Transaksi Di Atas Ranjang Suami

Transaksi Di Atas Ranjang Suami
Part 76


__ADS_3

Entah kemana Bella harus pergi, melarikan diri dari Adam tidaklah mudah, Adam dengan gampang akan bisa menemukannya di sudut terkecil negara itu sekali pun, Adam punya kekuasaan besar mengerahkan banyak orang untuk mencari Bella dan Eve.


“Kita mau kemana sayang? Mama sudah lelah” ucap Bella saat ia menepikan mobilnya untuk menyusui Eve, meski lahapmenyusu pada Ibunya tapi bayi mungil itu bergerak tak nyaman, mungkin karena hawa panas tubuh Bella yang sedang demam tinggi


“Maafkan Mama Eve, semoga kamu baik - baik saja dan tidak tertular” gumamnya sambil menitikkan air mata, Bella lalu memaksa otaknya untuk berpikir keras mencari tempat untuk mereka tempati, Eve butuh istirahat dan botol susunya agar ia tak menyusu langsung dari Bella yang sedang sakit, ada secercah harapan ketika ia mengingat suatu tempat, tempat yang sudah lama sekali tak ia kunjungi meskipun ia tak yakin kalau tempat itu masih ada, harapnya semoga ada keberuntungan untuknya dan Eve. Setelah bayi itu kenyang dan tidur kembali, Bella lalu mengganti popoknya agar Eve bisa nyaman selama perjalanan mereka yang akan panjang


Yakin akan tujuannya, Bella lalu mengemasi semua barang Eve dari mobil itu, ia lalu membalut Eve dengan selimut tebal dan menggendongnya keluar dari mobil mewah pemberian William untuknya, Bella memaksa dirinya untuk berjalan di udara dingin meskipun langkahnya terseok, beruntung sebuah taksi melintas di depan Bella, Bella memang sengaja mencari tempat yang sedikit ramai dimana kendaraan masih berlalu lalang, karena mulai saat itu taksi lah yang akan menjadi kendaraannya menuju tempat yang ia tuju


Butuh beberapa jam untuk Bella berkendara hingga sampai ke tempat tujuan, badannya bukan tak lelah atau lemah tapi keinginan untuk sampai di tempat tujuan memberikannya kekuatan. Pagi sudah menjelang ketika mereka sampai di tujuan, danau itu begitu tenang hanya daun - daun yang bergoyang karena hembusan angin dan kabut yang sudah mulai terurai yang terlihat di sepanjang jalan menuju pondok tempat keluarga Bella dulu menghabiskan musim panas mereka, saat Bella masih kecil dulu ketika keluarganya masih utuh dan bahagia.


Dada Bella terasa sesak mengenang pondok yang sudah mulai terlihat dari kejauhan, kenangan - kenangan manis bermunculan di benaknya, saat Bella dan Brianna kecil berenang di danau sedangkan Ayah mereka memancing dan Pamela sibuk menyiapkan makanan


“Kau lihat pondok disana Eve? Mulai sekarang pondok Kakekmu itu akan menjadi rumah kita berdua” ucap Bella pada putrinya, ada perasaan lega karena ternyata pondok itu masih kokoh berdiri meskipun terlihat tidak terawat. Bella lalu meminta sopir taksi tersebut untuk berhenti tak jauh dari pondok, setelah membayar dengan uang tunai yang ia bawa, Bella turun dari taksi dan menapaki jalan berumput, ia seperti tersedot ke masa lalu dimana Bella kecil dibimbing Ayahnya menapaki jalan yang sama


“Aku kembali ke pondok kita lagi, Ayah” gumamnya pilu, bibirnya melengkungkan senyum namun air matanya berjatuhan, kaki Bella semakin mendekat ke pondok bercat putih itu, semilir angin menambah sendu suasana. Langkah Bella terhenti tepat di pintu pagar pondok, pagarnya tak terlalu tinggi sehingga Bella bisa melihat ke dalam pondok dari luar, kening Bella berkerut karena melihat lampu agak redup menyala di dalam pondok, pondok itu pun cukup bersih seperti sudah dibersihkan


“Apa ada orang di dalam?” Gumam Bella menduga - duga, langkahnya mulai memelan ragu, khawatir jika ada orang yang sedang menempati pondoknya, tapi siapa yang mengetahui tentang pondok di tengah danau terpencil seperti itu? Selain lokasinya yang sangat jauh dari jalan raya, pondoknya pun nyaris tak terlihat karena tertutup pohon - pohon besar yang rimbun, Bella saja tadi cukup kesulitan mengingat lokasi pondok itu.


“Apa Ibu sudah menjualnya? Tapi tak mungkin juga kalau ia menjualnya karena harganya tak seberapa, bahkan mungkin ia sudah lupa tempat ini, Ibu selalu benci pondok ini karena tempatnya jauh dari kota” batin Bella, Bella lalu memutar otaknya menerka siapa yang berada di dalam pondok, “Hanya ada dua kemungkinan, gelandangan atau orang yang tengah bersembunyi seperti aku sekarang” gumamnya


Glek…

__ADS_1


Bella menelan salivanya, badannya yang menggigil karena demam parah semakin gemetaran saja membayangkan ada orang jahat yang sedang berada di pondok itu, kalau memang benar lantas mau kemana dia? Taksi itu sudah melaju jauh, ia pun tak membawa ponselnya


“Ya Tuhan, tolong lindungi kami” gumam Bella, sambil menelan salivanya berkali - kali, Bella memberanikan diri mengetuk pintu pondok lalu mundur sedikit menjauh dari pintu berjaga - jaga jika yang ada di pondok memang orang jahat. Bella menunggu cukup lama hingga ia mengetuk lagi, namun setelah beberapa kali ketukan tak juga ada yang menyahut atau membuka pintunya, Bella menghela lega napasnya berpikir mungkin memang tak ada orang disana, bisa jadi pernah ada yang mampir untuk memancing dan berbaik hati membersihkan pondok itu, langkah Bella mulai ringan masuk ke dalam pondok, senyumnya pun terbit


Saat sudah di dalam, Bella mengedarkan pandangannya mengitari sekeliling dalam pondok, tak banyak yang berubah hanya perabotan yang sudah tampak lapuk dan cat yang sudah mulai usang


“Ayah” ucapnya penuh rindu saat melihat foto sang Ayah yang gagah tergantung di dinding


“Eve, lihatlah.. itu Kakekmu! Tampan sekali bukan?” Tunjuk Bella pada bayi mungilnya yang tengah menggeliat - geliat kecil


“B - Bella” suara lemah yang tak asing di telinga Bella terdengar sayup, Bella terkejut sekaligus sedikit merinding mendengar suara dari arah belakangnya itu, dengan hati berdebar - debar Bella membalik badan, dan alangkah terkejutnya ia saat melihat siapa yang berada di depannya sekarang


“Kau!” Ucap Bella pada Pamela yang berdiri mematung sama terkejutnya dengan Bella, namun tiba - tiba..


Mungkin karena shock dan badannya yang sudah tak kuat lagi, Bella jatuh tak sadarkan diri, beruntung Eve jatuh di atas badan Bella meskipun bayi mungil itu kemudian menangis


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Raut wajah Adam yang masih dalam rapat penting itu tampak kesal, ia bolak balik melihat ponsel yang tersampir di depannya menunggu respon dari Bella tapi pesan dan panggilan dari Adam sejak tadi malam belum juga Bella tanggapi, malah pagi ini nomornya sudah tak bisa dihubungi


Perasaan Adam mulai tak enak, duduknya gelisah, konsentrasinya buyar sudah, fokus pikirannya sekarang hanya pada Bella. Adrian yang melihat gelagat cemas Adam sigap mengambil alih rapat, memberikan ruang untuk Kakaknya itu bergelut dengan pikirannya sendiri.

__ADS_1


“Apa Bella tak bisa dihubungi?” Tanya Adrian pada Adam saat rapat baru saja selesai dan kini mereka sedang menuju restoran untuk menghadiri jamuan makan siang, Adam menggeleng pelan sambil menatapi ponselnya


“Kalau kau mau kita bisa pulang lebih awal Kak, aku akan minta direktur kita untuk untuk menyelesaikan semua urusan disini” tutur Adrian memahami kegelisahan Adam, Adam hanya mengangguk tanda setuju ia lalu fokus pada ponselnya mencoba menghubungi Miranda


Di kediaman Anderson, atmosfer kepanikan begitu terasa, William sedang mengipasi Miranda yang menangis tersedu mendapati menantu dan cucunya telah pergi dari rumah, Miranda semakin panik tatkala mendapat panggilan dari Adam, apa yang harus ia katakan pada anaknya itu?


“Adam menghubungi lagi sayang? Aku harus bilang apa padanya? Huhuhuhu… “ Miranda menghiraukan ponselnya yang terus saja berdering karena Adam tak pantang menyerah menghubunginya


“S-sudahlah biarkan saja” sahut William tergugup, ia pun sama khawatirnya seperti Miranda menanti kemurkaan Adam nanti saat mendengar bahwa istri dan anaknya pergi dari rumah


“Ada apa dengan Bella? Kenapa dia memutuskan untuk pergi begitu saja? Setahuku dia tak ada masalah apa pun dengan Adam!” Miranda masih saja menangis histeris kali ini sambil memeluk baju Eve, sungguh ia tak rela kehilangan menantu kesayangan dan cucu cantiknya itu


William lalu menjatuhkan pandangannya pada jejeran pelayan yang berdiri dan menunduk takut


“Apa saja kerja kalian? Kenapa Nyonya Bella sampai bisa pergi tanpa ada yang melaporkannya padaku, apa kalian tidak tahu kalau dia sedang sakit?!” Sentak William murka, terutama pada pengasuh Eve dan dua pelayan yang ia minta berjaga di depan kamar Bella


Seorang kepala pelayan mendekat, lalu mengangguk hormat pada William, “Maaf Tuan, kedua pelayan yang tadi malam berjaga di depan kamar Nyonya Bella diperintahkan oleh Tuan Justin untuk beristirahat” jelas kepala pelayan itu


“Justin?” Gumam Miranda, “Ah sayang, kau hubungi Justin cepat, siapa tahu Bella ikut bersama Justin!” titah Miranda, William pun terpikir hal yang sama, ia langsung menghubungi Justin lewat ponselnya, cukup lama mereka berbicara dan William bisa menangkap keterkejutan Justin, sudah jelas Justin pun tak tahu kemana Bella pergi


Setelah mendapat panggilan dari William, Justin terduduk lemas, ia shock mendengar Bella pergi membawa Eve, ia tak menduga sama sekali kalau Bella akan cepat mengambil keputusan seperti itu

__ADS_1


“Kemana kau pergi Bella?” Gumamnya penuh kecemasan mengingat Bella yang kondisinya sedang sakit


(Bersambung)


__ADS_2