
Tepat di pelataran rumah Badrun.
Tekad yang sudah bulat membawa Fais pada tempat yang tidak pernah hadir dalam mimpinya. Ia akan melabrak pelakor. Sesuatu yang benar-benar di luar jangkauan Fais dalam susunan rencana hidup. Tapi yang namanya kenyataan, tetaplah kenyataan.
Mamah lebih dulu turun dengan tergesa-gesa. Mamah yang sejak dari rumah sudah semangat empat lima tiba-tiba langkahnya memelan saat beberapa langkah lagi tepat berhadapan dengan pintu rumah Badrun.
Fais kira Mamah mengurungkan niat lalu berubah haluan untuk kembali pulang saja alih-alih melabrak. Tetapi Fais salah menduga. Mamah demikian disebabkan telinganya menangkap suara seseorang yang menangis tersedu.
"Is.."
Air muka Mamah yang tadinya sudah bergelora nampak seperti berfikir. Fais mempercepat langkah untuk bisa berdiri berdampingan dengan wanita yang amat dia bela.
"Ada apa Mah?"
"Kaya ada yang nangis."
Fais dan Mamah menajamkan telinga untuk memastikan apakah kedatangannya saat ini sudah tepat? Sampai Fais punya pemikiran untuk memeriksa monitor, barangkali suara tangisan itu ada kaitannya dengan Papah.
Dan benar adanya.
Di dalam sana, Sasmhita sedang melakukan panggilan video dengan Papah. Sasmhita menangis, bersikeras kalau dia tidak pantas di abaikan. Karena baginya, dia bukanlah perempuan murahan seperti kebanyakan anggapan orang terhadapnya.
Fais mendadak mual. Mamah yang clueless langsung khawatir dengan keadaan Fais. Sang ibu takut asam lambung anaknya naik, lantas Mamah menawarkan agar proses peringatan pada Sasmhita hari ini dilakukan pada lain kesempatan.
Fais menggeleng. "Fais nggak sakit beneran. Lihat nih Mah siapa yang nangis."
Semangat Mamah kembali membara.
.
.
__ADS_1
"Assalamualaikum.."
Strategi bahwa Fais yang akan memancing Sasmhita untuk keluar memang ide yang bagus. Fais sudah riset jauh-jauh hari sebelum hari ini datang. Maka segala sesuatunya sudah terorganisir dengan baik.
Wah siapa tuh? Suaranya lelaki. Siapa ya? Batin Sasmhita langsung gercep mematikan panggilan.
"Wa'alaikum salam"
Sasmhita senyum pada laki-laki muda nan tampan di hadapannya. Sampai ingatannya menyadarkan bahwa dia tidak boleh tersenyum begitu manis pada bocah itu. Sasmhita kaget bukan main. Kenapa anaknya Pak Marda bisa bertandang kesini?
Fais menyunggingkan senyum palsu lalu berkata "Hai kamu, yang ngakunya janda ke setiap lelaki. Apa kabar janda? Suami sehat?"
Sasmhita menelan ludah saat kemunculan Mamah yang tak kalah mengintimidasi. Ia tidak sempat menjawab pertanyaan Fais, sebab sibuk dengan sorot mata Mamah yang mengiris tulang dan mencekik urat nadi.
"Jangan.. suami saya lagi sakit." Seperti sudah tahu kalau dia akan menjadi bulan-bulanan Fais dan juga Mamahnya. Tubuhnya mundur memasuki rumah tanpa menutup pintu. Efek panik atau bagaimana, Sasmhita berlagak seperti orang ketakutan, tapi mengancam, tapi panik. Ia terus meracau "jangan.."
Haduh baru kemarin di tabok, masa sekarang kena tamparan lagi. Sasmhita ketar-ketir. Ini bukan kali pertama ia akan di labrak istri-istri orang. Tapi kenapa rasanya, cemas itu masih tidak bisa ditepis.
"Masa tamu nggak di suruh masuk sih?" Seru Fais menikmati bagaimana paniknya Sasmhita. Perempuan itu bergerak kesana kemari tak tentu arah seperti layangan medal. Semarahnya Mamah dan Fais, mereka masih tahu batasan untuk tidak memasuki rumah orang tanpa ijin.
"Suami saya lagi sakit. Jangan.."
"Makanya lu keluar. Gua cuma pengen kongko doang ama lu di bangku sini." Ujar Mamah.
Sasmhita menurut. Ketika tubuhnya baru setengah di ambang pintu, Mamah menarik paksa lalu mendudukkan Sasmhita agar obrolan mereka semakin tidak terlihat layaknya pelabrakan.
"Lu masih aja gangguin laki gua, sini HP lu!"
"Ih apaan sih. Saya nggak gangguin." Kilah Sasmhita. Matanya penuh dengan kebohongan.
"Gua tau lu barusan nangis-nangis minta di diperhatikan lagi sama laki gua. Gimana rasanya di cuekin? sedap ya?" Mamah tertawa sumir seperti tokoh antagonis dalam film.
__ADS_1
"Siapa yang nangis. Ini ada apaan sih?" Sasmhita namanya. Belum ada bukti yang kuat masih terus saja mengelak. Tanpa tedeng aling-aling Fais berbicara sambil memberikan bukti nyata perselingkuhannya selama ini.
"Nggak usah pura-pura, semua bukti ada di tangan gua. Nih kalau emang lu mau tau." Anak itu memutar semua bukti yang telah di dapat. Sasmhita meringis mendengarnya dengan pandangan mata nanar ke arah jemari gelisah. Seakan dia sudah menyerah dengan cara terus berpura-pura tidak tahu.
"Kenapa lu tepis tangan anak gua. Malu ya sama kelakuan lu sendiri?!" Mamah bersungut-sungut. "Eh Mitha, lu perempuan macam apa sih hah? Manusia apa bukan si lu?"
"Manusia Bu, saya khilaf."
"Manusia itu ada rasa malu. Lu kan sama gua tetangga satu kampung, masa iya laki gua di embat juga jadi korban lu. Gua juga tahu lu tuh sering kaya gini sama laki-laki lain. Tapi ya lu mikir lah emangnya nggak malu kalau korban lu tuh masih orang-- yang masih punya rasa empati sama keluarga lu. Gua tau lu lapar, tapi gak usah makan teman."
"Maaf" Sasmhita bengong lagi.
"Sini HP lu, gua mau ngapus nomer suami tercinta gua! Is, periksa HPnya.."
"Fais.."
Lah kemana tuh bocah
Ditengah perseteruan Mamah, sampai adegan Mamah memukul pundak besar Sasmhita meluapkan kedongkolan yang dipendam, Fais tidak lagi disana. Anak itu pergi berjalan kaki tanpa Mamah tahu. Sasmhita jelas tahu, karena kepergian Fais di tatap kekhawatiran olehnya.
Duh si aa pergi kemana ya. Batin Sasmhita bertanya pada dirinya sendiri, ia takut kepergian Fais akan membawa malapetaka lain.
.
.
.
Bersambung...
Aku tahu kamu lapar, tapi tidak usah makan teman. (Imah Wardana)
__ADS_1