
Matahari telah merangkak naik menguapkan embun. Waktu sudah menunjukan pukul sembilan pagi. Sampai saat ini, laki-laki bernama Fais masih betah bertandang di rumah Akmal. Sebelum di usir sang empunya rumah, Fais pantang untuk pulang.
"Kalau ada makanan di meja, mejanya yang ku makan. Teroret.. teroret.. kalau ada kopi yang disuguhkan, tak pernah engkau minum... Teroret.. teroret..🎶" bukan Akmal namanya kalau tidak ikut-ikutan yang viral, bukan Akmal juga namanya kalau apa-apa tanpa plesetan. Anak itu bergoyang syahdu, mengikuti alunan musik.
Lagu berjudul dua kursi yang dinyanyikan penyanyi ternama Rita Sugiarto, menceritakan tentang keresahan seorang perempuan yang tidak ingin diduakan. Dua kursi diibaratkan kedudukan posisi istri yang terancam bila suaminya terjerat wanita lain. Dapat disimpulkan. Lirik yang resah tak menyurutkan Akmal untuk bergoyang.
Seketika Akmal mendadak berhenti. Dia teringat sesuatu yang hilang, sesuatu yang selalu ada di saat dirinya bernyanyi dangdut. Kendangan Fais tidak tertangkap telinga.
Biasanya, kehebohan Akmal akan ditindaklanjuti Fais dengan kendangan blapak timplak blaem blaem milik Akmal yang ada di kolong meja belajar. Sekilas Akmal memeriksa di kolong sana, gendang masih teronggok rapi menatapnya dengan nanar.
Lah tumben.
Akmal lantas memeriksa eksistensi Fais. Anak itu sedang membaca buku dengan mata melanglang buana. Tangannya sibuk kebet-kebet halaman dengan cepat seolah dia sudah mengerti semua tulisan yang ada disana.
Fais tidak betulan membaca. Fais juga tidak benar-benar sepenuhnya melamun. Karena dia masih mendengar Akmal bernyanyi, lalu menggelengkan kepala disaat lirik pertama tidak benar yang kedua mendadak benar. Biasanya Akmal akan tidak benar sampai akhir lagu dinyanyikan.
"Is"
"Hemm"
"Lu kenapa? Lu udah janji sama gua mau cerita masalah lu." Akmal ikut duduk di samping Fais, diatas kasur kempis tanpa dipan.
Fais menghela nafas. Melirik sebentar Akmal lalu tersenyum culas. "Coba lu liat isi hp gua nih." Fais menyodorkan ponsel penuh dosa. Berisikan bukti pengkhianatan Ayahnya. Akmal menerimanya dengan gugup. Mungkinkah Fais di selingkuhi Nabila?
__ADS_1
Jika iya, mengapa Fais segalau ini. Mengingat hubungannya dengan Nabila biasa-biasa saja rasanya tidak mungkin. Bahkan bisa di bilang Fais setengah hati menjalani hubungan itu. Sebab separuhnya lagi, atensinya tercurahkan pada gadis bernama Maya.
Daripada berlama-lama menduga, Akmal segera membuka apa isi di dalam ponsel Fais. Pertama-tama dia kebingungan harus memeriksa apanya dulu. Jadilah dia mengomentari foto di layar beranda. Foto penampakan Fais sewaktu balita.
"Galeri. Periksa galerinya."
Suara serak Fais otomatis membungkam Akmal yang sudah mangap ingin mengatakan sesuatu. Akmal kembali mengotak-atik ponsel Fais dengan tujuan utama galeri.
Awal-awal masih nampak biasa. Lama kelamaan air muka Akmal berubah terkejut. Ia mendengus, kemudian setelahnya Akmal menatap Fais penuh tanda tanya.
"Is, sumpah gua gak nyangka. Gua gak nyangka bapak lu orang yang sayang keluarga, receh, dan romantis sama emak lu malah ternyata oh ternyata."
"Ya begitulah Mal. Namanya kehidupan, kita gak tahu kedepannya akan bagaimana. Air yang kelihatan tenang belum tentu dalamnya tenang. Bisa jadi ada pusaran air yang dapat menghanyutkan."
"Ini Sasmitha istrinya Badrun kan ya? Waduh gila banget sih emang ini orang. Soalnya terkenal suka godain para bapak-bapak buat jadi sumber duit dia. Secara kan Badrun itu- maaf ya bukannya gua ngomongin orang nih, tapi lu tau juga kan Badrun itu kesehariannya kaya gimana."
Akmal mendelik " tidurin?"
"Maksudnya gua tindih di bawah kasur, terus kasurnya gua tidurin sepanjang hari." Jelas Fais. Tanpa di jelaskan sebenarnya Akmal sudah paham. Namun Akmal sengaja membuat situasi tidak setegang tadi.
"Hehehe percaya dah tukang nulis novel mah. Oh iya, jadi pagi ini lu ke rumah gua, gua tebak lu lagi menghindar dari bapak lu ya?"
Hanya sebuah senyuman mewakilkan jawaban.
__ADS_1
"Lu tenang aja, gua sebentar lagi balik. Jam segini Bapak gua pasti sudah pergi ke kantornya." Fais bangkit meraih sisir milik Akmal di meja sana.
"Is, jangan kabur-kaburan gini. Jangan kabur dari rumah, jangan juga kabur dari Nabila." Terang Akmal. Akhir-akhir ini memang Akmal sering dihubungi Nabila yang mencari-cari kabar Fais.
"Emangnya kenapa? Coba sebutin alasan kenapa gua gak boleh kaya gini?"
"Pertama. Lu jangan kabur-kaburan dari rumah, emang lu gak kasihan sama emak lu yang belum tahu apa-apa? Gua yakin pasti emak lu belum tahu soal ini. Harusnya lu perbanyak berbincang sama emak lu, insting seorang ibu biasanya kuat. Pasti emak lu lagi bertanya-tanya dalam hati. Anakku kenapa ini ya."
"Yang kedua, lu jangan kabur-kaburan dari Nabila. Bukannya gua gak mau di ganggu sama dia lantaran terusan-terusan nanyain kabar lu is. Tapi gua cuma kasihan aja sama dia. Kejebak dalam hubungan yang menurut gua gak sehat."
Fais menyimak pembicaraan Akmal sembari menyisir rambut. Menatanya hingga rapi. Bukan hanya rambut yang harus di tata olehnya, hidupnya yang sedikit berantakan juga harus di tata. Hingga ia bisa menghadapi masalahnya sendiri. Bukan seperti ini.
"Lu harus bisa tegas. Bisa ambil keputusan. Jangan lu memutuskan buat pacaran sama Nabila tapi hati masih berkelana. Giliran orang sudah baper di kasih harapan dan gombalan, eh lu menjauh. Giliran orangnya udah frustasi lu tarik lagi dengan perhatian sampai melayang-layang."
"Kasihan tahu is." lanjut Akmal lagi. Penuh makna, penuh harap, suatu saat Fais tidak terus-terusan menjadi laki-laki tidak punya pilihan.
"Iya Mal, iya. Orang ganteng mah memang selalu salah." Jawab Fais dengan jiwa yang kalut.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...