
“Untuk apa kau datang kesini?” Pekik Brianna saat melihat Adrian yang menemuinya di penjara, Adrian menghela napas sambil memindai penampilan Brianna sekarang, istrinya itu memakai baju tahanan berwarna orange, rambutnya tampak acak - acakan tak terurus, wajahnya polos tanpa sentuhan make up sama sekali
“Duduklah, ada yang ingin ku bicarakan padamu!” Titah Adrian, Brianna awalnya enggan tapi melihat amplop yang di ada di tangan Adrian, Brianna menjadi penasaran dengan isinya, Brianna lalu duduk di depan Adrian di bawah pengawasan para petugas sipir
Adrian lalu menyodorkan amplop yang ia bawa, “Baca dan tanda tanganilah” ucap Adrian, Brianna menerimanya dengan kasar lalu membacanya. Mata Brianna membola sempurna melihat isi surat itu
“Apa - apaan ini, hah? Kau ingin aku menanda tangani surat cerai ini?” Lagi - lagi Brianna memekik, menyita perhatian para petugas sipir dan tahanan lain yang sedang dalam jam berkunjung, seorang petugas sipir menegur Brianna agar tak membuat keributan
“Kau tak memenuhi panggilan sidang perceraian, aku hanya ingin mempermudah proses perceraian kita Brianna!” Sahut Adrian
“Tapi aku tak mau bercerai darimu Adrian!” Sengit Brianna
“Kau pikir aku ingin tetap punya istri seorang kriminal sepertimu? Bahkan di dalam mimpi terburukku pun aku tak pernah membayangkan akan memiliki seorang istri yang dipenjara!” Sinis Adrian, Brianna dibuat tak dapat berkata - kata lagi karenanya
“Tanda tanganilah dan aku akan berusaha meminta Adam agar mengurangi sedikit hukumanmu” tandas Adrian, “Aku yakin kau tak akan betah berlama - lama disini bukan?” Bujuk Adrian
Brianna merenung sejenak, “Lalu bagaimana dengan Ibuku? Apa kau akan meminta keringanan untuknya juga?” Selidik Brianna mulai terpengaruh pada iming - iming Adrian
Adrian tersenyum sinis, “Bahkan dalam situasi seperti ini pun kau tetap memikirkan Ibumu? Dengar, aku tak dapat meminta keringanan untuk kalian berdua, kau harus memilih.. kau atau Ibumu yang akan mendapat keringanan?!”
Brianna terdiam, hanya bola matanya yang bergerak cepat ke kanan dan ke kiri mempertimbangkan tawaran Adrian, melihat itu Adrian lalu menegakkan duduknya, “Ibumu sudah tua Brianna, sedang kau.. kau masih sangat muda! Masa depanmu masih terbentang panjang” ucap Adrian semakin memprovokasi Brianna
“Baiklah! Selamatkan aku saja, minta Adam agar mengurangi hukumanku!” Sahut Brianna, wanita itu lalu bergegas meraih pulpen yang baru saja disodorkan Adrian, tanpa ragu lagi ia kemudian menanda tangani surat yang Adrian bawa, melihat itu Adrian tersenyum penuh kemenangan, akhirnya ia berhasil lepas dari wanita yang telah memporak porandakan hidupnya
“Penuhi janjimu Adrian!” Tandas Brianna ketika Adrian menerima kertas yang telah di tanda tangani Brianna
“Kita lihat saja nanti!” Sahut Adrian
“L - lihat saja nanti? Apa maksudmu Adrian? Kau sudah berjanji tadi!” Sengit Brianna yang refleks menggebrak meja, otomatis ia kembali mendapat peringatan dari sipir penjara yang berjaga disana
“Kapan aku berjanji, hah? Bukan kah tadi aku bilang kalau aku akan mencoba bicara pada Adam? Tapi setelah di pikir - pikir lagi, aku jelas tak mungkin meyakinkan Adam untuk mengurangi hukumanmu! Kejahatanmu terlalu besar, Adam tak akan mungkin mengampuni orang yang mau membunuh anak dan istrinya!” Tandas Adrian sambil bangkit dari duduknya
“Jadi kau menipuku? Kau membohongiku, Adrian?!” Sentak Brianna, Adrian tak menjawab malah bangkit dan pergi penuh kemenangan meninggalkan Brianna yang berteriak - teriak histeris memanggil Adrian, alhasil Brianna diseret oleh para petugas sipir untuk kembali ke selnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sudah beberapa hari Adam keluar dari rumah sakit, ia sudah benar - benar pulih, dan bahkan sudah mulai bekerja kembali di kantornya
__ADS_1
“Kenapa kau mengizinkan Adam untuk ke kantor, Bella? Dia masih perlu istirahat bukan?” Protes Miranda
“Adam yang bersikeras untuk tetap ke kantor Mom, banyak pekerjaan yang terbengkalai semenjak Adam masuk rumah sakit” sahut Bella, Miranda tak lagi protes mengingat perusahaan yang memang perlu di urus
“Mom, aku.. aku mau minta izin padamu” tutur Bella ragu - ragu, Miranda mengerutkan keningnya
“Apa yang kau inginkan sayang? Katakanlah!” Sahut Miranda, Bella lalu mendekati mertuanya dan menggenggam hangat tangannya
“Mom, aku ingin menjenguk Ibuku di penjara” sahut Bella, Miranda refleks melepas genggaman tangan Bella, wajahnya berubah tak bersahabat, alisnya menukik tajam
“Tidak Bella! Aku tidak mengizinkanmu untuk menjenguk Pamela di penjara! Apa kata orang - orang nanti? Lagi pula aku tak ingin cucuku sampai menginjak tempat mengerikan itu!” Tandas Miranda, Bella bisa paham perasaan Miranda, tapi ia tak boleh putus asa karena bagaimana pun Pamela adalah Ibunya, entah bagaimana nasib wanita setengah baya itu setelah dimasukkan ke penjara, Bella tahu betul jangankan berada di dalam tahanan, bahkan untuk hidup di rumah sederhana pun Pamela tak sanggup
“Mom, aku mohon! Aku hanya ingin melihat kondisi Ibuku, hanya sekali saja” rengek Bella
“Sekali tidak tetap tidak, Bella! Kau pikir apa tak cukup berat untuk memiliki besan seorang penjahat seperti Ibumu! Jangan menambah beban kami lagi dengan menemuinya Bella!” Tandas Miranda, Bella agak terkejut mendengar jawaban Miranda, apalagi setelah itu Miranda langsung melengos pergi
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Malam menjelang ketika Adam pulang dari kantornya, meski lelah pria itu tetap tersenyum lebar karena mendapati istrinya tengah menunggu di depan pintu kamar
“Kenapa pulangnya malam sekali?” Tanya Bella, sebelum menjawab Adam mengecup kening dan bibir Bella lalu mencium perut Bella yang semakin membuncit
Bella memajukan bibirnya, “Adam, aku ingin sekali menjenguk Ibu di penjara, tapi Mommy sepertinya tidak suka kalau aku kesana” sahutnya sendu, Adam lalu tersenyum mendengar keluhan Bella, setelah membuka dasi dan jasnya Adam lalu duduk di samping Bella
“Mommy hanya khawatir kau akan terluka lagi kalau kau sampai bertemu dengan Ibumu, Bella” Adam dengan sabar mencoba untuk memberi pengertian pada Bella
“Tapi terlepas dari apa pun kesalahannya padaku yang membuatnya kini dipenjara, dia tetap Ibuku Adam! Aku ragu jika Ibu bisa bertahan dipenjara, kau tahu sendiri kan Adam tinggal di rumah sederhana saja sangat sulit buatnya, apalagi jika ia harus hidup bertahun - tahun di penjara” tutur Bella, Adam mengerti betul kalau hati istrinya itu sangat baik, apa pun yang pernah Pamela lakukan padanya Bella tetap mengkhawatirkan Ibunya itu
“Baiklah, kalau kau memang sangat ingin melihat kondisi Ibumu, besok aku akan mengantarkanmu” ucap Adam, wajah cemberut Bella berubah sumringah, “benarkah sayang?” Antusiasnya, Adam menangguk, pria itu memang tak bisa menolak apa pun keinginan Bella
“Dengan satu syarat! Aku tak akan menahan diri jika Ibumu nanti menyakitimu!” Tandas Adam, Bella langsung mengangguk setuju karena ia paham apa yang Adam lakukan semata - mata untuk melindunginya, Bella lalu melabuhkan kepalanya di dada Adam, Adam paling suka jika Bella bermanja seperti itu, seolah untuk pertama kalinya Adam malu - malu sampai pipinya bersemu merah
“Adam, apa kau malu karena Ibu dan Kakakku di penjara?” Tanya Bella
“Kenapa kau berpikir seperti itu Bella? Tentu saja aku tidak malu! Kejahatan Ibu dan Kakakmu tidak ada hubungannya denganmu, justru kaulah korbannya!” Tandas Adam
“Tapi Mommy tadi bilang kalau Mommy malu karena besannya harus masuk penjara Adam!” Ucap Bella sendu, Bella lalu seketika menegakkan duduknya dan menatap Adam, “Adam, apa sebaiknya kita mencabut tuntutan kita pada Brianna dan Ibu agar skandalnya bisa mereda dan membuat Mommy tidak malu lagi?” Adam jelas saja tak menyangka Bella akan berpikir seperti itu, mata Adam sampai mendelik
__ADS_1
“Kau sadar dengan apa yang kau ucapkan Bella? Ibu dan Kakakmu itu nyaris membunuhmu dan anak kita, dan kau dengan gampangnya ingin mencabut gugatan hanya karena perasaan malu Mommy?!” Sengit Adam, demi apa pun dia tak akan rela jika Pamela dan Brianna sampai lepas dari hukuman atas perbuatan mereka
“Adam, aku hanya tak ingin nama baik Mommy dan Daddy tercoreng karena besan mereka mendekam di penjara” sahut Bella sendu, Adam menghela napasnya lalu ia lamat - lamat menatap Bella
“Perasaan malu itu lama kelamaan akan hilang Bella, semuanya akan terasa seperti biasa saja! Tapi akan sangat salah kalau kita tidak menghukum orang yang sudah mencelakaimu dan anak kita!” Kukuh Adam, melihat wajah Adam yang tegas Bella tak lagi sanggup berkata apa - apa selain menganggukan kepalanya
“Kau tenang saja, semua akan baik - baik saja” ucap Adam sambil menarik Bella ke dalam pelukannya, Bella hanya bisa pasrah dan berdo’a semoga semuanya memang akan baik - baik saja
** Sesuai dengan janji Adam, keesokan paginya ia dan Bella berangkat ke penjara tempat dimana Pamela dan Brianna kini di tahan, tentu saja kepergian mereka tanpa sepengetahuan Miranda atau William karena mereka pasti tak akan mengizinkan anak dan menantunya untuk menginjakkan kaki di tempat mengerikan itu
Bella beberapa kali menelan salivanya kala ia melangkah masuk menyusuri koridor panjang yang memiliki berlapis - lapis pintu dan tiap pintunya dijaga oleh satu orang penjaga, Bella bisa merasakan kengerian yang teramat saat melihat tembok yang menjulang tinggi dan berwarna kusam itu, entah sudah berapa lama bangunan penjara yang diperuntukkan untuk penjahat dengan kategori sangat berbahaya itu berdiri
Selesai melewati berlapis - lapis penjagaan, Bella dan Adam kemudian diantar menuju sebuah ruangan dimana jejeran bangku panjang tersusun rapi, sudah ada beberapa tahanan yang duduk dan menerima kunjungan keluarganya disana. Bella dan Adam lalu duduk di salah satu bangku menunggu petugas mengantarkan Pamela untuk menemui mereka. Tak lama mereka menunggu, beberapa menit kemudian mereka bisa melihat Pamela yang tangannya di borgol dan kakinya di rantai berjalan terseok
“Ibu” gumam Bella merasakan hancur - sehancur hancurnya ketika melihat sang Ibu yang tampak menyedihkan, rambut acak - acakan dan beberapa helainya sudah memutih, pipi yang cekung dihiasi keriput yang tak lagi tertutupi make up, lingkaran hitam di sekitar mata menjadi penghias di wajah Pamela yang kusam dan pucat, entah kemana perginya Pamela yang selalu tampil full riasan dan berbaju mewah itu, kini seragam orange lah yang membalut badan Pamela yang semakin kurus kerontang, Pamela lalu didudukkan oleh petugas sipir tepat di depan Bella dan Adam
Saat bersitatap dengan Bella, Pamela menunjukkan kebenciannya yang teramat, “untuk apa kau kesini, hah?” Sentaknya, Bella memang ciut melihat kemarahan Ibunya tapi rasa kasihannya mengalahkan ketakutannya
“Apa kau baik - baik saja, Bu?” Tanya Bella dengan suara bergetar nyaris menangis, wajah Pamela semakin bengis dengan mata yang menyalang
“Kau masih bertanya apa aku baik - baik saja setelah kau menjebloskanku ke penjara, hah?” Sentak Pamela, suaranya semakin melengking membuat ia seketika menjadi pusat perhatian para petugas sipir, salah satu petugas lalu memberikan isyarat agar Pamela tenang
Adam menghela berat napasnya, dugaannya benar, Pamela memang belum berubah meskipun ia telah menghuni penjara, di samping Adam Bella mulai menyodorkan sekotak kue kesukaan Pamela yang ia beli sebelum mereka ke penjara tadi, “Aku membawakan kue kesukaanmu, Bu! Aku harap kau masih suka kue ini” ucap Bella
Mata Pamela ganas saat ia menjatuhkan pandangannya pada kotak kue yang Bella bawa, dan tanpa basa basi ia menghempas kue itu sambil seketika betdiri dan nyalang menatap Bella, Bella dan Adam refleks ikut berdiri
“Aku tak sudi makan apa pun yang kau bawa anak durhaka! Kau tega menjebloskan Ibu dan Kakakmu sendiri ke dalam penjara, apa kau pikir aku akan tetap sudi menerima apa pun darimu?!” Sentak Pamela begitu marahnya, ia kembali menjadi pusat perhatian, beberapa sipir tampak tergesa menghampiri Pamela khawatir jika Pamela melakukan sesuatu yang tak diinginkan, sedang Adam refleks mengamankan Bella di belakang punggungnya
“Bisakah kau tenang Nyonya Pamela? Bella sudah sangat berbaik hati ingin melihat keadaanmu!” Sengit Adam, tapi Pamela justru tersenyum sinis dan lalu menoleh pada Bella yang mengintip Pamela takut - takut dari balik punggung Adam
“Dengar kau Bella! Aku kutuk kau dan anakmu, dan juga suamimu agar mati menderita! Aku tak akan pernah memaafkan dan mengakuimu lagi sebagai anakku!” Suara Pamela semakin membahana, sontak petugas mengamankan Pamela dan memintanya untuk tenang, sedang Bella bak tersambar petir mendengar sumpah serapah Pamela
“Aku menyesal melahirkanmu anak kurang ajar! Harusnya ku bunuh saja kau dari dulu! Kau anak durhaka, Bella! Ku kutuk kau, ku kutuk!!!!!” Pekik Pamela sambil meronta - ronta ingin lepas dari cengkraman petugas yang menyeretnya, seorang petugas lalu meminta Adam dan Bella untuk pulang melihat Pamela yang semakin tak bisa dikendalikan, sedang Pamela langsung digiring menuju selnya kembali
“Kita pulang sayang” ucap Adam sambil merangkul Bella yang badannya gemetaran
“Ibuku mengutuk kita dan anak kita, Adam! Bagaimana kalau itu sampai terjadi?” Air mata Bella merembes sudah, campuran antara rasa kaget, khawatir, dan sedih yang teramat
__ADS_1
“Aku tak akan membiarkan itu terjadi Bella, tak akan pernah!” Sahut Adam sambil terus menggiring Bella untuk segera keluar dari tempat menyeramkan itu, jika Adam bisa sangat yakin kalau kutukan Pamela tak akan terjadi, lain halnya dengan Bella, dalam hati kekhawatirannya mulai tumbuh subur jika kutukan Pamela akan terjadi, mengingat Pamela adalah Ibu yang melahirkan dirinya.