
Nabila sudah pegal menunggu Fais kembali dari toilet. Laki-laki itu pamit pada Nabila untuk buang air, bukan untuk mandi dengan bebek-bebekan. Tapi lamanya minta ampun. Mengalahkan kempompong berubah menjadi kupu-kupu.
Lalu pikiran Nabila terkoneksi pada pembicaraannya dengan Akmal kemarin. "Kak, jawab pertanyaan Nabila sebenarnya Kak Fais lagi kenapa sih? Jujur gak pakai bohong. Nabila ngerasa Kak Fais kaya ngehindar gitu."
"Sebenarnya ini bukan ranah saya, tapi saya juga tidak kuat kalau harus menahan kelitik begini sama Nabila. Iya kakak Faismu itu hanya menganggap Nabila sebagai adik."
Bodo amat ah gua bocorin rahasia si Fais. Daripada gua ngompol dimarih.
Nabila terhenyak. Matanya sudah membendung sebentar lagi akan tumpah ruah airnya. Akmal jelas panik, lalu dia menyela tiba-tiba dengan gerakan rusuh. "Nabila, maksudnya tuh begini.. emm apa ya." Bukannya bicara dengan jelas, Akmal malah garuk-garuk shelangkangan. Akmal bukanlah tipe orang yang suka bersilat lidah. Dia selalu Jujur apa adanya walaupun jujur kadang menyakitkan.
"Karena suka sama seseorang ya kak?" Nabila bertanya. Dengan kalimat ini saja Nabila terisak perih. Air matanya mengalir deras seperti hujan menerpa genting bocor.
"Kata siapa?" Akmal teringat Maya. Tapi darimanakah Nabila tahu jika Fais si pemilik hati itu sendiri tidak yakin betul akan perasaannya dengan perempuan itu. Akmal pusing tujuh keliling.
"Nabila lihat ayang Fais main ke rumah Maya..." Kata Nabila sembari sesegukan parah. Semakin kencang tangisan Nabila, Akmal berusaha keras mendiamkan gadis itu layaknya anak TK. Akmal sangat payah menghadapi persoalan wanita.
Nabila sesungguhnya ingin ketawa saat di sela tangisnya Akmal bertingkah seperti badut. Laki-laki itu bahkan tidak segan menyodorkan sapu tangan motif kotak-kotak pada Nabila. Yang malah membuat gadis itu bimbang antara melanjutkan tangisan atau tertawa terbahak-bahak.
"Ini lap dulu air matanya Nabila. Pakai slampe Kakak Akmal. Masih bersih kok." Ujar Akmal bersungguh-sungguh tanpa ada raut bercanda sedikit pun.
What's this is? OMG Mamaaaaa... Pengen ketawa sambil nangis. Batin Nabila.
Memikirkan kejadian waktu itu tak terasa mengukir senyum di bibir mungil Nabila. Gadis itu seakan-akan lupa kalau hatinya lagi sakit, kalau sekarang dia juga menunggu Fais di depan toilet tanpa kabar. Semuanya mendadak lupa karena terbayang Akmal.
Nabila mengenyahkan pikiran tentang Akmal, lalu fokus pada perasaan disergap sesuatu yang tidak enak. Seumur-umur Nabila belum pernah menemukan manusia buang air hampir satu jam lamanya. Ada dua kemungkinan yang terjadi menurut kacamata Nabila. Fais pingsan di dalam atau Fais sebenarnya melarikan diri.
__ADS_1
Kekalutan semakin tebal saat pikiran jelek terus mencekok hati nurani. Nabila ingin sekali menggedor pintu toilet pria namun harus ia kubur dalam-dalam sebab wanita tak pantas menerobos masuk kesana.
Gadis itu menengok jam, waktu menunjukan dua menit lagi mencapai satu jam penuh. Nabila berdecak, tidak lama Fais betulan keluar dari pintu sana.
"Nabila ngapain disini? Ngintip?" Kata Fais sembari sibuk memakai jam tangan. Cuma gerak pakai jam tangan saja Fais terlihat tampan paripurna.
"Nabila cuma mau ngecek Kak Fais. Takut kenapa-kenapa di dalam, soalnya lama banget."
"Hehe maaf ya dedek Nabila, Kakak kalau boker emang suka gak tau diri. Ayo sekarang kita cus berangkat." Seru Fais sembari menggandeng tangan Nabila.
"Stop Nabila." Sanggah Fais ketika mereka berjalan baru dua langkah. " Ada apa Kak?" Alih-alih menjawab, Fais hanya diam dengan berjongkok di hadapan Nabila. Ia membetulkan tali sepatu yang terburai milik perempuan berstatus pacarnya tersebut.
"Kak, biar Nabila aja."
Bangsyatt bukan.
Di satu sisi Fais ingin mengakhiri hubungan rumit ini. Namun ketika berhadapan dengan Nabila, tak jarang Fais memberi perhatian lebih layaknya Nabila sosok yang teramat spesial.
"Kak, terimakasih ya. Nabila pengen kaya gini terus."
Nabila bahkan tidak mau hari ini terlewati begitu cepat. Karena kalau kita berpisah di penghujung cerita, Kakak akan menghilang lagi dan sibuk bersama Maya. Lalu Kakak biarkan kesepian ini di temani Kak Akmal.
"Tidak usah berterimakasih, kan Nabila dedek kesayangan Kakak."
Yang sempat terbang tinggi tadi terhempas jatuh menabrak segala kemungkinan-kemungkinan yang ada.
__ADS_1
............
Di arena permainan ATV kini Fais dan Nabila berada.
Fais tampak tenang seperti tidak ada masalah yang disembunyikan sedikit pun. Nabila tahu, hari ini Fais ada janji dengan Maya. Tapi fakta tidak menunjukan sesuatu yang di khawatirkan, tidak ada kegelisahan pada air muka Fais, malah terkesan begitu menikmati kebersamaan bersama dirinya.
Pada kesempatan Nabila berkeliling satu putaran. Fais memeriksa pesan masuk dari Akmal.
"Is lu kan ada janji sama Maya sekarang. Tapi malah gua yang suruh nemuin. Mau lu apa si? gua sikat juga lu.."
"Sikat aja Mal, pesona gua gak bakal hilang cuma disikat pakai sabun colek mah. Dah lu tenang aja, ikutin aturan main gua. Lu sahabat gua kan?
.
.
.
Bersambung....
Btw...ini waktu Akmal kasih sapu tangan buat lap air mata Nabila.
Jangan lupa bahagia.
__ADS_1