
"Fais, kamu memang ada bukti apa menuduh Papah seperti itu?" Papah masih mencekal lengan putranya yang menggebu-gebu.
"Nuduh? Bukan nuduh kali, emang bener faktanya. Kalau tidak percaya nih lihat!" Fais menunjukan beberapa bercakapan tidak sewajarnya pada sang Ayah. Namun alih-alih mengaku, si Papah malah berdalih kalau percakapan itu hasil rekayasa.
"Tenang Pah, gak cuma gambar kok. Ada rekaman suara-suara dedemitnya juga." Fais menaikan volume saat memutar percakapan. Belum sampai selesai suara laknat itu di perdengarkan, Papah langsung menghentikan perhelatan trailer bukti bangkai yang disimpan. Dan berbicara.
"Is, Papah mohon. Jangan kasih tahu Mamah ya soal ini. Karena kalau tidak, Papah sama Mamah akan terancam bubar. Papah mohon is." Dengan mata merah penuh mohon milik Papah yang bertabrakan dengan manik Fais yang sedang berkaca-kaca, seperti sebuah suratan bahwa hari ini memang layak terjadi. Hubungan Ayah dan Anak disinyalir bak sedekat layaknya nadi, kini terberai bagai orang asing tak bertegur sapa. Dan sekalipun menyapa kalimat yang akan keluar seperti: lu siapa?
Mengheningkan cipta menguasai sekilas atmosfer dapur bersamaan suara pintu depan terbuka.
"Is, nih obat nyamuknya."
Sementara itu, Fais gelapan teringat akan janji cuci piring yang sudah dia tanda tangani. Ia langsung sibuk di depan wastafel dengan perasaan tak menentu.
Lain hal dengan Papah. Laki-laki itu tampak tenang. Setenang air comberan yang tak terjamah. Dan saat Papah pergi dari sana, Fais berbisik tepat angin lewat membuntuti kepergian Papah.
"Fais tidak punya janji apapun pada Papah." Katanya, dengan nada yang mengintimidasi.
Air muka Papah berubah. Ketenangan yang sudah di setting sedemikian rupa akhirnya beriak di terjang ombak. Di ubek-ubek oleh anak kecil dengan mata yang berkilat-kilat.
"Terimakasih Mamahku sayang, sudah beliin titipan Fais."
"Mamah masih gak habis pikir is, itu titipan kamu buat apaan? Kamar kamu banyak nyamuk ya? Coba Mamah periksa." Bu Imah tanpa aba-aba nyelonong masuk ke dalam kamar putranya.
__ADS_1
Dan di waktu seperti ini, waktu yang mengarahkan untuk dua orang belum selesai berbicara bertembung kembali. Papah masih memohon pada sang anak untuk menutupi suatu hal yang jelas-jelas dia tahu apa konsekuensinya.
"Is Papah Mohon sekali lagi. Papah akan perbaiki semua."
"Perbaiki? Memang apa yang rusak? Ngadu aja belum ke Mamah. Lagian Papah pikir lah takut cerai tapi malah main api. Sama istri orang lagi. Memangnya gak ada perempuan lain apah?!"
"Janda juga banyak kali. Kalau Papah emang mau nikah lagi. Tapi jangan harap bisa kumpul sama Mamah sama Fais." Fais teramat geram. Omongannya tidak terkontrol layaknya sedang berbicara dengan teman sebaya.
"Siapa yang nikah lagi?"
Secara tiba-tiba Bu Imah datang tanpa pemberitahuan. Menanyakan siapakah gerangan yang akan menikah lagi. Jika sampai perempuan itu bertanya siapa yang nikah, seharusnya nih ya, Bu Imah tau kalimat lengkap dari anaknya tersebut.
Lain hal dengannya, ibunya Fais itu betulan tidak tahu siapa yang mau menikah lagi.
"Itu Mah teman Ayah, ada yang duda mau nikah lagi." Sahut Papah seketika. Ia begitu takut Fais berbicara yang tidak-tidak. Si Papah melirik Fais, yang dilirik wajahnya kecut bukan main.
Yah, mamah dengarnya segala gak lengkap. Tapi kagak heran juga sih. Mengingat Adit menjadi Udin. Sama sih gua juga. Batin Fais
Di lain sisi, Fais ingin sekali menguak fakta mengejutkan tersebut malam ini juga. Di tambah kehadiran obat nyamuk yang ada gambar kingkongnya, sudah cukup menjadi penolong Papah jika kemungkinan terburuknya Papah di suruh tidur di luar. Namun pikiran lain menyadarkan, iya kalau terjadi itu, kalau bukan bagaimana? Bisa saja ibunya nangis kejer di tengah malam.
Akhirnya Fais memilih untuk diam. Diamnya bukan berarti bungkam. Ia hanya mengikuti alur kemana cerita akan membawanya. Hanya soal waktu ia akan membuka mulut. Pada kesempatan sang ibu menanyakan kejanggalan sang ayah misalnya, saat itulah anak itu tidak akan berbohong seperti Papah.
...........
__ADS_1
Rungkad dengan masalah yang diciptakan Papah, Fais memilih pergi ke kamar bertemankan sepi. Netranya sibuk mencari-cari keberadaan ponsel satunya lagi untuk melihat kondisinya. Terpampang di beranda pesan masuk bertubi-tubi dengan beberapa panggilan tak terjawab.
Ada dari Nabila, ada dari Akmal. Alih-alih menghubungi balik Nabila yang sudah dapat dipastikan cemas di seberang sana. Bocah itu lebih memilih melakukan panggilan dengan sahabat tengiknya, Akmal.
"Ada apa Mal nelpon gua?"
------
"Iya udah, gua urusin. Lu tenang aja."
------
Sambungan terputus. Sesingkat itu Fais berbicara dengan Akmal. Memang tidak ada yang perlu di perpanjang lagi. Sebab, sahabatnya itu menjelaskan seharian ini ia terus-terusan di hubungi Nabila lantaran Fais sama sekali tidak bisa di hubungi. Bahkan terselip ancaman jika Fais tak ada kabar maka gadis itu tidak akan makan.
Serumit inikah orang pacaran?
Fais merebahkan tubuhnya, tubuh yang tidak lelah namun terasa begitu kaku.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...