Tulisan Fais

Tulisan Fais
Fais mau bicara


__ADS_3

Selepas Maya pulang diantar oleh Fais, ruang tamu begitu hidup dengan cerita antara anak dan ibu. Jangan tanya bapaknya kemana, sudah pasti pamit lagi pergi demi perkomunitasan.


Anggota yang sakit lah, yang ulang tahun lah, pentas lah dan berbagai macam alasan atas dasar komunitas tersebut. Club PLOS namanya. Jika Fais yang menjabarkan maka bocah itu akan menyebutnya persatuan lelaki ora semenggah.


"Ngeri juga ya is, Mamah baru tahu kalau Sasmitha istrinya Badrun itu perempuan kaya begitu." Bu Imah tak habis pikir dengan cerita yang di dapat Fais. Entah mana yang bisa di percaya, semua ini masih dalam tahap perdiskusian Fais dengan ibunya.


"Iya Mah, menurut Mamah kita harus gimana?" Tanya Fais meminta pendapat tentang langkah apa yang akan dia ambil.


"Selagi Papah kesana gak sendirian, kita percaya sama Papah is. Suatu hubungan bisa di katakan harmonis kalau kita saling percaya."


"Lagian selama Mamah kenal sama Papah kamu, dia orangnya gak pernah neko-neko. Rasanya gak mungkin aja gitu is kalau Papah selingkuh, apalagi sama istri orang. Kalaupun Papah mau selingkuh kenapa gak sama janda? Kenapa juga gak lagi masih muda aja pas kamu masih kecil."


"Fais jadi kepikiran omongan istrinya pak Dayat." Alih-alih menanggapi pernyataan ibunya, Fais malah sesumbar. Dulu Fais yang meyakinkan ibunya untuk percaya, sekarang Fais yang ragu oleh fakta yang bermunculan.


Mereka tertawa getir, menertawakan diri sendiri kenapa tidak teguh pendirian terhadap kata percaya. Jujur, mereka ini sebenarnya sedang mencari jawaban atas pertanyaan yang mengerubungi kepala.


"Tapi kan kata kamu itu belum ada bukti yang nyata. Masalah cincin juga ternyata kado buat Mamah. Dan... Kumpul komunitas juga bareng sama yang lain, belum ada yang melihat Papah kamu sendirian kesana. Jadi belum ada yang dicurigai kan?" Bu Imah menjabarkan satu persatu yang telah terlewat. Ia beserta putranya termenung sejenak.


"HUTANG!" Serentak mereka mengatakan kata itu. Ibu dan anak ini benar-benar kompak.

__ADS_1


Saat mulut ini hendak melancarkan kalimat agar segera mengecek kondisi bengkel yang katanya mau di kembangkan hingga menimbulkan hutang, ada salam yang begitu menggema dari suara yang berat sampai harus mengagetkan Fais hingga lompat dari sofa sambil mengusap-usap dadanya.


Kaget gua! Ada bapake.


Baik Fais maupun Bu Imah, mereka menjawab salam dari pria yang bernama Marda alias ayahnya Fais.


"Kalian lagi merasa curiga dan gak percaya sama Papah ya?" Tanpa pemanasan Ayah Fais bertanya menohok, dari nada bicaranya sih lelaki itu tidak marah pada anak dan istrinya.


"Papah tumben baliknya cepat? Kalau lagi kumpul komuitas biasanya sampai jam sebelas malam." Bu Imah cengar-cengir mengatakannya, bisa buat mencairkan suasana, bisa juga untuk pengalihan perhatian. Sedangkan Fais masih diam terpaku karena sedang merasakan sensasi ketahuan pas lagi ngomongin orang.


"Papah bawa makanan kesukaan kalian nih. Ini buat Mamah, ini buat dede Fais." Ada tawa kecil lolos dari bibir Bu Imah mendengar kata Dede disematkan untuk panggilan Fais. Pasti anak itu merengek tidak suka.


"Wah, bagus juga pantunnya." Jawab Ayah Fais sekenanya.


"Itu bukan pantun, Bapakku." Timpal bocah yang bernama Fais dengan mode wajah yang pasrah.


Otomatis tawa pecah Bu Imah dan suaminya memenuhi ruang tamu. Sudah lama bagi Ayah Fais tidak menggoda anak laki-lakinya itu yang kini sudah beranjak dewasa.


Baru kemarin rasanya, ia di jadikan kuda oleh Fais kecil mengelilingi dapur sampai ruang tamu. Dan baru kemarin juga rasanya ia selalu mengajak Fais mengelilingi danau menaiki motor setiap menjelang buka puasa agar anak itu lupa akan rasa laparnya.

__ADS_1


Setiap malam tahun baru tiba, Ayah Fais tidak pernah absen mengajak Fais dan istrinya pergi ke jembatan layang melihat mobil berlalu lalang di bawahnya berkelap-kelip lampu. Cuma begitu saja, sudah bisa membuat Fais kecil melebarkan senyum.


Dulu, itu dulu saat Ayah Fais hanya memiliki sepeda motor usang dengan dompet yang pas-pasan.


Beberapa menit berlalu tanpa sia-sia karena mereka habiskan untuk menyantap makanan, Ayah Fais secara tiba-tiba menyodorkan ponselnya ke Fais dan juga sang istri.


"Ini hp Papah. Fais atau Mamah boleh periksa sampai tuntas. Jika ada keanehan tanyakan pada Papah, Papah pasti akan menjawabnya." Terang Ayah Fais di bubuhi senyum.


"Fais besok juga boleh main ke bengkel, lihat perkembangannya atau juga bisa tanyakan pada orang-orang disana." Tambah Ayah Fais lagi untuk meyakinkan.


"Pah, Fais mau bicara."


.


.


.


Bersambung....

__ADS_1


Note: karya ini hanya fiktif belaka, jika ada kesamaan nama, tempat, dll itu hanya kebetulan semata.


__ADS_2