
Disini, di tempat awal kisah hubungan Fais dan Nabila berdebut tanpa kejelasan. Jika awal kisah mereka berbicara empat mata di sebuah meja kantin bawah pohon belimbing, lain halnya dengan akhir. Mereka berdua duduk di sebuah bangku panjang tepat di bawah naungan pohon Trembesi.
"Nabila, Kak Fais bawain brownies lumer kesukaan kamu. Tapi maaf, ini gak seluruhnya coklat pakai choco chips karena separuhnya rasa matcha. Padahal Kakak pesennya full coklat." Fais mengeluarkan isi kantung makanan dan minuman yang telah ia persiapkan.
"Nih Kakak juga beliin Minuman rasa Taro dan juga.. Maaf kado ulang tahun Nabila terlambat." Sekotak kado dengan pita bermerah muda di berikan Fais dengan sangat terlambat. Nabila mengambilnya, sebagai wujud menghargai pemberian orang lain.
"Nabila mau makan ini sekarang nggak? Nanti yang sebelahnya rasa Matcha Kakak yang makan. Kalau mau nanti Kak Fais-"
"Nabila mau peluk Kak Fais dulu sebelum makan."
Fais berhenti bergerak saat Nabila melingkarkan tangan di pinggang lalu menenggelamkan wajahnya di dada. Dengan perasaan tidak menentu, Fais membiarkan semua ini terjadi mengikuti arus.
Sepuluh menit berlalu tanpa bersuara, Nabila melepaskan pelukannya lalu beralih menatap pada bronies lumer di tangan Fais. "Kak, aku mau makan itu."
"Yasudah, Kak Fais suapin ya"
"Tidak usah Kak." Nabila mengambil alih brownies yang nyaris terkeruk sendok di genggaman Fais. Sikap Nabila sudah menunjukan perbedaan dari sebelum-sebelumnya. Yang semula Nabila akan kegirangan saat Fais memberi perhatian kecil, kini sudah tidak lagi seperti itu. Seakan tertahan oleh segenap rasa.
__ADS_1
Nabila gamang mengunyah suapan pertama, meresapi manisnya coklat bertabur choco chips penuh kehambaran. Gadis itu biasanya akan antusias saat coklat melted di sela-sela lidah. Seperti pembawa acara televisi kuliner, memejamkan mata sembari mengucap 'emmm' sebagai deskripsi rasa begitu yummy.
Kali ini, tidak demikian.
"Nabila tahu nggak, kalau brownies lumer ini memiliki filosofi?"
Nabila menggeleng. Kalimat Fais barusan lumayan cukup menyita perhatiannya. Sampai pada coklat di ujung bibir Nabila yang memang harus di bersihkan dari sana, menjadi tanda selanjutnya untuk memperkuat kalau Nabila yang sekarang bukan Nabila yang dulu.
Tangan Fais memang tidak tertepis secara fisik oleh Nabila. Namun tersingkir, oleh intuisi gadis tersebut yang menghapus noda coklat di bibirnya sendiri secara tiba-tiba.
Fais mengerti.
"Rasa itu beragam, dari rasa saling suka sebagaima mestinya laki-laki dengan perempuan. Bisa juga rasa seperti kasih sayang antara anak dan orangtua. Dan juga rasa-kasih sayang antara saudara seperti kakak adik misalnya."
"Kalau si penikmat brownies itu suka, si brownies tersebut bisa apa Kak selain ikhlas dirinya habis termakan untuk menyenangkan orang tersebut?" Tanya Nabila. Gadis ini sebelas dua belas dengan Fais. Pandai merangkai sebuah stigma yang terbalut indah dalam rangkaian kata. Meskipun isinya tentang rasa sakit, di tangan orang seperti ini akan bisa terdengar menarik.
"Dan kalau rasa yang memang bersifat positif, kenapa gak bisa untuk terus-menerus di pupuk?" Lanjut Nabila. Gadis itu menenggak minuman Taronya hingga tandas separuh.
__ADS_1
"Kalau Browniesnya terbalut ada dua jenis rasa dalam satu wadah, dan sebagiannya si penikmat tidak suka, maka si penikmat akan bisa memakan separuh yang di sukainya aja." Fais menjawab. Ia mencoba mengarahkan pembicaraan pada titik point terpenting.
"Seperti Matcha ini, hanya Kakak yang bisa menghabiskan karena kamu.."
"Iya Kak, karena aku tidak bisa memakan sebagian itu sampai kapan pun. Tapi yang jadi pertanyaan kenapa harus ada dua rasa di atas Brownies ini?"
"Kak Fais juga tidak tahu Nabila, sumpah Kakak itu pesennya coklat semua, tapi kenyataan berkata lain. Kalau Tuhan berkehendak kita bisa apa? Nabila, kamu harus yakin bahwa ada Brownies lain yang akan sesuai denganmu. Seluruhnya toping coklat semua dan juga ukuranya pas."
"Karena ketika ukurannya pas dan sesuai dengan kebutuhan kita, maka rasa manis itu bisa dinikmati seutuhnya." Cara berpisah seperti ini memang serba salah. Mau di ibaratkan bagai lembah dan gunung, atau takdir Tuhan sekalipun, tetap saja berpisah karena cinta bertepuk sebelah tangan tetap terasa menyakitkan.
Mau Fais berbicara dengan cara manis seperti apapun, tidak lantas mencegah air mata Nabila mengalir membasahi bulu mata lentiknya. Perlahan isakan tangis mulai terdengar alih-alih suara pembelaan Nabila atas keinginan Fais untuk mengubah status pacaran menjadi teman.
Fais diam. Kalau urusannya dengan air mata perempuan, laki-laki itu sudah tidak bisa mengeluarkan sepatah katapun lagi. Hanya usapan lembut di kepala Nabila yang bisa Fais lakukan. Dan amit-amitnya, usapan tangan itu- terasa begitu menenangkan Nabila.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung....