
“Aaahhhhh sial!!!” Pekik Adrian sambil membanting foto - fotonya bersama Bella yang sempat ia perlihatkan pada William, Adrian lalu menyugar rambutnya, ia sangat frustasi karena semua rencananya tak ada yang berhasil, sudahlah perusahaan lepas dari tangannya, Bella pun tak mungkin ia dapatkan
“Kenapa nasibku begini, Tuhan?!” Pekiknya sambil menengadah ke atas, ia lalu mengusap wajahnya, lantas terduduk lesu meratapi nasibnya yang berantakan
“Ini semua gara - gara wanita ular itu, coba saja kalau aku tak menikahinya dulu, semuanya tak akan berantakan seperti ini” ucap Adrian yang kemudian ******* - ***** rambutnya sendiri, “Berengsek!!!!!!!” Teriak Adrian lantang melepas semua sesak yang bercokol di dadanya
Adam yang baru saja pulang dari kantornya dan tepat melewati ruang kerja Adrian mendengar pekikan Adrian itu, Adam tertegun, rasa penasaran tentang apa yang sedang terjadi pada Adrian menggelitik karena bagaimana pun Adrian adalah adik satu - satunya. Berbekal niat baik, Adam lalu mengetuk pintu ruang kerja Adrian dan menunggu dengan sabar berharap Adrian mau membukakan pintu untuknya
Adam mengetuk pintu itu sekali lagi, peruntungan terakhir, jika Adrian tak membukanya juga maka Adam akan berlalu, tak akan mencoba mencari tahu lagi
Adam menghela napasnya, “ya sudahlah” ujarnya lalu hendak melangkah, namun kaki Adam berhenti karena ia mendengar suara pintu yang dibuka, seiring dengan pintu yang terbuka Adam bisa melihat Adrian muncul disana, ia sangat berantakan, seperti bukan Adrian yang biasanya rapi, klimis dan tampan
“Kau kenapa?” Tanya Adam, ada rasa kasihan juga pada adiknya itu, kalau saja Adrian tak sering melakukan hal - hal konyol dan licik tentu Adam akan mengajaknya bekerja sama
Mendapatkan perhatian Adam, Adrian bukannya senang, rahangnya berubah mengeras, matanya yang sudah merah membesar, giginya gemeretak, dan tinjunya terkepal
“Apa urusanmu, hah?” Bentak Adrian, “kau pasti puas melihatku seperti ini kan?” Sentaknya menggema, Adam tetap tenang meskipun adiknya itu seperti harimau lapar yang siap mencabik - cabik dirinya
“Apa kau tak bisa memilih salah satu yang jadi milikmu? Kenapa kau menginginkan semuanya?” Pekik Adrian lagi, “Kau sudah mendapatkan perusahaanmu, apa kau tak bisa melepas Bella untukku? Kenapa kau begitu serakah, Adam?”
Mendengar bentakan Adrian yang terakhir membuat tatapan Adam yang sebelumnya tenang berubah tajam, ia sangat tak suka dengan omongan Adrian itu, perlahan tinju Adam mulai terkepal
Melihat Kakaknya yang tak berkata - apa justru membuat Adrian semakin berang, Adrian maju beberapa langkah mendekati Adam, kini mereka cukup dekat berhadapan
”Sudah ku beri tahu tentang bagaimana sebenarnya perasaan Bella padaku! Kenapa kau tetap mempertahankannya Adam? Apa kau tak punya rasa malu?” Nada bicara Adrian semakin meninggi memancing amarah Adam
“Itu hanya masa lalu Adrian! Sekarang aku dan Bella saling mencintai, kami sudah menikah dan memiliki anak, bisakah kau berdamai dengan kenyataan itu?” Sengit Adam, dada Adrian bergemuruh hebat mendengar sahutan Adam, dan..
Buuuugggg…
Adrian melayangkan tinjunya tepat ke rahang Adam, berdiri Adam tak bergeming, hanya pipinya yang berpaling karena tinju Adrian, darah segar mengucur di sudut bibirnya. Adam masih kalem, tak ingin membuat keributan karena Ibunya dan Bella di rumah
Adam hendak beranjak, tapi Adrian sigap meraih kerah kemeja Adam berniat menumbuk wajah Adam lagi, kali ini Adam tak diam, ia mengelak dan mendorong tubuh Adrian hingga terjungkal
“Cukup Adrian! Hentikan kegilaanmu!” Sentak Adam, Adrian yang kini melantai segera bangkit dan menubruk tubuh Adam, Adam agak terhuyung lalu menyenggok vas bunga di atas meja
Braakk..
Suara pecahan beling itu mengagetkan beberapa pelayan, seorang pelayan penasaran lalu tergesa menuju ke arah suara, dan betapa terkejutnya ia saat melihat baku hantam Adam dan Adrian
“Tuan Adam! Tuan Adrian!” Pekiknya histeris, beberapa orang pelayan yang mendengar teriakan temannya menyusul, semuanya terkejut dan bergidik ngeri melihat Adam dan Adrian saling melayangkan tinju
“Panggil Nyonya Miranda dan Nyonya Bella, cepat!” Ucap seorang pelayan, seorang temannya lalu berlari mencari Bella dan Miranda
__ADS_1
“Hei, kenapa kau berlari seperti itu! Apa kau lupa kalau di rumah ini tidak boleh berlari? Bagaimana kalau Nyonya Miranda atau yang lainnya melihatmu?” Kepala pelayan menegur bawahannya yang tengah berlari tadi
“Apa kau melihat Nyonya Miranda atau Nyonya Bella Pak Kepala?” Tanya pelayan itu dengan wajah panik
“Mereka sedang berada di taman halaman belakang, tapi apa yang terjadi denganmu? Kenapa kau ketakutan seperti itu?” Sahut kepala pelayan
“T - Tuan Adam dan Tuan Adrian berkelahi Pak Kepala, keduanya sudah babak belur” ucap pelayan itu dengan ekspresi ngeri
“Apa katamu? Adam dan Adrian berkelahi?” Bella yang baru saja masuk ke rumah hendak menyambut Adam pulang malah disambut dengan berita yang mengejutkan
“I - iya Nyonya, di depan ruang kerja Tuan Adrian” ucap pelayan itu tergagap, maklum sajalah meski hubungan adik dan kakak itu dingin, tapi mereka tak pernah sampai beradu jotos. Bella berjalan cepat menuju tempat kejadian perkara pergulatan Adam dan Adrian dengan hati tak karuan
“Ya Tuhan, ada apa ini? Kenapa mereka sampai berkelahi?” Gumam Bella khawatir
“Adam!” Pekik Bella saat melihat suaminya itu hendak meninju wajah Adrian yang sudah babak belur di bawahnya, Adam menoleh pada Bella dengan tinju yang masih menggantung di udara, Bella menutup mulutnya yang menganga lebar saat melihat wajah Adam yang tak kalah babak belur dari Adrian, “Bella” gumam Adam
“Sudah Adam, hentikan!” Ujar Bella lirih, Adam menurunkan tangannya, tapi saat Adam lengah itulah Adrian mendorong tubuh Adam, Adam terjungkal ke belakang, Adrian sigap menindih Adam dan menghujani wajah Adam dengan tinjunya
Bella meradang melihat suaminya tengah dianiaya Adrian, dia maju lalu mencoba menarik baju Adrian, berusaha agar Adrian melepaskan Adam
“Kau gila Adrian! Lepaskan Adam, lepaskan!” Sengit Bella, Adrian makin kesetanan mendengar pembelaan Bella untuk Adam, tinjunya beberapa kali ia layangkan lagi. Miranda yang baru saja tiba lemas melihat kedua anaknya berlumuran darah, tangisnya pecah
“Hentikan!” Ujar Miranda lirih, kepala pelayan yang menyusul Miranda tadi mencoba untuk mendekati Adrian dan Adam demi membantu Bella yang tengah melerai keduanya
“Cukup Adrian, cukup!” Sentak Adam saat melihat Adrian tetap hendak menyerangnya meskipun tubuhnya sudah ditahan oleh kepala pelayan
“Apa yang kau lakukan Adam? Apa kau tak kasihan padaku? Pada Mommy? Lihat Mommy Adam!” Cecar Bella sambil menunjuk Miranda yang terduduk lemas dan sedang dikipasi oleh para pelayan
“Maafkan aku sayang, aku tak bisa menahan emosiku tadi” sesal Adam sambil memeluk Bella, melihat itu Adrian kembali tersulut karena cemburu, entah tenaga darimana yang bisa membuatnya melepaskan diri dari pegangan kepala pelayan yang bertubuh tinggi besar, yang pasti Adrian kini berjalan penuh amarah dan serta merta menarik Bella dari pelukan Adam lalu menghempaskannya
Bruuuk…
Bella tumbang, dengan posisi perut yang lebih dulu menghantam lantai marmer dingin itu
“Bella!” Pekik Miranda, Adam sama terhenyaknya, ia langsung memburu Bella yang mulai merintih kesakitan
“A - Adam, sakit” erang Bella, Adrian baru tersadar dari kungkungan iblis di dalam dirinya saat melihat Bella yang jatuh terkapar
“Bella! Ya Tuhan, apa yang sudah ku lakukan?” Adrian dihimpit perasaan bersalahnya sekarang apalagi ketika melihat darah segar mengalir di antara kedua kaki Bella yang sedang di bopong Adam
“Suruh sopir siapkan mobil! Sekarang!” Titah Adam pada seorang pelayan disitu, suasana yang sudah panik semakin mencekam
“Ada apa ini?” William yang baru saja pulang terkejut melihat kekacauan di dalam rumahnya, ada Adam yang babak belur tengah membopong Bella yang mengerang kesakitan
__ADS_1
“Ya Tuhan!” William semakin tersentak ketika melihat darah di kaki Bella, “apa yang terjadi?” Cecar William
“Mobil sudah siap, Tuan” ucap pelayan
“Biar Mommy menjelaskannya padamu, Dad! Aku harus segera membawa Bella ke rumah sakit” ucap Adam yang lalu segera beranjak dari situ
“Temani Adam, dan segera kabari padaku perkembangannya, aku akan segera menyusul kesana!” Titah William kepada kepala pelayan, pria itu mengangguk patuh lalu tergesa menyusul Adam
Tak lama Pamela dan Brianna datang, nyaris bersamaan dengan kepergian Adam Bella, Brianna bahkan sempat melihat Adam yang membopong Bella sebelum masuk ke mobil
“Bu, kira - kira ada apa dengan wanita kurang ajar itu? Kenapa Adam sampai menggendongnya?” Tanya Brianna pada Ibunya
“Aku rasa sesuatu baru saja terjadi, apa kau lihat wajah Adam yang babak belur tadi?” Sahut Pamela, saking penasaran keduanya setengah berlari masuk ke dalam rumah
“Apa yang terjadi Adrian?” Sentak William pada anaknya yang sedang memindai kedua tangannya sendiri, tangan yang telah membuat Bella jatuh terjerembab
“A - aku tak sengaja Dad” lirih Adrian penuh penyesalan, William lalu menoleh pada istrinya yang tengah terisak
“Sayang, ada apa sebenarnya?” Tanya William, namun Miranda tak menjawab ia sibuk menangis karena shock
”Ada apa ini?” Sentak William pada pelayan yang semuanya tertunduk diam, “cepat jelaskan padaku!” Titah William, pelayan yang menjadi saksi pertama perkelahian Adam - Adrian lalu mendongak takut - takut, dengan suara bergetar ia menceritakan apa yang tadi ia lihat
Mendengar penuturan tentang kejadian tadi, William murka, ia lalu mendekati Adrian dan
Plak….
Satu tamparan mendarat di pipi Adrian yang lebam, Adrian tak melawan, ia memang merasa bersalah karena telah membuat Bella jatuh tadi
“Astaga, jadi tadi Adam dan Adrian bertengkar dan Adrian tak sengaja membuat Bella jatuh?” Bisik Brianna pada Pamela yang nyaris tertawa mendengar kabar itu
“Do’akan saja semoga Bella keguguran! Kau lihat, tanpa kita berbuat apa pun anak Adam dan Bella akan gugur!” Ucap Pamela antusias
“Kau memang benar - benar pembuat onar Adrian! Bagaimana kalau sesuatu terjadi pada Bella dan anaknya, hah? Apa ini memang rencanamu untuk mencelakai Bella agar ia keguguran?” Untuk pertama kalinya William membentak Adrian dengan kerasnya
“T - tidak Dad! Aku benar - benar tak sengaja” sahut Adrian tanpa berani menatap Ayahnya itu, pikiran Adrian tertuju pada keadaan Bella sekarang
“Lalu untuk apa semua perkelahian itu, hah? Aku yakin kau yang memulainya karena Adam tak pernah mencari gara - gara denganmu!” Sentak William lagi
Adrian mengangguk pasrah, “Memang aku yang memulainya, Dad!” Sahutnya,
“Sudah ku duga! Dengar Adrian, selama ini aku membiarkanmu melakukan apa pun untuk menjegal Kakakmu karena bagaimana pun juga kau tetap anakku! Tapi apa yang kau lakukan hari ini sangat keterlaluan!” Amarah William membuncah, “Oleh karena itu Adrian, sekarang juga kau pergi dari rumah ini!” Sengit William sambil menunjuk ke arah pintu keluar dengan dada yang bergemuruh
(Bersambung)
__ADS_1