
Semilir angin musim penghujan menerbangkan sampah yang hendak dieksekusi. Sampah daun kering bercampur limbah rumah tangga, terkumpul tadi pagi membentuk gundukan. Pagi tadi terlampau galau, sampai-sampai gundukan sampah tak sempat dibakar. Sebab Fais tidak ada angin tidak ada hujan tiba-tiba ijin pergi di pagi buta Membuat Bu Imah kehilangan separuh konsentrasi. Perempuan yang kerap disapa Mpok Imah merasa ada sesuatu yang di rasakan anaknya.
Fais memang begitu orangnya. Hobinya bercanda seperti pelawak sejati. Ditambah sahabatnya Akmal-sama gesreknya dengan Fais. Mungkin melebihi. Tapi yang namanya sedih, dia enggan berbagi kepada siapapun. Tidak seperti tawa yang selalu ia sebar ke segala penjuru.
Banyak orang mengatakan, 'orang yang suka bercanda belum tentu dia bahagia'. Ternyata ada benarnya juga omongan tersebut. Fais bahkan tidak menyangka, dulu ia kira hidupnya hanya tahu soal senang, tetapi pada kenyataannya dia merasakan juga yang namanya kecewa. Dia telah berfikir, bahwa sebentar lagi bocah seperti dirinya akan masuk jajaran anak broken home.
Dimanakah dia sekarang?
Pertanyaan itu akan ditemukan jawabannya ketika menilik sebuah kamar berantakan dari biasanya. Sama keadaanya dengan pemilik kamar itu. Air muka Fais tak ubahnya sprai yang tidak lagi konsisten menutupi kasur. Benar-benar kusut.
Brakkk.. jpraat..jpreett..
Belum selesai Fais menyelami kekalutan yang sedang merajai pikiran. Fais sudah di suguhkan suara debaman dari arah kamar orang tuanya.
Disusul suara Mamah menggaung tidak jelas apa yang di katakan. Yang tertangkap telinga hanya suara intonasi tinggi. Sarat akan kepedihan.
Papah mengaduh kesakitan, "ampun mah. Ampun mah.." sembari mengusap-usap kaki yang terkena sabetan maut sang istri. Secara membabi buta Mamah sekuat tenaga meluapkan emosi. Penggaruk punggung plastik dia jadikan senjata untuk melimpahkan kekecewaan.
"Ampun mah, Papah khilaf."
"Khilaf apaan, Abang dari masih muda gak pernah macam-macam sekarang udah tua malah keblinger. Selingkuh sama bini orang. Astaghfirullah..."
"Abang udah gak sayang lagi sama saya.?!"
__ADS_1
Suara debaman berulangkali terdengar mengiris. Bukan kaki Papah lagi yang menjadi korban kekalutan mamah. Pintu lemari pakaian hampir jebol akibat hantaman sabetan maut.
"Mah, tenang mah. Kita bisa bicarakan baik-baik." Seru Papah di tengah dahsyatnya amukan Mamah. "Apanya yang mau di omongin baik-baik hah." Laki-laki itu bahkan berlari keluar melewati pintu belakang. Sebab istrinya tak bisa lagi di kondisikan.
Papah sempoyongan. Setiap langkahnya disertai nafas memburu. Namun ia masih merasa bersyukur sejak tadi istrinya tidak mengungkit-ungkit kata cerai. Biarlah umpatan mendengung di kepala, Meneriakinya hingga gendang telinga berasa pecah. Asal tidak ada kata cerai digaungkan.
Belakang rumah terdapat bulakan dengan rerumputan menjulang tinggi. Rumput liar yang menjalar tak sengaja menyelengkat kaki Papah hingga laki-laki itu terjerembab, terperosok pada semak belukar yang mungkin saja di dalam terdapat hewan melata sedang berpesta. Muka Papah cemong dengan tanah yang lembab, namun dia tidak peduli seberapa kotornya sekarang. Mata tetap menuju pintu belakang rumah penuh harap.
Papah salah.
Di balik pintu belakang tidak ada yang keluar satupun untuk mengejar. Istri dan anak tak ada yang membuntuti kepergian Papah. Bahkan, pintu pun seakan berteriak mengusir kepergian laki-laki itu. Papah tertunduk lesu.
Lalu, dimanakah anak laki-laki semata wayangnya?
Dia ada disana, Fais ada di pojok belakang samping rumah dekat tiang toren. Anak itu berjongkok sembari membekap telinga menghindari suara pertengkaran orang tuanya. Orang tua yang teramat dia sayangi.
Fais hanya sibuk dengan perasaannya sendiri. Saking anehnya keadaan ini, ulat bulunya berhenti sejenak untuk menengok keadaan bocah tengik yang sering menelapung ulat-ulat yang lewat. Tumben katanya, satu detik dua detik ulat kembali melanjutkan perjalanan. Dan..
Tuiiing...
Ulat terpental jauh, sejauh mata memandang. Akmal pelakunya. Laki-laki itu menyentil menggunakan lidi hasil menyabut dari sapu yang teronggok di tabunan. Sebuah sapu entah sengaja atau tidak telah tercampakkan oleh pemiliknya.
"Kalau mau nangis, nangis aja. Gak perlu di tahan"
__ADS_1
Fais geming. Terlalu malu untuknya menatap Akmal dengan kondisi mata berair. "Gak usah malu kawan, gua gak akan ngata-ngatain lu kalau seumpama detik ini juga lu nangis depan gua. Gak cuma perempuan aja is yang berhak nangis."
Seketika awan mendung mengiringi isakan tangis. Gerimis mulai turun. Suara gemercik dari talang air menenggelamkan isakan yang sedang berlomba dengan tangisan Mamah di dalam sana. Akmal merangkulnya lebih dari biasanya. Tanpa cela, tanpa embel-embel bercanda. Semua nampak begitu serius.
Desember termasuk bulan musim penghujan. Tahun lalu Fais merayakannya dengan secangkir teh hangat dan buku. Tiba-tiba Mamah datang menanggalkan sweater tebal sembarangan. Kadang ke kepala Fais hingga wajah anak itu tenggelam tak berdaya. "Hahaha" Begitu renyah tawa Mamah. Dengan begitu saja, Fais sudah memaafkan kekonyolan ibunya yang tiada tara.
Kemudian Papah datang menyodorkan vitamin. "Kalau musim kaya gini rawan pilek. Fais kalau meler nanti kegantengannya hilang bisa gawat. Nih sebagai bapak yang baik, Papah bikinin air kuning."
Air kuning? kuningnya itu apa anjirrr.
Papah dan Mamah hanya cengangas cengenges.
Tempias air hujan menerpa wajah Fais. Menyapu jejak air mata disana sekaligus menyadarkan Fais bahwa hujan ini bukanlah hujan Desember tahun lalu. Penuh canda, penuh tawa, kaya akan warna.
Tidak seperti sekarang, begitu abstrak untuk dicerna lalu dimengerti.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...
.............