
Selepas kembali mengantar Maya pulang, Fais duduk di ruang tamu di temani kopi malam. Fais tidak suka minuman berkafein jika malam hari tiba. Namun untuk saat ini, ia membutuhkannya guna menjalani sebuah pembuktian. Apakah dia betulan rindu dengan seseorang yang ia panggil Bapak.
Jam dinding turut menyertai penyongsongan yang dilakukan pemuda bernama Fais. Detikannya serupa hitungan mundur, dimana Fais sebentar lagi akan melihat keadaan Papah yang selama ini ia tanyakan pada dirinya sendiri bagaimana kondisinya. Setelah sedikit demi sedikit Fais tahu fakta yang tengah terjadi, disitulah hatinya tergerak untuk mau melihat dan mendengar tentang Papah lagi. Kata Akmal, rindu dengan orang yang sudah tiada tidak memiliki jalan keluar. Kata dia juga, setegar apapun menjalani ketidak utuhan, akan terlihat kasihan di mata org lain.
Jadi sebelum penyesalan datang semakin terlambat, alangkah baiknya ia berdamai dengan dirinya sendiri. Memaafkan dengan seutuhnya karena setiap manusia selalu mempunyai kesalahan. Tak terlepas dengan apa yang ia kerjakan.
Mamah sudah terlelap dari setengah jam yang lalu. Keheningan malam merayap di setiap relung hati Fais. Lebih tepatnya ia membiarkan keheningan malam merajai dirinya dalam sebuah penantian. Dan ketika jarum jam panjang telah menunjuk angka dua belas, sayup-sayup Fais mendengar suara seseorang datang.
Fais berpindah tempat mengambil posisi yang sudah di arahkan oleh Mamah. Benar, Papah ada di luar jendela menatap jauh ke dalam.
Papah berdiri sekitar lima menit hanya untuk memindai dengan tatapan sendunya. Setelahnya Papah pergi ke arah dimana ada sebuah bangku santai yang berada di beranda rumah. Yang menjadi sorotan Fais adalah--Papah menyangklong tas gendong persis tas ketika Papah keluar dari rumah.
Papah merebahkan tubuhnya disana. Tanpa selimut, tanpa beralaskan yang layak. Wajahnya tirus namun masih bisa di katakan terawat. Tidak Kumal dan tidak kusut.
Tunggu, hati Fais tersayat-sayat ketika Papah bangun kembali hanya untuk mengambil banner usang yang teronggok tidak berdaya. Papah kembali merebahkan tubuhnya lalu menggunakan banner tersebut untuk selimut. Kemudian Papah memejamkan mata, membelakangi jarak pandang Fais dengan nafas yang teratur.
Fais membuka pintu, geming sebentar hingga akhirnya menekuk lututnya untuk menjatuhkan badan sejajar pada posisi Papah tertidur. Di dekat kaki Papah Fais berbicara sendirian.
"Bannernya kekecilan. Kaki Bapak jadi nggak ketutupan dari angin malam. Nih Fais pakein kaus kaki biar hangat. Ngomong-ngomong kaus kaki, ini hadiah dari Maya buat Bapak. Maaf Fais baru kasihnya sekarang."
Sambil terus memakaikan kaus kaki, Fais tersenyum getir pada apa saja yang melihatnya.
"Eh, tapi ini bannernya pada robek-robek Pak." Usai berucap demikian, suara Fais sudah bergetar. Tinggal menunggu waktu suaranya terdengar menjadi isakan.
"Fais ganti pake selimut ini ya? Apa mau...." Fais menjeda sebentar kalimatnya untuk mengambil nafas.
"Apa mau masuk ke dalam aja Pak? Ke dalam Rumah kita." Di ujung matanya, disana tetesan air turun membasahi pipi. Papah masih mendengkur, seakan terbuai mimpi indah yang tak berujung.
"Pak, Fais masuk ke dalam dulu ya. Pintunya nggak Fais kunci, biar Bapak kalau mau masuk ke dalam rumah nggak kesusahan."
__ADS_1
Fais pergi. Meninggalkan Papah yang masih merapatkan matanya. Suara debaman pintu tertutup mengakhiri pembicaraan Fais pada siapa saja yang mau mendengarkannya. Di malam yang dingin ini, Papah menangis dalam terpejam. Mendengarkan semua ocehan anaknya yang mana semuanya tentang rasa sayang. Tentang perhatian. Dan tentang rumah tempat mereka tinggal.
Papah terduduk kemudian setelah memastikan lampu kamar Fais padam. Beliau mengusap air matanya serta mengusir rasa sesak yang menjalar dalam rongga pernafasan.
Lu Bapak yang paling gagal di dunia ini Marda. Lu t*lol banget jadi orang. Papah mengumpat pada dirinya sendiri.
Alih-alih masuk ke dalam rumah, Papah memilih merebahkan tubuhnya kembali. Tidak apa-apa tubuhnya menerobos kembali angin malam yang ugal-ugalan menabrak kulitnya. Papah masih terlalu malu untuk kembali pada rumah mereka.
........
Kalau biasanya Fais bangun ketika cahaya matahari menerobos masuk, kali ini Fais selalu terbangun di pagi buta. Fais memberanikan diri mengintip Papah di luar sebab tak ada tanda-tanda Papah di dalam rumah. Papah masih ada disana. Membereskan yang semalam sempat menghangatkan tubuhnya untuk kemudian Fais ambil kembali. Lain hal dengan kaus kaki. Papah simpan di dalam tas nya sembari samar-samar berucap terimakasih pada Maya dan Fais.
Deg..
Perasaan Fais mendesir. Semua ucapannya semalam telah di dengar oleh Papah.
"Pak, mau kemana?" Cegah Fais.
"Pergi kemana? Rumah bapak kan disini."
Untuk beberapa saat hanya ada keheningan di antara keduanya. Sampai suara Papah menginterupsi.
"Bapak malu sama kamu is." Kata Papah. Kemudian Papah dengan gerak pelan melanjutkan kepergiannya. Fais membeku.
"Pak"
Papah menoleh tanpa banyak berharap untuk di terima kembali. Papah sudah menyerahkan diri seutuhnya, pada konsekuensi akibat dari perbuatannya yang lalu. Janji tinggalah janji, kenangan juga tinggal kenangan. Sudah tidak ada janji yang bisa Papah ucap sekarang. Dan tidak ada kenangan indah lagi yang dapat diukir.
Mulut Papah kelu untuk berucap bahwa Papah harus pergi dari sini. Lidah Papah terlalu grogi untuk bilang kalau dirinya sedang ingin mempersiapkan dagangan. Akhirnya Papah hanya bilang kalau dia harus cepat-cepat pergi.
__ADS_1
Tanpa menoleh
Tanpa pamit yang layak
Hingga punggung tegap Papah mengecil di kejauhan, Fais masih betah menatap kepergian Papah di tempat ia terpaku.
.
.
.
Karena sudah lama berpacaran dengan Maya, pengaruh baiknya sudah mulai merasuki jalan pikiran Fais. Anak dari Bu Imah tersebut tidak menyerah begitu saja mengembalikan keadaan. Setidaknya ia harus bisa membuat Papah tidak lagi merutuki diri sendiri.
Di jam yang seharusnya Fais sudah sampai di tempat kerja, anak itu sedang bergulang-guling di kasur. Motornya ia ungsikan agar seseorang yang ingin datang tidak putar balik arah karena keberadaannya.
"Neng, Abang udah dateng. Mau butuh apa? Kesayangan Abang udah sarapan belum?"
Seperti biasa, orang tua Fais akan memanggil mode masa muda jika ada mereka berdua. Dan Fais baru mengetahui hal itu.
Mamah pun menjawab dengan tulisan kalau dia ingin menemani Papah membuat gorengan. Dan saat Mamah menilik pada keranjang titipan warung-warung, Mamah menghela nafas untuk setumpuk gorengan yang tak terjual.
"yy.ang ss..ab..ar ya bbng." ujar Mamah tertatih.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...