
Orang bilang cinta dapat mengubah apapun. Seperti halnya dengan Fais ketika mendadak bodoh dari kepiawaiannya soal sajak cinta. Cinta mengubah berani menjadi gugup, begitu pun sebaliknya. Dan masih banyak yang bisa di kaitkan dengan hal mengubah itu sendiri.
Lantaran salah melontarkan kata 'teman', Fais menjadi lebih pendiam namun banyak tersenyum. Di sepanjang perjalanan bawah temaram lampu kota, hanya Maya yang aktif berinteraksi mencari bahan obrolan kesana kemari. Sisanya Fais yang sesekali tergelak kecil lalu mengiyakan gadis kesayangannya ketika meminta validasi peristiwa semasa dulu. Kejadian saat pohon singkong karet kebon engko yang tumbang misalnya, Maya tergopoh-gopoh menyelamatkan diri hingga sendal jepit yang dikenakannya putus karena tersandung. Kemudian Fais datang memberikan sendal swallownya untuk di kenakan Maya. Dengan begitu saja, Fais sudah menjadi sosok yang dapat membuat Maya insomnia.
Di sepanjang perjalanan, yang ada di dalam kepala laki-laki itu hanya sibuk menggunakan waktu yang ada sebaik mungkin untuk menyusun strategi bagaimana memperjelas hubungan mereka. Dan malam ini ditemani hujan meteor, Fais akan melakukannya dengan cara yang dia pilih.
Pohon jambu air dengan buah pating gerandul sudah tertangkap lampu sorot mobil. Menandakan Toyota Yaris keluaran 2021 yang mereka tumpangi sudah sampai pada tujuan rumah Maya. Fais tidak tahu kenapa pohon jambu air di depan rumah Maya masih berbuah lebat alih-alih habis setiap minggu di sengget olehnya. Seakan pohon itu sedang memberikan pelajaran berharga. Bahwa ia tak pernah lelah memberikan buahnya untuk dinikmati orang banyak. Meski terkadang, ada yang menggunakan cara melempar batu agar buah itu jatuh.
Fais menetralkan transisi, lanjut dengan menarik rem tangan serta mematikan mesin mobil. Saat Maya beranjak membuka pintu untuk keluar, Maya tidak tahu persis kenapa tiba-tiba dirinya lupa bagaimana caranya untuk keluar. Dia tidak bisa membuka kunci pintu mobilnya. Dia begitu lupa.
"May"
Benar. Tangan hangat Fais menjadi pemicu Maya mengidap kepikunan. Ia menoleh hanya untuk mendapati Fais dengan senyum terbaiknya. "Ada apa a? Ada yang ketinggalan ya?" Maya sibuk mencari tentengan terduga penyebab Fais memanggilnya.
"Bukan. Aa pengen ngobrol penting sama Maya."
"Kalau begitu, ngobrolnya di rumah aja a. Nanti Maya bisa buatin aa minum sama camilan buat teman kita ngobrol."
"Katanya Bi Nur nggak ada di rumah? Emangnya nggak apa-apa kalau kita ngobrol berduaan di sana? Nggak ada yang ketiganya gitu?"
Benar juga apa yang di katakatan Fais. Namun dengan mereka berbicara di dalam mobil berduaan, apa bedanya?
"Tapi a, bukannya sama saja ya kalau disini. Lagian kita kan ngobrolnya di luar".
"Ini terlalu penting kalau di obrolin di ruang terbuka May. Soalnya bersifat rahasia dan nggak boleh ada orang yang tahu. Kalau angin membawa kabar itu ke telinga tetangga, gimana hayo?"
Maya geming.
"May, kamu itu bukan orang lain bagi aa. Jadi hari ini aa memutuskan untuk berbagi apa yang aa rasa. Maya mau denger cerita aa kan?"
Maya menatap intens retina Fais yang memburam. Disana Maya menemukan sebuah baret-baret luka. Entah kepelikan seperti apa yang telah menggores disana.
__ADS_1
"Iya a, Maya mau. Sebisa mungkin Maya akan siap mendengarkan cerita aa. Kalaupun Maya belum bisa memberi solusi, setidaknya Maya bisa menjadi teman pendengar curhatan yang baik."
Lagi-lagi teman mengusik pikiran Fais.
"Jadi gini..."
Fais menatap lurus ke arah depan dengan jemari yang tidak tinggal diam mengetuk-ngetuk kemudi. Berulang kali Fais membuka mulut untuk berbicara, sebanyak itu juga ia menutup rapat mulutnya kembali.
"Jadi gimana a?" Akhirnya Maya memastikan setelah sekian purnama Fais belum juga melanjutkan kalimat.
"Menurut kamu, sosok ayah itu seperti apa?"
Maya membenarkan posisi duduknya. Ia menghela nafas panjang sebelum akhirnya bercerita menurut versinya tentang sosok Ayah dalam kehidupannya.
"Ayah. Maya memanggilnya dengan sebutan Bapak a. Bagi Maya, Bapak itu lelaki terhebat yang pernah Maya tahu" Maya menunduk, memalingkan wajahnya dari tatapan Fais. Kini gadis tersebut menatap nanar pohon jambu tepat di depan matanya.
"Kalau kamu mendapati Bapak melakukan kesalahan, apa kamu masih menganggapnya lelaki hebat?"
"Kalau kesalahan Bapak telah menyakiti perasaan anaknya? Si anak harus apa May?"
Maya praktis menoleh ke samping kanan.
"Maaf a takut Maya salah memberi jawaban. Kalau boleh tahu, menyakiti seperti apa yang di maksud aa Fais?"
Fais tertawa culas. Alih-alih menjawab dengan benar pertanyaan Maya, laki-laki itu seperti ogah untuk membeberkan. Lalu menyuruh Maya untuk melupakan omong kosongnya perihal ayah.
"Lupakan pembahasan kita ini May. Aa tiba-tiba kehilangan mood buat bicara soal beginian. Aa Fais cuma iseng aja."
Maya mengusap punggung tangan Fais. Menenangkan laki-laki itu bahwasanya tidak ada yang perlu di cemaskan untuk saling berbagi kesedihan padanya. Maya tahu pada diri laki-laki yang yang dicintainya ini seperti ada tombak yang menancap memberikan luka.
"Aa, kalau sudah siap tolong bagi kesedihan ini sama Maya. Maya mohon sama Aa jangan pernah lagi menyimpan luka sendirian"
__ADS_1
"May"
"Iya a"
"Maaf"
"Maaf untuk?"
"Kamu masih punya waktu buat nolak" tatapan Fais jatuh pada bibir tipis Maya. Detik berikutnya, suara berat Fais terdengar kembali menyeru untuk Maya mengambil sikap.
"Masih ada waktu buat bilang tidak May" kini suara itu bersatu padu dengan nafas yang terasa menyapu seluruh permukaan bibir. Pertemuan itu kembali lagi dengan sengaja. Lebih lama dan lebih dalam. Namun masih tanpa pergerakan yang berarti. Kemudian hujan turun tanpa permisi telah membubarkan pertemuan tersebut.
"Ayo, aa antar Maya sampai depan. Di luar hujan, aa nggak mau sampai kamu kenapa-kenapa."
Pemuda manis itu sudah berdiri di luar dengan payung untuk membukakan pintu Maya. Mengantarkan Maya dengan selamat adalah tugasnya sebagai lelaki.
"Terimakasih a sudah mengantar sampai di depan rumah. Maya permisi masuk." Maya ingin buru-buru menghilang dari hadapan Fais.
"MAY"
Lagi-lagi Fais mencekal pergelangan tangan Maya. Dengan gerakan cepat Fais ikut masuk ke dalam rumah dan menarik tubuh Maya hingga terhuyung masuk dalam pelukannya. Pertemuan bibir kembali terjadi, lebih dalam dan penuh permainan.
"Aa nggak mau jadi teman kamu May"
.
.
.
Bersambung....
__ADS_1
Yaelah is. Dirimu yang maen nyosor duluan diriku yang deg-degan hehe