Tulisan Fais

Tulisan Fais
Fais pergi


__ADS_3

Ketika peribahasa gayung bersambut kata berjawab cocok disematkan pada apa yang telah menimpa Fais. Remaja tanggung dewasa itu lebih memilih fajar menyingsing elang menyongsong. Menyambut hari dengan penuh semangat untuk usaha dan bekerja.


Usaha dulu baru bekerja. Dan tepat hari ini pukul delapan pagi, Fais di jadwalkan tes psikotes di sebuah perusahaan otomotif. Mamah tahu dan mendo'akan sepenuhnya kelancaran Fais dalam menjalankan apa yang akan di jalankan. Mamah selalu inginkan yang terbaik untuk anaknya.


"Fais mau kemana?"


Mamah dan Fais menoleh ke arah sumber suara. Sosok Papah berdiri tidak jauh, Papah tersenyum canggung menampakkan aura kabapak'an yang kental. "Fais mau kemana? Bareng Papah aja ya." Katanya lagi.


Tawaran Papah mengingatkan Fais pada sosok Ayah siaga beberapa tahun silam. Dimana Fais memiliki kepentingan apalagi berurusan dengan pendidikan, Papah selalu berada di garda terdepan untuk mendampingi Fais. Antar-jemput, kadang sampai menunggu jalannya tes. Papah juga tidak sampai berfikir panjang untuk mengambil cuti demi.. demi anaknya. Demi Fais menjadi orang yang bisa menggapai cita-cita.


"Fais mau tes kerja di PT" Jawab Fais tanpa ada yang dikurangi atau di lebihkan. Kalimatnya pas tanpa di dramatisir.


Papah jelas terkejut. "Fais mau kerja? Terus gimana sama kuliahnya? Uang saku yang Papah kasih kurang? Apa ada bayaran yang nunggak?"


"Iya Fais mau kerja. Tenang Pah semuanya beres, Fais bakal urus kuliah jadi kelas karyawan. Dan biaya juga nggak ada yang kurang. Fais kerja pengen bayarin utang-utang Papah."


Air muka Papah berubah sendu. Mendung seperti ramalan cuaca hari ini yang tepat. Matahari masih terhalang awan gelap yang tak kunjung beranjak. Rasanya awan itu menetap lebih lama tanpa adanya pergerakan.


Papah mau apa? Mau menghalangi dan bilang kalau tugas nyari nafkah itu cuma Papah yang boleh? Sekarang tidak bisa begitu. Karena Fais sadar betul Papah bukan hanya menafkahi keluarganya, tapi juga keluarga Badrun. Si nggak ngapai-ngapain tapi bisa merokok, istrinya pun bisa membeli emas semaunya.


Bukan dengki dan berprasangka buruk pada keluarga itu. Pernah suatu hari penulis bernama lengkap Fais Mahda Wardana memergoki Papah di telepon oleh Badrun. Katanya Badrun pengen merokok tapi tidak punya uang. Lantas Papah meluncur ke rumahnya, ngapain? Ya itu memberi Badrun dua bungkus rokok beserta uangnya.

__ADS_1


Fais geram lalu menghadang Papah hingga terjadi adu argumen. Fais tidak mau kalah Papah juga demikian. Papah bersikukuh kalau hal yang dilakukannya semata hanya karena 'kasihan'.


Fais berdecak kesal. Masih banyak manusia yang patut di beri selain laki-laki sehat jasmani peminta-minta.


Sebuah kolase ingatan dari sebagian pertengkaran bapak dan anak meredup kala Mamah memasuki pembicaraan.


"Hutang Papah nggak usah di pikirkan is. Kalau tujuan Fais kerja cuma buat ini Mamah nggak mau. Mamah nggak ridho, anak Mamah yang udah tersakiti ini harus menanggung biaya yang emang di keluarin buat menghidupi keluarga itu.. cih" Mamah marah bukan main.


"Katanya Fais kerja mau cari pengalaman?" Susul Mamah.


"Ya sekalian cari pengalaman Mah. Fais harap Mamah bisa melihat apa yang Fais lakukan sekarang adalah bentuk bakti Fais sebagai anak pada orang tua. Fais emang kecewa, Fais emang marah sama Papah. Tapi ijinkan Fais menjadi laki-laki mandiri penuh tanggung jawab walaupun pada diri sendiri"


"Pah, sampai kapan Papah mau nyekap Fais dalam situasi seperti ini? Fais udah gede, bukan anak kecil lagi yang segala pendapatnya tidak pernah di anggap serius."


"Ini semua gara-gara Papah!" Mamah tidak tahan lagi untuk tidak menyalahkan keadaan kepada Papah.


"CUKUP!"


"Papah harus kaya gimana lagi biar kalian hidup seperti dulu dan tidak menyangkut pautkan masalah ke persoalan yang kemarin? Papah udah nggak berhubungan lagi sama dia." Mata Papah memerah.


"Papah emang nggak ngerespon, tapi Papah nggak blokir nomer yang terus-terusan gangguin Papah perihal perasaannya. Buat apa Pah? Buat bisa meluluhkan Papah lagi sewaktu-waktu?"

__ADS_1


"Kata Papah udah gak berhubungan lagi sama mereka, Nggak berhubungan lagi dalam bentuk apa nih? Kalau sampai sekarang saja Papah masih menyuntik dana buat mereka senang-senang!"


"Is.." lirih Mamah. Perempuan itu sesak setelah tahu unek-unek anaknya selama ini.


"Assalamualaikum"


Semarah apapun Fais, rasa hormat tidak boleh dikesampingkan. Setelah memberi salam lalu mencium kedua tangan orang tuanya, Fais pergi.


Fais menjauh.


Fais pergi dan semakin menjauh sampai hilang di telan tikungan.


Mamah serampangan menumpahkan amarahnya pada Papah. Begitulah suasana yang membuat Fais tidak betah lagi di rumah. Kalian pikir, semua perseteruan terjadi karena Mamah maupun Fais yang memantik ke persoalan itu lagi itu lagi setiap ada pembicaraan. Sesungguhnya yang terjadi Papah yang berlagak seperti orang tersakiti namun di belakang Papah masih bermain api.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2