
Hari cepat berlari, dan bulan ikut cepat berlalu. Di ujung sudut kamar bercat putih gading, teronggok kalender dinding menunjukan deretan angka yang sudah banyak bulatan spidol. Sebuah indikasi bahwa tanggal tersebut disinyalir memiliki catatan tertentu. Bisa hari bahagia, sebuah peringatan, atau tanggal jatuh tempo hutang.
Hari ini tepat jarum jam bertembung pada angka 07:00, Fais melihat kalender tersebut dengan senyum yang lebar. Angka yang menunjukan akhir bulan tersebut menyulut semangat Fais untuk beranjak dari kasur malasnya. Semalam ia baru saja pulang kuliah meski tubuhnya tergolek lunglai luar biasa. Dan hari ini seolah tubuhnya sudah lupa bahwa semalam ada yang seperti daging tak bertulang.
"Eheeiii...gajian pertama. Mau beliin Mamah tas ah biar keliatan lebih kece."
Deretan giginya yang mentereng, menunjukan pada mentari pagi kalau tidak cuma sang surya yang bersedia membantu mengeringkan jemuran demek, membantu fotosintesis pada tumbuhan hijau, dan mengusir gelap menjadi terang. Fais juga mau dirinya berarti bagi orang lain. Dengan cara mengubah peluhnya menjadi senyum bagi orang-orang yang di sayang.
"Anjiiirr.." Fais terkejut ketika menilik bayangannya di depan cermin. "Kok gua tambah ganteng sih pas lagi gajian." begitu katanya. Tidak usah heran pemirsa. Sebab Fais sudah dalam keadaan habis mandi.
Mandi sudah. Pakai baju juga sudah. Kalau sarapan jangan di tanya, Fais dari semalam belum makan apapun meski hanya sebutir garam. Perutnya yang keroncongan telah sirna oleh singkong goreng yang empuknya menggugah selera. Entah itu punya siapa terpajang di meja depan televisi. Yang penting pagi ini, Fais sudah kenyang dengan banyak harapan.
"Is, sarapan dulu? Bapak udah bikin goreng nasi"
Dengan kunyahan tinggal satu kali lagi, Fais cepat-cepat menelan hasil kunyahannya tersebut. Kemudian ia meneguk segelas air putih yang berada di tangan Papah.
"Goreng Nasi apa nasi goreng Pak?"
"Sama saja."
"Beda Pak... goreng nasi merupakan kegiatan. Sedangkan nasi goreng hasil dari kegiatan. Fais mau langsung pamit pergi. Lagian Fais udah kenyang habis makan apa tuh tadi...?"
"Singkong goreng" kata Bapak.
"Bukan, tadi Fais makan fried cassava"
Sama saja. Batin Bapak.
Baik Fais maupun Bapak, mereka tersenyum entah untuk apa. Atmosfer kehangatan keluarga yang sempat hilang sudah mulai merasuki udara di ruangan tersebut. Setidaknya sampai Fais tersadar bahwa apa yang barusan terjadi tidak semestinya terjadi. Keteguhan hatinya untuk tidak memberi ruang percaya pada Papah kembali lagi utuh. Lebih kuat dan lebih kokoh.
"Is kapan kita bisa bicara? Bapak benar-benar ada yang mau di sampaikan sama kamu nak."
"Penting banget?"
"Penting "
"Hari ini, tapi nggak sekarang. Nanti pas Fais sudah pulang "
Netra Papah di penuhi bintang-bintang. Cahayanya bersinar seakan inilah harapan baru yang telah di berikan Fais padanya. Bagian baiknya, Fais mau menerima permohonannya untuk bisa berbincang berdua mengungkap apa yang harus anak itu tahu. Meskipun Papah tidak tahu persis, anak itu bisa menerima atau tidak.
"Is..." Mamah memanggil.
"Bantuin Mamah bersihin sawang ya? Bapak rapihin halaman depan soalnya rumputnya udah mulai tinggi." Kata Mamah.
"Yah, Fais udah ada janji Mah. Jadi hari ini Fais sibuk."
__ADS_1
"Yaah, sibuk apa emangnya is?"
"Sibuk pacaran"
"Huh pacaran mulu.. sekali-kali kita ngumpul lah is di rumah. Papah kan sekarang selalu ada waktu buat kita." Mamah meraih lengan Papah yang berdiri di sampingnya dengan lengkungan bibir yang canggung. Melihat bagaimana sekarang Mamah bergelayut manja pada Papah, bagai orang yang tidak pernah terjadi sesuatu menyakitkan sebelumnya. Ataukah memang Mamah memiliki hati yang teramat sakti, untuk bisa menanggulangi serpihan sakit hati yang di hantam berkali-kali.
Alih-alih menjawab, Fais malah tergelak lalu berpamitan untuk pergi.
...🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃...
Siapa yang tidak suka senja?
Pertanyaan ini datangnya dari Fais. Berawal sejak menjalin hubungan dengan Maya, Fais jadi tahu makna di balik kondisi langit setengah gelap sesaat matahari sedang ingin tenggelam. Dulu ia kerap menganggap terlalu klise untuk menguraikan keindahan senja. Kini dia sadar, apa yang Tuhan ciptakan selalu indah dan luar biasa untuk kita syukuri.
Sebelumnya, Fais hanya melihat gradasi warna orange kala senja itu datang. Dia tidak tahu kalau senja akan menyisakan cahaya, baik merah, jingga, biru, ungu, merah muda dan lainnya. Dan senja mampu mempersembahkan keindahan di saat-saat matahari menuju peraduan. Beristirahat sejenak kemudian siap menyongsong esok pagi dengan segala kemungkinan yang terjadi.
Sayangnya, sore ini senja tertutup langit mendung yang bermuram. Gerimis kecil perlahan jatuh membasahi tanah dan jalanan yang kering. Petrikor menjadi satu-satunya aroma yang serupa kopi Papah di pagi hari. Memaksa Indra penciuman untuk menghirupnya dalam-dalam.
Kalau kita lagi kecewa sama orang, jangan membencinya terlalu dalam ya a. Siapa tahu suatu saat nanti kita bakal kembali membuka pintu yang kita tutup rapat-rapat.
Lagian, kita juga nggak seharusnya berharap sama manusia. Iya kan a?
Seiring mobil melaju menilas jalanan yang lengang, pikiran Fais melanglang buana. Kalimat Maya kembali melintas pada pikiran yang keras. Semua bermula dari sebuah hadiah-hadiah yang ia beli untuk Mamah dan juga Maya.
Sama-sama a. Terimakasih juga atas hadiah yang telah di berikan untuk Maya. Sekali-kali Maya mau kasih hadiah buat Aa juga.
Emangnya mau kasih apa?
Rahasia atuh a hehe. Aa mau beli kaus kaki?
Nggak. Aa cuma iseng aja pengen lihat-lihat. Aa jadi teringat Bapak dulu. Di jam kantor keluyuran sampai ke mall cuma mau nyari kaus kaki katanya. Ternyata selingkuh haha lucu ya.
Maya tersenyum.
Sampai pada ingatan ini, Fais tertawa getir. Ia mendengus seraya mengubah transisi. Lajunya memelan mengingat gerimis berubah menjadi rinai hujan yang lebat. Jarak rumah Maya dengan rumahnya tidak terlalu jauh. Namun entah faktor apa perjalanan saat ini begitu lama dengan ingatan-ingatan bersama Maya di Mall tadi siang.
May, Aa pulang dulu ya. Terimakasih hari ini udah mau nemenin Aa cari hadiah. Jaga kesehatan, soalnya Aa akhir-akhir ini banyak lemburan. Jadi Aa bakalan jarang main kesini buat mastiin kamu baik-baik aja apa nggak. Maaf May untuk saat ini Aa nggak kasih kamu vitamin c dulu.
Iya a. Aa juga jaga kesehatan. Oh iya, maaf a tadi Maya beli kaus kaki yang sempat Aa lihat-lihat. Berikan ini pada Bapak. Bilang ini dari Maya.
Kalau kita lagi kecewa sama orang, jangan membencinya terlalu dalam ya a. Siapa tahu suatu saat nanti kita bakal kembali membuka pintu yang kita tutup rapat-rapat.
Lagian, kita juga nggak seharusnya berharap sama manusia. Iya kan a?
Fais diam.
__ADS_1
Ciiiiittttt...
Demi menghindari pengendara motor yang jatuh, Fais dengan sigapnya menghentikan laju mobil secara mendadak. Gesekan ban menghitam di atas apal. Kepala pemuda itu hampir membentur stir kemudi. Kabar baiknya, pengendara motor selamat dari hantaman laju mobil yang di tumpangi Fais. Si Bapak itu pun segera berdiri dari jatuhnya.
"Bapak nggak pa-pa? apa ada yang luka? hayo saya antar ke rumah sakit." Seru Fais pada Bapak pengendara motor yang terlihat membawa penumpang seorang anak perempuan. Mungkin itu anaknya.
"Saya baik-baik aja Mas. Saya mohon Maaf sekali gara-gara saya terjatuh Mas nya hampir saja celaka."
"Tidak usah minta maaf Pak, Bapak juga lagi kena musibah."
"Saya duluan ya Mas. Sekali lagi mohon maaf dan terimakasih."
Fais mengangguk. Netranya menebas hujan lebat menatap nanar pada kepergian Bapak pengendara motor. Ia kembali ke dalam mobil. Melanjutkan perjalanan yang sialnya terasa semakin lama.
"Fokus is fokus.." Ujarnya kepada diri sendiri.
Setelah mengganti kausnya yang basah dengan switer di bangku penumpang, Fais menancap gas untuk melanjutkan perjalanan kembali.
...🥀🥀🥀🥀🥀...
Setibanya di halaman rumah, Fais memasukan mobilnya ke dalam garasi. Saat itu juga, Fais di buat terheran-heran kenapa di rumahnya ada tiga orang tetangga bertingkah selayaknya di rumah sendiri. Yang satu, Mamang Kardi namanya. Ia terlihat sedang membersihkan lantai teras depan dari tampias air hujan. Yang kedua, biasa di panggil Mpok Sri. Ia sedang menyapu lantai di ruang tamu. Nah yang ketiga, Bapak RW setempat malah. Kentara sekali Ia sedang menyambut kedatangan Fais.
"Pak RW sama yang lain tumben bersih-bersih di rumah saya?" Ujar Fais dengan nada sumringah.
Mendengar Fais berkata begitu, ketiga orang tersebut mendadak berwajah pias. Batin mereka, apakah anak ini belum tahu?
"Fais darimana?" Tanya Bapak RW.
"Habis ada keperluan. Emangnya ada apa si Pak? Orang tua saya memangnya kemana?"
Pak RW cemas. "Bapak kamu belum telepon ya?"
Fais merogoh ponselnya dengan penuh kebingungan. Ia nyalakan benda pipih itu kemudian notif panggilan tak terjawab 10 kali dari Bapak muncul. Ada satu pesan yang di tinggalkan Bapak.
Setelah Fais membaca pesan tersebut, Pemuda itu nyaris pingsan.
.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1