Tulisan Fais

Tulisan Fais
Cerita di balik hujan


__ADS_3

Sebenarnya, apa yang dilakukan Nabila sewajarnya reaksi ketika seseorang baru saja mengalami putus hubungan pacaran dan di pertemukan kembali dalam keadaan yang menyudutkan.


Namun siapa sangka. Alih-alih suasana menjadi kaku, Fais bisa memperlakukan Nabila dan Akmal layaknya teman. Seakan tidak pernah terjadi apa-apa yang akan membuat mereka bersitegang. Tidak ada canggung, tidak ada menyalahkan. Semua tampak baik-baik saja ketika Fais mengatakan hai.


Di bangku panjang tempat biasanya Fais bermalasan ketika berada di rumah Akmal, di sana mereka telah membuktikan pada seisi dunia. Sedih tidak harus berkepanjangan. Semua ada porsinya masing-masing agar meratap pada ketidak sesuaian keinginan dengan sewajarnya saja.


Langit memang mendung bersamaan dengan datangnya Fais. Namun hujan deras masih belum turun membasahi bumi. Suara gemuruh sudah terdengar di langit bagian lain, sampai pada-- satu dua tetes hujan mulai membangkitkan duduk kebersamaan mereka dari bangku panjang itu.


Akmal nyaris tidak bisa berfikir bagaimana cara melindungi Nabila dari basahnya air hujan. Sampai dia refleks melebarkan telapak tangannya di atas kepala Nabila, hanya untuk sebatas melidungi.


"Eh" kata itu sama-sama terucap oleh Akmal dan Fais dimana tangan mereka saling beradu. Mereka ke-gap melakukan hal yang sama dalam waktu yang bersamaan.


Fais segera menarik tangannya kembali membiarkan Akmal melindungi Nabila dengan caranya. Hal tersebut tidak diketahui banyak oleh Nabila, sebab gadis itu sibuk menunduk dan berjalan sesuai arahan dua laki-laki penjaganya.


"Mau kemana lu?" Seru Fais pada Akmal yang berjalan mengarahkan mereka untuk masuk ke dalam rumah.


"Masuk ke dalam, di luar kan ujan. Rumah gua juga gak ada terasnya." Sungut Akmal.


"Enak aja. Di dalam gak ada siapa-siapa kan? Terus lu mau masukin Nabila sama lu gitu yang beda gender?"


"Ya kan gua orangnya baik nggak berani macem-macem is."

__ADS_1


"Iya gua ngerti, tapi teknisnya nggak gitu Mal. Bisa jadi fitnah. Disini aja sih, tuh barang-barang nggak keujanan." Fais menunjuk arah dimana rongsok berserak masih dalam keadaan kering. Itu artinya, ada tempat naungan yang lebih aman terkendali.


Nabila hanya tersenyum diantara dua laki-laki saling berdebat. Nabila merasa, ada sesuatu berbeda yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Entah itu apa, Nabila juga tidak bisa menjelaskan secara terperinci. Yang pasti di perhatikan sama para abang-abang manis ini, rasanya begitu menyejukkan.


Fais menjaga jarak dari Nabila dan Akmal. Selain tidak mau mengganggu Nabila yang terlihat mulai bercanda dengan abang Akmal sampai-sampai keberadaan Fais terabaikan, Fais juga ingin menyesap kebiasaan barunya.


Bungkusan nikotin ia ambil dari saku. Lalu membakarnya sebatang dengan api yang tenang.


"Gapapa kan Nabila manggilnya Abang Akmal?"


"Ya gapapa sih." Akmal melirik ke arah Fais hanya untuk mendapati bocah itu merokok dengan senyam-senyum sendiri.


Fais membalas tatapan Akmal dengan menaikan alisnya sampai dahinya berkerut. Seolah tatapan itu mengatakan, apa lu liat-liat kesini, pacaran aja sana.


"Jadi Abang Akmal sudah lama ya menekuni bisnis ini?"


"Ini cuma pengepulan biasa, belum bisa dikatakan bisnis. Sudah lumayan lama sih, udah dari jaman sekolah." Jawab Akmal.


"Ini namanya udah bisa dikatakan bisnis bang. Dimana Abang Akmal menjadi bosnya mengatur segala pengelolaan barang-barang ini sampai bisa menghasilkan. Malah menurut Nabila Abang Akmal hebat. Di saat orang-orang belum bisa menentukan jalan hidupnya bagaimana, Abang sudah mantap berkecimpung di dunia bisnis."


"Kaya Nabila ini, kuliah jurusan bisnis dan manajemen tapi masih nggak tau apa yang harus dilakuin pas lulus nanti."

__ADS_1


"Nabila tapi kan..


"Tapi apa bang, tapi dekil gitu? Haha Abang mah ada-ada aja kekhawatirannya." Sela Nabila dengan tawa yang entah kenapa begitu merdu di dengar Akmal.


Nabila lantas berjongkok, bergaya seperti memilah barang-barang bekas dari mulai berbahan dasar plastik dan juga besi.


"Nabila mau ngapain? Jangan, biar Abang aja yang beresin."


"Nabila mau cari kepercayaan diri Abang Akmal. Kali aja jatuh disini."


Njiiiirr.. kepercayaan diri Abang Akmal jatuh haha. Batin Fais. Cih, Fais mendecih gumaman dalam hatinya ikutan menyebut Akmal dengan sebutan Abang.


Baik Akmal maupun Fais, mereka tidak tahu persis kenapa Nabila membedakan panggilan di antara mereka. Padahal sebelumnya, sama-sama mengunakan panggilan Kakak. Hanya Nabila yang paling tahu apa alasan di balik perbedaan panggilan tersebut. Bersama dengan Akmal Nabila merasa--lebih apa adanya.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa bahagia.


__ADS_2