
Setiap orang memiliki cita-cita yang diinginkan. Namun tidak jarang ada beberapa orang setelah lulus sekolah SMA, dimana masa itu di gadang-gadang sebagai masa tercihuy pada zamannya, memutuskan tidak melanjutkan cita-citanya sendiri.
Mereka itu yang telah memilih jalan hidup tidak mau membebani siapapun. Atau bisa saja mereka berpikir cita-citanya terlalu tinggi untuk di gapai. Jadi sebelum melangkah jauh untuk meraihnya, mereka sudah memilih berbalik arah dan menghadapi hal yang mungkin tak kalah berharganya.
Pengalaman akan mengajarkan banyak hal. Untuk tidak rambang menjalani sesuatu hal yang baru. Untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama dari sebelum-sebelumnya. Pada pengalaman itu sendiri mereka lantas mengatakan: terimakasih telah menjadikanku kuat. Dan pada mereka pengalaman itu akan mengatakan: terimakasih telah mencariku selama ini. Jangan pernah putus asa jika berhadapan denganku.
Fais sudah mendapat panggilan konfirmasi atas diterimanya ia bekerja. Mengucap syukur adalah langkah utama yang di ambil. Kemudian matanya menerawang jauh pada tanaman-tanaman Mamah di depan rumah yang bisa dilihat dari dalam kamarnya.
"Planing kerja udah kecapai. Semoga aja gua bisa bahagiakan Mamah tanpa bergantung sama Papah. Nabung biar banyak terus hasil nulis sama kerja dikolaborasi. Mantap nggak tuh."
"Dan yang paling penting taruh duitnya jangan di bawah kasur lagi ah. Bukannya mau nuduh rayap nih, tapi takut nggak muat aja gitu secara kan duit gua banyak nanti mah hehe anjjirr sombong banget"
"Setelah di pikir-pikir gua ngeselin juga ya. Pantes Akmal suka marah sampai ke ubun-ubun."
Habis menertawakan pikiran randomnya, Fais mencontreng list soal rencana masa depan yang telah ia susun. Sekilas, pena-nya tergantung pada rencana "Menikah".
"Nikah? Ini mah kalau udah lulus kuliah. Pokoknya langsung cus kawin sama Maya." Secara tiba-tiba ia memegang bibirnya sendiri. Teringat akan kejadian nanggung yang cuma bikin glenyer semu. Harusnya.. apa tadi katanya? Nanggung?
Klepaakk.
Fais menoyor kepalanya sendiri. Menyadarkan bahwa dia tidak boleh sama brengseknya seperti Papah. Pernikahan terlalu sakral jika untuk di buat main-main. Jadi, Fais harus memikirkannya masak-masak dan bukan hanya karena soal nafsu belaka.
__ADS_1
"Pokoknya harus nikah sama Maya. Soalnya dia harus tanggung jawab udah ngambil keperjakaan bibir ini." Sungut Fais. Dia menggunakan dalih tanggung jawab untuk persoalan ini.
Maya. Gadis sederhana yang berhasil mencuri atensi Fais beberapa waktu terakhir. Setelah melewati perjalanan dua gadis, bayangan Maya terekam jelas dalam memori. Senyumnya, tutur katanya, cara berpikirnya, semua tidak ada yang Fais tidak suka.
Meskipun Maya tidak seberuntung Fais yang dapat meneruskan kuliah, Maya juga tidak setekad Akmal yang berjuang keras demi melanjutkan pendidikan tinggi, tapi Maya adalah gadis cerdas yang pandai bergaul dengan sesama. Pengalamannya soal mencari uang sudah tidak diragukan. Berbagai macam sudah ia coba, demi tercapainya cita-cita membahagiakan ibunya. Dan asam garam perjalanan itulah yang menjadikan Maya wanita kuat.
Ngomong-ngomong soal Maya, Fais tidak pernah tahu kalau mereka saat ini sedang berada di tempat yang sama. Maya dan Fais berada dalam satu atap tanpa pernah Fais sadari. Kalau kalian bertanya apakah Maya mendengar perkataan Fais soal ingin menikah dengannya? jawabannya iya. Karena paragraf tentang perkataan Fais yang menyinggung soal tanggung jawab, bukan lagi bicara dalam hati.
Drrtt..drrtt..drtt..
Fais menarik ujung bibirnya saat melihat siapa yang menelpon ditengah ia membahas soal rencana masa depan. Ia langsung tancap gas untuk menggeser log hijau.
"Is, masa gua mimpi kondangan ke si Bayu bareng sama lu."
"Nggak usah pakai mimpi segala mal. Bilang aja lu mau bareng gua kesananya."
"Hehehe lu tau aja is akal bulus gua. Emang gua pengen bareng lu kondangannya."
"Yaudah, tungguin gua di rumah lu dua jam dari sekarang."
"Ok siap"
__ADS_1
Rencananya, Fais akan menyelipkan permohonan maaf atas segala kekhilafan kata-kata dalam bercanda yang kadang suka bikin keki. Entah kenapa keinginannya itu menguap dan akan di undur agendanya sampai hari raya lebaran tiba.
mandi dulu ah biar ganteng
Fais membawa handuk beserta perlengkapan menuju kamar mandi. Dan di saat moment yang kebetulan tepat, Maya menyusul Mamah ke luar dapur untuk mengambil perlengkapan masak yang di butuhkan.
Saat Fais menutup rapat pintu, Maya dan Mamah barulah kembali ke dalam dapur. Bukan Maya yang kegenitan main datang-datang saja ke rumah Fais tanpa di undang. Maya berada disini berkat undangan Mamah yang katanya meminta Maya untuk membantunya memasak.
Mamah sehat. Sumpah!. Mamah masih bisa memasak sendiri untuk makan malam nanti seperti biasanya. Masalahnya Mamah bukan masak untuk porsi sekeluarga, tapi Mamah masak untuk porsi satu RT.
Untuk apa?
.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1