
Kabar melegakan dan membahagiakan datang dari rumah sakit tempat Adam di rawat, setelah beberapa hari ia terpejam hari ini Adam bangun, meskipun kondisinya masih sangat lemah tapi menurut dokter semua organ vitalnya berfungsi dengan baik
Bella bahagia bukan main, entah sudah berapa kali ia menciumi suaminya itu, bibirnya tak henti mengucap syukur atas keselamatan dan kesembuhan Adam
Adam tersenyum lemas saat Bella kembali mengecup pipinya banyak - banyak, “Apa kau tak bosan menciumiku dari tadi?” Tanya Adam
“Tidak usah protes Tuan Adam! Biarkan bibirku ini mengecupmu sepuasnya” sahut Bella sambil sekali lagi mendaratkan bibirnya di pipi Adam yang masih terbaring
“Kau sudah berhari - hari tak bercukur, lihatlah calon - calon kumis dan jenggotmu ini sayang” ujar Bella sambil membelai - belai halus bulu - bulu di sekitar wajah Adam yang sudah mulai tumbuh
“Benarkah? Memangnya berapa lama aku tak sadarkan diri, Bella?” Tanya Adam
“Hampir seminggu, Adam.. Dan selama itu juga aku sangat takut kalau kau pergi dariku!” Ujar Bella, wajahnya berubah sendu, Adam meraih tangan istrinya itu
“Aku pasti akan kembali Bella, aku tak akan meninggalkanmu dan anak kita” ujar Adam, Bella lantas melabuhkan kepalanya di dada Adam, “Jangan membuatku takut lagi Adam! Aku tak sanggup kehilanganmu”
“Kau jangan khawatir, tak akan ku biarkan siapa pun menabrakku lagi!” Kelakar Adam, mengingat itu Bella duduk kembali
“Adam, apa kau tak ingat apa pun tentang peristiwa itu? Apa kau tak melihat siapa yang menabrakmu?” Selidik Bella, Adam tertegun sebentar namun setelah itu ia menggeleng, “aku tak melihat apa pun” sahutnya
Ketukan di pintu membuat keduanya berpaling ke arah pintu, tak lama pintu terbuka menampilkan Erick, William dan Miranda yang langsung merangsek masuk dan memburu Adam dengan wajah cemas, Bella memang meminta Erick untuk memberi tahu Adrian dan William tentang apa yang terjadi pada Adam begitu Adam sadar tadi
“Ya Tuhan Adam, apa yang terjadi denganmu sayang? Kenapa kau bisa seperti ini?” Cecar Miranda histeris saat melihat anak kesayangannya terbaring tak berdaya
“Bagaimana keadaanmu, Nak? Apa yang kau rasakan sekarang?” Giliran William yang mencecar Adam dan menilik badan Adam mencari - cari luka di tubuh anaknya
“Aku sudah lebih baik Daddy, Mommy.. jangan khawatir” sahut Adam
“Kondisi Adam semakin hari semakin membaik, Tuan William dan Nyonya Anderson, kalian tak perlu khawatir” Tutur Erick
“Maafkan aku karena baru memberi tahukan tentang Adam pada kalian” ujar Bella takut - takut menanti kemurkaan William dan Miranda, Miranda menjatuhkan pandangan pada menantunya dan kemudian menghampirinya
“Kau tak memberi tahu kami karena kau takut Daddy akan terkena serangan jantung lagi kan sayang? Dan sebagai gantinya kau menanggung semua rasa takut dan stress karena kecelakaan Adam sendirian! Kau benar - bener malaikat, Bella” ujar Miranda sambil memeluk Bella erat, “Tenanglah, aku dan William tak marah padamu, sayang!” Tambahnya
“Sudahlah.. sudah, yang penting Adam sudah selamat, dan kita akan segera mengusut tuntas siapa yang berani melakukan ini pada Adam!” Tandas William, “Adam, apa kau sama sekali tak melihat siapa yang menabrakmu? Atau mungkin ada saksi di sekitar kejadian?” Cecar William, Adam menggeleng pelan
__ADS_1
“Tak ada siapa pun yang melihat siapa pelakunya Dad, penjahat itu kabur dengan cepat begitu saja setelah berhasil melukai Adam” tambah Bella
“Ku dengar asisten Wang dan Tuan Justin sudah melaporkannya ke pihak berwenang, aku harap polisi sudah berhasil menangkap pelakunya” Tutur Erick
“Kak Justin? Kak Justin sudah melaporkannya ke pihak berwajib?” Tanya Bella
“Asisten Wang yang memberi tahukannya padaku saat ia meminta hasil pemeriksaan Adam untuk laporan ke kantor kepolisian” sahut Erick
“Justin Takanawa? Bukan kah dia juga yang membantu operasi Adam bersama dengan Ayahnya?” Tanya William, Erick mengangguk
“Kita banyak berhutang budi pada keluarga Takanawa, mungkin ketika Adam sudah benar - benar pulih kita bisa mengundang mereka makan malam, dan merencanakan kerja sama di masa yang akan datang” tutur William
“Kedengarannya bagus sayang, kita memang harus lebih dekat lagi dengan keluarga Kakaknya Bella, mereka sangat baik dan rendah hati, menyenangkan sekali bisa berbincang lagi dengan Nyonya Emily” sahut Miranda
“Kau kenapa sayang?” Bisik Adam pada Bella yang kemudian mendudukkan dirinya lagi di sebelah Adam
“Aku hanya tak mengerti, kenapa Kak Justin tak memberi tahuku kalau ia sudah melaporkan hal ini pada polisi?” Sahut Bella
“Aku rasa dia hanya khawatir kalau kau bertambah stress nantinya” Tutur Adam
“Begitukah menurutmu?” Tanya Bella, Adam mengangguk, “Aku yakin” ucapnya
Malam itu hujan turun dengan derasnya, sesekali petir menyambar - nyambar, di kediaman Takanawa, Justin tengah serius membahas kemungkinan tersangka lain yang menabrak Adam bersama asisten Wang, namun sampai saat ini mereka sama sekali tak menemukan siapa pun yang memiliki motif cukup kuat untuk membunuh Adam
“Justin, bisakah aku bicara sebentar denganmu?” Tanya Emily yang baru saja sampai di ruang kerja Justin
“Tentu saja Ma” sahut Justin, ia lalu bangkit dan mengekori Ibunya keluar dari ruangan kerja
“Ada apa Ma? Kau tampak gelisah!” Tanya Justin
“Sudah beberapa hari ini Jessy tak mau makan, ia juga hampir tidak pernah keluar dari kamar, aku khawatir dia sedang punya masalah yang ia pendam sendiri” ucap Emily
“Benarkah?! Astaga.. Maafkan aku Ma, aku terlalu sibuk mencari tahu siapa yang ingin membunuh Adam hingga aku lupa memperhatikan Jessy” ucap Justin lalu menghela napasnya, ia juga mengusap wajahnya yang tampak lelah
“Aku senang kau mau membantu adik iparmu, tapi aku cuma minta kau untuk bicara sebentar pada Jessy, kau tahu sendiri bukan kalau dia lebih terbuka padamu dibanding pada Mama” sahut Emily
__ADS_1
“Baiklah kalau begitu, tapi kau harus janji untuk tak khawatir lagi… aku yakin Jessy hanya sedang putus cinta, Ma” ucap Justin mencoba untuk menenangkan Ibunya, Emily mengangguk dan tersenyum lega, Justin tak menunda lagi perintah Ibunya, ia lalu beranjak menuju kamar Jessy
Justin mengetuk pintu adiknya itu, “Jessy, apa kau di dalam?” Pekik Justin, Justin menunggu sebentar sebelum ia mengetuk pintu kamar Jessy lagi
“Ayolah Jessy, apakah aku harus sampai turun tangan untuk mengatasi masalah putus cintamu itu? Kau tahu, Mama sangat mengkhawatirkanmu!” Pekik Justin lagi, Justin menunggu sebentar lagi namun dari dalam kamar tak ada respon sama sekali
“Baiklah kalau kau belum mau bicara padaku, tapi setidaknya makanlah! Aku khawatir kau jatuh sakit jika kau tak mau makan, Jessy!” Pekik Justin, pria itu lalu menghela napas dan kemudian membalik badannya hendak beranjak dari depan kamar Jessy, langkah Justin terhenti ketika ia mendengar suara pintu yang dibuka, Justin tersenyum penuh kemenangan, adiknya itu memang paling tak bisa menyembunyikan apa pun darinya
“Astaga Jessy! Kau kenapa?” Justin begitu shock melihat penampilan Jessy yang acak - acakan, rambutnya berantakan, wajahnya yang tanpa make up pucat pasi dihiasi lingkaran hitam di sekitar matanya yang cekung, netranya tak bercahaya seperti biasa kini sembab dan memerah, entah sudah berapa hari Jessy menangis tanpa henti, bibirnya kering dan pecah - pecah, Justin lalu menerobos masuk ke dalam kamar adiknya itu, ia lalu membimbing Jessy untuk duduk
“Katakan padaku Jessy, apa yang terjadi denganmu?” Cecar Justin, ditanya begitu bibir Jessy bergetar, air matanya mulai terkumpul hendak jatuh
Justin semakin khawatir saja, ia lalu menatap adiknya lekat - lekat, “Jessy, jawab pertanyaanku! Apa yang terjadi denganmu? Apa kau sedang menghadapi masalah?” Selidik Justin, tiba - tiba saja Jessy merangsek ke pelukan Justin dan menangis kencang
“K - Kak, apa yang harus ku lakukan… aku telah membuat kesalahan besar!” Suara Jessy terdengar gemetar sarat tekanan
“Jessy, jelaskan pelan - pelan.. apa yang telah kau lakukan?” Tanya Justin
“Kak.. aku.. aku.. akulah yang menabrak Kak Adam” gumam Jessy lalu terisak lagi
Duuaarrrrr….
Petir yang baru saja menyambar membuat pengakuan mengejutkan yang baru saja Jessy sampaikan semakin mencekam, Justin mengurai pelukannya pada Jessie
“Apa kau bilang Jessy? Apa kau bilang?” Justin memastikan ia tak salah dengar, ia sampai mengguncang bahu adiknya yang tertunduk sambil tak henti - hentinya menangis terisak
“Aku yang menabrak Kak Adam Kak, aku pelakunya” sahut Jessie histeris, Justin terguncang ia sampai sedikit terhuyung ke belakang, mati - matian ia mencari pelaku kejahatan pada Adam, tapi ternyata adiknya lah penjahatnya selama ini
“Aku tak berhenti menyesalinya Kak, aku tak bisa tidur atau makan, aku benar - benar takut” ucap Jessy lagi
“Lalu kenapa kau melakukannya Jessy? Kenapa!?” Sentak Justin, sudah terbayang dalam benaknya adik kesayangannya itu akan mendekam di balik jeruji besi, masa depan Jessy akan hancur tepat saat adiknya itu hendak membangunnya
“Karena dia merebut Kak Bella dari kita, dia merebut kebahagiaan Kak Justin, kebahagiaanku!” Teriak Jessy, dia benar - benar frustasi sampai meluruh ke lantai dan menangis sesenggukan disana, “Seandainya saja dia tak ada Kak Bella pasti menikah denganmu, Kak! Dan kita akan hidup bahagia, keluarga kita sempurna” tutur Jessy, “Sudah cukup Papa yang berselingkuh, Mama yang lumpuh! Aku tak mau kehilangan apa pun lagi Kak, aku tak mau kehilangan Kak Bella!” Jessy semakin histeris
Justin paham alasan adiknya melakukan kejahatan sebesar itu, tapi tetap saja ia harus mempertanggung jawabkan semuanya di mata hukum, kalau tidak.. dimana moralitas tentang kebenaran yang selama ini selalu dijaga oleh keluarga Takanawa?
__ADS_1
“Kau tahu siapa yang kau tabrak Jessy? Dia Adam Anderson! Kau pikir mereka akan melepaskanmu dengan mudah? Mereka tak akan membiarkan kau tenang selama sisa hidupmu!” Suara Justin menggelegar menakutkan
“Tolong aku Kak, tolong aku!” Iba Jessy begitu memelas, Justin memandang prihatin adiknya yang mengenaskan dengan dada yang turun naik dan emosi yang menguasai hatinya. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Haruskah ia pura - pura tak tahu dan mengkhianati hati kecilnya sendiri, atau adiknya lah yang harus ia khianati?