Transaksi Di Atas Ranjang Suami

Transaksi Di Atas Ranjang Suami
Kenapa Adam yang Mendapatkan Segalanya?


__ADS_3

Adrian lelah, berhari - hari ia harus bolak - balik rumah sakit dan kantor karena Brianna masih mendapatkan perawatan intensif disana, lukanya bukan main - main, cukup lebar dan sangat dalam. Adrian melangkah gontai menyusuri lobby kantor, dadanya yang biasa membusung saat berjalan kali ini rapuh bahkan jalannya tertunduk, bukan hanya karena rasa lelah fisiknya, tapi batinnya yang benar - benar letih karena setiap kali ia menemui Brianna, Brianna selalu menyambutnya dengan dingin dan ketus, bahkan tak jarang Brianna mengusirnya dengan alasan ingin beristirahat, harga diri Adrian benar - benar diinjak istrinya sendiri


Adrian masih berjalan, tak ia pedulikan orang - orang yang menyapanya dengan sopan, hingga ia berbelok menuju lift khusus direksi langkahnya terhenti saat ia mendengar nama Bella disebut - sebut oleh beberapa executive muda, mungkin saking serius pembicaraan mereka sampai - sampai mereka tak menyadari kalau Adrian berdiri tepat di belakang mereka


“Kau hampir tak berkedip saat Nyonya Bella presentasi tadi, untung saja Tuan Adam tak menyadarinya, kalau dia sampai tahu entah bagaimana kelanjutan kerja sama kita dengan perusahaan ini” tutur salah seorang pria pada temannya


“Ahahaha… bagaimana aku tidak terpesona oleh wanita yang cantik dan cerdas seperti itu? pantas saja Tuan Adam memperistrinya! Aaarggghhh… aku iri sekali pada Tuan Adam, Tuhan sangat berpihak padanya! Wajah tampan, perusahaan besar, istri yang cantik dan juga cerdas, semua yang di dambakan oleh seluruh pria ada di tangannya!” Timpal pria yang lain sambil berdecak kagum


“Apa kita harus mulai mengikuti jejak Tuan Adam agar bisa seberuntung dia? Siapa tahu masih ada wanita seperti Nyonya Bella diluar sana!” Sambung pria yang lain, ketiga pria itu kemudian tertawa bersama - sama lalu beranjak dari tempat itu


Adrian menelan salivanya, entah kenapa dadanya seketika sesak, hatinya sakit bak tersayat sembilu, pria yang hatinya sedang tak karuan itu melanjutkan perjalanannya masuk ke dalam lift dan melaju menuju ruangannya di lantai 25. Adrian bersandar di dinding lift yang dingin, setiap ucapan pria - pria muda tadi terngiang di telinganya, Adrian membanting tas kerjanya dengan kesal, ia lalu membalik badannya, tinjunya melayang membentur dinding lift seiring dengan teriakannya yang menggema, pria itu lalu menyugar rambutnya frustasi


“Kenapa selalu Adam yang mendapatkan segalanya? Kenapa?!!” Pekiknya membahana, beruntung ia masih berada di dalam lift yang berjalan naik sehingga tidak ada seorang pun yang mendengar teriakannya. Saat menyadari lift yang ia tumpangi berhenti, Adrian mengatur napasnya, membenar - benarkan dasi dan jasnya, memungut lagi tas kerjanya, lalu keluar dari lift menuju ruangannya


Adrian baru saja akan membuka pintu ruangannya, ketika Bella dan Anna, sekretarisnya Adam berjalan melewatinya menuju ruangan Direktur pemasaran yang berada tepat di sebelah ruangan Adrian, Bella tak menoleh sedikit pun padanya hanya Anna yang menatap dan mengangguk sopan pada Adrian lalu Anna dan Bella kembali sibuk berdiskusi


“Kenapa dengan perasaanku ini? Kenapa aku berdebar saat melihat Bella? Apa yang terjadi denganku?” Adrian memegang dadanya yang tak karuan, debaran itu terasa sekali, gugup, salah tingkah, tapi juga penasaran ingin bertarapan dengan Bella dirasakan oleh Adrian


“Nyonya, apa Nyonya menyadari kalau Tuan Adrian tadi memperhatikan Nyonya?” Bisik Anna pelan sesaat setelah mereka jauh dari Adrian


Bella berdecak kesal, “Tak perlu kau pedulikan dia, Anna! bukannya sudah biasa kalau dia mematai - matai kita?” Sewot Bella


“Tapi tatapannya tak menunjukkan permusuhan seperti biasa Nyonya, dia seperti… “


Bella memegang bahu Anna dan menatap matanya lamat - lamat, “Anna! Jangan tertipu oleh apa pun tipu muslihat Adrian, dia itu licik!” Tandas Bella penuh penekanan


“Ah i - iya, baik Nyonya!” Sahut Anna mengenyampingkan rasa penasaran akan tatapan Adrian pada Bella yang ia rasa berbeda, Anna jelas melihat ada tatapan sendu di mata Adrian, tak seperti biasanya


...----------------...


Adrian baru saja memasuki ruangannya, tas kerja yang ia sedang tenteng kembali menjadi pelampiasan kekesalan dan penyesalannya, tas itu melayang setelah Adrian menghempaskannya begitu saja dan mendarat di lantai. Adrian mendudukan dirinya di kursi, pelipisnya ia pijat - pijat karena sakit kepala menderanya, saat sibuk menekan - nekan puncak hidungnya ekor mata Adrian melihat sebuah amplop bertuliskan nama Brianna, pria itu meraih amplopnya dengan kesal


“Tagihan kartu kredit” gumamnya, tangannya lalu membuka amplop itu dengan kasar, mata Adrian nyaris saja keluar saat melihat nominal tagihan kartu kredit Brianna


“Hampir empat milyar? Apa yang dia beli dengan uang sebanyak itu dalam waktu hanya satu bulan?” Pekik Adrian, ia lalu meremas kertas tak berdosa itu dan melemparnya ke sembarang arah, rambutnya yang sudah klimis tadi ia sugar frustasi


“Aaahhhhhhhhh!!!!!!!! Apa Brianna tidak tahu kondisi keuanganku sekarang semenjak Direktur keuangan diganti menjadi Bella?”


Praaanggg…


Adrian marah bukan main, ia sampai menghempas barang apa pun di atas mejanya


Lalu bruuuk.. bruuukk..


Tumbukan demi tumbukan ia alamatkan pada meja kerjanya yang berlapis kaca, alhasil buku jari tangan yang sudah memerah karena hantaman pada dinding lift tadi kini lecet dan mengeluarkan darah, Adrian tak peduli itu, ia lebih memilih menghubungi asistennya


“Apa ada uang yang bisa kugunakan sekitar empat milyar?” Tanya Adrian begitu asistennya menjawab panggilannya


“Maaf Tuan, hanya tersisa sekitar dua milyar di rekening pribadi Tuan” sahut Asisten Adrian


“Sial! hanya tinggal dua milyar? Berapa banyak uangku yang terpakai untuk membayar orang - orangku di perusahaan?” Tanya Adrian

__ADS_1


“Sekitar lima puluh milyar, Tuan” sahut asistennya


“Lantas kenapa hanya tersisa dua milyar, bukankah harusnya masih ada tiga sampai empat puluh milyar?” Cecar Adrian


“Maaf Tuan, apa Nyonya Brianna tidak memberi tahu bahwa Nyonya Brianna beberapa kali melakukan pengambilan uang? Bukankah semuanya sudah atas seizin Tuan?” Kali ini asisten Adrian menyahut dengan takut - takut menyadari Adrian sedang murka


“Apa? Apa kau bilang?” Adrian sampai terlonjak berdiri mendengar penuturan asistennya, untuk apa Brianna mengambil uang sebesar itu tanpa seiizinnya pula, Adrian memutus panggilannya begitu saja karena ia sudah tak dapat berkata apa - apa lagi, tanpa pikir panjang lagi Adrian bangkit dari duduknya dan beranjak tergesa dari ruangannya, ia harus segera menuju rumah sakit untuk menanyakan langsung pada Brianna


Adrian mengemudi dengan kecepatan tinggi, tak ia pedulikan bunyi klakson beberapa mobil yang hampir disenggolnya, tak ada yang ia pedulikan sekarang selain jawaban Brianna tentang untuk apa uang sebanyak itu Brianna pergunakan


Sesampainya di rumah sakit, Adrian kembali terburu - buru menuju ruangan dimana Brianna di rawat


“Apa yang telah kau lakukan Brianna?” Sentak Adrian sesaat setelah ia menerobos masuk, Pamela yang sedang mengupas buah untuk anaknya itu terhenyak kaget, begitu juga Brianna yang sedang sibuk dengan ponselnya


“Apa - apaan kau? Kenapa datang - datang kau membentakku Adrian?” Brianna balik membentak Adrian, tak terima tiba - tiba saja dimarahi suaminya itu


“Kau kenapa Adrian? Apa salah Brianna sampai ia sedang terbaring sakit pun masih kau bentak - bentak seperti itu?” Kali ini Pamela yang meradang sambil berkacak pinggang


Adrian acuh tak menanggapi mertuanya, ia masih saja merangsek mendekati Brianna dengan dada yang turun naik, “berapa banyak uangku yang kau ambil tanpa sepengatahuanku?” Cecar Adrian


Brianna menciut melihat kilat kemarahan di mata Adrian, “U - uang apa maksudmu Adrian?”


“Jangan pura - pura bodoh Brianna! Kau tidak mungkin melupakan uang puluhan milyar yang kau ambil dariku kan?” Cecar Adrian lagi, kali ini ia sambil menarik dagu Brianna yang berusaha memalingkan mukanya


Pamela maju hendak membantu Briana, “Adrian, apa yang kau… “


“Diam di tempatmu! Jangan ikut campur!” Sentak Adrian, membuat Pamela terpaku di tempatnya


“Katakan, untuk apa semua uang yang kau ambil?” Cecar Adrian lagi, kali ini matanya memerah penuh amarah


“Apa kau bilang? Uang sebanyak itu kau bilang untuk hal - hal tidak berguna seperti itu? Apa kau gila?!” Adrian semakin menjadi kemarahannya


“Hal tidak berguna? Adrian berlian dan tas Hermes yang dibeli Brianna itu sangat berguna untuk menunjukkan statusnya sebagai istrimu! bukankah kau sendiri yang akan bangga jika istrimu berpenampilan mewah?” Sahut Pamela membela anaknya


Adrian menjatuhkan pandangannya pada Pamela, wajahnya melongo tak percaya dengan apa yang baru ia dengar dari mulut Pamela


“Apa selama ini tas Hermes yang ku belikan untuknya kurang banyak, apa berlian yang ku hadiahkan untuknya juga kurang banyak sampai dia harus mengambil uangku diam - diam?” Sentak Adrian


Pamela berdecih, “ternyata kau memang tak sekaya Adam, hanya uang sejumlah itu sudah kau ributkan, sampai - sampai kau membentak istrimu sendiri” ejek Pamela


Adrian menoleh tajam pada Pamela, “Dan Brianna tak seperti Bella! Lihat Bella, betapa sederhananya dia meskipun dia istri Adam?!” Teriakan Adrian membahana memenuhi seluruh ruangan VIP yang ditempati Brianna


“Kau! berani - beraninya kau membanding - bandingkanku dengan Bella?!” Brianna berteriak lantang tak terima


“Dia jelas lebih baik darimu Brianna, paling tidak dia tidak memanfaatkan Adam! Tak sepertimu yang memanfaatkanku!” Adrian tak kalah lantang dari Brianna, jari telunjuknya lalu terangkat dan menunjuk Pamela “kau dan anakmu memanfaatkanku! Kalian benar - benar licik! Mulai sekarang aku tak akan memberikan uang pada kalian sepeser pun, kalian mengerti?!”


“Apa? Kau tidak bisa seenaknya begitu Adrian! Bagaimana aku bisa hidup kalau kau tak memberikanku uang?” Protes Brianna


Adrian menyunggingkan senyum sinisnya, “Kau tahu Brianna, aku tak peduli! Kau bisa memikirkannya bersama Ibumu sendiri!” Adrian tak mau mendengar lagi Brianna yang berteriak - teriak memanggilnya dengan panik, Adrian tergesa beranjak keluar dari kamar inap Brianna


Sepeninggal Adrian, Pamela terduduk lemas begitu pun dengan Brianna, Brianna bahkan sampai menangis tersedu - sedu, “bagaimana nasib kita Bu? Darimana kita akan mendapatkan uang?” Brianna panik bukan main, bayangan harus hidup tanpa uang yang melimpah dari Adrian sangat menakutkan

__ADS_1


“Mau tidak mau kau harus kembali bekerja Brianna! Gaji sebagai wakil Direktur keuangan memang tak seberapa dibanding uang dari Adrian, tapi paling tidak kita tak akan kelaparan, selain itu kau juga bisa punya cara untuk mendekati Adam jika kau ada di perusahaan terus” ujar Pamela


Brianna merengek tak terima, “kerja Bu? Bu, aku tak ingin bekerja lagi, aku sudah nyaman hidup seperti sekarang!” Protesnya


“Kau mau kita kelaparan?” Sengit Pamela pada anaknya, “lakukan apa yang Ibu perintahkan demi kebaikan kita Brianna! Tujuan utamamu adalah untuk mendekati Adam, dengan kau bekerja di tempat yang sama dengan Adam, kesempatanmu untuk mendekatinya akan lebih besar, kau mengerti?” Tandas Pamela


Brianna mengangguk paham meskipun wajahnya merengut tak senang


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bella baru saja pulang dari kantornya, ia sengaja pulang lebih awal dari biasanya untuk menyambut Adam, hampir seharian ini ia tak bertemu dengan suaminya itu, Adam memang rapat diluar kota dari pagi tadi dan baru kembali menjelang sore, beberapa saat yang lalu ia menghubungi Bella dan memberi tahukan bahwa dirinya sedang dalam perjalanan pulang dan tak lama lagi akan sampai


Wajah Bella berseri bahagia, ia segera mandi, mengenakan baju sexy, sedikit berdandan dan tak lupa menyemprotkan wewangian di tubuhnya, Bella ingin menyambut Adam dengan spesial, ia ingin Adam tahu bagaimana perasaannya pada Adam sekarang


Bella baru saja menyalakan lilin - lilin ketika Adam membuka pintu kamarnya, Bella menoleh dan menatap Adam penuh cinta ketika suaminya itu melangkah masuk


Disana, diantara temaram cahaya lilin - lillin Bella bisa melihat betapa tampannya Adam, Adam memang sudah tak berdasi, jasnya bahkan sudah tersampir di tangannya, tapi karena itulah gagahnya Adam makin terlihat, kemeja slim fit yang ia pakai melekat dan membentuk sempurna dadanya yang bidang, belum lagi otot lengannya yang terekspos sempurna karena ia menggulung lengan kemejanya


Entah mungkin karena Bella sedang kasmaran hingga ia melihat wajah Adam bercahaya, senyumnya menawan dengan lesung pipi yang menghiasi sebelah pipinya


“Kau belum tidur?” Tanya Adam setelah ia berdiri tepat di depan Bella, ah hilang sudah lelah Adam saat ia memandangi wajah cantik istrinya itu, kulit yang putih bersih, rambut yang sedikit ikal kecoklatan, manik mata yang gemerlapan, dan bibir sexy yang merekah merah, dan jangan lupa baju sexy yang membalut tubuh sensual istrinya itu


Adam mencondongkan sedikit badannya ke depan lalu menghirup dalam - dalam aroma manis yang menguar dari tubuh Bella, “kau wangi sekali” ucap Adam membuat Bella tersipu malu


“Aku wangi karena sudah mandi, tapi kau yang baru pulang dari luar kota dan belum sempat mandi kenapa kau bisa tetap wangi?” Bella lalu meletakkan kedua tangannya di dada Adam, kakinya sedikit berjinjit ketika ia mengendus - endus leher Adam, “bahkan aku sama sekali tak mencium bau keringatmu, Adam” tambahnya


Adam segera mengambil tangan Bella yang hendak turun dari dadanya, Bella bisa merasakan napas dada Adam yang turun naik dan napasnya yang mulai memburu, Bella tersenyum senang karena Adam tiba - tiba menarik dirinya ke dalam pelukannya, menjatuhkan jas dan tas kerjanya begitu saja ke lantai


“Aku merindukanmu, kau tahu betapa tersiksanya aku tak bisa melihatmu seharian ini?” Ucap Adam, Bella yang sedang dalam kuasa asmara balas memeluk suaminya itu


“Aku juga merindukanmu Adam” sahut Bella, ia membenamkan kepalanya di dada bidang Adam, tapi tangannya tak diam, jarinya perlahan membuka satu persatu kancing kemeja Adam


Adam tersenyum mendapati kenakalan istrinya, ia lalu perlahan menarik dagu Bella membawa wajah Bella nyaris tak berjarak dari wajahnya, napas Adam menyapu hangat wajah Bella saat ia memiringkan wajah dan mendaratkan kecupannya disana


“Jangan hanya kecupan Adam! Aku ingin yang lebih” rengek Bella, bibirnya agresif ******* bibir Adam, wanita mana yang tak ingin menikmati bibir tipis dan manis pria tampan itu


Adam melayani ciuman Bella yang menuntut, membalas setiap kecupan, *******, dan hisapan, lidah Adam tak kalah lincah saling bertaut dengan lidah Bella.


“Adam! Aku sudah tak sabar” ucap Bella serak, Adam sangat - sangat puas mendengarnya, dengan semangat Adam mulai membuka busana sexy yang membungkus tubuh Bella tanpa menyisakan apa pun, tubuh polos itu lalu ia bopong dan ia bawa ke tempat tidur, ia baringkan Bella dengan penuh kasih sayang disana, sementara tangannya sibuk membuka kemeja dan semua celana yang melekat di tubuhnya, Adam lalu beringsut naik ke ranjang mereka


Bagian pertama yang Adam sentuh dengan bibirnya adalah leher Bella, lalu mulai turun ke bagian dada dan memberikan banyak kecupan disana, bonus permainan lidah yang membuat Bella mabuk kepayang


Bella merintih saat ciuman Adam semakin turun ke pahanya, Bella bangkit setengah duduk saat Adam mulai menekuk kakinya, badan Bella meremang, jeritannya tertahan karena lidah Adam kini menyapu - nyapu hangat di bagian paling intim tubuhnya


Cukup lama Adam memanjakan Bella disitu, hingga Adam sudah tak kuasa lagi menahan gelora hasratnya sendiri, Adam baru saja hendak memposisikan dirinya ketika Bella menahan dadanya


“Adam, aku ingin melakukan apa yang kau lakukan tadi padaku” pinta Bella, kening Adam masih berkerut namun Bella sudah mengambil langkah dengan beringsut bangun dan mendorong pelan tubuh Adam


“Aku akan membuatmu bahagia, Adam” ucap Bella, ia lalu memposisikan wajahnya mendekati bagian paling inti milik Adam, Adam menggeram saat miliknya kini sedang dimanjakan lidah Bella, bahkan Bella tak segan memasukkan ke dalam mulutnya


Adam jelas tak kuat berlama - lama begitu, Bella terlalu menggoda. Pria itu tak sabaran membalik badan Bella hingga Bella berada di bawah kungkungannya, mata Adam sayu menunjukkan betapa berhasratnya ia kini

__ADS_1


“Adam!” Bella memekik tanpa sadar ketika Adam mulai memasukinya, keduanya lalu sama - sama melenguh ketika hentakan - hentakan di lancarkan oleh Adam, Adam sabar - sabar mengontrol nafsunya agar tak bergerak terlalu dalam mengingat ada janin dalam kandungan Bella


Saat Adam sedang sibuk mengatur ritmenya, Bella agresif mengalungkan tangannya di leher Adam, kepalanya sedikit terangkat karena bibirnya ia pertemukan kembali dengan bibir Adam, ciuman mereka semakin intens seiring dengan hentakan Adam yang semakin cepat, Adam dan Bella sama - sama merintih ketika keduanya mencapai pelepasan mereka. Adam mengecup kening Bella sebelum ia berguling ke sisinya, disusul Bella yang merangsek ke dalam pelukan Adam, keduanya tersenyum penuh kepuasan dan cinta yang semakin bersemi.


__ADS_2