
"Oh jadi begitu ceritanya Mal. Malah gua baru tahu kalau lu udah pacaran sama Nabila. Selamat ya, semoga hubungan lu langgeng sampai nikah nanti."
"Aamiin. Maaf ya is, gua malah jadian sama mantan lu nih."
"Ga pa-pa. Gak usah jadi beban pikiran toh guanya juga biasa aja. Gua kan dari awal emang nggak ada perasaan lebih ke dia selain menganggap dia hanya teman dan adik manis yang harus di jaga." Dengan enteng Fais menuturkan kejadian masa lalunya dengan Nabila. Bersamaan dengan itu pula, hati Akmal merasa tercubit.
"Tapi kenapa dari awal lu iyain aja pas dia nembak?"
"Kasihan atuh kalau di tolak. Lagian gua nggak bilang iya, tapi bilangnya jalanin aja." Begitu jawabnya.
"Bujug dah, sama aja Malih. Dan lu tau nggak gegara keputusan lu ntu Nabila hatinya jadi baret-baret." Kata Akmal dengan salah satu tangannya menyentil ulat bulu yang lewat dengan sebatang lidi.
"Ya bagus. Karena baret-baret itu lu kan bisa jadi Betadine nya dia. Sampai sekarang lu bisa jadian gini. Cie Akmal udah punya cewek. Hehe."
"Is"
"Apa?"
"Gua sayang Nabila." Lirih Akmal, yang di respon dengan senyum terbaik milik Fais Mahda Wardana. Sorot matanya mengatakan kalau Fais betulan senang melihat Akmal bahagia. Ya begitulah mereka. Akan selalu bahagia ketika salah satunya mendapat apa yang mereka inginkan. Untung Nabila yang Akmal inginkan, coba kalau Maya, bisa jadi lain cerita.
"AKMAL... BELIIN EMAK KEMIRI."
"IYA MAK"
"Is, gua menjalankan perintah emak gua dulu ya? Lu mau gua beliin apa mumpung gua mau ke warung?"
"Beliin kuaci satu pack. Gua numpang rebahan bentar di kamar lu."
"Ok siap"
.............
Aroma goreng ikan kembung menguar hingga ke setiap penjuru rumah. Rencananya, emak akan membuat menu ikan tersebut dengan bumbu kuning. Lalu emak akan menambahkan menu pendamping sambal terasi yang berkolaborasi dengan lalapan daun pepaya.
Alhasil, setelah Akmal kembali dari warung dengan nafas terengah, emak harus menerima kenyataan bahwa Akmal kembali bukan sedang membawa kemiri yang di pesannya. Anak itu membawa minyak goreng berukuran seperempat kilo.
"Mal, Emak nyuruh elu beli kemiri. Soalnya nanggung banget mau bikin bumbu kemirinya habis. Eh elu pulang malah beli minyak. Minyak mah banyak noh, mau minyakin pala elu juga licin segitu mah."
"Astaghfirullah, iya ya Mak. Maaf Mak, Akmal balik lagi dah."
Di balik pintu kamar Akmal, Fais senyam-senyum sendiri dengan ponsel yang tak hentinya Ia mainkan di sepanjang rebahan. Sesekali Ia melirik ke arah Akmal yang sedang di ceramahi sang Ibu karena membeli barang tidak sesuai dengan harapan.
Fais menggelengkan kepalanya pelan. Sampai akhirnya Ia tergelak kecil lalu senyam-senyum lagi sendirian di dalam kamar Akmal. Fais tak ubahnya orang yang sedang kasmaran level akut. Atau justru mengarah pada kehilangan batas kewarasan. Menilik isi ponselnya, pemuda itu sedang berkirim pesan dengan kontak bernama "May❤️"
May❤️
"Aa lagi apa nih? Maaf a, semalam Maya ketiduran pas Aa telepon."
__ADS_1
Fais
"Gak pa-pa May santai aja. Aa lagi di rumah Akmal, lagi bantuin dia soal matematika."
May❤️
"Oh bagus tuh. Jadi pengen di ajarin matematika juga sama Aa. Berarti Aa bisa aljabar?"
Fais
Bisa. Nanti kalau ke rumah Aa ajarin yang nggak ngerti sampai jadi paham. Kalau boleh tahu, dari mata pelajaran matematika, bagian mana yang Maya udah bisa?"
May❤️
"Pertambahan, perkalian, pengurangan sama pembagian. Yang dasar-dasar aja Maya mah a. Kalau soal cerita, Maya ingat yang rumus soal jarak yang di tempuh dari kota A ke kota B dengan kecepatan 100km gitu."
Fais
"Boleh Aa kasih soal cerita sama Maya? Jawab sebisanya aja. Kalaupun nggak bisa jangan di paksain. Biar Aa yang kasih penjelasan secara gamblang pas Aa ke rumah Maya nanti. Lumayan kan. Bisa ngasah otak kembali biar nggak sawangan."
May❤️: sedang mengetik...
"Is nih kuacinya."
Akmal datang setelah pintu berderik terbuka. Satu pack kuaci yang Ia disodorkan segera di raih Fais dalam gerakan yang cepat. Nafasnya terengah-engah seolah Akmal habis berolahraga lari keliling kampung. Ia menjatuhkan dirinya tepat disamping Fais hingga menimpa ponsel yang sedang di tunggu-tunggu barangkali ada notif pesan yang masuk.
"EH, HP GUA TUH!" dengan rusuh Fais menyelamatkan benda tersebut dari kemungkin yang bisa terjadi. Dari keretakan, kerusakan, atau dari bokong bau kentut.
Fais tidak menanggapi. Ia menatap lekat layar ponselnya dimana berandanya terpampang balasan notif pesan dari May❤️. Otomatis, Fais jadi senyam-senyum lagi.
May❤️
"Boleh a. Kebetulan Maya udah siapin kertas sama pulpen nih buat ngitung."
Fais
"Baiklah. Pertama Aa mau jelasin sedikit. Dalam matematika dasar, kecepatan merupakan suatu besaran yang menyatakan jarak yang di tempuh suatu benda per satuan waktu tertentu. Jarak adalah ukuran yang menyatakan jauh dekatnya suatu benda bergerak. Sedangkan waktu adalah ukuran yang menyatakan cepat lamanya pergerakan. Satuan internasional kecepatan adalah meter/detik. Secara umum, kecepatan juga menggunakan satuan km/jam.
Secara matematis, hubungan jarak, kecepatan, dan waktu di nyatakan oleh:
V\=s/t
V\=kecepatan/Velocity (m/s)
S\=jarak/space (m)
T\=waktu/time (s)
__ADS_1
Soalnya: Aa Fais berjalan kaki dengan kecepatan rata-rata 2m/detik. Setelah 30 hari lamanya, berapakah jarak yang harus di tempuh kita untuk menuju pelaminan?"
May❤️: sedang mengetik....
Akmal yang sedang mengupas cangkang kuaci untuk camilan Fais, praktis menoleh pada pemuda yang yang sedang di mabuk HP. Akmal menghentikan kontribusinya dalam mengupas kuaci untuk Fais. Hingga pemuda yang senyam-senyum tersebut sadar bahwa tidak ada butiran lagi untuk di suap ke dalam mulutnya.
"Kok berhenti?" Fais protes pada Akmal.
"Gua ngeri is sama lu. Dari tadi gua perhatiin lu cengengesan sendiri. Ari maneh teh kunaon is?"
Fais melepas ponselnya ke sembarang arah. Ia memutar tubuhnya menghadap Akmal lalu berbicara tanpa menghilangkan jejak senyum di sudut bibirnya. Katanya :
"Lu kenapa tadi sampai salah beli? Harusnya lu kan beli kemiri malah beli minyak. Lu tau nggak kemiri sama minyak beda jauh anjiir.." Fais tergelak. "Kalau kemiri sama terasi masih bisa lah ya, sama-sama akhirannya i." Fais melanjutkan gelak tawanya kembali. Lebih parah dan lebih congkak.
"Yaaah, gua tanya apa jawabnya apa. Dasar pengalihan lu is. Tadi tuh di warung gua lihat Sasmhita. Makanya gua jadi keder."
"Apa hubungannya?"
"Gua lihat dia sama Bapak-bapak lain. Yang pastinya bukan Bapak lu is. Kalau menurut gua mah, Bapak lu emang bener-bener udah sadar dan di antara mereka udah nggak ada apa-apa dah"
Air muka Fais berubah. Semula ceria menjadi mendung berawan kelabu.
"Lu se yakin itu? gua aja yang anaknya kurang percaya."
.
.
.
.
Bersambung....
Ini ekspresi Fais kalau lagi ada notif pesan masuk
Ini kalau notif pesannya bukan dari Maya
.
.
.
__ADS_1
.
.