
Praaaang…
Entah apa salah guci mahal itu karena Justin menghempasnya begitu saja saat ia sampai di rumah, ia merasa menjadi makhluk paling tak berdaya di depan Bella tadi… kekayaan, ketampanan, dan pengorbanannya selama ini untuk Bella ternyata tak ada apa - apanya, malah Bella lebih memilih mati dibanding ia sentuh
Setelah lelah mengobrak abrik isi kamarnya, Justin lalu duduk dan memperhatikan luka baru di tangannya akibat tergores pecahan barang pecah belah yang sudah tak berbentuk, darah memang mengalir disana tapi entah kenapa sakitnya justru di hati, ia benar - benar merasa hancur
“Kau sudah selesai Justin?” Emily yang ternyata sedari tadi berada di ambang pintu kamar anaknya perlahan mengarahkan kursi rodanya ke arah Justin, Emily agak sulit memilih jalan berhubung seluruh lantai penuh dengan pecahan beling, melihat Ibunya Justin melengos lalu tertunduk lesu
“Apa yang terjadi denganmu?” Tanya Emily dengan lembutnya, tapi pernah ia lihat badan gagah anaknya itu selemah sekarang, apalagi air mata turut membuat Justin makin memprihatinkan
“Kau berdarah Justin!” Panik Emily saat melihat darah segar mengalir di tangan anaknya, Emily mencoba untuk meraih tangan Justin tapi ia menepisnya
“Biarkan saja!” Sahut Justin, melihat sikap anaknya Emily menghela napas lalu hening sebentar membiarkan Justin sedikit tenang sebelum ia bertanya apa yang sebenarnya terjadi
Setelah beberapa menit sama - sama membisu, akhirnya Emily memberanikan diri untuk bicara
“Apa kau tak ingin menceritakan apa yang terjadi sampai kau semurka ini?” Tanyanya, sayang Justin masih juga membisu malah memalingkan wajahnya tak ingin sang Ibu melihat air mata yang kembali menetes
“Hanya satu yang bisa membuatmu drop seperti ini, apa ini menyangkut Bella?” Todong Emily hati - hati
“Dia ingin membunuh dirinya tadi hanya karena aku menyentuhnya” sahut Justin pelan namun bak sambaran petir untuk Emily
“Apa kau bilang Justin? Bella ingin bunuh diri?!” Panik Emily histeris, “Bagaimana kondisinya sekarang? Apa dia terluka?” Cecarnya, matanya sampai melotot besar karena terkejut dan khawatir
“Dia baik - baik saja setelah aku berjanji tak akan menyentuhnya lagi” sahut Justin sendu, Emily mengusap dadanya yang tadi dag dig dug tak karuan, mimpi apa sampai ia harus mendapatkan kabar buruk seperti ini
“Apa yang kau lakukan Justin? Bagaimana mungkin kau menyentuh adikmu sendiri?” Serang Emily
“Dia bukan adikku, Ma! Dia lahir dari rahim yang berbeda” Tandas Justin
__ADS_1
“Tapi dari Ayah yang sama, Justin!” Sanggah Emily tak mau kalah membuat Justin bungkam
“Kau sadar apa yang kau lakukan Justin? Kalau pun dia bukan adikmu, tapi dia istri orang lain Justin! Dia istri Adam Anderson!” Sentak Emily lagi, mendengar nama Adam Justin menoleh dan menatap tajam pada Ibunya
“Apa yang salah dengan mencintai orang yang sudah menikah? Bukankah kau melakukannya Ma? Kau tetap mencintai Ayah padahal kau sudah menikah dengan Papa!” Sengit Justin, mata Emily membola mendapat perlawanan dari Justin, apalagi sampai membawa - bawa masa lalunya, ini tak seperti Justin yang biasanya yang sangat lemah lembut dan sopan pada Ibunya
“Itu berbeda Justin, aku mencintai Ayahmu jauh sebelum aku menikah dengan Papamu!” Sahut Emily, nada suaranya tak setinggi tadi, marahnya agak mereda
“Lantas apa bedanya denganku Ma? Aku mencintai Bella jauh sebelum ia menikah dengan Adam! Apa salahku dalam hal ini?” Cecar Justin, Emily hanya bisa menghela napasnya, ia lalu meraih dagu Justin membuat anaknya itu akhirnya menatapnya
“Apa yang kurang darimu Justin? Kau sangat tampan, kau juga sangat kaya! Kau tak perlu mengejar Bella lagi, kau bisa mendapatkan siapa pun yang kau mau, artis atau model terkenal, anak pejabat, atau anak pengusaha teman - teman Papamu, jarimu hanya perlu menunjuk dan kau pasti akan mendapatkan gadis itu!” Bujuk Emily
“Ck… aku tak ingin wanita lain Ma, aku hanya ingin Bella! Seperti kau mencintai Ayah meskipun ia telah bersama orang lain dan bahkan ia sudah meninggal, maka hatiku pun tak gampang berpaling pada wanita lain!” Sahut Justin bersikukuh
“Itu karena kau belum mencobanya, Justin!” Bujuk Emily lagi
Emily meraih tangan Justin dan menciuminya, “Aku minta maaf karena kau harus merasakan kepahitan ini, Justin! Tapi percayalah suatu hari kau akan menemukan wanita yang lebih baik dibanding Bella” ujar Emily mencoba untuk menghibur Justin
“Jika itu bukan Bella, aku tak ingin membuka hati untuk siapa pun Ma” jawab Justin sendu
Emily menggelengkan kepalanya tak terima, “Jangan bicara seperti itu Justin! Kau perlu membuka hatimu untuk wanita lain, kau harus menikah dan kemudian memiliki anak! Kau harus melupakan Bella!” Tandas Emily
Justin membeku saat mendengar kata ‘anak’, ia pernah mendengar kalau anak adalah pengikat pasangan, perekat suatu hubungan, ide gila tiba - tiba muncul di kepalanya, “Jika Bella mengandung anakku, tentu dia mau tak mau harus meninggalkan Adam dan berpaling padaku bukan?” Gumamnya dalam hati
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di tempat lain, di sebuah kamar hotel mewah… peluh tengah membanjiri Brianna yang tengah berada di bawah kungkungan badan gempal pengacaranya sendiri, ya Brianna hari itu bisa bebas dari penjara setelah pengacaranya itu mengajukan penangguhan penahanan dengan menjaminkan sejumlah uang dalam jumlah fantastis
Sudah hampir satu jam Brianna melayani syahwat pengacara yang hampir seumur Ayahnya, Brianna bukannya tak jijik apalagi ketika air liur pria tak berambut itu membasahi sekujur tubuh polosnya dari ujung kaki ke ujung kepala, tapi Brianna harus mau merelakan tubuh moleknya dinikmati sebagai syarat kebebasannya
__ADS_1
“Sial, kenapa dia belum berhenti juga? Dia sudah tua, harusnya staminanya tidak sekuat ini!” Rutuk Brianna di dalam hatinya
“Apa aku bisa melepaskannya di dalam?” Tanya Tuan Adolf saat ia nyaris mencapai puncaknya
“T - Tuan, kau jangan gila! Aku tak mau hamil, bagaimana kalau sampai istri dan anakmu tahu?” Brianna ketakutan luar biasa membayangkan ia harus hamil anak dari pria tua dan menjijikkan itu
“Ah baiklah!” Ucap Adolf sesaat sebelum ia mengerang melepaskan cairan cintanya di atas perut Brianna, Brianna kuat - kuat menahan diri agar tak muntah, kalau saja ia tak terpaksa sudah barang tentu dalam mimpi pun ia tak sudi harus disentuh dan bahkan dinikmati pria itu. Setelah yakin pria itu tergolek di sampingnya, Brianna buru - buru menuju kamar mandi untuk membersihkan badannya, menggosok badannya sekuat tenaga untuk menghilangkan jejak pria tua itu di badannya. Usai mandi Brianna bergegas memakai pakaiannya, tak ingin sampai pria itu meminta kembali
“Kau mau kemana? Kita belum selesai!” Ujar Adolf saat melihat Brianna tengah berdandan di depan meja rias, Brianna menggeram namun ia segera memasang senyum ketika menoleh pada Adolf
“Ahahaha Tuan.. istirahatlah dulu, kau tenang saja aku tak akan kemana - mana!” Sahutnya
“Tapi aku masih menginginkannya! Kau tak boleh kemana - mana kalau aku belum puas!” Tanda Adolf, menyadari pria itu telah mulai terjerat padanya Brianna merasa punya kesempatan untuk memanfaatkannya, ia lalu melangkah dengan anggun dan sensual mendekati Adolf
“Kau ingin lagi Tuan?” Godanya, bak di cucuk hidungnya Adolf mengangguk - angguk tak sabaran
“Kalau kau ingin lagi, aku bisa memberikannya untukmu!” Brianna mengeluarkan jurus rayunya, membuat Adolf semakin tak karuan, ia hendak memeluk Brianna namun Brianna mengelak
“Eiiiiitttsss, sabar dulu Tuan! Semua ada syaratnya, kalau kau menginginkanku lagi, kau harus memberikanku apartemen dan mobil mewah!” Ucap Brianna mengungkap tujuannya, Adolf yang sudah diburu nafsu tak lagi bisa berpikir jernih
“Aku akan memberikan apa pun yang kau mau, kau jangan khawatir!” Ucap Adolf sambil mencoba meraih tubuh Brianna
“Kau janji?!” Cecar Brianna
“Aku janji, sekarang kemarilah! Aku sudah tak tahan!” Sahut Adolf lalu menarik tubuh Brianna dan menindihnya kembali
“Aaaahhh Tuan!” Pekik Brianna saat Adolf merobek paksa dress yang ia pakai, lalu mulai mencumbu lagi badan mulus Brianna
(Bersambung)….
__ADS_1