Tulisan Fais

Tulisan Fais
Detik lembaran baru


__ADS_3

Sebentar lagi tahun akan berganti. Di sepanjang jalan menyusuri kota, Fais disuguhkan gemerlapnya dunia. Lampu temaram jalan turut berlomba mengusir gelap bersatu padu dengan kembang api. Dan Fais harusnya bahagia hari ini dengan kedua orang tuanya duduk di bangku penumpang. Namun yang di rasakan Fais justru kehampaan.


Selepas mendapat informasi dari kedua belah pihak- Nabila dan Maya. Soal Sasmhita si target Fais untuk di lenyapkan dari cerita rumah tangga orang tuanya, anak itu menjadi lebih tenang untuk menjalankan misi. Sekarang yang dia lakukan adalah berpura-pura menerima dengan lapang, dan mengubur semua cerita kemarin di penghujung tahun.


Seakan tahun berganti turut menyobek lembaran penuh coretan yang tidak diinginkan. Lalu membuka polosnya lembaran baru. Yang seharusnya mereka tahu, lembaran polos itu membekas sobekan dari lembaran sebelumnya. Atau mungkin ada gurat jiplakan dari coretan kelam kemarin.


"Mah, Pah, kita langsung pulang aja nih? Apa mau mampir dulu?"


Seketika hening tertebas saat Fais bertanya kemana tujuan mereka. Papah dan Mamah menoleh pada Fais yang sedang mengganti transisi. "Langsung pulang aja is." Ini suara milik Mamah. Kalau Papah semenjak kejadian itu, cenderung lebih pendiam.


"Siap"


Laju mobil yang sempat bergerak melambat menunggu jawaban kemana, langsung melesat cepat secepat gosip menyebar saat tahu arahnya adalah pulang.


"Nanti kita di rumah mau bakar-bakar apa?" Secara tiba-tiba Papah mendobrak kekakuan.


Fais tadinya mau menjawab, sungguh. Laki-laki itu mau bilang seperti ini : mau bakar perasaan yang pernah ada!. Namun Kalimat ini hanya tertahan di laklakan (pangkal lidah).


"Mau bakar perasaan demen sama bini orang." Mamah menjawab dengan lugas. Perempuan yang telah melahirkan Marda junior itu langsung menatap Marda versi bangkotan. Guna melihat reaksi seperti apa yang akan di tampakkan. Dan Fais yang duduk di bangku kemudi sibuk bergumam kok bisa sama gini ya pikirannya sama Mamah.


"Jangan di bakar, nanti malah membara." Papah menjawab datar. Manjur sekali membuat Mamah bak tokoh komik sedang murka. Keluar asap dan tanduk di kepalanya.

__ADS_1


Fais jelas tersentak kaget. Bisa-bisanya Papah menjawab bagai menyundut sumbu yang memang sudah basah oleh minyak tanah. Jadilah kompor itu menyala, dan membuat pengang telinga Fais sekaligus membuat udara seakan habis.


"Oh jadi gitu. Masih ada rasa ya. Jangan-jangan kalau dia janda mau dinikahin nih."


"Lagian Mamah mancing aja. Kan Papah sudah berusaha diam dan gak mau bahas itu lagi."


"Sini hp kamu Pah"


"Nih" Papah betulan menyodorkan benda pipih itu pada Mamah. "Mau ngapain Mah?" Tanya Papah, saat melihat Mamah scrol pesan yang isinya tidak penting-penting banget.


"Rahasia"


"Jangan lihat chatan. Semakin mau tahu banyak, semakin sakit yang di dapat." Seru Papah hanya untuk menggoda Mamah. Fais tak habis pikir Papahnya telah menelan makanan apa hari ini hingga berbicara asal enak di lidah.


Dan seperti kaset rusak, wanita akan terus mengulang-ulang peliknya kejadian perkara.


Lalu Papah, laki-laki yang sempat hangat dalam keluarga lebih sering diam dengan mata mengadah ke atas seperti banyak beban yang mendera. Pikirannya tidak sinkron dengan apa yang digerakkan. Papah linglung. Separuh jiwanya kosong entah siapa yang menyita.


Fais ingin sekali berteriak " woi ada buah cinta kalian disini." Alih-alih merealisasikan teriakan tersebut, Fais lebih memilih memutar musik.


...Diary depresiku~Last child...

__ADS_1


...Malam ini hujan turun lagi...... Bersama kenangan Yang ungkit luka di hati....


...Luka yang harusnya dapat terobati... yang ku harap tiada pernah terjadi....


...Kuingat saat ayah pergi dan kami mulai kelaparan. Hal biasa yang buat aku hidup di jalanan....


...Disaat ku belum mengerti arti sebuah perceraian. Yang hancurkan semua hal indah yang dulu pernah aku miliki....


...Wajar bila saat ini..... Ku iri pada kalian...... Yang hidup bahagia berkat suasana indah dalam rumah....


...Hal yang selalu aku bandingkan dengan hidupku yang kelam... Tiada harga diri agar hidupku terus bertahan......


Musik sudah selesai mengalun, suara Papah dan Mamah beradu sudah tidak terdengar lagi. Fais tentu kepo lalu melirik sekilas kaca yang menampakkan keadaan belakang.


Di belakang sana, Papah memeluk Mamah. menenangkan istrinya kalau semuanya akan baik-baik saja. "Papah sayang banget sama Mamah. Jangan bahas itu lagi ya."


Mamah masih sesegukan dan itu membuat Fais tahu kalau Mamahnya telah menangis. Anak itu kira Mamah hanya bersitegang dengan Papah. Faktanya mamah menangis lagi, untuk pertengkarannya atau untuk anak semata wayang yang telah menjadi korban.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2