Transaksi Di Atas Ranjang Suami

Transaksi Di Atas Ranjang Suami
Part 84


__ADS_3

“Apa yang kau khawatirkan, Jessie? Kenapa kau keberatan Adam Anderson di penjara? Apa masalahmu, hah?” Bentak Takanawa tak terima protes Jessie, Jessie menggeleng kuat - kuat, tangannya gemeteran memegang erat lengan Ayahnya itu, wajahnya pucat pasi dan basah karena air mata


“Kau tak mengerti hal buruk apa yang bisa terjadi kalau Adam sampai dipenjara Pa!” Gumamnya ketakutan


Dengan wajah pongah Takanawa menepis tangan Jessie, “Apa yang mungkin terjadi? Apa kau takut karena dia orang kaya dan terpandang?! Kau pikir aku gentar?!” Sengit Takanawa, Takanawa lalu mengatur napas untuk meredam kemarahannya sebentar, “Dengar Jessie, keluarga kita tak kalah kaya dan terpandang dari keluarga Anderson! Kau tak perlu khawatir” ucap Takanawa melemah sambil mengusap punggung Jessie yang berguncang hebat


“Kau… kau tak mengerti Pa! Adam akan menghancurkanku!” Jessie meluruh ke lantai lalu terisak, Takanawa jelas saja bingung melihat anaknya yang menangis di lantai


“Ada apa Jessie? Apa yang sebenarnya terjadi?” Tanya Takanawa berjongkok sambil membelai rambut putrinya itu, Jessie mendongak lalu memburu memeluk Ayahnya


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Adam tenang saja saat di interogasi kepala polisi yang memimpin penyelidikan, jajaran pengacara handal mendampingi Adam di kanan dan kiri, belum lagi yang duduk di belakang memakan tempat sampai dua baris, Wang memang tak main - main menyiapkan pembela Adam, belum lagi yang dikirimkan William, pengacara senior dan mahal semua


“Eheemm.. “ Kepala polisi itu berdehem mengusir rasa groginya, “Jadi bagaimana Tuan Adam, apa kau mengakui perbuatanmu?” Tanya Kepala polisi itu


“Kau tak perlu menjawab Tuan Adam” Bisik pimpinan pengacara Adam


“Aku ingin bernegosiasi dengan Tuan Takanawa” ucap Adam pada kepala polisi itu


“Baiklah kalau begitu, baiklah… itu lebih baik” sahut kepala polisi itu lega, bukannya apa.. kasus Adam memang menjadi tekanan untuknya, salah mengambil keputusan tentang siapa yang salah bisa mengakibatkan karirnya di ujung tanduk, mengingat kedua keluarga yang berseteru itu sama - sama berpengaruh


“Aku berharap kasusnya bisa diselesaikan secara kekeluargaan, baiklah kalau begitu aku akan segera menghubungi pengacara Tuan Takanawa” Ujarnya seraya bergegas keluar dari ruangan itu, sepeninggal kepala polisi dan para bawahannya, dengan seizin kepala polisi itu Adrian masuk ke ruangan interogasi


“Bagaimana, Kak?” Tanya Adrian panik


“Kau tenang saja Adrian, dalam hitungan jam kita akan pulang ke rumah” sahut Adam membuat Adrian dan para pengacara Adam kebingungan kenapa Adam bisa begitu yakin ia akan terbebas dari penjara sementara polisi sudah mengantongi bukti kuat


“Tuan Adam, apa yang sebenarnya anda rencanakan?” Tanya salah seorang pengacara, Adam menyunggingkan senyumnya


“Aku akan membuat Tuan Takanawa mencabut gugatannya” sahut Adam


“Tapi bagaimana caranya Kak?” Cecar Adrian tak mengerti, Adam tak menyahut hanya senyumnya yang semakin lebar


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Takanawa membawa Jessie ke ruang kerjanya, ia lalu memberikan teh hangat untuk menenangkan anaknya yang kini duduk termenung dengan tatapan kosong


“Sekarang ceritakan pada Papa, apa yang sebenarnya terjadi antara kau dan Adam Anderson?” Tanya Takanawa lemah lembut. Jessie menatap sekilas Ayahnya lalu tertunduk lesu, jarinya memegang erat - erat cangkir teh yang Ayahnya sodorkan tadi

__ADS_1


“Aku… “ Ucap Jessie, lalu menghela napasnya, ia usap air matanya yang jatuh tanpa di komando, “Pa, apa kau tahu kenapa Kak Justin tiba - tiba memindahkanku ke luar negeri?” Tanyanya sambil meletakkan cangkir yang ia pegang di atas meja


“Bukankah karena kau perlu suasana baru? Itu kan yang kau katakan saat meminta izin padaku dan Ibumu untuk pindah?” Sahut Takanawa santai sambil menyesap tehnya


Jessie menggeleng pelan bersamaan dengan air matanya yang kembali jatuh, “Itu karena aku mencoba membunuh Adam Anderson, Pa! Akulah yang menabrak Adam Anderson tempo hari!” Terang Jessie histeris lalu kembali menangis tersedu


Praaang..


Cangkir teh yang sedang Takanawa pegang jatuh menabrak lantai, Takanawa bak disambar petir di siang hari, wajahnya berubah pucat pasi, matanya membola tak percaya apa yang baru saja ia dengar dari putri kesayangannya


Takanawa menyandarkan punggungnya lemas, masih dengan pandangan kosong tak berkedip ia lalu melepas kacamata dan memijit pelipisnya dengan jari gemetaran


“Katakan padaku kalau ini hanya gurauan, Jessie! Kau tak mungkin melakukan hal hina seperti itu!” Tandas Takanawa mencoba menyangkal apa yang ia dengar


“Adam memaafkanku Pa, dia melepaskanku dari hukuman yang harusnya aku terima! Tapi sekarang kau… kau akan membuatku masuk penjara!” Sengit Jessie frustasi, Takanawa shock hingga ia tak dapat berucap apa pun


Bunyi ponselnya menyadarkan Takanawa dari pikirannya yang berkecamuk, sejenak ia mengatur napasnya sebelum menjawab panggilan dari pengacaranya itu


“Ya” jawab Takanawa singkat, sesaat kemudian ekspresi wajah Takanawa berubah putus asa


“Baiklah, aku akan kesana untuk bertemu Adam” ucapnya lagi sebelum mengakhiri pembicaraan di ponselnya


“Pa… “ Ujar Jessie memelas pada Ayahnya, Takanawa menatap putrinya sendu lalu ia keluar dari ruangan itu tanpa bicara sepatah kata pun, Jessie berteriak frustasi dan putus asa, iya yakin kini Adam tak akan melepaskannya begitu saja.


...****************...


Sesampai di kantor polisi bersama dengan para pengacaranya, Takanawa bergegas menuju ke ruang interogasi tempat Adam berada, di depan pintu ruangan itu Takanawa terdiam ragu untuk masuk, entah kenapa keberaniannya pada Adam seperti lenyap tak berbekas, Takanawa sampai menelan salivanya berulang - ulang sebelum ia masuk ke dalam


Ruangan bercat kusam itu tampak semakin menakutkan dengan atmosfir tatapan Adam yang menominasi, belum lagi jajaran pengacara Adam yang memandang sengit pada Takanawa, dan Adrian yang pasang badan siap berperang cukup untuk membuat jantung berdebar kencang. Nyali Takanawa semakin ciut saat duduk di depan Adam, karena Takanawa tahu Adam punya senjata pamungkas yang akan menghancurkan semua rencananya. Tak ada polisi di ruangan itu, kepala polisi memang sengaja memberikan waktu kepada mereka untuk menyelesaikan secara kekeluargaan


“Kau meminta pertemuan denganku, apa yang ingin kau sampaikan?” Tanya Takanawa pura - pura tidak tahu


“Asistenku bilang putrimu sudah sampai dari luar negeri, bukan? Jadi kau pasti sudah tahu apa yang ku inginkan” sahut Adam tenang


Deg…


Meskipun sudah menduga sebelumnya tapi tak bisa dipungkiri jantung Takanawa kian berdegup kencang


“Kak, apa maksudnya ini? Apa yang kau bicarakan?” Bisik Adrian yang tak mengerti kemana arah pembicaraan Adam, Adam menoleh pada Adrian

__ADS_1


“Tenanglah” sahutnya singkat


Takanawa tampak gelisah, keningnya berlipat - lipat, tentu kondisinya sangat dilematis sekarang, di satu sisi ia ingin memperjuangkan keadilan untuk Justin, tapi disisi lain ia juga tak mau Jessie dipenjara


“K - kau punya bukti apa tentang apa perbuatan Jessie?” Tanya Takanawa, berharap Adam hanya menggertak tanpa mengantongi bukti apa pun


Adrian semakin bingung, “Jessie? apa hubungannya Jessie dengan semua ini?” Bisiknya lagi pada Adam, tapi Adam tak menanggapi ia sibuk bersitatap dengan Takanawa


“Kau tak mungkin mengira kalau aku cukup bodoh untuk tak menyimpan bukti apa pun soal perbuatan Jessie padaku, bukan?” Sinis Adam, pria itu lalu mengeluarkan ponsel dari saku jasnya, jarinya cepat membuka aplikasi lalu meletakkan ponselnya di atas meja


Suasana hening ketika suara rekaman pembicaraan antara Adam, Justin dan Jessie terdengar, pembicaraan ketika Jessie mengakui bahwa ialah yang menabrak Adam di rumah sakit, kenyataan yang sangat mengentak, terutama untuk Adrian.. tinjunya terkepal


Braaak…


Adrian menggebrak meja dan memandang Adam menuntut


“Apa - apaan ini, Kak? Selama ini Kau menyembunyikan siapa yang ingin membunuhmu dulu?!” Sentak Adrian


“Adrian tenang dulu” Titah Adam


“Tenang? Bagaimana bisa tenang kalau ternyata orang yang ingin membunuhmu adalah adiknya Justin! Adik dari pria yang juga berniat menodai Bella!” Teriak Adrian tak terima


Takanawa bak di godam mendengar omongan Adrian, “Apa kau bilang?” Tanya Takanawa penuh amarah pada Adrian, pengacara Takanawa yang duduk di sampingnya menenang - nenangkan Takanawa, begitu pun dengan pengacara Adam yang mencoba meredam kemarahan Adrian, akhirnya Adrian duduk dengan dada turun naik


Setelah semuanya duduk kembali Adam menatap Takanawa, “Aku tak ingin membahas tentang apa yang telah Justin lakukan sehingga aku memukulinya, aku hanya ingin bernegosiasi, dan kau pasti tahu apa yang harus kau lakukan” Ucap Adam tenang, pengacara Adam paham apa yang Adam maksud sekarang, lalu terjadilah diskusi antara pengacara Adam dan pengacara Takanawa


“Bagaimana Tuan Takanawa?” Tanya pengacaranya berbisik, Takanawa merenung sebentar


“Baiklah, aku setuju.. aku akan mencabut gugatanku selama kau tak melaporkan kejahatan Jessie” Ucap Takanawa pasrah, Adam tersenyum penuh kemenangan, sedang Adrian masih menggeram dendam


“Kalau begitu aku permisi” Ucap Takanawa lalu beranjak dari tempat itu disusul para pengacaranya


Sepeninggal Takanawa Adam menghela lega napasnya, sedang Adrian menyelidik Kakaknya itu


“Jadi itu semua rencanamu, Kak? Kau tahu kalau Jessie akan pulang jadi kau bernegosiasi untuk kebebasanmu?” Cecar Adrian, Adam hanya tersenyum simpul


“Kita pulang sekarang?” Tanya Adam sambil berdiri


“Sial!! Kenapa kau selalu lebih pintar dariku Kak? Terbuat dari apa otakmu itu?! Kau memang benar - benar hebat Kak!” Tutur Adrian memuji - muji Kakaknya itu, Adam hanya tersenyum dan sesekali terkekeh mendengar pujian adiknya yang tak habis - habis sepanjang perjalanan pulang mereka ke rumah.

__ADS_1


(Bersambung)….


__ADS_2