Transaksi Di Atas Ranjang Suami

Transaksi Di Atas Ranjang Suami
Part 91


__ADS_3

Beberapa hari berlalu…


“Kau sudah siap?” Tanya Adam pada Bella yang duduk termangu di depan meja riasnya


“Kenapa mereka harus pergi, Adam? Bukankah kita semua sudah memaafkan perbuatan mereka? Apa itu kurang untuk membuat mereka tetap tinggal disini?” Keluh Bella


Adam menghela napasnya, ia lalu menarik kursi baca dan menempatkannya di depan Bella lalu duduk disana


“Tatap aku Bella!” Titahnya, Bella menggeser duduknya menghadap Adam, meski sudah cantik dalam polesan make up tapi wajah Bella muram tak bercahaya


Adam meraih jemari Bella, menciuminya sebentar lalu menatap Bella penuh kasih, “Dengar sayang, mereka punya hak untuk melanjutkan hidup tanpa dibayang - bayangi peristiwa tragis Mama Emily atau kesalahan yang telah mereka lakukan” Jelas Adam


“Tapi aku akan berusaha agar keluarga itu bisa bangkit lagi, Adam! Aku janji… “ Sanggah Bella


“Aku yakin kau mampu, tapi aku tak yakin itu cukup untuk membuat mereka bisa melupakan apa yang terjadi!” Sahut Adam, “Apa bisa kau bayangkan jika mereka tetap disini Bella? Tuan Takanawa tak akan bisa lepas dari bayangan Mama Emily saat ia berada di rumahnya atau di rumah sakit! Lantas bagaimana dengan Jessie? Setiap dia melihatku atau bahkan mendengar namaku kenangan pahit itu akan muncul di kepalanya, dan Justin.. apa kau tak memikirkan perasaannya?” Tutur Adam panjang lebar, tak ada yang salah dalam ucapan Adam, Bella sadar semua yang dikatakan suaminya itu benar, keluarga Takanawa lebih baik memulai hidupnya di tempat baru


“Iya, kau benar Adam” Sahut Bella lesu, meskipun hatinya sedikit tak rela karena lagi - lagi harus berpisah dengan orang yang ia sayangi terlepas dari apa yang telah Justin dan Jessie lakukan


Melihat istrinya bermuram durja, Adam merengkuh Bella ke dalam pelukannya, “Seperti yang selalu aku katakan, semuanya akan baik - baik saja sayang, aku janji” Ucapnya membesarkan hati Bella


******


Pada hakikatnya setiap perpisahan itu akan terjadi dengan cara apa pun, maut, jarak, atau waktu menjadi senjata pemisah yang akan berlaku pada setiap manusia, tak ada yang akan selamanya bersama...


Bella menatap sendu sisa keluarga Takanawa yang berdiri di lounge tempat menunggu penerbangan mereka, keluarga Anderson lengkap mengantar kepergian keluarga Anderson, kedua keluarga itu saling peluk mengucapkan perpisahan dan meminta maaf, kemarahan dan permusuhan itu reda sudah, yang tersisa hanya kesedihan menghadapi perpisahan yang tak lama lagi


Tiba saat Takanawa menghampiri Bella, menatap sayang anak angkatnya itu, “Papa berangkat Nak, tolong maafkan Papa dan semua kebodohan Papa” Tutur Takanawa sendu, Bella tak mampu berucap, mewakili kesedihannya ia langsung merangsek memeluk Takanawa, menumpahkan air matanya disana, Adam dan anggota keluarga Anderson yang lain menatap Bella prihatin


“Apa kau bahkan tak ingin memberitahukan alamatmu disana, Pa? Apa kau memang sengaja agar kita tak bisa bertemu lagi?” Cecar Bella pada Takanawa begitu melepas pelukannya


Takanawa membelai surai Bella, “Biarkan kami memulai hidup baru dulu disana, memulihkan hati kami yang luka dan rasa malu kami yang sangat besar padamu dan Adam” Sahut Takanawa, Bella mengangguk lalu tertunduk melepaskan air matanya


“Kak” Jessie mengusap tangan Bella membuat wanita yang tengah dilanda kesedihan itu mendongak, Bella memburu Jessie memeluknya erat - erat


“Aku akan merindukanmu, Jes” ucap Bella terisak, keduanya kemudian saling merengkuh dan menangis tersedu, Jessie mengurai pelukannya lebih dulu ketika melihat Justin sudah berdiri disamping Bella, Bella mendongak menjatuhkan pandangannya pada laki - laki berperawakan tinggi tegap dan berwajah rupawan itu

__ADS_1


“Aku pergi dulu Bella” Pamit Justin, tak bisa ia sembunyikan air matanya yang sudah meleleh menyadari kalau mungkin itu terakhir kalinya ia bisa melihat Bella secara langsung, Bella refleks memeluk Justin, tak lama karena Justin langsung mengurainya tak ingin terhanyut lagi pada perasaannya untuk Bella


“Jangan lupakan aku, Kak” pesan Bella sambil memelas menatap Justin


“Mungkinkah aku melupakanmu, Bel? Menyingkirkanmu dari pikiranku adalah hal yang tak akan mungkin terjadi, Bella Anderson” sahut Justin “Kau disini, selalu ku bawa kemana pun” tutur Justin sambil menepuk pelan dadanya dan menyunggingkan senyum, Bella tersenyum simpul menganggap itu adalah kelakar Justin meskipun yang Justin rasakan berbeda, semua yang ia ucapkan tulus dari dalam hatinya


“Justin, Waktunya boarding!” Tutur Takanawa sambil menunjuk jam tangannya mengingatkan Justin, Justin menghela napasnya dalam - dalam, perpisahan yang sangat tak ia inginkan terjadi juga pada akhirnya


“Selamat tinggal, Bella.. jaga Eve baik - baik, jadikan ia wanita baik sepertimu” Ucapnya lirih, lalu tergesa membalik badan dan beranjak pergi meninggalkan Bella yang berurai air mata, hanya Justin yang tak melambaikan tangan saat Takanawa dan Jessie berpamitan, Justin tak kuat meninggalkan Bella dan semua kenangan mereka, hatinya remuk redam.


Adam merangkul Bella yang masih menatap kepergian keluarga angkatnya hingga punggung mereka tak terlihat lagi, “Kau jangan khawatir sayang, aku akan meminta Wang mencari tahu alamat mereka disana, suatu hari kita akan memberi kejutan dengan mengunjungi mereka disana, ya?!” Hibur Adam


“Tidak Adam! Sebelum mereka yang mencari kita sebaiknya kita biarkan mereka membangun hidup mereka yang baru dulu, apa gunanya mereka pergi jauh jika masa lalu mereka membayangi?” Sahut Bella, Adam mengangguk paham lantas merekatkan pelukannya


“Adam, Bella… kita pulang sekarang?” Tawar William, Adam mengangguk mengiyakan


”Apa tidak sebaiknya kita makan siang dulu? Sudah lama kita tidak makan siang bersama diluar rumah bukan?” Ucap Miranda


“Ah kau benar sayang! dan kebetulan hari ini semuanya berkumpul jadi kita juga bisa membicarakan tentang persiapan pernikahan Adrian dan Anna, bukan?” Tutur William sambil menoleh pada Anna dan Adrian yang saling tatap lalu tertunduk malu - malu


“Hei.. Hei… kami santai saja, tak perlu khawatir! kalau ada urusan penting lain yang belum selesai, kami bisa menunggu!” Sahut Adrian, Anna mengangguk menyetujui


William meninju lengan Adrian, “Ck… apa - apaan kau itu? Kau pikir Anna akan menunggumu selamanya?” Tandasnya, “Sudahlah, ayo cepat hubungi restoran kita dan katakan pada mereka kalau hari ini restoran tutup karena kita akan bersantap disana!” Titahnya pada Adrian, Bella dalam rangkulan Adam sedikit terhibur dengan interaksi keluarga suaminya itu setelah kehilangan yang teramat


Di restoran milik William keluarga itu bersantap dengan hangat sambil membahas persiapan pernikahan Adrian dan Anna, yang paling terlihat antusias adalah Miranda, ia mendominasi diskusi menentukan semua keperluan resepsi yang nantinya akan diadakan besar - besaran


“Aku harap kalian tak mengubah lagi tanggal pernikahannya! kau tahu betapa repotnya aku saat menjelaskan pada keluarga besar dan relasi - relasi kita ketika kalian menunda pernikahan?!” Tandas Miranda memperingatkan


“Maafkan aku Mom, itu semua karena semua masalah yang menimpaku” Sesal Bella angkat suara


Miranda menggenggam tangan menantunya itu, “Astaga Bella, tidak ada yang menyalahkanmu dalam hal ini, sayang! Adrian saja yang kurang serius pada pernikahannya!” Sindir Miranda pada Adrian


“Aku?” Adrian yang sedang menyantap makanannya terkejut


“Iya, kau! Apa kau tak ingat beberapa hari menjelang pernikahanmu kau malah pergi bekerja dengan Adam? Ck… menjengkelkan sekali!” Omel Miranda

__ADS_1


“Ayolah Mom, sudah tugasku untuk mendampingi Adam! Lagipula bukannya Mommy sudah mengurus semuanya? Aku dan Anna tak perlu repot - repot lagi kan?” Goda Adrian


Mata Miranda mendelik tajam pada Adrian, “Kau ini!!” Sungutnya namun lalu tersenyum saat Adrian memeluk dan mencium pipinya, “Kau memang terbaik Mom” ucap Adrian pada Ibunya


“Emmmhh… Mommy, Daddy… apa aku boleh meminta sesuatu?” Tanya Anna hati - hati dan sungkan


“Tentu saja Nak, katakan padaku apa yang kau inginkan?!” Sahut William


“Aku benar - benar tidak menginginkan pesta besar - besaran, rasanya tak pantas menggelar pesta saat kita baru saja berduka, maksudku Kak Bella baru saja kehilangan Ibu angkatnya.. alangkah baiknya kalau pestanya sederhana saja, cukup keluarga dekat kita saja yang datang” Tutur Anna, William menggangguk - angguk mempertimbangkan keinginan Anna


“Tapi sayang ini peristiwa sekali seumur hidup, kau pantas merayakannya” protes Miranda


“Mommy benar Anna, kau tak perlu memikirkanku.. sungguh!” Timpal Bella


“Mom, Kak Bella.. tolong, ini permintaanku dan Adrian pun sudah menyetujuinya” Sahut Anna meminta, Miranda tak bisa berucap lagi begitu pun Bella


“Well, itu keputusan Anna dan Adrian.. kita wajib menghormatinya! Tapi yang pasti aku sangat bangga pada Anna, kau memang wanita yang baik Anna!” Ucap William, pipi Anna memerah malu mendapat pujian dari calon mertuanya itu


“Aku tak salah pilih kan Mom?” Tanya Adrian pada Miranda


Menghela napas sebentar karena kecewa tak jadi menggelar perhelatan besar, Miranda lalu merubah ekspresinya menjadi senyum senang dan bangga, “Pilihanmu kali ini tepat Adrian” Sahut Miranda


“Baiklah kalau begitu! Karena pestanya sederhana saja, maka kita akan menggelarnya lusa, ini permintaanku dan aku tak menerima penolakan apa pun!” Tandas William


“Lusa?!” Anna dan yang lainnya terkejut dengan permintaan William


“Iya lusa, apa ada yang keberatan?” Wajah William memperlihatkan ketegasan, kalau sudah begitu tak ada satu pun yang berani protes


“Lusa kalau begitu” Sahut Adrian, dia sih senang bisa segera menikah dengan Anna


“Setuju!” Sahut Adam antusias


Dan pembicaraan keluarga itu berlanjut dengan pembahasan pernikahan meskipun tak seheboh tadi, fokus mereka sekarang pada siapa saja kerabat dekat yang akan mereka undang.


(Bersambung….)

__ADS_1


__ADS_2