
Fais datang kembali setelah banyak tanda tanya mencuat atas kepergiannya. Ia datang bukan malah menjawab pertanyaan yang mengerubungi kepala, tetapi membawa keheranan lebih besar lagi daripada sebelumnya. Ia tidak sendiri. Fais berjalan mendekat di ekori Pak RT setempat.
Ih kenapa bawa-bawa Pak RT segala. Batin Sasmhita ketar-ketir.
Dan kedatangan Fais bersamaan dengan lelaki paruh baya berpangkat RT lah, menjadi sabab musabab tetangga yang awalnya cuek karena sudah tahu apa yang akan terjadi malah semakin kepo dan keluar dari persembunyian. Banyak pasang mata dan telinga di tajamkan, hanya untuk mengkonsumsi urusan orang lain.
Fais, Pak RT, Mamah, Sasmhita, dan bahkan Badrun yang tertatih pun, ikut dalam konferensi Fais yang bersifat darurat. Dengan begitu saja, part semakin seru untuk di saksikan para tetangga. Sampai ada yang lupa apa yang telah di kerjakan sebelumnya. Seperti tukang warung yang terus-terusan mengelap meja misalnya, tahu-tahu ia mencari taplak mejanya kemana? Tanpa dia sadari, yang sangat membagongkan adalah meja itu pada dasarnya memang tidak memiliki taplak.
Kalau pun ada, yang harusnya di taplaki bukannya meja, namun wajah orang tersebut yang harus di beri taplak. Karena tukang warung itu seperti ciri-ciri orang kesurupan sebab ketawa-ketawa sendiri. Malu dengan kekhilafannya sampai ngegas pada salah satu anaknya hanya untuk mencari benda yang memang tidak ada.
Semua itu tertangkap netra Fais yang sedang fokus hendak membuka sambutan. Membuat laki-laki terganteng di kampung lobang kadal tersebut jengah dengan kelakuan absurd tetangganya Badrun.
"Bagaimana ngobrolnya di dalam saja?" Seru Fais. Namun dia tidak berharap banyak Sasmhita mengiyakan. Karena bagaimanapun, pemilik rumah merupakan rivalnya. Yang kadang tidak sudi rumahnya di jajah.
"Ya sudah kalau keberatan." Lanjut Fais, menyikapi respon diam saja dari Sasmhita.
"Ya sudah disini aja is, lagian kalau pun jadi tontonan warga dia juga yang malu." Sahut Mamah. Hanya untuk membuat dahi Pak RT mengkerut.
"Masuk saja. Silahkan. Mau minum apa biar saya buatkan?" Sasmhita dengan segala kemunafikannya betul-betul membuat Fais dan Mamah muak.
"Nggak usah. Atau Bapak RT mau minum apa?" Kata Mamah.
"Nggak usah juga. Terimakasih."
"Kalau begitu saya langsung bicara pada inti. Begini Pak RT, saudari yang bernama Sasmhita ini telah melakukan perselingkuhan dengan Bapak saya. Sedangkan Mamah saya selaku istri sah merasa tidak terima dan di rugikan. Pak RT tahu kan bahwa perselingkuhan ada pasalnya dan dapat di tindak pidana jika Mamah saya membawa perkara ini ke ranah hukum?"
__ADS_1
Sasmhita tercekat seperti di hujam kolor demek hingga nyaris membuatnya pingsan. Dengan terbata, Sasmhita menyela pembicaraan Fais. Meskipun dia tahu usahanya akan berakhir sia-sia.
"Saya belum selesai bicara!" Ujar Fais demi menghentikan Sasmhita bicara panjang lebar tidak jelas. Katanya dia hanya khilaf, tapi di jauhi Papah nangis-nangis minta di perhatikan. Katanya dia hanya diberi uang dua ratus ribu setiap kali bertemu, nyatanya dia mengakui sendiri kalau perhiasan, mesin cuci, hp, dll merupakan pemberian Pak Marda.
Sungguh miris. Perkataan yang berputar dari mulut Sasmhita hanya menjadi bahan geleng-geleng kepala Mamah dan juga Pak RT.
"Sudahlah Bu Sasmhita, saya bukan orang baru disini. Banyak yang komplain juga pada saya tentang perilaku ibu mengganggu para suami-suaminya. Saya juga sudah memperingatkan Bu Sasmitha kan agar selalu menjaga ketertiban. Tapi sepertinya ibu tidak mengindahkan himbauan saya. Jadi bagaimana ini Pak Badrun, selaku suami dari Bu Sasmhita?"
"Sa-ya, bagaimana baiknya aja. Mau pukulin perempuan ini juga saya gak masalah, silahkan." Ujar Badrun penuh kepasrahan.
"Ayah.. tolong Mamah yah. Kok malah ngomong begitu sih?!" Rengek sang istri.
Badrun diam. Laki-laki itu hanya mendengus dengan nafas yang sempit. Untuk mengurusi masalah istrinya ia takkan sanggup saat ini. Karena untuk bernafas dengan normal saja, Badrun rasanya letih.
"Nggak Bu, terimakasih. Saya mau pamit pergi ke kamar lagi saja. Untuk masalah ini saya serahkan sama Pak RT dan Ibu Imah."
"Karena kamu sedang tidak enak badan, Saya maklumi. Silahkan istirahat kembali. Tapi jika keadaannya sehat, Saya tidak suka jawaban kamu lepas tanggung jawab begitu saja. Apa yang dilakukan istri, suami ikut bertanggung jawab." Jelas Mamah.
"Iya Bu."
Badrun berlalu meninggalkan segenap orang dengan pola pikir dan perasaan masing-masing. Untuk Fais, anak itu berperang batin pada apa yang dilihat dan di dengar.
Yang di lihat Fais, Badrun nampak pasrah dengan segala hal yang akan menimpa istrinya. Bahkan dia juga pasrah dengan hal yang telah menerpanya. Bagaimana pun dia juga korban dari perselingkuhan ini. Tapi dia sama sekali tidak menunjukan reaksi dari sebuah pengkhianatan. Sedikit pun Badrun tidak memberikan pembelaan berarti bahkan untuk dirinya sendiri.
Yang di dengar Fais dari Nabila, Badrun akan marah tak terima jika di beritahu keluarga Nabila tentang kelakuan istrinya. Meski keluarga Nabila sudah menunjukan bukti lengkap, Badrun tetap tidak percaya lalu secara membabi buta menyalahkan orang-orang. Sungguh kontras bukan?
__ADS_1
"Sasmhita, gua kasih peringatan terakhir sama lu. Mulai hari ini jangan lagi gangguin Suami gua. Lu silahkan tanda tanganin surat perjanjian ini."
"Pak RT tanda tangan sebagai saksi. Jika melanggar, maka secara otomatis tanpa peringatan lagi Mamah akan menindaklanjuti." Sambung Fais. Mamah dan Fais saling berkomunikasi lewat sorot mata, setelahnya mereka tersenyum miring.
Ide Akmal cukup bagus juga ternyata. Batin Fais.
..............
Selepas surat perjanjian usai, Fais mantap mengajukan STPP pada Nabila. Ya STPP, surat tanda putus pacaran. Bukannya tega membiarkan Nabila kecewa dengan arti kata mencintai, yang Fais lakukan hanya untuk tidak memperdalam luka Nabila yang memang sudah tertoreh dengan sikap Fais belakangan. Fais mau memperjelas, ia ingin memiliki STPP guna menghindari tilang yang kerap di lakukan Akmal.
Akmal si pejomblo sejati entah sejak kapan menjadi polisi cinta. Sedikit-sedikit mengoreksi lalu menghakimi hal yang menyimpang dari hukum perasaan. Pasal yang menjerat juga tidak main-main. Yang terberat akan kehilangan orang tercinta, dan selamanya tak akan kembali dalam pelukan.
Seandainya kembali, tidak akan pernah sama.
.
.
.
.
Bersambung...
Akmal : seandainya kembali, tidak akan pernah sama. Camkan itu is!
__ADS_1