
“Jessie, apa kau di dalam?” Ucap Bella di depan pintu kamar Jessie yang sudah di ketuknya berkali - kali
Bella sabar menunggu beberapa saat hingga ia mengetuk pintunya lagi, “Jessie?” Panggil Bella lagi sambil menempelkan telinganya ke depan pintu, mencoba mendengarkan lebih jelas suara dari dalam karena Jessie tak kunjung membukakan pintu atau menyahut
“Ck… Apa Jessie tidur ya?” Gumam Bella, sedikit putus asa Bella mencoba memutar kenop pintunya, Bella agak kaget karena pintunya ternyata tak terkunci. Kadung sudah membuka pintu, Bella memberanikan diri masuk ke dalam kamar yang gelap gulita itu, jalan Bella terpapah, “Jes, kau di dalam?” Ucap Bella lagi, tangannya menggapai dinding mencari - cari sakelar lampu
Trek…
Kamar itu seketika terang benderang, Bella terperanjat saat melihat Jessie sedang duduk memeluk lututnya di lantai dengan bersandar di tempat tidur, wajah Jessie tampak kumal, rambutnya berantakan, matanya bengkak dan memerah
“Jessie, kau baik - baik saja?” Tanya Bella khawatir
Jessie menoleh sebentar, ia lalu berpaling memunggungi Bella, “Untuk apa kau kesini Kak?” Tanyanya lemah
Bella beringsut duduk di samping Jessie, “Apa kau sudah makan?” Tanya Bella melihat nampan berisi roti lapis dan segelas susu yang masih utuh tak tersentuh
“Kenapa kau masih peduli padaku Kak? Aku hampir membunuh suamimu!” Tutur Jessie dengan suara bergetar menahan sesak sekaligus malu
“Apa kau tahu kalau kita tak boleh menyimpan dendam, Jes? Dendam hanya akan membuat hati dan pikiranmu sakit” Sahut Bella sambil mengelus punggung Jessie lembut, mendapat sentuhan Bella membuat Jessie semakin ciut, duduknya semakin mengkerut menekuk lututnya
“Jessie, aku kesini bukan untuk memarahimu atas apa yang telah kau lakukan pada Adam, aku kesini untuk bicara padamu.. sebagai Kakak pada adiknya” Tutur Bella
Karena Jessie membelakangi Bella, Bella tak bisa melihat bagaimana ekspresi terkejutnya Jessie mendengar niat Bella, mata Jessie membola tak mengira bahkan setelah apa yang ia dan Justin lakukan pada keluarga Bella, Bella masih menganggapnya sebagai adik
Bella makin mendekati Jessie, perlahan tangan Bella mengelus rambut Jessie yang acak - acakan dan sedikit merapikan nya, “Jessie, apa kau baik - baik saja?” Tanya Bella lagi
Jessie menahan - nahan air matanya hingga badannya bergetar, Bella yang melihat itu mengelus punggung Jessie penuh kasih sayang, “Menangislah, Jessie.. tak perlu menahannya” Ucap Bella, air mata yang Jessie tahan - tahan itu berlomba jatuh, Jessie menundukkan kepalanya lalu menangis terisak
“Aku ikut sedih Jessie, sungguh aku pun sangat kehilangan Mama Emily” Bella ikut menangis mengingat Emily
Jessie berbalik lalu memeluk Bella, “Aku hancur Kak” ucapnya tersedu, Bella membalas pelukannya erat - erat
“Aku tahu Jes, aku tahu” ucap Bella menyelami bagaimana rasa patah gadis di pelukannya ini, “Kau harus tegar Jes, Mama tidak akan suka melihat kau seperti ini, kuatlah bersamaku Jes.. aku akan menemanimu” tutur Bella mencoba menguatkan hati Jessie.
__ADS_1
Tangis Jessie semakin pecah saja mendapat penghiburan dari Bella, “Terima kasih Kak, terima kasih” Ucapnya penuh syukur, keberadaan Bella mengurangi lara di hatinya. Setelah Jessie cukup tenang, Bella kemudian menyuapi Jessie, mendengarkan keluh kesahnya, menyisiri rambut dan menemani Jessie hingga gadis itu terlelap tenang setelah beberapa hari ia tak dapat memejamkan mata.
Sedang Adam, ia sibuk berbincang dengan Takanawa mempelajari perusahaan yang akan segera menjadi miliknya
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hari sudah sore ketika Bella dan Adam pamit pada Takanawa, kedua sejoli itu berjalan bergenggaman tangan menapaki halaman rumah Takanawa menuju mobil mereka, senyum mereka mengembang lega merasa sudah bisa sedikit meringankan beban Jessie dan Takanawa
“Wah.. wah.. wah.. lihatlah pasangan sempurna ini, kalian terlihat semakin bahagia sekarang, apa karena kalian sudah berhasil menghancurkan kehidupan orang lain? Menjebloskanku dan Ibu ke penjara, lalu sekarang membuat Nyonya Emily mati!” Sinis Brianna yang baru saja sampai di kediaman Takanawa, di belakang Brianna tampak dua orang penjaga rumah yang terengah mengejar mobil Brianna yang menerobos masuk
“Apa yang kau lakukan disini Brianna?!” Sentak Adam, Bella ia tutupi dengan punggung kekarnya, di belakang Adam Bella shock melihat Brianna, demi apa pun ia tak ingin bertemu dengan Kakaknya itu lagi
“Untuk apa? Tentu saja aku ingin menemui Tuan Takanawa, ada janjinya padaku yang belum ia penuhi!” Sahut Brianna dengan wajah pongah dan jengah melihat bagaimana Adam melindungi Bella hingga saat ini
“Janji apa maksudmu?!” Cecar Adam begitu dendamnya pada Brianna
“Oh kau tak tahu Adam? Akulah yang memberikan rekaman video pada saat kau sedang memukuli Justin pada Tuan Takanawa, dan sebagai gantinya aku mendapat imbalan besar! sayangnya belum semua imbalanku diberikan, itu sebabnya aku datang kesini!” Tutur Brianna, ekspresinya begitu puas
“Kau memang tak tahu diri Brianna! kau lakukan semua hal untuk mendapatkan uang, apalagi yang kau jual selain itu hah? Apa kau jual tubuhmu juga?” Bella lepas kendali karena kemarahannya yang membuncah, boleh dibilang Brianna lah yang membuat semuanya menjadi berantakan dan berujung Emily yang bunuh diri
Brianna tampak sangat marah, alisnya menukik tajam, bibirnya terangkat ingin memaki
“Sudah sayang, jangan merendahkan dirimu dengan bicara padanya” Gumam Adam sambil merengkuh tubuh Bella
Kemarahan Brianna jelas saja semakin membuncah, entah setan mana yang menghinggapinya hingga ia merogoh tas dan meraih pisau lipat di dalamnya, memanfaatkan kesempatan saat Adam tengah menciumi pucuk kepala Bella untuk mereda amarahnya
“Rasakan kau Bella!!” Pekik Brianna membahan menghujamkan benda tajam itu ke arah Bella
Blasss…
Darah segar mengalir, sesaat waktu seolah terhenti, Adam dan Bella shock mencerna apa yang sedang terjadi karena di depan mereka Justin tumbang berlumuran darah dengan pisau menancap di dadanya
“Justin!!” Pekik Bella histeris, Adam sigap membantu Justin sedang dua orang penjaga rumah tadi cepat menangkap Brianna
__ADS_1
“Ke - kenapa Justin? Kenapa bukan Bella?” Gumam Brianna tak percaya ia gagal melukai Bella padahal ia yakin Bella lah yang di depannya tadi
“Panggil ambulans! Cepat panggil ambulans!” Teriak Adam pada para pelayan yang bermunculan setelah mendengar kegaduhan yang terjadi
“Apa yang kau lakukan Kak?” Tanya Bella lirih setelah ia mengetahui kalau Justin mengorbankan dirinya untuk melindungi Bella
”K - kau tak apa - apa?” Tanya Justin lemah pada Bella sambil memegangi dadanya yang terus saja mengalirkan darah segar
“Bukan aku yang harus kau khawatirkan Kak! Tapi dirimu sendiri, bertahanlah Kak!” Tutur Bella sambil mengusap rambut Justin yang terbaring di paha Adam
“Kak Justin!” Pekik Jessie yang baru saja keluar dari rumahnya dengan berlari disusul Takanawa, seorang pelayan melaporkan apa yang terjadi pada Takanawa yang sedang bersama Jessie
“Berikan aku ruang!” Titah Takanawa merangsek melewati Bella dan Jessie, Takanawa lalu cepat menekan luka Justin membuat anaknya itu meringis, “Bertahanlah Nak! Aku akan mengobatimu!” Ucap Takanawa pada Justin
“Apa yang terjadi Adam?” Cecar Takanawa
“Brianna mencoba melukai Bella tapi Justin menghadangnya” Jelas Adam, Takanawa lalu menoleh tajam pada Brianna yang dipegangi oleh kedua penjaga rumahnya, tak lama beberapa penjaga keamanan rumah Takanawa yang lain ikut bergabung
“Ikat perempuan itu lalu panggil polisi! Pastikan dia membusuk di penjara!” Titah Takanawa berapi - api, para penjaga keamanan rumah Takanawa patuh lalu menggeret Brianna menuju pos
“Tidak! Lepaskan aku! Lepaaaasss!!!!” Pekik Brianna, tapi teriakan Brianna tak menghentikan pria - pria berbadan tinggi tegap itu untuk menyeretnya
“Bantu aku membawa Justin ke dalam!” Pinta Takanawa pada Adam, Adam sigap memapah Justin masuk ke dalam rumah diikuti Bella dan Jessie serta para pelayan yang terkaget - kaget setelah baru saja melihat Justin berlumuran darah, sampai di dalam Justin dibaringkan di sofa, Takanawa sigap memeriksa luka Justin
“Sebentar lagi ambulans datang, kita akan ke rumah sakit karena lukamu sangat dalam, kau harus segera di operasi, Justin! Tutur Takanawa pada Justin
“Papa… maafkan aku” ucap Justin, tangannya yang berlumuran darah meraih tangan Takanawa, hati Takanawa bak di godam mendengarnya
“Bertahanlah!” Sentak Takanawa, demi apa pun dia tak ingin kehilangan siapa pun lagi
“Kak, aku mohon bertahanlah.. aku mohon” Pinta Bella memelas sesaat sebelum Justin tak sadarkan dirinya
(Bersambung… )
__ADS_1