Transaksi Di Atas Ranjang Suami

Transaksi Di Atas Ranjang Suami
Part 44


__ADS_3

"Kira - kira kemana Mommy dan Daddy pergi ya, Bu?" Brianna bertanya - tanya setelah mendapat informasi dari pelayan bahwa William dan Miranda pergi dari tadi malam dan belum kembali hingga pagi ini


"Ck... Mana aku tahu! Lagipula harusnya mereka memberi tahuku jika mereka mau pergi apalagi sampai tak pulang, bagaimana pun aku masih besan mereka bukan" cerocos Pamela


"Hei! Kau pikir siapa dirimu Nyonya? Mommy dan Daddy adalah tuan rumah ini, untuk apa mereka harus memberi tahumu?" sinis Adrian yang tiba - tiba saja bergabung di meja makan, dalam hati sebenarnya Adrian pun penasaran kemana Ayah dan Ibunya, ada kekhawatiran juga jika William dan Miranda bertemu dengan Bella, bisa - bisa kebohongannya terbongkar.


Brianna memutar malas bola matanya melihat Adrian, apalagi mendengar omongan sinisnya barusan, "Apa kau tak bisa bicara sopan pada Ibuku? Kau lupa kalau dia masih mertuamu?" sengit Brianna


"Sopan? Aku akan sopan pada orang yang punya harga diri! Lihatlah kalian, dimana harga diri kalian?" sahut Adrian arogan


Pamela berdehem tak nyaman, "Apa kau tahu kemana orang tuamu?" tanya Pamela pada Adrian


Adrian tersenyum penuh ejekan pada mertuanya itu, "Kalau pun aku tahu, aku tak akan memberi tahukannya padamu!" tandasnya, Pamela kesal bukan main alisnya sampai menukik tajam, mulutnya terbuka dan tertutup hendak marah pada Adrian tapi ia tak tahu harus berkata apa


"Adrian, cukup!" sentak Brianna, "Harusnya kita bekerja sama bukan malah seperti ini! Apa kau lupa kalau lusa notaris akan datang kesini untuk mengesahkan kepemilikan Adam akan perusahaan?"


Adrian menghela napasnya, ia lalu bangkit dari duduknya, "Aku tak bisa berbuat apa - apalagi untuk mendapatkan perusahaan, salahku memang karena memilih istri tak berguna dan mandul sepertimu!" tandasnya membuat Brianna naik pitam


Braaakkkk....


Brianna menggebrak meja di depannya, alhasil piring dan gelas saling beradu, beberapa ada yang tumpah. Para pelayan yang sedang kebetulan lewat sampai mengelus dada karena kaget


"Kau yang tak becus jadi suami, mungkin kau yang mandul! Harusnya aku memilih Adam dulu, bukan kau!" sentak Brianna, Pamela segera mengkode anaknya itu untuk diam, Pamela tak ingin kalau Adrian sampai murka, tap terlambat sudah Adrian memang sudah meradang, ia tergesa menghampiri Brianna dan tanpa ragu mencengkram rahang istrinya itu, Pamela berteriak histeris melihat Brianna yang tak berkutik


"Kau bilang apa tadi? Kau lebih memilih Adam dibanding aku?!" rahang Adrian mengeras dan wajahnya memerah, "Kau pikir kau siapa, hah? Kau pikir kau bisa seenaknya bisa memilih antara aku dan Adam? dengar baik - baik Brianna, kesalahan terbesar dalam hidupku adalah lebih memilihmu dibanding Bella!" Tandas Adrian sambil menghempas wajah Brianna hingga ia terhuyung


Deg...


Pamela dan Brianna sama - sama tercekat, apa baru saja Adrian bilang kalau ia menyesal meninggalkan Bella? Itu artinya Adrian ternyata mencintai Bella


"Kau... Kau mencintai Bella?" Brianna sampai tergagap, Pamela yang berdiri di samping Brianna pun tak habis pikir


"Ada apa ini? Kenapa ribut - ribut?" William yang digandeng oleh Miranda masuk ke ruang makan, dibelakangnya ada Adam dan Bella. Wajah horor Pamela seketika berubah ramah, Brianna pun segera mengatur ekspresinya agar tersenyum manis, sedang mata Adrian langsung membulat, rasa khawatir kini menyelimutinya, apalagi tak tampak terlihat kemarahan di wajah William pada Bella, justru baru saja William meminta agar Bella duduk disampingnya, di tengah - tengah antara Adam dan Adrian

__ADS_1


"Apa yang terjadi? Kenapa Daddy tidak marah pada Bella?" batin Adrian cemas


William menghela napas sambil memindai semua anggota keluarganya yang telah berkumpul di ruang makan, "Duduklah semua, ada yang ingin aku sampaikan" titah William, tak menunggu William mengulang perintahnya hingga dua kali, kini semuanya duduk di tempatnya masing - masing dengan isi benak yang berbeda - beda


"Dengar, mulai hari ini Adam sudah resmi menjadi pemilik perusahaan Anderson Group, malam tadi aku resmi menyerahkan semua sahamku untuk cucu yang sedang Bella kandung" tutur William


"Apa?" Pamela refleks memekik kaget dan berdiri, membuat semua mata tertuju padanya, menyadari dirinya keceplosan Pamela kembali duduk


"M - Maksudku, bukannya seharusnya lusa?" tanya Pamela, ia lalu menjatuhkan pandangannya pada Adrian yang duduk terdiam saat mendengar pengumuman William itu, "sialan! Apa dia benar - benar akan diam saja?" batin Pamela kesal melihat Adrian yang tak berkutik sedikit pun


"Mengingat peristiwa yang menimpaku kemarin, aku merasa tak perlu menunggu lagi, aku tak tahu kapan aku akan mati" saat mengucapkan itu William melihat sinis pada Adrian, anaknya sendiri yang telah tega membuatnya ambruk, Adrian salah tingkah mendapat sindiran William


"Tapi Dad,......" Brianna mencoba protes


"Ini sudah keputusanku! Jika ada yang tak setuju aku persilakan untuk menempuh cara apa pun demi membatalkan keputusanku" tantang William membungkam Brianna


"Nyonya Pamela, bukankah kau harusnya ikut senang karena Adam dan Bella menjadi pemilik perusahaan sekarang? Bagaimana pun juga Bella itu putrimu kan? Aku heran kenapa kau sering sekali protes jika itu menyangkut kebahagiaan Bella" sindir Miranda,


Pamela tercekat salah tingkahnya makin terlihat, "Bukan begitu Nyonya Miranda, aku...."


"Baik Tuan" para pelayan serempak mengiyakan


"Sial, kenapa Daddy malah sangat memanjakan Bella sekarang?" Geram Brianna dalam batinnya


"Apa yang terjadi? Kenapa Daddy justru mengistimewakan Bella? Apa omonganku tentang Bella yang sebenarnya mencintaiku tak berpengaruh sama sekali? Tapi bukannya kemarin Daddy jatuh sakit karena itu?" Adrian menerka - nerka dalam hatinya


"Berengsek! Kalau sudah seperti ini akan semakin sulit untuk menggugurkan kandungan Bella!" batin Pamela, sementara hati Bella menghangat merasa mendapat perlindungan dari William, ia kini sudah bisa melihat kasih sayang di mata William lagi, tadi pagi sebelum pulang lagi - lagi William meminta maaf padanya, dan tentu saja Bella memaafkannya, toh itu semua hanya kesalah pahaman yang direncanakan oleh Adrian


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Miranda menghempaskan dirinya di tempat tidur kamarnya, ia merasa kesal pada suaminya karena tak bersikap tegas pada Adrian, Pamela, dan Brianna saat di ruang makan tadi. Miranda sih berharap kalau ketiganya di usir saja dari rumah itu, Miranda khawatir ketiganya akan membuat menjadi ancaman untuk rumah tangga Bella dan Adam, terutama untuk kehamilan Bella


"Kau kenapa sayang? Kenapa kau menekuk wajah cantikmu seperti itu?" goda William pada istrinya

__ADS_1


"Kenapa kau tak memarahi Pamela, Brianna, terutama Adrian tadi? Bagaimana kalau mereka berbuat jahat lagi pada Bella?" sewot Miranda, William kini mengerti apa yang membuat MIranda kesal, ia lalu duduk di sebelah Miranda


"Apa kau ingat pada adikku James?" tanya William, kening Miranda berkerut mengingat - ingat nama yang sudah lama tak ia dengar dari mulut suaminya itu


"Ah aku ingat, dia adikmu yang meninggal saat kalian masih berkuliah dulu kan?" tanya Miranda


William menghela napasnya, "Sayang, ada yang harus kau ketahui soal James! Aku harusnya memberitahukanmu sejak dulu soal ini, tapi janji pada Ayahku membuatku tak bisa berkutik" tutur James sambil menatap istrinya itu lekat - lekat


Miranda kini tegang, "Ada apa sayang? Kenapa dengan James?"


"James, dia.... Dia masih hidup sayang" tutur William lirih, Miranda tak mengerti maksud suaminya hingga keningnya kembali berkerut


"Masih hidup? Apa maksudmu masih hidup?" cecar Miranda


"Selama ini Ayahku meminta kami semua untuk berbohong tentang kematian James, James masih hidup dan dia kini masih di rawat di rumah sakit jiwa diluar kota" sahut William sendu


"Di rumah sakit jiwa? Maksudmu dia....." Miranda jelas kaget mendengarnya


"Dia mengalami depresi berat, sudah bertahun - tahun dokter dari berbagai belahan dunia mencoba menyembuhkannya, tapi James tak juga sembuh! Dokter bilang James memang tak ada keinginan dan motivasi untuk sembuh, bahkan beberapa kali James mencoba bunuh diri" mata William berkaca - kaca, "Dia adalah aib untuk keluarga besarku, itu sebabnya dengan berat hati kami menyembunyikan dirinya dengan mengatakan kalau James telah tiada"


"Tapi, bukankah itu sangat kejam? Meskipun mengalami sakit jiwa tapi James adalah keluarga kalian juga!" protes Miranda


"Itu semua memang kesalahan orang tuaku, mereka terlalu berharap padaku sehingga seringkali James dikesampingkan, saat itu James memang tak dapat diandalkan, hampir tiap hari ia berpesta, bergonta - ganti pasangan, ia bahkan tak pernah menghadiri kelas kuliahnya. Suatu hari saat Ayahku mengumumkan bahwa aku yang akan menjadi penerus di perusahaan kami, James tak terima, ia mengamuk karena menganggap orang tuaku tak adil, ia lalu pergi dari rumah selama berminggu - minggu, dan suatu hari rumah sakit menghubungi kami dan mengabarkan kalau James dirawat karena overdosis obat terlarang" air mata William menetes sudah mengenang adiknya


"Sejak saat itu kecanduannya tak dapat diatasi, dia keluar masuk pusat rehabilitasi, James menghancurkan hidupnya sendiri, dan kau tahu apa yang James katakan? Itu semua karena orang tuaku, karena mereka lebih menyayangiku dibanding James, hanya itu yang dia katakan setiap kali kami mengunjunginya" William menyeka air mata yang membasahi pipinya


"Itu sebabnya aku tak pernah bisa tegas pada Adrian, Adrian mengingatkanku pada James! Aku tak ingin Adrian berbuat hal nekad seperti adikku dulu!" kali ini William mulai terisak, Miranda bergegas memeluknya


"Maaf sayang, aku tak tahu kalau inilah alasanmu selama ini tak dapat berbuat tegas pada Adrian, aku mengerti sekarang sayang, maaf karena aku telah menyalahkanmu tadi" ucap Miranda sambil mengusap - usap punggung suaminya


"Bagaimana pun Adrian adalah anak kita, adik dari Adam, dan Brianna adalah istrinya, bagaimana aku bisa mengusir Pamela juga jika nantinya itu akan membuat Adrian tersinggung?!" Tambah William, William memang belum mengetahui kalau Adrian sebenarnya telah sangat membenci Brianna dan Pamela


"Aku selalu berharap suatu hari ia akan menyadari kesalahannya dan berubah, yang pasti kita tetap akan melindungi Bella dan Adam dengan cara kita, seperti yang sudah kita jalani selama ini!" tutur William, Miranda mengeratkan pelukannya

__ADS_1


"Baik sayang, yang penting kita akan melindungi Adam, Bella, dan calon cucu kita" ucap Miranda.


__ADS_2