
Mengalah memang salah satu pilihan terbaik agar bisa berlanjut. Pedoman itulah yang menjadi acuan Ayah Fais memutuskan untuk mengalah daripada harus mempersilahkan satu sama lain sampai pagi. Ia mengusap punggung tangan sang istri sembari memberikan kecupan hangat disana.
Mengalah tidak serta merta selalu buruk maknanya, mengalah di awal juga bisa menjadi titik kemenangan di akhir.
"Yasudah papah saja yang berbicara. Sebenarnya, waktunya belumlah tepat. Harus menunggu satu jam lagi agar bisa pas di moment yang papah akan bicarakan."
Maman menaikan alis tidak mengerti. Tapi dia lebih tidak mengerti lagi kenapa ada cincin emas di rumah ini yang bukan miliknya.
"Maksudnya?"
"Selamat ulang tahun istriku" kecupan bermakna dalam mendarat." Maafkan papah karena telah menghilangkan hadiahnya." Wajah yang tadi berbinar berubah sendu.
"Hadiah cincin?" Ada garis senyum samar mulai nampak di wajah Mamah. Keputusannya tidak marah-marah duluan memanglah tepat.
"Kok tahu?!"
"Tahu lah, ini sudah Mamah pakai."
Jemari mentereng di pamerkan dengan percaya diri. Jauh sebelum ini wanita itu sudah kalang kabut dengan pikiran yang mengepul kabut tebal hingga tidak bisa di pakai berfikir jernih sama sekali. Untungnya, masih ada hati yang mau di ajak berdamai sedikit agar bisa bersikap cool down hingga benar-benar kenyataanya terungkap.
"Harusnya jadi suprise malam ini eh malah sudah Mamah temukan duluan. Oh iya, sekarang giliran Mamah yang bicara."
"Gak jadi Pah, sudah lupa." Jawab Mamah asal. Pertanyaan Mamah sudah tidak penting lagi.
Fais, si bocah lelaki yang berada di kamarnya rebahan di kasur sambil mengetik novel untuk di persembahkan kepada para pembaca, sengaja tidak menutup pintu dengan baik. Alhasil perbuatannya tersebut, ia dapat menguping pembicaraan orang tuanya. Anak itu merasa lega sekarang, dan setelah urusan menguping sambil menulis kelar, ia mencoba membaca ulang hasil ketikannya.
__ADS_1
Idih, nulis apaan sih gua ini.
Fais menghapus tulisannya yang sudah mencapai tiga paragraf. Kemudian ia mulai serius menulis dan tidak membagi fokusnya dengan hal lain.
"Mah, Fais sudah tidur ya?"
Fais menajamkan telinga kembali saat namanya di sebut-sebut dalam percakapan. Sekaligus author mau membakar kata-kata narasi yang tadi menyebutkan bahwa Fais sudah fokus menulis.
"Sudah Pah." Sebenarnya Mamah juga tidak tahu Fais sudah tidur apa belum, namun melihat kenyataan bahwa anak itu sudah pergi ke kamarnya sejak jam sembilan tadi tanpa adanya pergerakan ke kamar mandi, Mamah menyimpulkan bahwa anaknya sudah terlelap.
"Bagus kalau begitu, ayo mah ikuti Papah ya. Kaki Mamah naikan kesini."
"Pah tapi pelan-pelan ya."
"Mamah jangan tegang, ikutin pergerakan Papah saja ya."
Fais makin menjadi-jadi. Wahai para cicak-cicak di dinding, bisakah kalian memberitahu pada bocah itu apa yang telah terjadi di ruang tamu sana? Tidak lama kemudian suara alunan musik pelan samar-samar terdengar. Membuat suasana semakin syahdu.
Fais tidak kuat lagi menahan rasa penasaran. Entah mendapat keberanian darimana ia mencoba mengintip kegiatan orang tuanya tersebut.
Yang Fais lihat, tangan ibunnya melingkar di leher sang ayah. Lalu tangan ayahnya berada di pinggang ramping ibunya. Tubuh keduanya mepet sampai hidungnya saling bersentuhan.
Mereka bergerak pelan mengikuti alunan musik. Papah memberi komando untuk sang istri agar mengikuti pergerakan kakinya dalam kegiatan berdansa.
Mereka berdansa di tengah malam.
__ADS_1
kirain ngapain.
................
Pagi hari sudah menyambut. Di setiap harinya akan ada lagi cerita baru yang menghiasi kehidupan. Seperti pagi ini misalnya, Fais menemukan fakta baru yang mengejutkan dan mampu membuat bocah itu seketika lupa bahwa semalam ada manusia yang amat penasaran pada kegiatan orang tua.
"MAAAHH...." Fais berteriak histeris. Sontak membuat tetangga yang berjarak sangat dekat menongolkan kepala. "Ngapah is?" Kata salah satu tetangga mewakili pertanyaan beberapa kepala.
"Saya cuma manggil Mamah aja." Demi apapun bocah itu malah cengar-cengir tidak berdosa.
Jawaban Fais barusan, menuai beberapa reaksi dari para tetangga. Ada yang bilang "idih" sambil mengendikkan bahu, ada yang hidungnya kembang kempis kemudian berlalu tanpa sepatah katapun, ada pula yang mulutnya komat-kamit tanpa bersuara hingga bibirnya terlihat berombak.
"Ada apa is?" Mamah sudah berada di hadapan anaknya.
"Ini Mah, coba dah lihat."
.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1