
Waktu terus bergerak maju tanpa pernah mundur perlahan. Waktu tidak seperti beberapa anak muda jaman sekarang, melewati rintangan lantas memutuskan untuk mundur teratur. Waktu tidak pernah seperti itu. Sekusut apapun yang dilewatinya, ia akan terus melangkah tanpa henti.
Disini, meja persegi dekat pohon Belimbing area kampus menjadi saksi cukup lama antara perbincangan Fais dan Akmal. Obrolan dari hal yang absurd sampai yang betulan berat untuk di bahas. Seperti saat ini moment dimana mereka harus menyediakan waktu lebih untuk membahas persoalan berat. Mereka membahas soal "arah hidup".
"Masa sih gua harus kaya gitu?" Fais bertanya-tanya, namun bukan pertanyaan sungguhan yang harus di jawab.
"Itu kan umumnya di lakuin sama emak-emak. Kalaupun ditemenin anak, pasti sama anak perempuannya Mal." Lanjut Fais lagi.
"Iya is, tapi kan nggak ada salahnya. Emangnya lu mau Bapak lu kemakan lagi rayuan maut ULA KARUNG?" Ula karung adalah panggilan sayang Akmal dan Fais untuk perempuan bernama Sasmhita.
"Dari monitor aja kita bisa tahu letak kesalahan adanya dimana. Kalau terus-terusan kaya gini, bisa jadi Bapak lu kegoda lagi is."
Akmal meyakinkan Fais bahwa kucing tidak akan menolak jika diimingi ikan asin. Sama halnya dengan rentetan pesan rayuan dan segala kemunafikan Sasmhita untuk menggaet kembali Papah agar masuk dalam belenggu bernama asmara. Terlalu baik adalah salah satu dampak dari jatuh cinta yang sangat merepotkan. Noted-Kalau jatuh cintanya sama orang yang salah.
"Benar juga sih kata lu. Tapi menurut lu enak gak kalau gua minta tolong sama Maya buat.."
"Eh Madih.." potong Akmal sembari menepuk pundak Fais menyadarkan. Karena ia sudah bisa menebak kalau Fais akan meminta Maya untuk menggantikan posisinya. "Maya itu masih orang lain buat lu. Sedikit pun dia belum bisa di ikut sertakan ke dalam masalah keluarga lu yang rumit. Kecuali kalau lu nikah sama dia, baru bisa. Soalnya dia kan istri lu alias menantu di keluarga lu is." Terang Akmal mencoba memberi arahan kepada Fais kalau Maya tidak boleh di cemplungkan lebih jauh meskipun dalam konteks membantu.
Fais membuang nafas kasar, haruskah dia menemani sang ibu untuk memberi peringatan pada Sasmhita agar tidak selalu mengganggu Papah?
"Harus banget Mal?" Celetuk Fais.
__ADS_1
"Gua gak maksa. Semua keputusan ada di lu. Oh iya satu hal lagi, kalau emang lu udah siap, mending bikin surat perjanjian suruh ttd sama tuh ULA jangan coba gangguin Bapak lu lagi kalau gak mau lu perkarain"
"Nanti gua bikinin dah suratnya. Semangat memilih arah hidup is." Akmal mengangkat kedua tangan seperti binaragawan menunjukan ototnya. Tujuannya semata-mata hanya untuk memberi semangat kepada Fais.
"Biasa aja angkat tangannya Mal." Fais menyugar rambut berharap pusing di kepalanya hilang. Ia bertopang dagu memandangi lalu lalang pemuda-pemudi dengan berbagai ekspresi.
"Gua nggak nyangka, ditengah banyaknya orang yang tidak dapat dipercaya, Bapak gua termasuk salah satunya Mal. Kenapa Bapak gua jadi kaya gitu ya? Padahal, dulu dia itu panutan gua sebagai laki-laki."
"Namanya juga manusia is. Bisa sadar bisa kesurupan. Bisa kena pelet bisa kena guna-guna. Sebenarnya dari lubuk hati gua yang paling dalam juga ngerasa nggak percaya kalau Bapak lu bisa kaya gitu."
"Oh iya is, jangan pernah menghakimi orang selingkuh kalau belum ada upaya untuk bisa memilih antara Nabila sama Maya." Omongan Akmal begitu tepat. Sangat cocok untuk mendeskripsikan kalau Fais tidak ada bedanya dengan sang Ayah. Karena kalimat cocok itulah Fais langsung mengalihkan atensi pada Akmal. Menatap lekat mulut sekata-kata yang telah menyamainya dengan perbuatan Papah.
Saat netranya sibuk bersitatap dengan wajah Akmal, dengan berat hati Fais mengakui kalau wajah Akmal sedikit mirip aktor Shahrukh Khan.
"Gak ada yang mending dari sesuatu yang menyakitkan. Yang namanya brengsek tetep aja brengsek." Desis Akmal, lebih santai pembawaannya di banding laki-laki di hadapannya. Biar santuy tapi ngena sekali di hati.
"AKMAL!"
"APA?"
Dua-duanya sama mengadu urat. Sampai Fais melemahkan sorot matanya kemudian berkata "Emang gua sebrengsek itu ya?"
__ADS_1
Dengan pertanyaan nelangsa seperti itu, Akmal tergelak kontras dengan raut wajah Fais yang prustasi. "Bercanda yaelah, tapi ada unsur nyindirnya sedikit. Hehe" ujar Akmal tanpa dosa.
"Lagian lu nggak capek apa kejebak dalam situasi kaya gini? belum lagi masalah Bapak lu."
"Kalau lu tanya capek apa nggak, ya jelas capek lah. Dalam waktu dekat ini gua mau memantapkan pilihan gua Mal. Gua udah tahu jawaban atas pertanyaan hati ini."
"Pertanyaan apa?"
"Pertanyaan kalau gua cintanya sama siapa. Setelah menjalani, semakin tahu perasaan mana yang membekas, dan bayangan siapa yang terekam jelas."
"Gua tebak pasti Maya. Terus lu udah siap buat mengakhiri kisah dengan Nabila?"
"Udah Mal, udah saatnya gua selangkah lebih berani dan nggak terus-terusan ngumpet di balik rasa takut."
Akmal bangga dengan sahabatnya. Bangga dalam artian tulus melihat Fais maju selangkah lebih berani. Untuk bangkit, untuk menata hidup dan untuk keluar dari zona menyakiti perasaan orang lain.
Sejatinya makna sahabat adalah ada di saat terpuruk dalam jurang kehancuran. Ada dalam kegelapan sebagai penerang. Ada dalam memperbaiki untuk tidak hanyut dalam kesalahan yang panjang.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...