
Fais sudah tiba di rumah dengan menunjukan gelagat yang tidak biasa. Papah yang melihat keberadaannya tidak perlu berpikir panjang untuk menanyakan apa yang sedang di alami anak tersebut. Dengan penuh percaya diri--seperti tidak pernah terjadi sesuatu apapun--Papah melontarkan secara renyah pertanyaan pada Fais yang kini sedang bersiul lagu India kuch kuch Hota Hai.
Kayanya gua udah mulai ketularan Akmal deh.
"Anak kesayangan Papah darimana nih? Senang banget kayanya. Papah boleh tahu ceritanya nggak kira-kira?"
Haaa, demi apa ini? Apa tadi katanya? Fais sampai mengira jika dirinya sedang berhalusinasi di tengah malam. Namun saat ibi jari Fais tergencet daun pintu, anak itu baru percaya apa yang dialaminya memanglah sungguhan.
Fais tidak mengaduh. Rasa sakitnya ia tahan sampai benar-benar netra mereka tidak saling bersitatap lagi. Yang semula Fais menemukan tatapan Papah berbinar dengan garis bibir yang terangkat, kini berubah menjadi pandangan paling sendu dengan air muka yang cemas.
"Is, sini coba papah Lihat tangan kamu nak?"
"Nggak pa-pa. Nggak usah khawatir. Fais baik-baik aja Pak."
Keduanya membuang pandangan ke sembarang arah dengan perasaan yang hanya di mengerti masing-masing. Fais dengan segala keheranannya, lalu Papah dengan segala kegundahan hatinya mendengar panggilan Bapak.
"Papah boleh nanya sesuatu gak?"
"Apa?"
"Fais kenapa ubah panggilan Papah menjadi Bapak?" Tanya Papah dengan hati-hati. Fais lantas tidak langsung menjawab melainkan anak itu akhirnya meniup-niup jempolnya yang ternyata memar kebiruan. Sama memarnya seperti kepercayaan Fais pada Papah. Sebab seringkali di tonjok berkali-kali oleh kenyataan.
__ADS_1
"Tuh kan nak, tangan kamu biru. Sini Bapak obatin."
"Luka kaya gini gimana ngobatinnya? Biarin ajalah nanti juga sembuh sendiri. Dan perihal pertanyaan soal panggilan, Fais gak tau kenapa pengen panggil itu aja. Emangnya kenapa Pak? Keberatan?"
"Nggak nak, Bapak nggak keberatan sama sekali. Kamu boleh panggil apa aja senyaman kamu"
Fais masih dapat memilah kalimat antara yang harus di utarakan maupun tidak. Sesungguhnya, ia mengubah panggilan itu karena Papah sudah tidak bisa ia temukan lagi di manapun. Sosok Papah yang dulu menghilang tanpa pamit. Sulit di cari dalam penglihatannya yang memburam setiap saat. Sebab Fais sudah tidak memiliki penerang yang sebelumnya ia buang jauh-jauh. Hanya Mamah satu-satunya yang masih dia andalkan. Yang sampai saat ini Mamah tidak mau lagi berkomentar apapun soal Papah.
Dan di balik pintu kamar sana, Mamah mengintip tanpa minat dengan wajah yang muram.
"Yasudah, Fais mau istirahat dulu."
"Nak, Bapak mau bicara sebentar aja" Papah mencekal lengan putranya dengan tatapan memohon.
"Yaudah, emangnya Bapak mau ngomong apaan?"
"Kalau kata maaf Bapak sudah tidak bisa lagi di pegang, Bapak cuma minta kamu pegang ini nak." Papah menyodorkan sebuah Map dengan tangan gemetarnya. Alis Fais bertaut, mungkinkah Bapak sedang sakit? Ah, biarlah. Bapak kan selama ini emang nyari penyakit.
Kata maaf dari Papah sudah terlampau banyak sehingga keberadaannya menjadi setara dengan kata sambutan. Ibarat pakaian, maaf dari Papah tersampir bersama para handuk demek di jemuran. Yang akan bisa kembali digunakan ketika sudah mengering. Kata maaf dari Papah menjadi seperti itu, menunggu luka-luka kering barulah bisa dipertimbangkan kembali keasliannya.
Fais meraihnya, kemudian anak itu bertanya balik pada sang ayah. "Mirip yang dikasih selingkuhan Bapak waktu di... dimana ya? kalau nggak salah pas waktu Fais ulang tahun tiba-tiba pulang ke rumah mobil Bapak bersih mentereng. Padahal akses ke rumah yang ada sosok Sasmhita dan Ibu-ibu paruh baya cukup berlempung. Cuci steam dimana Pak? hebat secepat kilat."
__ADS_1
"Jadi kamu tahu itu is? Yasudah sekarang Bapak jelaskan padamu bagaimana Bapak bisa..."
"Hoooaamm" Fais menguap sambil pura-pura pingsan menyender di bahu sofa. Membuat Papah menghentikan penjelasan tanpa diminta.
"Kamu sudah ngantuk ya is?" Ada nada lirih tersemat pada pertanyaan yang tidak membutuhkan jawaban tersebut. Seakan Papah sedikit tidak bersabar untuk menunda penjelasan keesokan harinya. Namun sebagai manusia, dan juga sebagai orang tua, Papah tidak boleh mementingkan diri sendiri.
"Sedikit" Jawabnya sedikit, dengan matanya yang terus terpejam dan wajah yang terkantuk-kantuk.
"Yasudah kalau begitu besok pagi saja Bapak akan ceritakan semuanya padamu. Sekarang kamu istirahat saja nak."
"Iya"
Melihat Papah dan Fais sudah membubarkan diri ke dalam kamar masing-masing, Mamah cepat-cepat melompat ke atas tempat tidur lalu meringkuk di bawah selimut. Bergelung di bawah selimut lebih baik ketimbang menodong Papah dengan banyak pertanyaan. Padahal di dalam hati Mamah bertanya-tanya kenapa Papah bisa sampai bersama Sasmhita lagi di suatu tempat. Dan itu apa tadi yang ber map cokelat yang diberikan pada Fais? Mamah semakin tergelitik oleh rasa penasaran.
Sekali lagi Mamah bertanya, kenapa Papah masih bersama sosok penghuni pohon asem di suatu tempat. Kenapa oh kenapa?
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...