
Anggukan kepala Adam menyambar kesadaran Bella, Bella mendadak gamang, kakinya terasa melayang, debaran jantungnya mengencang, tenggorokan tercekat, hanya air mata lolos tanpa bisa dicegah
“Ma… Ma.. Mama!!!!” Teriak Bella memanggil wanita yang begitu ia sayangi, Adam merengkuh wanitanya, memeluknya erat - erat
“Sabarlah sayang, aku mohon kuatlah!” Adam bukannya tak berderai air mata, tapi segera ia hapus tak ingin menambah berat hati Bella
Kaki Bella menghentak - hentak, “Kenapa dia meninggalkanku Adam? Padahal dia sudah berjanji tak akan pernah meninggalkanku! Dia sudah berjanji Adam!” Pekik Bella histeris, suara Bella yang nyaring membuat William, Anna dan Adrian tergesa menghampirinya, lalu mereka tertunduk lesu menyadari kalau Bella sudah mengetahui soal Emily
“Mama sudah tenang sayang, relakanlah dia!” Bujuk Adam menenangkan Bella
“Tidak.. tidak! Mama sudah berjanji akan berkeliling dunia dengan Eve, Mama berjanji mengantarkan Eve di hari pertamanya sekolah nanti! Mama tidak boleh pergi secepat ini, Adam! Tidak boleh!!!” Bella masih saja histeris, Adam hanya bisa memeluknya semakin erat, merelakan lengannya dicengkram Bella kuat - kuat
“Ya Tuhan aku tak tega melihat Bella” Gumam Pamela berderai air mata, Miranda mengusap punggung besannya itu saling memberi kekuatan
Bella mendongak melihat Adam, “Adam tolong antarkan aku melihat Mama, aku mohon Adam!” Pinta Bella memelas
“Iya sayang, baiklah.. kita kesana sekarang” sahut Adam sambil menciumi pucuk kepala Bella
*** Kelam, warna langit sore itu… mendung menggelayut tapi masih mempertahankan air hujannya agar tak jatuh ke bumi, hembusan angin menerpa pepohonan berdaun rimbun di sepanjang benteng kediaman Takanawa, jejeran karangan bunga besar - besar bertuliskan bela sungkawa menambah suram suasana, orang - orang berbaju hitam bersileweran dengan raut muka berduka membuat Bella semakin hancur
“Mama” Gumamnya lirih saat mobil yang ia tumpangi berhenti tepat di depan foyer rumah Takanawa, foyer tempat Emily yang duduk di kursi roda menyambutnya dengan senyum hangat dulu
Adam menggenggam tangan Bella memastikan Bella tahu kalau ia ada disana untuk mendampingi saat - saat dukanya, Bella menghirup lalu menghembuskan napasnya berulang - ulang demi menguatkan hatinya, Bella lalu beringsut turun diikuti Adam, keluarga Anderson yang lain dalam iring - iringan mobil di belakang mobil Adam menyusul turun dari mobil mereka, alhasil jepretan foto wartawan memburu, pencari berita itu tak ingin kehilangan momen saat kedua keluarga level atas yang sedang berseteru itu bertemu.
Bella menghentikan langkahnya saat memasuki foyer, pandangannya langsung tertuju pada peti mati yang menjadi tempat pembaringan Emily untuk terakhir kalinya, Bella ambruk jatuh ke lantai, tangisnya meraung mengundang pilu, Takanawa yang menyadari kedatangan Bella segera menghampiri dan memburu anak angkatnya itu, ia dan Adam sama - sama membangunkan Bella
“Bangunlah Nak, Ibumu tak suka melihatmu menangis!” Tutur Takanawa pun menahan tangisnya, Takanawa membimbing Bella untuk maju menuju jenazah Emily, menyibak kerumunan yang tengah ikut berbela sungkawa, kini semua mata tertuju pada Bella dan Adam, kedatangan keluarga Anderson dan tangisan Bella menjadi penepis kabar yang tersiar kalau keluarga Takanawa dan Anderson sedang berperang dingin
__ADS_1
Bella menatapi wajah Emily yang tenang, meski sudah tak bernyawa tapi kecantikan wanita itu tak luntur, hanya saja pucat mengubur senyum indahnya
“Ma… “ Rintih Bella penuh luka, Bella sampai tak menyadari ada Justin dan Jessie yang memandanginya penuh sesal, apalagi Justin ia hanya berani menatap Bella sebentar lalu segera menunduk tak sanggup lagi melihat Bella, rasa malu dan jijik akan dirinya sendiri bercokol di hati Justin
“Aku harap kau bisa kuat, Justin” Adam yang tiba - tiba saja sudah berdiri di samping Justin menepuk - nepuk pundak pria yang pernah membuatnya sangat murka itu, bahkan bekas amukan Adam saja masih terlihat di wajah Justin
“Te.. terima kasih” Ucap Justin tergagap tak menyangka Adam masih berbesar hati padanya setelah semua yang terjadi
“Kalau kau perlu apa pun, apa pun itu.. hubungi aku, aku pasti akan membantumu!” Tambah Adam semakin membuat rasa malu Justin menganga lebar, selesai dengan Justin Adam lalu menghampiri Jessie, gadis itu menunduk dengan badan gemetar ketakutan, Adam bak malaikat pencabut nyawa untuknya sekarang, sewaktu - waktu Adam bisa menghancurkannya jika Adam masih menyimpan dendam untuknya
Tapi apa yang Adam lakukan untuk Jessie memupus kekhawatiran gadis itu, Adam menyalami Jessie penuh kelembutan, “Aku turut berduka, Jessie” ucap Adam, Jessie kelu tak dapat berucap bahkan tak mampu menatap mata Adam, ia sangat merasa bersalah dan malu
Menyusul Adam, keluarga Anderson yang lain kemudian ikut memberikan ungkapan bela sungkawa untuk mereka yang sedang berduka
Masih di depan peti mati Ibu angkatnya, Bella mengusap air matanya, mencoba merelakan kepergian Emily, Takanawa menemani Bella dengan teguh disampingnya
“Meski pertemuan kalian hanya sebentar saja, tapi percayalah kalau kau sudah memberikan warna baru dalam kehidupan Emily, hanya kau satu - satunya orang yang tak pernah mengecewakannya diantara aku, Jessie, dan Justin yang pendosa!” Tutur Takanawa
“Aku tak ingin ditinggalkan secepat ini, ini menyakitkan!” Bella sampai meremas bajunya menahan sakit hati yang teramat
“Aku tahu Bella, aku tahu… “ Ucap Takanawa sendu, setelah itu tak ada lagi kata - kata diantara mereka, masing - masing saling mengenang kebaikan Emily selama masa hidupnya, hingga saat waktu pemakaman tiba dan semuanya harus melepas kepergian Emily dengan ikhlas
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Beberapa hari berlalu, Bella sudah mulai beraktifitas seperti biasa, meskipun warna bajunya masih hitam dan di paras cantiknya masih ada kesedihan
“Kau ingin pergi ke suatu tempat mungkin?” Tawar Adam, Bella yang sedang duduk sambil merapikan baju - baju milik Eve menggeleng
__ADS_1
“Aku tak ingin kemana - mana, aku hanya ingin bersamamu dan Eve di rumah” sahut Bella, Adam lalu duduk di sebelah Bella
“Aku hanya ingin kau menghilangkan rasa sedihmu itu, Bella” Ucap Adam tulus
Bella mengalihkan tangannya ke wajah Adam, mengelusnya lembut, “Cukup kau dan Eve yang menjadi penawar sedihku, aku tak perlu apa pun lagi!”
“Heeeemm.. baiklah, kalau begitu hentikan ini semua dan ikut denganku” Adam meraih tangan Bella dan menuntunnya, ia lalu menggendong Eve dan membawa keduanya ke kamar mereka, masuk ke kamar mereka Adam langsung menidurkan Eve di tengah tempat tidur, setelah itu ia membimbing Bella untuk ikut berbaring di sisi kiri Eve sedang ia berbaring di sisi kanannya
Kini mereka berbaring dengan tangan yang sama - sama menopang kepala mereka, dengan Eve yang berbaring di tengah keduanya
“Lihat aku dan Eve, Bella.. kami sama - sama membutuhkanmu, tolong jangan siksa dirimu dengan kesedihan, karena aku yakin bukan itu yang Mama Emily inginkan” Tutur Adam memelas
Bella terhenyak, sadar betul kalau ia sedikit larut dalam dukanya hingga mengenyampingkan Eve dan Adam
“Ah Adam maafkan aku… aku….. “
“Tidak.. tidak Bella, kau tak salah jadi kau tak perlu minta maaf! Aku hanya memohon padamu untuk mengalihkan lagi perhatianmu pada kami, aku sangat membutuhkanmu sayang” Tutur Adam
Bella mengangguk, senyumnya terukir lebar, dalam hati ia patrikan dirinya untuk berbahagia bersama orang - orang yang masih ada di sekitarnya, Bella tak ingin menyesali ketika orang terkasihnya telah tiada seperti apa yang ia rasakan pada Emily
“Adam, bisakah aku meminta sesuatu padamu?” Pinta Bella, Adam tak ragu untuk menggangguk mantap
“Apa pun untukmu” sahut Adam
“Tolong temani aku ke rumah Mama Emily, aku ingin sekali menemui Jessie.. aku tahu dia sedang hancur sekarang” Tutur Bella, kadung menyanggupi meskipun agak ragu mengingat ada Justin juga disana, Adam mau tak mau kembali mengangguk setuju
“Terima kasih” Ucap Bella lega
__ADS_1
(Bersambung…)