Tulisan Fais

Tulisan Fais
Healing


__ADS_3

Sejenak Fais berfikir hidup itu sempit karena hanya berputar pada circle masalah yang sama, teruntuk hari ini ia merasa dunia nggak sesempit itu. Di alun-alun Bekasi bawah langit sore, Fais bersama Maya menghabiskan waktu lebih apa adanya. Sama seperti Nabila, bersama Akmal Nabila lebih apa adanya.


Aroma asap sate yang lebih dulu memanggil-manggil Fais, kini betulan disambangi oleh mereka tanpa pikir panjang. Tidak seperti kebanyakan remaja laki-laki kebanyakan, jika sedang pedekate dengan gebetan maka suasana akan terasa canggung. Sampai-sampai perihal keputusan makanan apa yang mau disantap berujung terserah. Namun Fais dengan Maya seakan memiliki chemistry yang sama. Mereka tahu kemana arah akan membawanya tanpa banyak pertimbangan.


"Aa Fais, Maya mau beli minumnya dulu disana."


"Biar Aa aja yang beli, tapi tunggu sebentar ya." Mengetahui Maya ingin membeli minum sendiri, Fais tidak diam saja. Sebagai lelaki peka dia akan mengambil alih peran itu. Fais menyorongkan uang pecahan lima luluh ribu pada Abang tukang sate. Dengan dalih agar bisa di tinggal sebentar.


"Nggak apa-apa Maya aja. Aa beli makanannya, Maya yang beliin minumnya. Deal?" Kata Maya, membuat si Abang sate yang sedang menerima uang dari Fais nyengir sempurna alih-alih memberikan uang kembalian pada Fais. Dalam hatinya mengomentari Fais bahwa laki-laki itu sangat beruntung memiliki kekasih seperti Maya. Mau senang mau susah tetap di tanggung berdua.


"Ya sudah nih uangnya May" Fais menyorongkan lima puluh ribuan lagi pada Maya. Itu bukan uang yang ada di tangan Abang tukang sate tadi. Itu uang dari lembaran-lembaran lain yang ada di dalam dompet Fais. Kalau soal uang, dompet Fais tidak pernah kesepian.


"Gak usah a, Maya aja. Biar Maya yang bayar." Gadis itu tersenyum yang bisa menyamankan hati Fais. Senyumnya, tutur katanya, semuanya yang ada pada Maya Fais menyukainya tanpa debat.


Seiring punggung Maya pergi menghilang di balik hingar bingar keramaian, Fais duduk di tempat yang telah disediakan setiap pedagang. Ia mulai memasukan satu tusuk sate ke dalam mulutnya dengan mata yang enggan berkedip dari layar ponsel.


"Mas itu pacarnya ya?" Tanya Abang tukang sate.


"Bukan, cuma teman." Ya teman, memangnya Fais mau jawab apa lagi. Kenyataannya masih begitu.


Detik berikutnya Maya datang dengan membawa satu botol air mineral dan satu es jeruk. Fais mendongak pada Maya lalu melepaskan ponselnya ketika mereka sedang berdua.

__ADS_1


"Kok tau kalau Aa sukanya es jeruk?" Tanya Fais melihat Maya menaruh es jeruk dekat dengan piring satenya.


Lagi-lagi Maya tersenyum canggung. Ia sebenarnya tahu karena suka mencari tahu apa makanan favorit Fais, apa hobinya, semua tentang Fais Maya akan selalu cari tahu semua. Mana mungkin Maya jawab jujur seperti itu.


"Oh ya, Maya kaget pas Aa jemput Maya di tempat kursus. Maya nggak nyangka aja Aa Fais bisa tahu Maya kursus disini dan sampai jam pulangnya pun Aa tahu." Tutur Maya mengalihkan pembicaraan sambil ikut-ikutan Fais mencaplok sate miliknya.


"Tahu lah, perkara gampang itu mah. Cuma modal.." Dengan senyum pongah. Fais menggantung kalimatnya dengan semena-mena. Hingga Maya menggaruk pipinya yang tidak gatal demi mengusir rikuh.


"Modal apa?" Akhirnya Maya bertanya karena Fais urung melanjutkan kalimat dan malah memandangi wajah Maya lekat-lekat. Tahu sendiri kan, kalau pembicaraan setengah-setengah tidak tuntas, penasarannya bukan main.


"Modal sayang." Kata Fais. Setelahnya ia tergelak kecil melanjutkan makannya yang entah kenapa rasa satenya terasa lebih nikmat dibanding suapan pertamanya saat Maya tak ada.


Dengan begitu saja Maya hampir tersedak air ludahnya sendiri.


"Kacang kuaci permen."


"Mau kacang, mau kuaci, mau permen" Fais menyahut. Sayangnya Ia tidak membalikkan badan. Melihat Maya mengulum tawa, sontak membuat pikiran Fais mendadak kosong.


"Ahahaha.." Akmal tertawa meriah. Cengiran giginya begitu rapih dan putih. Sampai-sampai Fais yang teramat gengsi, ingin menanyakan perawatan gigi apa yang sedang Akmal jalani? Apakah Akmal sikat gigi menggunakan serpihan genteng seperti cara orang jaman dahulu? tidak mungkin. Genteng bekas di rumah Akmal tidak akan dihaluskan karena masih terpakai untuk eksekusi pepes oncom.


Lupakan pepes oncom. Kita bahas soal kekagetan Fais. Saat ini jantung laki-laki bernama Fais Mahda Wardana seperti alunan musik drumband. "Eh lu! gua kira mamang cangcimen beneran." Katanya, agak Keki saat Fais mengatakan itu.

__ADS_1


"Ya salam, sedih gua is. Temen punya satu-satunya udah nggak ngenalin suara gua yang merdu ini. Padahal saban ari gua nyanyiin lagu buat lu terus. Mau galau mau senang, gua selalu bernyanyi untukmu is."


"CEILEEH UNTUK MU.." Ini masih suara Akmal. Habis berbicara panjang lebar Akmal terkikik sendiri.


"Eh iya ya, yang gimana lagunya kalau gua galau?" Tanya Fais. Anak itu pastinya tidak mudah melepaskan Akmal begitu saja setelah apa yang diperbuat padanya.


"Kalau ada makanan di meja, mejanya yang ku makan. Teroret..teroret.." Tidak hanya bernyanyi, Akmal membubuhi gaya tengiknya dengan goyangan lentur.


Fais dan Akmal tergelak. Jangan tanya bagaimana dengan Maya, Gadis itu sudah tertawa lepas sejak tadi. Sejak Fais tidak tahu cangcimen itu siapa. Percayalah, tawa Maya tidak akan hilang satu hari satu malam.


"Terus..terus.. kalau gua lagi senang gimana?"


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2