
Berbakti pada orang tua merupakan kewajiban bagi seorang anak. Berbaktilah selagi ada waktu. Sebab yang namanya penyesalan tidak pernah ada obatnya. Gelap bertukar terang, malam berubah siang, ada hitam ada putih, ada sebab ada juga akibat. Perumpamaan tersebut mengajarkan kita untuk terus melangkah ke depan, bukan berhenti lalu balik kanan. Karena apa yang kau lihat saat balik kanan tersebut bisa saja masa lalu kelam yang sedang tertawa sumbang.
Hahaha dia menertawakan mu sebagai orang yang menyedihkan. Lalu perlahan-lahan bayangan yang mengejek tersebut hilang melebur dengan waktu. Yang bersisa hanya diri sendiri yang mengerikan karena tidak bisa menemukan jalan keluar. Fais tidak mau seperti itu. Siapa juga yang mau seperti itu. Ini hanya soal bagaimana kita bisa bangkit dari keterpurukan.
Habis menyuapi Mamah tiga sendok bubur, Fais duduk terpekur di kursi pojok sudut rumah sakit. Bernaung di bawah pohon rindang, matanya yang kantuk enggan untuk menilik ponsel. Lalu ia memejamkan mata barang sejenak, menghilangkan yang harus di hilangkan.
Satu detik. Fais mengambil posisi ternyaman dalam mengarungi alam mimpi.
Tiga detik. Matanya sudah terasa berat sebentar lagi pandangan mulai memburam.
Lima detik. Fais sudah samar-samar mendengar suara.
Sepuluh detik. Matanya yang hampir tertutup sempurna menangkap bayang-bayang tangan. Kelihatannya masih seperti tangan manusia. Kukunya tidak panjang berwarna hitam. Warna kulitnya pun tidak pucat dan nampak terawat. Iya benar, itu memang tangan manusia. Hanya saja Fais berpikir, yang tak kasat mata bisa saja menjelma serupa manusia.
Fais yang nyaris tertidur segenap mengumpulkan kesadaran. Dia ingat kalau sebelum tidur harus baca do'a tidur terlebih dahulu. Mungkin detik ini dia harus membacanya agar tidak di ganggu makhluk halus. "Bismillahirrahmanirrahim..
"Aa"
Fais mendongak.
"Maya"
"Kamu kok bisa ada disini May? Memang siapa yang sakit?" Fais bertanya siapa sakit membuat Maya praktis menatapnya sendu. Tatapan Maya seakan sedang mengatakan: Kamu yang sedang sakit a.
"Maya kesini mau jenguk Mamah. Maaf ya a, Maya tau infonya telat. Sekalian Maya bawain makanan buat Aa sama Bapak."
__ADS_1
Fais membeku. Janjinya pada Maya untuk tidak merasa sendirian lagi, untuk selalu melibatkan Maya di dalamnya, terngiang-ngiang di kepalanya yang terasa pening. Apa yang harus dia katakan setelah ini?
"May, maafkan Aa yang nggak kasih tahu kamu. Aa bukan mau nutupin cuma Aa sekarang masih lelah aja dan belum siap. Aa masih berantakan May."
"Nggak apa-apa Aa. Maya ngerti kok. Aa nggak harus ngasih penjelasan buat di mengerti. Karena Maya berusaha untuk mengerti Aa di saat lelah kaya gini. Aa bertengkar lagi ya sama Bapak?"
"Kok kamu tau?"
"Mamah yang bilang"
Fais geming. Rupanya adegan dia mengomeli Papah terdengar oleh Mamah. Fais mengutarakan kekecewaannya entah sudah yang ke berapa. Bukan lagi soal Sasmhita, melainkan soal kebahagiaan orang yang telah melahirkannya ke dunia. Tidak bisa kah hanya cukup menyakitinya dengan pengkhianatan. Dan sekarang ini, Fais menuding Papah tidak becus dalam menjaga orang tersayang. Kira-kira seperti itulah gambaran yang terjadi sebelum Fais memutuskan untuk istirahat sejenak disini.
"Aa kalau mau lanjut istirahat, boleh Maya temenin?"
"Emangnya Maya mau pundaknya Aa jadiin sandaran?"
Kondisi Mamah kian membaik. Dan hari ini, Mamah sudah bisa menghirup udara rumah yang belakangan terasa lebih dingin. Kebersihannya masih terjaga. Segala aspek interior masih tidak banyak berubah secara keseluruhan. Sebelum ia tinggalkan untuk menginap di rumah sakit, dalam secuil ingatan Mamah masih ada sawang-sawang yang menyarang. Kini, rumah nampak lebih baik dari hari itu. Hari dimana ia terjatuh dari kursi pijakan yang ia naiki.
"Ngapain Bapak Masuk?" Suara Fais menjadi yang pertama menggema.
Papah terdiam cukup lama. Sampai akhirnya Papah berbicara untuk sebuah perijinan.
"Ijinkan Bapak untuk mengurus Mamah Nak"
"Fais bisa sendiri. Bapak nggak usah repot-repot jagain Mamah. Fais udah nggak bisa mempercayakan Mamah sama Bapak. Sekarang aja udah kaya gini, besok gimana lagi Pak?" Sungut Fais. Papah hanya bisa berdiam diri menerima segala kekecewaan anaknya.
__ADS_1
"Fais udah nggak bisa lagi satu atap sama Bapak. Sekarang mau pilih mana, Fais pergi sambil bawa Mamah apa Bapak yang pergi?" Demi apapun, Mamah tercengang luar biasa. Begitu juga dengan Papah. Sorot matanya yang lemah seakan mengiyakan apa yang di katakan Fais. Siapa juga yang mau terus-terusan berhadapan dengan pendusta sepertinya. Papah tersenyum getir.
"Bapak aja yang keluar dari sini nak. Tapi ijinkan Bapak memperhatikan kalian dari luar ya. Bapak mau ambil baju dulu" Papah terseok ke dalam kamar. Mengambil beberapa potong pakaian yang akan menemaninya pergi. Entah kemana, yang pasti berkelana. Sebab Papah tidak tau lagi dimana dia akan tinggal.
Suratan dari buah kesalahan berulang sudah ia terima. Hilangnya kepercayaan orang tersayang adalah hukuman terberat yang ia jalani. Apa mau di kata, nasi sudah menjadi bubur. Kesempatan yang telah diberikan Fais sudah hilang sepenuhnya. Dengan sia-sia. Meskipun jauh dalam titik hati Papah yang terdalam, andai saja ia diberikan kesempatan untuk menjelaskan pada Fais. Andai saja anaknya membuka amplop yang dia berikan. Andai saja itu terjadi, Papah akan merasa lega ketika harus keluar dari rumah ini.
Papah sudah kembali dari kamar membawa tas punggung yang tidak terlalu sesak isinya. Beliau mengusap kepala Mamah dengan lembut. Seraya berbisik lirih di telinga sang istri.
Kita cuma dipisahkan oleh atap. Nggak apa-apa, Abang masih bisa jagain kamu sama anak kita dari sana. Papah menunjuk arah dengan ekor matanya pada sebuah jendela.
Mamah mengangguk pelan.
Kemudian Papah pamit pergi. Meninggalkan rumah yang dimanapun ia tidak dapat menemukan seperti rumah tersebut. Papah melangkah menatap kakinya mengayun dengan gemetar. Papah juga menertawakan kalimatnya untuk bisa menjaga Mamah dan Fais. Menjaga apanya? Papah merasa hanya bisa menyakiti, menyakiti, dan menyakiti.
Papah tahu diri seiring langkahnya yang terus menjauh dari Fais dan Mamah.
.
.
.
.
Bersambung....
__ADS_1
Ada yang nangis dalam hati tapi bukan aku.