
Kondangannya jangan lama-lama ya? Cepet balik. Soalnya Mamah sama Maya nunggu.
Sepertinya pesan Mamah itu hanya tinggal kenangan. Melebur bersama kepergian Fais dan Akmal yang berkendara bertolak jauh dari arah rumah. Dengan keadaan Fais teramat kalut, anak itu duduk dalam boncengan. Akmal menjadi kapten perjalanan dengan kepiawaiannya meliuk-liuk dalam rapatnya barisan kendaraan.
Angin yang tertabrak laju motor keduanya mendengungkan gendang telinga. Namun tidak cukup kuat meniup kobaran api yang menyala. Fais tidak habis pikir jalan pikiran apa yang ditempuh sang Ayah sampai-sampai Papah tidak pernah jera menjauh dari sosok Shasmita.
"Is, turun." Perintah Akmal saat mereka bertepi pada tempat yang terlalu asing untuk di kenali.
Keduanya berjalan menyusuri jalan setapak ke arah pemukiman warga. Kontur tanahnya berlempung dan banyak pohon kelapa tinggi menjulang. Disepanjang mereka berjalan, pemandangan ****** masih tertangkap mata di sudut kanan kiri. Rata-rata dekat belakang rumah dan tak jauh disebelahnya ada rawa-rawa.
Papah dan perempuan laknat itu berhenti di sebuah rumah sederhana. Hanya Sasmhita yang masuk seorang diri setelah disambut wanita paruh baya dengan rambut hampir memutih seluruhnya. Papah celingukan melihat situasi sekitar. Lalu kejadian persis seperti apa setelahnya, Fais kehilangan titik fokus.
Yang ada di pikiran Fais hanya ada rasa dimana ia ingin resign jadi anak dari seseorang bernama Marda Wardana. Ia marah, ia kecewa terlalu dalam. Dan tepat detik ini Fais telah memutuskan untuk tidak memanggil ayahnya dengan sebutan Papah.
"Mal, hayo." Fais menarik lengan Akmal yang sedang meringis. "Kemana?" Kata Akmal dengan pasrah. Wajah Akmal sudah seperti orang memelas minta ampun. Di tambah ia membungkuk tidak karuan kesana kemari.
"Ya pergi ikutin Bapak gua lagi. Noh dia udah otw pergi."
Akmal menghela nafas, lalu menjeda sebentar seakan ada sesuatu penting yang akan dia utarakan.
"Is, maaf banget nih ya. Maaf banget bukannya gua nggak setia kawan. Ada yang perlu gua bicarakan sama lu"
"Apa?!"
"Sungguh sangat disayangkan is, gua pengen banget berak sekarang."
__ADS_1
Fais mendengus, wajahnya tak kalah prustasi setelah mendengar permintaan Akmal yang sangat tidak bisa di ganggu gugat. Tahu kan kenapa? Iya, karena kalau di tahan-tahan bisa jadi penyakit. Penyakit berak di motor misalnya. Tapi tidak ada salahnya untuk mencoba bernego."ah lu Mal, bisa nggak beraknya buat besok aja? Ini kesempatan emas buat gua nangkep basah tuh orang bedua."
"Annjirrr... emangnya tahii bisa diajak kompromi!? Nggak bisa is, asli ini mah nggak bisa di tahan." Sungut Akmal sambil berjingkat-jingkat menahan perutnya yang mules bagai terkena sapuan tornado.
"IYA UDAH IYA"
"Anter atuh. Gua iseng sendirian mah"
"Nggak bisa, gua harus pergi. Nanti kalau lu udah selesai telepon gua aja. Nanti gua kesini lagi buat jemput lu."
"Nggak mau sendirian ah, gua takut di culik kolor ijo!"
Fais pasrah. Tidak ada pilihan lain selain menuruti permintaan Akmal yang repotnya bukan main. Lagi pula, Papah sudah tidak nampak lagi dalam bidikan Fais. Pupus sudah harapan Fais untuk segera menyeret dua orang yang telah merenggut kebahagiaan Mamah.
"Lagian gua nggak percaya sama lu kalau lu pergi sendiri. Gua takut lu kenapa-kenapa di jalan. Jelek-jelek begini gua selalu khawatir sama keadaan lu is. Sebagai kawan dari masih orok..." Oceh Akmal sambil berlalu memasuki area rawa-rawa. Lama kelamaan suaranya mengecil lalu hilang di telan oleh jarak.
.
.
"Kenapa lagi dah itu?" Tanya Fais.
"Korban cebok terburu-buru. Kancrut gua jadi basah."
Benar apa yang dikatakan Akmal. Terburu-buru akan memakan korban apapun itu. Termasuk kancrut yang tak sengaja tersiram. Kancrut, begitu Akmal menyebutnya. Kata Akmal kancrut itu merupakan kependekan dari kantung curut.
__ADS_1
..............
Di rumah.
Mamah dan Maya sudah selesai menempati nasi kotak sebanyak tujuh puluh bungkus. Tidak itu saja, jejeran beraneka ragam kue basah dan kering sudah siap menggugah selera. Mamah pun membuka kulkas lalu mengeluarkan seonggok kue ulang tahun bertuliskan nama Fais.
Tadinya Mamah akan langsung menyalakan lilinnya. Setelah telpon dan pesan belum juga mendapat balasan dari Fais, Mamah hanya bisa memandangi kue itu dengan senyum terbaik. Mamah berhenti meratap pada benda manis mengenyangkan itu saat Maya menghampiri Mamah dengan penampilan yang sudah rapi dan wangi.
"Eh Maya, sini May duduk di sebelah Ibu. Kita lihatin kue ulang tahun Fais yang lucu ini"
Maya senyum "Lucu kuenya Bu, ada gambar spongebob nya gini hehe." Kata Maya dengan jujur yang teramat canggung.
"Hehehe Iya, soalnya ini kartun kesukaan Fais pas masih kecil. Sengaja Ibu siapkan kue dan acara sampai segininya karena.... Nggak kerasa bocil Ibu sudah besar dan tumbuh dewasa"
"Ibu akhir-akhir ini merasa kasihan sama Fais May. Gara-gara Mamahnya ini dia kesiksa batinnya sampai banyak merubah dia menjadi anak laki-laki yang mandiri. Emang bagus sih kalau itu semua membuat dia menjadi pribadi yang lebih mandiri dan segenap meninggalkan kemalasan bin rebahan. Tapi May, yang berubah nggak cuma itu aja." Mamah tertunduk lesu dimana ingatannya menemukan Fais menghisap rokok. Mamah juga pernah membukakan pintu malam itu untuk Fais dan mencium bau alkohol.
Yang lebih parah adalah, Mamah kehilangan Senda gurau Fais di dalam rumah ini.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...