
"Astaghfirullah.." Fais menepuk jidatnya mengisyaratkan bahwa dia telah melupakan sebuah janji. Pemuda itu tidak ingat bahwa kehadirannya telah di tunggu dua wanita cantik di rumah. Dan tepat ketika Akmal turun dari motor miliknya, Fais siap-siap tancap gas tanpa ragu.
"Is, lu buru-buru banget. Ada apa sih emang?" Teriak Akmal.
"Gua lupa kalau di rumah gua lagi ada ayang."
"Ayang siapa?"
"Ayangnya gua lah, masa ayangnya lu."
"Maksudnya siapa njiir ... Maya? Lah emang lu udah jadian ya? Kapan nembaknya?"
Yang tadinya sudah gas tipis-tipis kini benar-benar berhenti karena pertanyaan Akmal. Fais turun dari motornya hanya untuk menatap lekat wajah Akmal yang kebingungan. "Emangnya kalau gua suka dia, dianya juga suka gua, harus ada kata sambutan buat jadian?"
Akmal berdecak, laki-laki berkulit hitam manis itu tak habis pikir kenapa Fais begitu menyepelekan sebuah kata-kata. Seorang perempuan meskipun berkali-kali mendapat perlakuan khusus tanda sayang, jika tidak ada pernyataan akan menganggap sebuah hubungan itu masih tahap abu-abu. Walaupun sadar atau tidak, perempuan tidak mau terlalu percaya diri. Mereka akan antipati pada yang namanya ge'er di awal. Ketika ke-ge'eran bernasib sebaliknya, maka malu dan rasa sakitnya tiada tara.
"Lu kok jadi dodol gini sih soal cinta? Eh Sarimin gua kasih tau ya, perempuan itu harus di kasih kepastian ungkapan rasa lu ke dia lewat kata-kata. Minimal nembak gitu kek. Ya... walaupun lu udah berusaha untuk menunjukan lewat cara lain tapi itu masih nggak cukup is" Akmal bersungut-sungut. Ia tidak peduli celana basah masih menjadi momok yang mengerikan hingga angin mengancamnya masuk apabila terus-menerus di abaikan.
Fais menghela nafas panjang, "Mal, gua rasa cara gua udah cukup jelas buat menunjukan kalau gua itu sayang sama dia. Dari mulai gua nggak bisa berhenti mikirin dia kalau belum ketemu. Gua kasih perhatian kecil kalau dia lagi datang bulan. Gua antar jemput dia kursus... Terus"
"Apa lu kata? Datang bulan?" Akmal menyela pembicaraan.
__ADS_1
"Iya, kenapa emang? Biasa aja kali nggak usah melotot gitu lobang idung lu."
"Kok lu sampai tahu ke hal yang kek gitu si?"
"Namanya juga cinta. Kalau nyari informasi tentang dia itu kudu jelas dan spesifik. Sampai hal-hal terkecil gua harus tahu. Apa yang dia rasain, apa yang dia nggak mau, apa yang dia khawatirkan, she is the women i always want to take care of."
"CEILEEH, so Inggris lu."
"Hehe, eh tunggu. Kenapa lu tiba-tiba jadi pinter soal beginian?" Tanya Fais. Karena bocah itu merasa heran saat Akmal membahas perihal tembak menembak pada wanita.
"Apa jangan-jangan... Sebenarnya... Lu udah jadian ya sama Nabila?"
"Wa'alaikum salam" Jawab Akmal dan Fais berbarengan. Detik kemudian Akmal tersenyum pasi pada kehadiran Nabila yang tiba-tiba.
Mamppyuss lu Mal Nabila datang di saat celana lu basah haha.
.............
Setibanya Fais di halaman rumah, anak itu mengeryit manakala netranya menyapu garasi. Disana, Honda CR-V hitam milik Papah terparkir dengan kondisi yang bersih. Mengkilap tidak ada jejak tanah lempung sama sekali maupun debu. Fais menduga Papah telah mencuci steam mobilnya saat menuju pulang. Namun Fais tidak melupakan begitu saja kemampuan jarak tempuh waktu antara motor dan kendaraan roda empat tersebut.
Tidak mau berlama-lama menjelajah pikiran, Fais langsung mengayunkan langkah untuk masuk ke dalam rumah. Laki-laki itu disambut dengan senyum meriah Mamah, Maya, dan juga--Papah.
__ADS_1
"SELAMAT ULANG TAHUN"
Kue bermotif Spongebob di tangan Mamah dan Papah bertengger menumpu lilin kecil yang menyala secara serempak. Fais tahu lilin tersebut sukar untuk di padamkan, tapi dia tetap melakukannya hanya untuk sebuah kebersamaan.
Kata orang-orang, kebersamaan keluarga mampu mengalahkan semuanya. Rasa ego Fais untuk menghancurkannya tidak cukup kuat. Ia sembunyikan rapat-rapat luka yang tersiram kembali, demi--sebuah senyuman orang-orang yang dicintai. Demi senyum Mamah, demi sumringahnya Maya, Fais rela sakit sendirian.
"Selamat ulang tahun ya anak Papah. Nggak kerasa Fais sudah tumbuh dewasa seperti ini. Papah minta maaf belum bisa bahagiakan Fais sebagaimana mestinya. Seharusnya Papah memberikan contoh dan pengajaran yang baik untuk kamu Nak. Tapi Papah akan selalu mendo'akan dan menginginkan yang terbaik untuk anaknya." Papah merengkuh putranya, membawanya dalam pelukan yang hangat selagi ia bisa. Fais diam dan hanya mengikuti pergerakan. Lalu sekilas anak itu tersenyum sumbang
"Selamat ulang tahun ya anak Mamah yang gantengnya gak ketulungan hehe. Oh iya, tadi kan ada acara santunan anak yatim disini. Eh Faisnya telat. Memangnya kamu kemana lagi si Nak? katanya cuma kondangan ke rumah Bayu?"
Saat Mamah bertanya seperti itu, Fais melirik air muka Papah. Dan...
.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1