Tulisan Fais

Tulisan Fais
Tidak terduga


__ADS_3

"Terus..terus.. kalau gua lagi senang gimana?"


Fais oh Fais. Akmal masih ingat betul dirinya tidak pernah menyanyikan lagu untuk Fais kalau lagi senang. Akmal akan bernyanyi untuk Fais ketika anak itu sedang gundah gulana. Sudah itu saja. Yang ada mereka hanya berkolaborasi alat musik ketika Akmal sedang menunjukan kebolehannya.


Tahu nggak tentang rumus Fais: mengerjai Akmal merupakan sebuah keharusan. Jadi jangan salahkan Fais jika saat ini ia membuat Akmal berfikir keras secara otodidak. Lagian salah Akmal juga ngaku-ngaku kalau dia selalu bernyanyi di kala keadaan Fais galau maupun senang.


"Lagu kalau lu lagi senang ya?" Kata Akmal dengan tatapan bingung. Sekilas manusia berkulit hitam manis itu menggaruk pelipis.


"Iya Mal, masa lu lupa?!" Makan tuh omongan lu Mal.


"Genjreeng.." Tangannya berlagak seperti sedang memetik gitar. "Kita pemanasan dulu ini hehe nggak usah tegang." Seru Akmal dalam pembukaannya. Kalau Maya menganggap ini sebuah pemanasan yang lucu dan tidak sabar ingin mendengar lagu itu. Lain hal dengan Fais. Bocah tengil satu itu merayakan sikap Akmal yang sedang kalang kabut sembari menengguk es jeruknya.


"Jreng..jreng...jreng"


Tuh kan, nggak bisa mikir dia.


Seutas senyum sumir terbit dari belah bibir Fais. Kemenangan menyertainya sore ini dimeriahi riuh cerita tawa dari pengunjung lain yang saling tumpang tindih. Seakan suara itu sebuah sorai gembira yang membumbungkan kemenangannya. Bukan terkesimanya para penonton dengan petikan gitar ghaib milik Akmal.


"Mayaaaa.... Maya... Engkaulah gadis pujaan. Mayaaa.. jangan kau tinggalkan diriku.."

__ADS_1


Bagus. Nyanyian Akmal hampir membuat Fais tersedak es batu.


Akmal berjingkat-jingkat senang. Yang tadinya bergitar kini berubah menjadi kendang yang bertalu-talu. Entahlah, mungkin dia lupa tadi memegang musik apa. Atau mungkin saja gitar ghaibnya sudah ia telan bersamaan rasa senangnya yang membuncah karena berhasil mengerjai balik seorang Fais Mahda Wardana.


Lagu itu terus di putar Akmal. Sampai netra Fais berkeliling mencari eksistensi karet gelang. Fais berharap ada satu karet yang tak bertuan untuk ia pakai menyelepet Akmal. Syukur-syukur kena bokongnya. Dan di tengah Maya kikuk karena lagu yang di bawakan Akmal, Fais menemukan keberadaan benda yang di cari tepat di belakang Maya duduk.


Fais diam-diam ingin meraihnya dan menuntaskan niat jahat. Agar apa? Agar Akmal berhenti menyanyikan lagu yang membuat Fais membeku. Yang benar saja, keberuntungan tidak berpihak pada Fais. Bisa di bilang hari ini apa yang direncanakannya tidak sejalan lurus dengan kenyataan. Maya menyadari Fais mencodongkan badan langsung gelagapan dan akhirnya..


Eeuummpph..


Sekilas. Tapi sangat menyengat pada detakan jantung. Kinerja organ satu ini mendadak dua kali lipat lebih cepat dari biasanya. Belum lagi gelenyar aneh mendesir di permukaan kulit manapun. Niat hati mengambil karet gelang berwarna merah di belakang Maya, malah berujung hidung ketemu hidung. Bibir ketemu bibir.


Kalau kejadiannya seperti ini, Fais bisa di katakan tidak beruntung ataukah sial?


"Haduuh.." Fais mengaduh sakit di bagian jidat. Lalu ia memberikan kode kedipan mata agar Maya mengikutinya. Maya menurut dengan memegangi pelipisnya. Agar Akmal mengira apa yang tertabrak adalah jidat ketemu jidat.


"ABAANG..!"


Semua mata tertuju pada Nabila. Tak terkecuali segelintir orang-orang disekitarnya yang tak sengaja mendengar pekikan cerempeng dedek gemesnya Akmal. Gadis itu setengah berlari membawa dua es cream cone segede gaban pada kedua tangannya. Hasil mengantri dari gerai Mixue di seberang jalan.

__ADS_1


"Abang Akmal hayo cepetan makan es creamnya nanti keburu meleleh. Kalau meleleh nanti pada cair terus netes-netes. Kalau gitu nanti jadi mubazir, ayo cepat bang di makan ayo bang ayo bang" Nabila nyerocos tidak karuan. Meski begitu, Akmal tetap menuruti permintaan Nabila untuk menghabiskan es cream di tangannya.


Mereka berpacu dengan waktu bak mengikuti lomba agustusan. Seolah mereka sedang memperebutkan siapa kalah dan siapa yang menang. Tanpa mereka sadari, kegiatan mereka jadi bahan tontonan Fais dan juga Maya.


Belum sampai cone tersebut sepenuhnya tertelan, Fais berlalu bersama Maya dengan cara senyap namun tidak benar-benar sunyi. Hingga Nabila baru menyadari kehadiran mereka di tengah-tengah dirinya dan Akmal. Nabila menatap nanar punggung Fais dan Maya yang hilang di telan kerumunan orang. Dua punggung yang sama-sama berjalan satu tujuan dengan tangan saling bergandengan.


"Nabila" Panggil Akmal


Nabila terlonjak "ah iya Kak"


"Kak? maksudnya Kak Fais?" tanya Akmal hati-hati. Karena dia ingat betul, panggilan Nabila padanya sudah berubah menjadi Abang. Bahkan berhari-hari setelahnya Nabila tak pernah salah menyebut.


"Maksudnya Abang Akmal kesayangan Nabila hehe"


"Oh begitu" Jawab Akmal dengan ekspresi lempeng.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2