Tulisan Fais

Tulisan Fais
Bertemu pelaku


__ADS_3

Kepulangan Fais di sambut hangat oleh kedua orang tuanya. Fais tidak suka kebohongan. Dia juga tidak suka dikerjai. Melihat adanya semangka teronggok di meja yang ikut menyapanya, anak itu menghela nafas dalam-dalam seperti mau meracau begitu panjang.


"Ini Papah yang beli is. Dan Mamah juga gak tahu karena ini inisiatif Papah"


Bu Imah tahu anaknya sedang salah paham. Sebelum Fais melayangkan protes kenapa, atau bisa juga menuduh, lebih baik wanita yang kerap di sapa Mpok Imah itu memberi penjelasan duluan.


Mulut yang sudah mengambil ancang-ancang kembali menutup rapat. Fais hanya diam dan Si Papah melempar senyum padanya. Lalu tanpa pemberitahuan, Ayah Fais merengkuh putranya. Seperti dulu sebelum negara ponsel menyerang.


Anak aja dulu, baru HP. Pedoman ini betulan Papah terapkan malam ini.


"Is kita makan bareng yuk."


"Ayooo.." Fais, remaja tangggung itu mendadak bersemangat seolah kesedihan yang menerpa telah sirna di gondol kucing.


"Nanti habis makan kita ke rumah Pak RT, di undang Walimatussafar."


Mendengar begitu saja, ada yang mendesir di hati Fais. Sudah lama ia mendambakan bepergian dengan sang ayah. Lama dan jarang akan menimbulkan kerinduan. Sebentar dan sering akan menimbulkan kebiasaan. Dan kebiasaan dapat menimbulkan nyaman.


Kalau saat kecil di moment jalan berdua seperti ini Fais bergelayut manja di lengan. Sekarang sudah besar tentu dia tidak bisa seperti itu. Memang tidak ada yang melarang, sikap kedewasaan lah yang menahan. Tapi melihat kain sarung menjuntai di baling punggung Papah, Fais tidak tahan untuk tidak memainkannya.


Jadilah Fais mundur beberapa langkah hanya untuk mengambil posisi. Dia pegang sarung menjuntai yang bertumpu di leher Ayahnya. Fais terkekeh geli manakala ia seperti sedang mengambil alih kemudi delman.


Sadar telah dipermainkan Fais, Ayahnya tersenyum jahat dulu sebelum mengeksekusi, barulah si bapak itu berbalik badan tiba-tiba sampai tatapan mereka bertemu.


"Hehehe" tawa Fais.


"Hehehe" giliran ini tawa Ayahnya, entah kenapa terdengar menyeramkan dari sekedar melihat pacar selingkuh.


Fais masih menunjukan barisan gigi yang rapi "Enak ya is?" Kata Ayahnya, menarik sarung guna mengikat bocah bertubuh ramping itu sehingga menyerupai Pak RT saat sedang mengangon kambing.

__ADS_1


"Papah lepaskan Fais, Papah mah gak cs ah. Nanti kalau ada cewek yang lihat jadi luntur ketampanan ini." Sumpah, rengekan anak Lanang ini malah membuat Ayahnya semakin gemas.


"Gak apa-apa tampan yang luntur. Yang gak boleh itu cinta yang luntur."


Cih bapak gua fuckboy juga nih, nurunin anaknya. Hehe


Senda gurau tak dapat terelakkan di antara anak dan bapak ini. Kalau tidak ada bapak-bapak tetangga yang lewat dan menangkap basah perseteruan menggelikan itu, sudah di pastikan mereka berdua tidak dapat menghadiri acara sebab tertinggal waktu.


"Akur banget bapak sama anak ini." Celetuk salah satu tetangga dan tanpa pakai ditanya lagi langsung ikut membantu si Papah menyarungi Fais sampai ke ubun-ubun.


Gelak tawa membahana. Di tambah Fais meraung-raung minta diselamatkan dengan cara yang manis. Semanis kucing Oren di marahi Fais. Gara-gara itu situasi semakin seru. Lalu tibalah penyelamat kemalaman.


"Acara udah selesai woi sudah tinggal bagi-bagi beseknya (kotak nasi). Ayo cepetan."


Pergumulan dua lawan satu terhenti seketika.


Berhubung air kemasan gelas sudah di tata rapi di pergelaran, orang-orang belum ada yang menyentuh, Fais beserta ayahnya dan juga tetangganya tadi yang ikut-ikutan menyerang menenggak tak malu-malu.


Tunggu, Fais menyadari ada yang aneh. Ia melirik Papahnya. Rupanya sang Ayah juga merasakan demikian. Sudah selesai? Lah mulai aja belum.


Pembawa berita hoax alias penyelamat Fais tadi cengar-cengir di ujung sana. Sengaja Menjaga jarak aman agar dirinya tidak menjadi korban selanjutnya di kuntel bersama sarung.


Acara pun di mulai.


Biasanya perjamuan di keluarkan saat akhir acara. Disini sudah mengeluarkan perjamuan terlebih dahulu bersamaan berlangsungnya acara. Fais tertegun dimana netranya menangkap bayangan semangka potong.


Sialnya itu bukan bayangan. Memang benar-benar nyata sebuah semangka.


......

__ADS_1


Di pagi hari yang di tunggu-tunggu Fais.


Semangka yang semalam ia beli, di letakkan di atas meja teras rumah sesuai perintah Bu Imah. Kemudian ibunya itu juga menyuruh Fais untuk menunggu disana sambil terus mengelap atau melakukan kegiatan apapun tanpa harus berjauhan dengan buah itu.


"Nah is, kalau sudah kaya gini tunggu aja. nanti kamu juga akan ngerti maksud Mamah selanjutnya." Begitu penuturan sang ibu. Fais benar-benar tidak mengerti apa maksudnya. Demi ibunda tercinta maka ia tetap lakukan.


Beberapa saat kemudian, bocah laki-laki yang kemarin disebut Bu Imah kembali lewat. Melirik ke arah Fais yang sedang mengelap semangkanya dengan heran.


Jalan bocah itu melambat dengan tangannya merambati pagar rumah Fais. Tampang melongonya menatap keheranan ke arah semangka dan juga pohonnya. Karena adegan itu cukup lama, membuat Fais tersadar akan kehadirannya. Fais juga tahu, dirinya telah diperhatikan oleh bocah itu.


Tunggu saja, nanti kamu juga akan ngerti maksud Mamah selanjutnya. Kalimat ini terlintas menyugar otak Fais sedikit lebih cerah. Fais yang sudah mulai mengerti segera memanggil sang bocah untuk menghampirinya.


"Eh bocil sini." Titah Fais dengan senyum lebar. Namun bocah itu masih tetap pada pendiriannya. Bahkan bingung kenapa dia di panggil. "Sini, gak usah takut. Saya mau bagi-bagi semangka hasil petikan." Lanjut Fais lagi.


Akhirnya, sang bocah pun menurut dan dia mencicipi semangka yang Fais belah. "Enak gak?"


"Enak kak, manisan ini di banding yang kemarin." Demi apapun anak itu keceplosan.


"Oh jadi ceritanya ngaku nih kalau kamu yang ngambil. Kenapa harus mencuri? Kan kalau kamu bilang saya bisa kasih."


Efek panik takut di marahi habis-habisan oleh Fais, bocah itu lari tunggang-langgang tanpa henti. Fais otomatis mengejarnya untuk alasan yang belum jelas. Tidak tahu kenapa naluri Fais menyuruhnya untuk mengejar.


Kejar-kejaran pun semakin sengit.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2