Tulisan Fais

Tulisan Fais
Kecemasan


__ADS_3

Semoga saja Nabila. Semoga kamu tidak akan membenci kata mencintai.


Alih-alih mengatakan itu secara gamblang, Fais hanya tersenyum manis tanpa bisa menjawab. Langit yang cerah, suasana yang tidak segaduh biasanya, serta ponsel yang hening diam membisu, turut menjadi tim sukses peresmian hari jadi sepasang kekasih. Hari ini, 13 Desember 2022, 19 Jumadil awal 1444 H, Selasa Pon.


...........


Aww...


Pisau telah melukai jari Bu Imah. Luka awal semula menganga tanpa ada aliran di pegang erat-erat sembari ditiup-tiup. Kemudian darah perlahan keluar dari sayatan perih yang menganga itu.


Jika di rumah hanya seorang diri tidak ada sosok laki-laki, maka Bu Imah akan berlaku mandiri. Apa-apa harus bisa dan apa-apa harus di kerjakan sendiri. Termasuk mengobati luka.


Bu Imah lari ke kebun samping rumah. Mengambil satu dua lembar daun blakacida kemudian di tumbuk kasar. Setelah itu ia menyobek kain bekas guna membalut luka bersamaan obat yang ia buat.


Dan sebotol obat merah yang teronggok di dalam kotak p3k menatap nanar dibalik pintu kotak bening. Memperhatikan gerak-gerik Bu Imah sedari tadi.


Perasaan tidak enak terus ini ya. Mau ada apa ini? Apa mau nangis?


Sembari membalut jari, Bu Imah meladeni intuisi yang sedang dia rasakan. Terlintas bayangan Papah dan Fais dalam benak yang sedang jauh disana. Kemudian tidak berlama-lama Bu Imah mengambil ponsel menanyakan kabar orang-orang yang ada dalam pikiran satu-persatu.


Di mulai dari Papah.


"Pah, lagi dimana?"


"Lagi mau otw pulang nih Mah. Ada apa? Ada yang mau di titip? Atau Mamah lagi sakit?" Kata Papah. Perhatiannya sungguh luar biasa.


"Gak ada apa-apa Pah. Cuma nanya aja. Kok Papah tumben sudah mau pulang."


"Pulang telat curiga, pulang cepat di tumbenin. Huh si Mamah."


Begitulah manusia. Apapun jawabannya, akan selalu ada tanggapan-tanggapan lain yang memerlukan jawaban.

__ADS_1


"Hehehe, iya ya Pah. Yasudah hati-hati di jalan. Mamah selalu menunggu di rumah."


"Iya sayangku."


Giliran Bu Imah menghubungi Fais. Satu panggilan masih tidak di jawab. Bu Imah mengulangi panggilan disertai rasa cemas yang menjalar.


Tut


Tut


Tut


"Iya mah"


"Fais dimana?"


"Di hati Mamah."


"Kenapa Mamah telepon Fais? Kangen?"


"Iya, Mamah sepi is gak ada teman berantem."


"Yailah Mamah, yasudah nanti kalau sudah sampai rumah, Fais ajak ribut. Oh iya Mah, masak apa hari ini?"


Masak apa hari ini adalah pertanyaan yang tak pernah absen sejak Fais duduk di bangku SD. Pertanyaan itu seperti kebiasaan yang akan aneh jika terlewat barang satu hari saja. Sama halnya dengan kita pulang kerumah. Yang selalu jadi pertanyaan adalah emak kemana. Entah pertanyaan kepada diri sendiri atau kepada orang di rumah selain emak.


Dan jika sudah ditemukan keberadaanya, sudah melihat wajahnya, ya sudah. Cuma nanya saja dan tidak di apa-apakan. Lalu Atmosfer rumah akan terasa nyaman kembali. Dunia akan terasa baik-baik saja.


"Mamah gak masak sayangku, gapapa kan? Nanti kita makan diluar saja. Papah juga balik cepat. Gak ijin mampir-mampir lagi"


"Wah ide bagus tuh, sudah lama kita gak ayo. Fais tutup dulu ya Mah. Soalnya Fais mau buka pintu."

__ADS_1


"Iya is."


"Assalamualaikum.."


"Wa'alaikum salam." Eh sebentar, kok hpnya udah mati masih ada suara Fais?


"Hehehe" Fais tergelak di balik pintu yang terbuka. Bu Imah terperangah, "dih bocah, lah kapan datangnya is?"


"Mamah telepon Fais pas banget sampai di depan."


............


Selang sepuluh kemudian, ayah Fais sampai di rumah dan turut meramaikan suasana. kecemasan yang sempat menyerang Bu Imah sudah mulai terkikis dengan tawa yang memenuhi ruangan.


Mungkin, Bu Imah merasa sepi dan pikiran negatif menghantui.


Sementara acara pergi bersama masih tersisa waktu tiga puluh menit lagi. Ayah Fais gunakan untuk mandi. Ibunya mempersiapkan segala-galanya, keperluan sang suami dan keperluan Fais.


Ya, keperluan Fais. Menyiapkan air hangat satu ember beserta lapnya. Nantinya akan digunakan Fais untuk cucian, cucian dalam arti ngelap-ngelap badan sebab tidak mandi. Karena kalau sampai mandi, dia akan minus tiga puluh menit lagi dan berakhir pengunduran jadwal.


Setelah sudah rapi, terdengar suara begitu ribut. Raungan tangisan, istighfar menggaung, membuat suasana semakin mencekam. Fais otomatis berlari mengikuti Ibunya yang lebih dulu berlarian.


.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2