Tulisan Fais

Tulisan Fais
Kemelut Cincin


__ADS_3

Sejak langit bergemuruh menunjukan kepekatan mendung, sejak itulah Papah pergi pamit keluar rumah demi menghadiri rapat tidak penting komunitas permobilan. Detik ini juga, tepat satu tahun ayah Fais bergabung dengan organisasi yang terdiri dari beberapa anggota usia di bawahnya.


Katakanlah Papah adalah tetua di grup tersebut. Karena kenyataan itu pula, menjadi sabab musabab ia nobatkan sebagai pemimpin. Namun, perhelatan gelar itu tidaklah bertahan lama sejak Pak Dayat beserta istri datang berkunjung ke rumahnya dengan membawa sebuah informasi samar.


Disini, tepat di ruang dapur di samping kulkas. Mamah merapikan perbumbuan bertemankan sepi. Sosok ibu rumah tangga yang tidak tertarik sama sekali dengan hingar bingar sosial media sangat melekat pada dirinya.


"Assalamualaikum"


"Wa'alaikumsalam"sahut Mamah dengan sedikit menongolkan kepala, sedangkan tangannya belum berhenti memisahkan tangkai cabai. "Is, tumben kamu main ke rumah Maya?" Fais mengabarkan ibunya tadi saat baru menginjakan kaki di rumah gadis tersebut.


"Tadi Maya mau belajar sama Fais." Fais menjawab cepat, anak itu celingak-celinguk mungkin saja sedang mencari keberadaan sang ayah. "Papah kemana Mah?"


"Biasa, Papah lagi kumpul-kumpul sama komunitasnya."


"Oh"


Setelah mendapat jawaban, Fais lekas masuk ke dalam kamar untuk mengambil perlengkapan mandi. Umumnya orang-orang meletakan perlengkapan tersebut di dekat kamar mandi atau di dalamnya. Tetapi entah kenapa, anak ini lebih memilih menyimpannya di dalam kamar tidur.


"Mah" Fais yang dua menit lalu terdengar memasuki kamarnya, kini tergopoh seperti sedang di tagih bank keliling.


"Iya is, kenapa?"

__ADS_1


"Mumpung Fais ingat, tadi pas cuci baju Fais Nemu cincin Mamah." Alih-alih memberikan benda temuannya tersebut, anak itu malah terbirit-birit masuk ke dalam kamar mandi setelah memberitakan pada sang ibu. Mamah terheran-heran dengan penuturan anak semata wayangnya barusan, "cincin? Cincin yang mana?" Mamah bertanya pada dirinya sendiri.


Setelah waktu cukup lama berlalu dengan menyisakan tanda tanya, perbumbuan yang sudah rapi di tinggalkan membeku tanpa kehangatan di dalam kulkas. Mamah yang penasaran, mencoba pergi ke kamarnya untuk memastikan cincin mana yang hilang sementara di jemarinya masih terpampang manis satu buah. Sedangkan satunya lagi yang ia simpan di dalam lemari baju. terkahir Mamah melihat, seingatnya sih masih ada.


Mamah hanya memiliki dua cincin. Terbilang sedikit untuk seukuran ibu-ibu bersuami manager perusahaan dan memiliki usaha bengkel. Jika di sandingkan dengan ibu-ibu sosialita disekitarnya, Mamah mendapat rating paling rendah dalam kategori hebring bin Hedon.


Dan benar, cincin yang ia simpan masih bertengger cantik di tempat persembunyiannya. Lalu cincin siapakah yang di temukan Fais? Mamah berasumsi cincin yang anaknya temukan adalah imitasi, mengingat Fais masih gemar nyemil ciki berhadiah.


"Mah, ini cincinnya."


Fais datang mengagetkan. Bocah itu sudah Kembali tampan dengan balutan kaus putih polos yang di padukan celana bahan pendek abu-abu.


Hatinya sudah mulai gusar.


"Ini bukan cincin Mamah." Ucap Mamah lirih di sambut ketidak percayaan Fais. Mereka saling pandang satu sama lain dengan pikiran yang mungkin menunjuk ke satu arah.


Papah.


..............


Lelaki yang di tunggu-tunggu kedatangannya telah kembali. Mamah menampakkan air muka yang biasa saja, tidak ada perubahan sikap saat menyambut suaminya pulang. Karena apa yang ada dipikirannya, belum tentu kenyataannya seperti itu.

__ADS_1


Waktu menunjukan pukul sebelas malam. Bukan waktu yang sebentar Papah meninggalkan rumah sejak kepergiannya siang tadi. Raut wajah yang ditangkap benar-benar sulit di tebak. Ada senyum yang terpancar ada juga kebingungan yang terperangkap di dalam sana.


"Mamah mau bicara."


"Papah mau bicara."


Kalimat itu terlontar bersamaan, sontak Papah mempersilahkan istrinya untuk berbicara terlebih dahulu.


"Mamah duluan aja."


"Papah saja yang duluan." Jawab Mamah.


.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2