Tulisan Fais

Tulisan Fais
Di warung


__ADS_3

Fais belum pernah merasakan, yang katanya cinta dapat membuat tai kambing semanis choco chips. Yang pemuda itu rasakan saat ini, di bahunya perlahan-lahan ada yang meluruh sedikit demi sedikit hingga membuat pundaknya terasa enteng. Dia sampai lupa bagaimana caranya berhenti tersenyum sejak berpamitan pada kekasihnya. Sampai akhirnya, Fais melewati mobilnya dan berjalan ke arah warung Mang Ujang di seberang jalan.


Di bawah pendar lampu tutup panci, bayangan Fais membentuk siluet yang indah di mata Maya. Perempuan yang sudah resmi menjadi kekasih Fais itu menutup tirai jendelanya saat sosok pujaan hati hilang di telan belokan. Hati Maya berdegup, entah dia cemas kenapa Fais pergi jalan kaki alih-alih menaiki mobilnya, ataukah ada hal lain? Separah itu kah jatuh cinta? Hingga menyebabkan seseorang lupa datang naik kendaraan atau berjalan kaki.


Aa mau kemana?


Dengan air muka sumringah seperti orang yang sedang jatuh cinta, Fais duduk di warung Mang Ujang bertemankan bapak-bapak yang sedang main catur. Salah satunya memiliki tato bunga mawar di lengan kanan. "Ngupi is?" Tawar pemilik tato mawar. Sebut saja dia Bang Zeki.


"Nggak bang makasih, numpang gabung bentar ya bang, kagak ngapa kan?" Fais berbasa-basi pada Bang Zeki sebelum mendaratkan bokongnya di atas bale bambu.


"Gih bae. Eh ntar dulu, bukannya tadi lu di rumah Maya ya? Lah ngapah sekarang malah di mari?" Tanya bang Zek. Dengan tangan yang masih menggantungkan pion ke udara.


"Iya bang. Saya disini mau nungguin Bi Nur pulang, kasihan Maya sendirian di rumah. Kalau saya temenin di rumahnya takut terjadi apa-apa nanti. Bukan begitu bang?" Fais meminta validasi sambil cengengesan.


"Iya bener. Waah jarang ada pemuda kaya lu ini. Pan yang lain mah kesempatan kalo rumah lagi sepi. Patut di apresiasi kalo begini caranya." Seru Bang Zeki membuat para penghuni warung manggut-manggut.


"Ah Abang bisa aja."


"Jaman sekarang is susah dah nyari orang yang pemikirannya kaya lu." Sahut lawan main catur Bang Zeki. Sebut saja dia Bang Mi'un.


Fais hanya bisa senyam-senyum menanggapi komentar para Bapak-bapak. Pasalnya, ia bukan lelaki yang bener-bener amat seperti omongan mereka. Jadi, ia lebih memilih diam tanpa banyak berkomentar.


"Beneran is lu nggak mau minum kopi?" Kali ini yang bertanya adalah Mang Ujang. Si pemilik warung.


"Nggak biasa ngopi malam Mang."


"Susu kali Jang, coba dah tawarin." Yang ini kata Bang Zeki menyela.


"Susu is?"

__ADS_1


"Boleh deh Mang"


"TUH KAN, APA GUA BILANG!" dengan bersungut-sungut penuh kemenangan, Bang Zeki berselebrasi atas kebenaran usulnya. Karena itu, Bang Zeki dapat geplakan hebat dari sang rival bermain catur.


"Eh busseeeh, biasa aja Mawar. Bulu ketek lu ampe terbang ke idung gua ini."


Dan seluruh penghuni warung pun tergelak bersama-sama tanpa terkecuali Fais. Bocah itu sampai tidak mendengar bunyi dan getaran notif pesan yang masuk ke dalam ponselnya.


"Mau susu apa is? Dancow apa SGM?" Kata Mang Ujang dengan cengiran yang lebar.


"Yaelah ini lagi tukang warung segala pake nanya, langsung ge bikinin!" Seru Bang Mi'un.


"Bikinin susu apa dah?" Timpal Mang Ujang dengan tampang melongo. Entah di buat-buat atau tidak. Yang pasti tukang warung tersebut mengerutkan dahinya.


"SUSU CAP ENAK" pekik yang sedang bermain catur bersamaan. Kemudian suasana riuh kembali dengan gelak tawa para Bapak-bapak plus bocil satu. Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang terus saja memperhatikan ke arah mereka.


"Aa Fais?"


"Ehemm calon mantu idaman"


"Mpok Nur, si Fais di marih gara-gara jagain Maya dari kejauhan. Dia ora mao berduaan di rumah katanya. Takut khilap hehe"


"Jadiin lah jadiin, kapan ini hajatan?"


"Lah susunya baru ge jadi ini"


Dan masih banyak lagi lontaran kalimat kepada ibunya Maya tentang Fais.


"Bener itu a? kenapa gak nunggu di rumah? Bibi mah percaya aja sama kamu a, kamu kan anak baik."

__ADS_1


Kamu kan anak baik.


Ketika kalimat itu menggaung, seperti ada sihir yang membuat seisi warung terdiam dengan raut wajah sulit di artikan. Air mukanya sama semua. Menunjukan kalau mereka tahu tentang sesuatu hal tapi enggan untuk menguak. Seperti ada perasaan yang sedang di jaga.


Hanya Ibunya Maya, yang dapat menyimpulkan bahwasanya keburukan dari orang tua tidak serta-merta di turunkan kepada anaknya. Bu Nur selalu percaya pada Fais, karena anak itu membutuhkannya. Fais butuh kepercayaan dari orang-orang, kalau dia tidaklah sama dengan sang ayah.


.


.


.


.


Bersambung..


Sebenarnya, para Bapak-bapak melihat Fais seperti fotokopian dari orang bernama Mahda Wardana. Kalem, sopan, gak banyak pecicilan. Namun mereka tidak bisa asal menjudge kalau hasil akhirnya akan sama. Atau mungkin Papah memiliki alasan tersendiri kenapa bisa terjerumus pada titik hitam. Yang pasti jadi manusia, jangan terlalu mencampuri urusan orang lain terlalu dalam. Itulah pedoman yang membuat para penghuni warung menjadi sunyi.


Mawar. Sebutan akrab Bang Mi'un dari laki-laki bernama Zeki, adalah orang yang berkoar-koar kalau manusia tidak bisa berbicara dengan benar lebih baik diam. Dia sendiri bukan orang baik-baik, ia lulusan dari orang banyak maksiat. Namun dia adalah orang yang telah insyaf, yang sedang berusaha membuat dirinya lebih baik


Salam hangat


Zenun Smith.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2