Transaksi Di Atas Ranjang Suami

Transaksi Di Atas Ranjang Suami
Part 86


__ADS_3

“Maafkan aku karena pernikahan kita menjadi tertunda, tapi aku janji setelah Nyonya Emily sadar, kita akan segera menikah dan menggelar pesta mewah” Rayu Adrian pada Anna


Anna menghela napas lalu tersenyum, meski berberat hati tapi dalam situasi seperti ini dia harus mengesampingkan egonya, tak mungkin berpesta pora di atas kesedihan Bella, “Sayang, sudahlah… sebaiknya kita fokus dulu pada Nyonya Bella” ucapnya


Adrian mengerutkan kening, “Kau masih memanggil Bella dengan sebutan Nyonya? Apa kau tak merasa itu sedikit keterlaluan? Dia calon Kakak iparmu sayang” protesnya, lagi - lagi Anna tersenyum sabar menghadapi rajukan Adrian


“Oke.. oke, Adrian.. mulai sekarang aku akan memanggilnya Kak Bella” Ujar Anna, Adrian luluh lalu memeluk Anna, tanpa Anna sadari Adrian mencuri ciumannya, ciuman bibir pertama mereka


“Adrian… hhhmmmppphhh” Anna hendak protes tapi Adrian membungkam mulut Anna dengan bibirnya. Agak lama mereka berpagutan sampai suara derap sepatu memisahkan bibir keduanya, Anna panik mengusap lipstiknya yang belepotan sedang Adrian senyum - senyum nakal


Erick yang baru saja muncul tampak celingukan menoleh ke kiri dan ke kanan, “Ah Adrian, dimana Adam dan Bella? Apa mereka di kamarnya?” Tanyanya, Erick dihubungi Miranda untuk memeriksa Bella yang belum sadar


“Mereka di kamarnya Erick!” Sahut Adrian, Erick mengangguk lalu berjalan cepat namun baru beberapa langkah ia berhenti


“Adrian, kau memakai lipstik tadi?” Goda Erick sambil menunjuk bibirnya sendiri, Anna menunduk dengan wajah merah padam sedang Adrian hanya cengar cengir salah tingkah. Puas menggoda Adrian, Erick berlalu sambil terkekeh


“Kau keterlaluan Adrian! kak Bella masih pingsan dan kita malah berciuman, apa kata Tuan Erick nanti?” Cerocos Anna panik


“Maaf sayang, aku tak bisa mengendalikan diriku tadi! Kau terlalu menggoda” Bisik Adrian, Anna refleks mendorong pelan Adrian lalu bangkit berdiri dan berjalan tergesa


“Hei kau mau kemana?” Pekik Adrian, Anna membalik badannya


“Ke kamar Kak Bella!” Sahutnya sambil tersenyum manis


“Sial, kenapa dia begitu mempesona?!” Gumam Adrian gemas, baru saja Adrian akan bangun dari duduknya ketika Pamela merangsek masuk dengan wajah cemas


“Adrian, apa yang terjadi pada Bella?” Tanya Pamela panik, Adrian mendekati wanita yang kini mengenakan penutup kepala itu setelah semua rambutnya habis terpangkas selama pengobatan kemoterapi


“Apa yang kau lakukan disini Nyonya? Kau seharusnya dirawat di rumah sakit!” Tutur Adrian mencemaskan wajah Pamela yang pucat, jalannya pun terseok, tangan yang tinggal tulang berbalut kulit itu gemetaran


“Bagaimana aku tak kesini ketika mendengar Bella pingsan dari Ibumu?!” Sanggah Pamela, “Apalagi yang terjadi pada Bella, Adrian?” Selidik Pamela

__ADS_1


Helaan napas Adrian terdengar, memang Adrian prihatin pada nasib Bella, “Duduklah Nyonya, akan aku ceritakan semua” Tuturnya sambil membimbing Pamela untuk duduk di sofa, Adrian lalu menceritakan penyebab Bella tak sadarkan diri tadi


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Bagaimana? Apa ada yang berbahaya? Cecar Adam pada Erick setelah dokter muda itu memeriksa kondisi Bella, ada William dan Miranda juga disana, disusul Anna yang baru saja bergabung


“Tekanan darahnya rendah, dia sepertinya kelelahan dan stress, tapi tak ada yang perlu dikhawatirkan! Cukup istirahat dan menghindari stress saja!” Sahut Erick, “Aku memberikannya obat dan vitamin, tolong berikan secara teratur” Tambah Erick lagi


Erick lalu menjatuhkan pandangannya pada Adam yang duduk disamping Bella, “Apa yang terjadi Adam? Apa ini masih ada hubungannya dengan kejadian kemarin?” Tanya Erick


Adam menggangguk lemah, pandangannya tak beralih sekejap pun dari wajah pucat istrinya, sementara tangannya erat menggenggam jemari Bella


Erick menghela napasnya, “Aku harap Bella bisa tabah, pasti berat baginya menghadapi berbagai macam masalah belakangan ini, apalagi Ibu angkatnya pun kini sudah tiada” ucap Erick berbelas kasih


Adam terhenyak, disusul keterkejutan Miranda, William, dan bahkan Anna


“Maksudmu Mama Emily meninggal?” Cecar Adam


“Apa kau tak tahu soal itu? Tuan Takanawa tak menghubungimu?” Erick balik bertanya, “Astaga aku lupa, kalian sedang tak baik - baik saja bagaimana dia akan memberi tahumu soal ini” ralat Erick sambil menepuk jidatnya sendiri


“Bagaimana cara kita memberitahukan hal ini pada Kak Bella? Kak Bella pasti akan sangat terpukul!” Ucap Anna prihatin


“Sebaiknya biarkan Bella stabil dulu, jangan membebaninya dengan apa pun sekarang” Tandas William, “heeeuuuhhh… Aku tak bisa membayangkan bagaimana perasaan Takanawa sekarang, setelah peristiwa Justin, Jessie dan sekarang dia harus kehilangan istrinya” Tutur William sambil menerawang membayangkan betapa hancurnya Takanawa sekarang


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Kehancuran memang sedang dirasakan Takanawa saat melihat jenazah istrinya yang terbujur kaku di pembaringan, Takanawa lusuh dan berantakan hanya duduk saja menatapi istrinya, sedang di belakangnya banyak orang wara wiri mempersiapkan penyemayaman Emily


“Pa… “ Jessie menghampiri Takanawa mengelus pelan pundaknya, mata Jessie bengkak dan sembab karena tangisnya yang tak mereda


“Dia sudah pergi” Ucap Takanawa dengan suara bergetar, Jessie duduk bersimpuh di samping Ayahnya lalu menyenderkan kepalanya di paha sang Ayah setelah itu ia terisak kembali, tak jauh dari mereka berdua Justin duduk menekuk lututnya di lantai, sesekali ia menyeka wajahnya yang basah karena air mata, pikirnya berantakan, hatinya luluh lantak, penyesalan menjadi momok yang menggelayut di pundaknya, menurutnya dia adalah pembunuh Ibunya sendiri

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sudah siang ketika Bella sadar dari pingsannya, begitu membuka mata orang yang pertama ia cari adalah Adam dan Eve, beruntung Eve sudah ada disana di gendongan pengasuhnya, sedang Adam sedang keluar kamar sebentar mengatur keberangkatan ke pemakaman Emily, Bella mengambil Eve dari pengasuhnya lalu membuainya


“Sayang, maafkan Mama.. “ Gumamnya pada Eve yang sedang terlelap tidur, menciuminya perlahan tak ingin membangunkan putri kecilnya meskipun Eve beberapa kali menggeliat karena gerakan Bella


“Bella! Apa yang kau rasakan sekarang? Apa ada yang sakit?” Berondong Adam saat masuk ke dalam kamarnya, khawatirnya mereda melihat Bella sudah sadar dan terlihat lebih segar, semburat kehidupan muncul kembali di wajah Bella yang tadi pucat pasi


“Maafkan aku karena membuatmu khawatir Adam, aku seharusnya lebih kuat.. tapi mendengar Mama Emily koma, hatiku hancur.. aku takut sekali jika harus kehilangan wanita yang sudah ku anggap Ibu kandungku sendiri” Tutur Bella sendu, Adam memandangi pilu istrinya itu, di dalam hati Adam berkecamuk bagaimana cara menyampaikan kabar bahwa Emily memang sudah meninggalkan Bella untuk selamanya


“Kau tenang saja, semuanya akan baik - baik saja” Ujar Adam seraya membawa Bella dalam pelukannya


“Adam, maukah kau mengantarkanku menjenguk Mama Emily? Aku tak akan tenang sebelum melihatnya Adam” pinta Bella


“Tapi kondisimu masih lemah Bella, bagaimana kalau kita menunggu hingga esok? Lagipula ada Ibu Pamela di depan, kau pasti ingin menemuinya dulu kan?” Kilah Adam


“Ada Ibu? Bukankah Ibu seharusnya di rawat? Astaga… Untuk apa dia disini Adam?!” Protes Bella


“Dia mengkhawatirkanmu, Bella! Mommy yang menghubungi Ibumu, semua orang khawatir padamu!” Sahut Adam, “Aku akan beritahu Ibumu dan yang lain kalau kau sudah sadar” ucap Adam lalu mengurai pelukannya dan tergesa keluar kamar, Adam memang beralibi saja karena pada kenyataannya ia ingin segera keluar dari kamar itu selain sedih membayangkan bagaimana reaksi Bella nanti, Adam juga bingung bagaimana menyampaikan berita duka itu pada Bella, Adam menyenderkan diri di depan pintu kamarnya, menggusar resah rambutnya


“Adam, bagaimana Bella?” Tanya Pamela bergandengan dengan Miranda, mereka baru saja akan masuk ke kamar Bella


“Dia sudah sadar, Bu.. hanya saja dia mempertanyakan kabar Mama Emily dan memintaku untuk mengantarkannya menjenguk Mamanya itu” sahut Adam


Pamela menghela pelan napasnya, sedang Miranda bergerak gelisah tak tega jika Bella sampai mendengar kabar kematian Emily


”Tapi lambat laun pada akhirnya Bella akan tahu kebenarannya, aku khawatir jika ia tak datang untuk melihat Emily untuk terakhir kalinya justru akan membuatnya semakin sedih” Tutur Pamela, selesai Pamela berucap pintu kamar dibelakang Adam bergerak, Adam menggeser tubuhnya menanti siapa orang yang akan keluar dari kamar itu


Deg….


Betapa terkejutnya Adam, Pamela, dan Miranda melihat wajah dibalik pintu yang baru terbuka setengahnya

__ADS_1


“Jadi Mama Emily meninggal?” Suara Bella sarat kepedihan saat mengucapkannya


(Bersambung…)


__ADS_2