Tulisan Fais

Tulisan Fais
Patah hati


__ADS_3

Pemuda, yang tentunya masih muda jiwanya sesuai dengan kata 'pemuda', malam pergantian tahun hanya manusia bernama Fais dan Akmal yang menghabiskan waktu bermain ular tangga di dalam kamar.


Hingar bingar bunyi kembang api menembaki langit, urung membuat dua bocah tengil teralihkan dari perseteruan sengitnya. Dua kotak lagi Fais menuju kemenangan. Namun yang terjadi justru naik turun naik turun seperti hidup yang tidak akan ketebak kedepannya seperti apa.


"Is lu nggak mau liat kembang api? Keluar sebentar nyok?"


"Lu mau liat? Ayo gua anter kalo lu takut."


Fais membereskan mainan mereka. Ya, mainan yang terdiri dari kertas persegi empat dan juga dua buah dadu dengan ember kecil. Mereka menggunakan ular tangga bersejarah, yang mereka mainkan saat masih imut-imut jaman gigi masih ompong dan reges.


Setelah sudah beres, Fais dan Akmal mengenakan switer masing-masing karena di luar udara terlalu dingin bagi seorang anak yang sedang kehilangan kehangatan. Saat hendak melangkah mantap untuk keluar, lampu notif khusus memonitor Papah menyala.


"Ayo is"


"Tar dulu Mal, gua ngecek sesuatu dulu."


Fais terpaku pada tempatnya dimana Akmal ikut-ikutan mematung di belakang Fais. Akmal sudah penasaran apakah yang sedang di kerjakan oleh Fais sampai mereka berdiri hingga 20 menit lamanya tanpa melakukan apapun.


"Is, hp lu banyak banget ternyata. Buat pacaran ya? Yang ini buat Nabila, yang itu buat Maya, yang sebelah sono Bua siapa? Nah yang lagi di pegang lu buat siapa?"


"Buat Sasmhita"


"Sasmhita? Istrinya Badrun? Lah kok lu malah saingan sama Bapak lu sih. Sadar is sadar, dia gak pantes buat lu."


"Emangnya kenapa?"


"Bujug dah, lu masih bertanya-tanya kenapa? Heh makan apa sih lu hari ini?"

__ADS_1


"Mal, tau gak? kemaren-kemaren gua chat dia. Gua wa begini : hai cantik, boleh kenalan gak?" Satu menit, dua menit, tiga menit, lantas Fais berhenti bercerita di saat Akmal menyimak ceritanya sambil mangap-mangap.


Bikin keki bukan? Tapi yang lebih membagongkan lagi, alih-alih meneruskan cerita, Fais malah senyam-senyum gak jelas. Kaya orang kasmaran tapi bukan. Lebih mirip orang kesurupan.


"Is" panggil Akmal.


"Hemm"


"Terusin ceritanya!"


"Oh lu nungguin ya?"


Sabar Mal sabar. Akmal menarik nafas dalam lalu membuang kembali bersamaan dengan ampasnya. Rasanya meredam emosi itu bagai bara api tersiram air langsung bressss.. memang hilang merah terang menyala dan berubah menghitam arang. Tapi proses siramnya itu ada abu yang beterbangan.


Fais melanjutkan cerita kembali.


"Pas gua chat kaya gitu dia bales 'boleh kok, emang ini siapa ya?' abis itu gak gua bales Mal, tiba-tiba perut gua mual banget."


"Dan lu tau gak, dia terus-terusan wa gua nanyain gua siapa. Yah jadilah gua ngaku kalau gua itu Akmal si duda keren punya Empang dimana-mana."


"Kenapa gua jadi korban lu mulu sih ya. Heran gua." Kata Akmal. Meskipun meringis, Akmal sejujurnya tidak marah pada Fais sedikitpun.


"Hehe minjem nama bentar, ah elah pelit banget."


"Terus-terus?" Akmal semakin penasaran dengan cerita Fais.


"Sejak gua bilang kaya begitu, gua diperhatiin terus sama dia anjjir. Sampai dia ngaku ke gua kalau dia itu janda. Parah gak?"

__ADS_1


"Ih gila, parah banget itu mah. Badrun di kemanain woy.."


"Itu fungsi hp di ujung sana. Nah kalau hp yang gua pegang fungsinya sebagai monitor. Liat nih!"


"Idih, tanggung jawab apaan. Is gua gatel banget pengen ngomelin dia ini." Akmal tak habis pikir dan terus mengumpati Sasmhita dengan sebutan yang enak di lidah namun tidak enak di telinga.


"Sabar Mal, sabar. Masih stay kalem. soalnya bapak gua masih gak ngerespon."


Kata "masih" pada kalimat Fais mengandung makna 'sejauh ini belum'. Fais sendiri tidak tahu Bapaknya akan tergoda lagi atau tidak di lain kesempatan. Mengingat Papah sudah mengingkari janji antara Bapak dan anak tanpa ragu-ragu.


Tiba-tiba di tengah keseruan mereka, suara mobil Papah terdengar mendekati halaman. Papah pulang dengan air muka yang sulit di tebak.


"Is bapak lu kayanya pusing banget ya?"


"Abis gua kirimin chat yang gua ceritain tadi. Tau dah bapak gua percaya apa nggak? Apa malah kaya si Badrun. Gak terima dan malah memusuhi gua sebagai anaknya."


"Menurut gua sih, gak ada istilah orang tua benci sama anaknya. Begitu juga sebaliknya is. Mungkin kalau kecewa iya, tapi gua yakin kecewa dalam hubungan anak -bapak itu bukan dalam bentuk benci apalagi dendam. Bapak lu tuh cuma butuh waktu sama pendekatan dari orang-orang tersayang. Biar dia salah jalannya gak terlalu jauh. Kalau bisa muter balik ke arah yang benar"


"Keluarga gua dulu kurang deket kaya gimana Mal antara satu sama lain. Lu tau sendiri kan keluarga gua kalau ngumpul udah kaya lenong. Kata orang, Bapak itu adalah cinta pertama buat anak perempuannya. Tapi buat gua seorang anak laki-laki, Bapak itu adalah patah hati pertama yang paling curam."


Akmal diam. Lalu Fais tenggelam dalam pikirannya yang kalut. Anak itu tidak tahu persis dirinya akan mampu muncul kembali ke permukaan atau tidak. Yang pasti Fais sudah bulat mengorbankan waktu kuliah reguler menjadi kelas karyawan. Nanti. Saat dia resmi di terima bekerja di salah satu perusahaan.


Fais sudah mulai sadar, letak harga diri laki-laki ada pada tanggung jawabnya. Bukan cuma persoalan ganteng dan anak siapa, tapi lebih ke bagaimana seorang laki-laki dapat di andalkan untuk menjaga.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2