
"Mamah mau ngomong apa sama Fais?"
Mamah kembali menulis untuk bisa berkomunikasi dengan baik pada siapapun. Tangannya masih lincah menorehkan tinta di atas putihnya kertas. Dan sepertinya apa yang dia tulis kali ini, lebih panjang dari biasanya.
Fais masih sabar menunggu sembari membenahi apa yang berserak di sekitar Mamah terbaring. Agar ibunya nyaman tanpa sesak. "Mmmpph, i-nh" Mamah memanggil Fais untuk segera membaca apa yang dia tulis.
Is gimana kabar kamu nak? Sudah baikan? Mamah mau bilang kalau Mamah sayang sama kamu dan Bapak juga. Mamah sudah bisa berdamai sama diri sendiri. Setiap orang pasti memiliki kesalahan. Dan yang kita anggap kesalahan berulang itu belum tentu sebenarnya seperti itu. Di dunia ini ada banyak hal yang kita lakukan karena memiliki alasan. Salah satunya Bapak.
Is, Mamah tidak sedang mencoba memaksakan perasaan kamu untuk bisa menerima Bapak kembali. Karena perasaan seharusnya tidak bisa di paksakan, bukan begitu? Mamah disini hanya ingin sekedar bercerita sedikit saja tentang apa yang telah Mamah lalui bersama Bapak beberapa waktu belakangan. Yang pasti, ini semua tidak membuat Mamah merasa tersakiti kembali. Mamah jauh lebih damai dari hari-hari sebelumnya yang sempat membuat kita tidak betah berada di rumah sendiri.
Is tahu gak? Sebenarnya Bapak itu sudah tidak bekerja.
Di ujung catatan, Fais di buat terhenyak oleh pengakuan Mamah. Dia tidak tahu soal itu sama sekali. Fais memang merasa jika Ayahnya selalu ada di rumah ketika dirinya pulang ke rumah. Bersenda gurau dengan Mamah serta membantu pekerjaan yang memang dahulu ia sering kerjakan sebelum negara api menyerang. Namun asumsinya hanya sebatas mengisi waktu luang untuk keluarga, yang sempat Papah abaikan berbulan-bulan lamanya.
"Sejak kapan Mah? Memang alasannya apa? Bapak di pecat ya gara-gara pacaran mulu sampai kerjaan aja gak bener?"
__ADS_1
Bapak kamu ambil pensiun dini. Kebetulan di kantor lagi ada penawaran. Bapak bener-bener mau memperbaiki apa yang sudah rusak is. Makanya Bapak berani ambil langkah itu.
"Kenapa bisa begitu? Bagian rusak yang mana memang sampai harus memperbaikinya dengan keluar dari pekerjaan Mah?"
Sasmhita masih saja terus mengganggu Bapak kamu sampai nyamperin ke kantor segala is. Bawain makanan, kasih perhatian. Mohon-mohon minta di perhatikan lagi. Saat ada penawaran pensiun dini, Bapak tidak pikir panjang lagi untuk mengambilnya agar bisa menghindar dari gangguan perempuan itu. Oh iya, Mamah juga mau kasih tahu kalau mobil Bapak juga sudah lama di jual. Bengkel sudah lama tidak beroperasi karena kehabisan modal. Kalau Mamah masih punya kamu, Bapak udah nggak punya apa-apa is.
"Mobil dijual setelah Fais ulang tahun Mah?
Iya, selang satu hari. Mamah juga tahu kalau kamu sama Akmal nguntit Bapak ke tempat Sasmhita. Itu rumah orang tuanya, tempat Sasmhita nyimpen surat-surat berharga dari semua laki-laki korbannya.
"Dimana sekarang Bapak Mah?"
Mamah menunjuk tempat persembunyian jika ingin melihat Papah datang. Letaknya di samping jendela tersebut yang tidak memungkinkan orang di luar akan menilik jika ada orang di dalam. Bapak tidak akan menunjukan batang hidungnya ketika ada Fais. Bukannya benci, hanya tidak mau anaknya muak jika melihat dirinya.
Fais menatap nanar jendela yang di tunjuk Mamah. Kerinduannya terpancar jelas dari sorot matanya. Tidak ada yang benar tulus terucap kalau dirinya tidak lagi membutuhkan Papah. Kenyataan masih saja sama. Sama-sama tidak bisa menerima keasingan yang menyuruk dalam kehidupan mereka.
__ADS_1
Fais geming. Dia mencium tangan Mamah dengan luka yang sangat perih. Semakin dia tahu tentang apa yang terjadi dengan Papah semakin sesak yang ia dapat. Fais terlalu takut untuk menguak semua tentangnya. Pikirannya langsung terkoneksi pada amplop coklat yang dia abaikan selama ini. Masih tersimpan rapi tanpa sentuhan dan bahkan niatan untuk meliriknya sedikitpun.
"Mah, Fais boleh bertanya satu hal?"
Apa nak? Mamah pasti jawab.
"Gimana Bapak menjalani kehidupannya? Apa Bapak udah makan hari ini?"
Mamah menulis kembali. Bedanya, air matanya jatuh membasahi pipi lalu meluruh membasahi buku yang sedang dia tulis. Fais sontak memeluk sang ibu, merengkuhnya dalam dekapan yang hangat. Selama memeluk ibunya, netra Fais tertuju pada tulisan Mamah.
Hari ini Bapak udah makan. Dan sampai detik ini Bapak masih menafkahi Mamah, juga kamu.
"Mengandalkan uang pensiun dan jual mobil ya Mah? seharusnya Bapak simpan saja untuk keperluannya." Mendengar penuturan Fais, Mamah praktis menggeleng pelan.
Nggak is. Bapak gak pakai uang itu. Yang mobil di pakai buat melunasi hutang-hutangnya. Yang uang pensiun di tabung buat kamu. Semua berkasnya ada di amplop coklat beserta surat tanah yang Bapak ambil dari Sasmhita. Bukannya sudah ada di kamu ya? Beberapa hari ini, Bapak jualan gorengan is.
__ADS_1
Jualan gorengan? kalau gak laku gimana? Tak terasa mata Fais mulai terasa panas.
Bersambung...