sahut Adam sambil tersenyum, ia sedikit lega karena Bella tak lagi sesedih tadi


Masih bersandar ke bahu Adam dengan nyamannya, Bella mengalihkan pikirnya pada hal lain, “Aku boleh makan apa saja kan disana?” Tanya Bella lagi, pertanyaan konyol sebenarnya karena ia tahu Adam bahkan bisa membeli hotelnya


“Apa saja yang kau mau, dan sebanyak apa pun kecuali es krim!” Tandas Adam


“Hei.. kenapa aku tak boleh makan es krim semauku?” Sewot Bella


“Kau lupa kalau kau selalu saja flu jika makan es krim terlalu banyak?” Sahut Adam, loh Adam tahu tentang itu? Apa selama ini Adam memperhatikannya?


Bella sedikit mendongak melihat wajah Adam, meskipun yang terlihat hanya rahangnya yang tegas dan lehernya yang kokoh karena Adam sedang fokus mengendarai mobil


Cup…


Bella mendaratkan satu kecupan di leher Adam, pria itu meremang dan wajahnya berubah merah

__ADS_1


“Eheeem… Jangan menggodaku Nyonya Adam!” Ucapnya malu - malu


“Memangnya apa yang akan kau lakukan kalau aku menggodamu?” Bella mendaratkan satu kecupan lagi di leher Adam, Adam sudah tak bisa konsentrasi lagi menyetir, ia lalu menepikan mobilnya


“Ku bilang jangan menggodaku!” Adam meraih wajah Bella dan mencium bibirnya yang segera Bella balas, bibir keduanya kini bertautan di bawah hujan yang masih mengguyur syahdu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Mom, apa tak ada kabar dari Bella?” Adrian menghampiri Ibunya yang tengah membaca buku di ruang tengah


“Bella dan Adam untuk beberapa hari ini akan tinggal di hotel, Adam bilang mereka ingin berbulan madu kedua” sahut Miranda lalu senyum - senyum sendiri


Adrian mengerutkan keningnya, kenapa mereka malah berbulan madu setelah apa yang dikatakan Adrian pada Adam kemarin, “Mom, apa mereka tidak bertengkar atau Adam mungkin marah pada Bella?” Selidik Adrian


“Marah? Kenapa Adam harus marah pada Bella? Justru mereka sedang lengket - lengketnya sekarang, entah berapa anak yang akan mereka miliki melihat keduanya yang saling mengagumi begitu” cerocos Miranda antusias


Adrian tak dapat berkata apa - apalagi selain mengeraskan rahangnya mengetahui rencananya sudah gagal, tapi bagaimana bisa? Kenapa Adam tak marah pada Bella setelah mengetahui kalau Bella sangat mencintainya dulu?


“Sayang, apa kau sudah menghubungi notaris?” William yang baru saja masuk ke ruang tengah tergagap melihat ternyata disitu ada Adrian, Miranda pun menjadi salah tingkah


“Untuk apa kalian butuh notaris?” Tanya Adrian


“B - begini, sesuai dengan kesepakatan awal aku akan memberikan sahamku pada siapa pun yang berhasil memberikanku cucu lebih dulu, aku perlu notaris untuk mengesahkan pemindahan seluruh sahamku untuk Adam” terang William sedikit khawatir akan kemurkaan yang mungkin akan Adrian perlihatkan


“Terserahlah!” Ujar Adrian sambil mendaratkan punggunya di sandaran kursi dan menyandarkan kepalanya, Adrian lalu terpejam sesaat


“Sayang, apa anakmu baik - baik saja? Apa yang terjadi padanya? Kenapa dia tidak marah?” Bisik William pada Miranda, keduanya menatap Adrian dengan heran


“Mana aku tahu, apa mungkin dia sudah lelah dikalahkan oleh Adam terus?” Bisik Miranda


Adrian menghela napasnya, “aku memang kalah untuk perebutan perusahaan, Bella sudah terlanjur hamil dan aku pun tak ingin memiliki anak dengan si berengsek Brianna itu! Tapi entah kenapa aku tak ingin mengalah urusan Bella, aku yakin dengan mendapatkan Bella semuanya akan baik - baik saja! Ah.. apakah ini rasanya jatuh cinta? Mendebarkan, dan menantang karena aku mencintai Kakak iparku sendiri” gumam Adrian dalam hatinya


“Notaris? Apa anda sudah memutuskan secepat itu?” Pamela yang tiba - tiba saja muncul entah darimana itu protes, Miranda dan William menjatuhkan pandangannya pada mereka, sedang Adrian masih memejamkan matanya, malas peduli pada ocehan Pamela


“Harusnya Daddy menunggu sampai anaknya Bella benar - benar lahir” Brianna yang berdiri di samping Pamela pun ikut menyuarakan keberatannya


“Cih, benar - benar menjijikkan, mereka tak mau kehilangan kesempatan untuk meraup uangku lagi! Persetan kau Brianna dan Pamela!” Batin Adrian


“Kenapa aku harus menunggu selama itu? Apa bedanya dengan sekarang, Bella sedang hamil dan aku harus memenuhi janjiku pada Adam”


“Apa anda yakin kehamilan Bella akan bertahan hingga lahir?” Tohok Pamela, Miranda dan William terhenyak kaget mendengarnya


“Apa maksudmu Nyonya Pamela?” Miranda tak habis pikir mendengarnya


“M - maksudku bukan begitu Nyonya Miranda, hanya saja dalam kehamilan sesuatu bisa terjadi, kau pasti mengerti apa ucapanku kan?” Sahut Miranda


“Berdo’alah agar kandungan putrimu baik - baik saja Nyonya!” Tandas Miranda tak senang mendengar omongan Pamela


“Notarisnya akan datang minggu depan sayang, saat ini dia tengah mengurus semua administrasinya” ucap Miranda pada William


“Heeemmm… baiklah kalau begitu! Semakin cepat semakin baik” sahut William yang lalu membimbing Miranda untuk keluar dari ruangan tengah, mereka tak suka Pamela ikut campur dalam urusan keluarga mereka. Tak lama setelah itu, Adrian ikut keluar menyusul kedua orang tuanya tanpa sepatah kata pun

__ADS_1


“Bu, kau dengar apa kata yang tadi mertuaku bilang? Minggu depan notaris akan datang untuk mengesahkan kepemilikan perusahaan mutlak untuk Adam” ujar Brianna


“Aku mengerti maksudmu, aku hanya punya waktu seminggu untuk melenyapkan kandungannya Bella, selama ada anak itu kau pun tak akan mungkin memiliki Adam, jadi semua masalah akan selesai dengan menyingkirkan anak itu” tandas Pamela


__ADS_2